
Renata menjadi gugub, namun ia mencoba menyembunyikan perasaannya.
"Aku... Aku habis mengambil cincinku, tadi jatuh." Renata berusaha bersikap santai meskipun ia sakit hati setelah membaca buku catatan Arfi.
"Kevin, gambar apa?" Arfi sama sekali tidak curiga, ia juga tidak tahu kalau Renata sudah membaca buku catatannya.
Arfi menghampiri kevin lalu ia duduk disebelahnya.
"Aku gambar keluarga." Kevin meletakan pinsilnya diatas meja rupanya Ia sudah selesai menggambar.
"Sayang, mama boleh lihat gambarnya?" Renata duduk disamping Kevin.
Kini Kevin berada ditengah tengah, ia duduk diantara Arfi dan Renata. Kevin memberikan kertas yang sudah ia gambar, Kevin menggambar empat orang yang sedang berdiri.
Seorang laki laki sedang berdiri disampingnya ada dua orang perempuan, Satu berdiri disamping kanan, satu berdiri disamping kiri dan didepan laki laki itu ada seorang anak kecil.
"Sayang, ini gambar siapa?" Renata melihat gambar Kevin.
"Iya, empat orang ini siapa saja?" Arfi bisa melihat gambar yang dipegang Renata.
"Yang berdiri ditengah itu papa. disamping kiri papa, itu mama dan yang didepan papa, itu aku." Kevin menjelaskan dengan wajah yang terlihat gembira.
"Terus, yang satu lagi siapa?" Renata kembali bertanya.
"Itu ibu Nayra." Jawab Kevin polos, ia tidak tahu kalau hati Renata terguncang mendengar kata katanya.
"Kenapa ibu Nayra ada digambar keluarga kita?" Renata sedih bercampur kesal.
"Karena bu Nayra juga keluarga kita. Dia itu ibuku juga."
Bahkan anakku sendiri, sudah menganggap Nayra sebagai keluarga dan sebagai ibunya. Dalam hati Renata menangis tapi ia tetap tersenyum.
"Kevin, kamu pasti lapar? gimana kalau sekarang kita makan?" Arfi melihat raut wajah Renata yang berubah karena itu ia sengaja mengalihkan pembicaraan.
Arfi, Renata dan Kevin kemudian pergi kesebuah restauran. Renata dan Arfi menggandeng tangan Kevin, Renata menggandeng tangan Kanan Kevin sedangkan Arfi menggandeng tangan kiri Kevin.
Mereka bertiga masuk kedalam restaurant itu, Mereka tidak tahu kalau Raddit juga berada ditempat itu.
"Itu kan Arfi, dia bersama anak dan istrinya. Mereka kelihatan seperti keluarga bahagia, ternyata Nayra cuma jadi perempuan cadangan." Raddit memfoto mereka bertiga.
Raddit mengirimkan foto itu pada Nayra setelah itu Raddit segera pergi dari restaurant itu. Raddit pergi melalui pintu samping agar Arfi tidak melihatnya.
Selesai makan Arfi, Renata dan Kevin segera keluar dari Restaurant itu mereka kembali masuk kedalam mobil.
"Antar aku pulang." ucap Renata saat Arfi sudah menjalankan mobilnya.
"Kita memang akan pulang kerumah, kenapa bicara seperti itu?" Arfi merasa ada yang aneh dengan kata kata Renata.
"Aku tidak akan pulang kerumah." ucapan Renata mengejutkan Arfi.
"Aku mau pulang keapartementku?" Sambung Renata.
Saat keluar dari rumah Arfi, Renata memang tidak pulang kerumah orang tuanya. Ia lebih memilih tinggal diapartementnya, Renata tidak ingin orang tuanya tahu tentang masalah rumah tangganya.
__ADS_1
"Renata, kamu sedang mempermainkan aku? Aku sudah berpisah dengan Nayra. semua itu demi kamu, tapi kamu tetap tidak mau pulang kerumah."
Arfi marah, Saat itu Kevin tertidur karena kelelahan.
"Aku berusaha menuruti keinginan kamu, kamu malah ingkar janji." Meskipun marah tetapi Arfi berusaha merendahkan suaranya, ia tidak ingin Kevin terbangun.
"Aku tidak bermaksud ingkar janji, tapi untuk apa kita mempertahankan rumah tangga kita? Kalau dihati kamu hanya ada Nayra." Ucap Renata, matanya sudah mulai basah.
Nayra itu cinta pertama Arfi, orang bilang cinta pertama itu susah dilupakan. Renata menangis didalam hati.
"Kenapa kamu bisa seyakin itu? Memangnya kamu tahu isi hatiku?" Arfi kesal.
"Tadi pagi waktu kita bertemu. kamu menyebutkan nama Nayra sedangkan yang ada dihadapanmu itu aku, bukan Nayra. Bagiku itu sudah jelas."
"Aku cuma salah sebut nama, kamu jangan berpikir macam macam." Arfi membela diri.
"Sudahlah Arfi, aku sudah tidak bisa mempertahankan rumah tangga kita lagi. Aku tetap ingin kita berpisah."
Renata sangat berat mengucapkan kata pisah, tetapi ia juga tidak bisa bersama lagi dengan Arfi. Lelaki yang hatinya sudah terbagi.
"Mama... Mama..." Suara Kevin membuat Arfi dan Renata berhenti berdebat.
"Sayang, kamu bangun?" Renata menoleh kebelakang.
"Ma..dingin ma.." Kevin menggigil kedinginan.
Arfi dan Renata panik, Arfi langsung mengghentikan mobilnya. setelah mobil berhenti Renata keluar dari mobil, ia menghampiri Kevin yang duduk dibangku belakang.
Arfi buru buru menghampiri Kevin ia juga memegang dahi Kevin.
"Ia benar, kita kerumah sakit sekarang." Arfi sangat cemas.
"Papa mama, aku engga mau kerumah sakit. Aku mau pulang saja." Kevin tidak ingin kerumah sakit.
"Kevin, kamu sakit jadi kita harus kerumah sakit." Renata membujuk Kevin.
"Pokoknya aku engga mau kerumah sakit, aku mau dirawat dirumah. kalau papa, mama sibuk. Biar ibu Nayra yang merawat aku." Kevin tetap menolak.
"Kevin, kenapa kamu bicara seperti itu? Mama engga sibuk. Mama akan merawat kamu." Renata merasa sedih karena lagi lagi Kevin menyebutkan nama Renata.
"Kemarin waktu kakiku sakit, mama kerja. ibu Nayra yang merawat aku." ucapan Kevin membuat Renata kembali bersedih.
Seandainya saja aku lebih memper**hatikan Arfi dan Kevin, mungkin saja Nayra tidak akan masuk kedalam kehidupan rumah tanggaku.
Batin Renata.
"Kita pulang ke apartement mama." Renata ingin mengajak Kevin pulang keapartemennya.
"Aku maunya pulang kerumah kita ma, bukan keapartement. Aku kangen sama kamar aku, sama mainan mainan aku." Kevin mulai merengek.
"Iya sayang kita pulang kerumah." Demi Kevin Renata akhirnya kembali kerumah bersama Arfi.
Nayra menjatuhkan dirinya ditempat tidur. Ia merasa bosan dan kesepian, berada Villa yang besar dan mewah nyatanya tidak bisa membuat Nayra bahagia.
__ADS_1
Setelah memutuskan untuk meninggalkan Arfi Nayra merasa ada sesuatu yang hilang dalam dirinya, separuh jiwanya seakan pergi.
Kenapa aku merasa sepi. Nayra melamun.
Nayra tersadar dari lamunannya ketika ia mendengar suara ponselnya berbunyi, Nayra mengambil ponselnya ia melihat ada pesan yang masuk.
"Pesan dari Raddit." Nayra melihat pesan dari Raddit.
Nayra terdiam saat ia melihat foto Arfi bersama Renata dan Kevin.
"Raddit benar, aku memang harus pergi. kalau tidak ada aku, Arfi dan Renata bisa hidup bahagia." Nayra merasa sedih.
Hari berganti, waktu berlalu tanpa terasa sudah satu minggu lebih Nayra tidak bertemu Arfi. Arfi juga tidak pernah menelphonenya.
"Akhirnya aku mendapatkan tempat tinggal yang baru. rumah yang aku sewa memang tidak sebesar villa ini, tapi yang penting aku bisa pergi dari Villa ini." Nayra tersenyum senang, ia duduk sambil menikmati teh hangat yang ia buat.
"Aku akan memberi tahu Raddit." Nayra mengambil ponselnya yang berada diatas meja.
Nayra lalu mencoba menghubungi Raddit.
"Hallo Raddit." ucap Nayra saat Raddit menjawab telphonenya.
"Iya, ada apa Nay?" Raddit sangat senang Nayra menelphonenya karena biasanya ia yang menelphone Nayra lebih dulu.
"Aku..." Nayra ingin meneruskan kata katanya tapi tiba tiba kepalanya terasa pusing dan badannya lemas seperti tak bertenaga.
Brug..
Nayra jatuh pingsan.
"Nayra, hallo Nayra. Nay.." Raddit memanggil manggil Nayra tetapi tidak ada jawaban.
"Nayra, apa terjadi sesuatu padanya? Raddit menjadi cemas dengan cepat ia mengambil kunci motor, ia buru buru ingin pergi kevilla tempat Nayra tinggal.
Nayra tersadar dari pingsannya, ia kemudian berusaha untuk duduk. Setelah lima menit duduk Nayra berdiri ia berjalan kedapur untuk mengambil air putih.
"Akhir akhir ini aku sering pusing dan mual mual. Aku sebenarnya sakit apa?" Nayra bertanya tanya .
Karena takut sakitnya parah, Nayra memaksakan diri pergi kesendirian kerumah sakit. Nayra memesan taksi online. Nayra berjalan berlahan lahan ketika taksi yang ia pesan sudah datang, ia menghampiri taksi yang sudah berada didepan Villa. Nayra langsung masuk kedalam taksi itu, taksi itu pun melaju menuju rumah sakit tujuan Nayra.
Dirumah sakit.
"Dokter sebenarnya, saya sakit apa?" Nayra penasaran.
"Ibu tidak sakit." Jawaban dokter itu membuat Nayra bingung.
"Tapi, belakangan ini saya sering pusing dan mual." Nayra mengeluh.
"Apa yang ibu alami itu wajar, itu biasa terjadi pada ibu hamil." Ucap dokter itu tanpa mengetahui Nayra panik setelah mendengar penjelasan dokter.
"Maksud dokter saya hamil?" Nayra panik.
"Iya, selamat ya bu Nayra. Ibu hamil." Nayra sangat terkejut dengan mendengar penjelasan dokter itu.
__ADS_1