Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Mencari Nayra


__ADS_3

Arfi sangat kesal karena mobilnya mogok dengan terpaksa ia menghampiri Renata yang sudah berada didalam mobil. Arfi kemudian mengetuk pintu mobil Renata.


"Ada apa?" Renata membuka kaca mobilnya


"Mobilku mogok, boleh aku numpang mobil kamu?" Tanya Arfi ragu ragu.


"Masuk." Renata sebenarnya masih sakit hati dengan Arfi, tapi bagaimanapun Arfi adalah ayah dari anaknya. Ia tidak tega jika meninggalkan Arfi sendirian dengan mobilnya yang mogok.


"Aku mau kerumah Nayra dulu, kamu engga keberatan kan?" ucap Renata saat Arfi sudah masuk kedalam mobilnya.


"Mau ngapain kerumah Nayra?" Arfi tidak percaya Renata ingin kerumah Nayra.


"Aku mau kembalikan hp Nayra, oiya ini hp kamu tadi lupa aku kembalikan." Renata memberikan ponsel Arfi.


Renata menjalankan mobilnya, ia diam dan tidak bicara apa apa. Suasana dimobil itu terlihat kaku.


"Renata kamu masih marah?" Arfi memberanikan diri untuk mulai bicara.


"Menurut kamu?" Bukanya menjawab pertanyaan Arfi, Renata malah balik bertanya.


"Renata, aku minta maaf. aku janji aku menceraikan Nayra setelah anaknya lahir." Arfi berjanji.


"Sudahlah Arfi, kamu tidak perlu janji. Sebelumnya Kamu juga bilang. kamu ingin menceraikan Nayra, tapi kamu lihat. Nayra hamil dan kamu tidak bisa menceraikannya, nanti setelah Nayra melahirkan belum tentu kamu bisa menceraikannya."


"Maksud kamu, aku akan ingkar janji." Arfi kesal.


"Bukan itu maksudku, bisa saja setelah Nayra melahirkan ada sesuatu yang membuat kamu tidak bisa menceraikan Nayra. Sekarang kamu tidak bisa bercerai dengan Nayra karena dia hamil. entah apa lagi yang akan terjadi, kita tidak pernah tahu hari esok." Renata merasa lelah.


Renata maafkan aku, sejujurnya aku sangat senang Nayra hamil. selain aku akan punya anak, Nayra juga tidak bisa menceraikan aku. Aku ini memang egois. Aku tidak bisa berpisah dengan Nayra, tapi aku juga tidak ingin kehilangan Renata. Arfi melamun.


"Kita sudah sampai." Renata membuat Arfi tersadar dari lamunannya.


Arfi sangat bahagia karena ia bisa bertemu lagi dengan Nayra, tapi ia kecewa dengan sikap Nayra yang dingin.


Dengan wajah yang terlihat tidak senang Nayra bertanya.


"Renata, arfi. Mau apa lagi kalian?"


"Nayra, maaf aku menggangu kamu. Aku cuma mau kembalikan ini." Renata. memberikan ponsel Nayra.


"Terima kasih Renata, seharusnya kamu tidak perlu repot repot kesini. Kamu bisa pakai jasa pengiriman barang." Nayra mengambil ponsel yang diberikan Renata.


"Aku, engga kepikiran. Lagi pula aku mau kekantor jadi sekalian lewat." Renata terseyum, membuat Arfi dan Nayra tidak mengerti dengan perubahan sikap Renata.


"Nayra, seharusnya kamu terima kasih. kamu malah salah salahin Renata." Arfi memasang wajah cemberutnya.


"Siapa yang salahin Renata? Aku cuma engga enak, karena gara gara nganter hp aku. Renata jadi repot." Nayra mendengus kesal.


"Engga usah banyak alasan kamu, kamu memang engga suka kita datang kesini. kalau tahu begini, tadi aku banting saja hp kamu. biar kamu engga punya hp sekalian." Arfi sewot.


"Yaudah banting saja." Nayra jadi emosi.


Prang...


Arfi sungguh sungguh membanting ponsel Nayra, Arfi merebut ponsel Nayra dari tangannya dan sengaja menjatuhkannya kelantai.


"Arfi, kamu jahat! Aku benci kamu!" Nayra memukul dada Arfi, lalu masuk kedalam rumah dan membanting pintu.


Aku ini kenapa? Sejak hamil. Aku jadi sensitif. Aku gampang marah, gampang teesinggung. Seharusnya aku berterima kasih pada Renata, bukannya marah seperti ini. Batin Nayra.


Sementara itu Arfi dan Renata masih berada didepan rumah Nayra.


Arfi, kamu itu kenapa? Kenapa kamu kasar sama Nayra." Renata memarahi Arfi.


"Kamu yang kenapa? kenapa kamu jadi membela Nayra? Pelakor itu." Arfi tidak mau kalah, ia gantian memarahi Renata.


Ketika Arfi dan Renata sedang bertengkar, Raddit berjalan melewati rumah Nayra. Ia berhenti karena mendengar keributan dirumah Nayra, Raddit bisa mendengar pertengkaran Arfi dan Renata. Raddit berjalan mendekati Arfi dan Renata.


"Heh... kalian berdua, kalau mau berantem. jangan disini. sana pergi! berantem dirumah kalian sendiri, hus.. Hus.. " Raddit mengusir Arfi dan Renata seperti mengusir kucing yang sedang mencuri ikan.


"Bocah aneh, bisa sopan engga? Sama orang yang lebih tua." Arfi marah.


"Yang engga sopan itu elu, ngapain lu berantem dirumah orang?" Balas Raddit.


"Anak ini." Arfi ingin memukul Raddit tapi Renata menghalanginya.


"Arfi sudah, jangan bertengkar disini. Malu." Renata memegang tangan Arfi yang ingin memukul Raddit.


"Sial." Arfi menendang pot bunga yang ada disampingnya, Renata kaget sampai sampai Renata melepaskan pegangan tangannya pada Arfi.


Nayra yang sedang menangis segera membuka pintu rumahnya, ia keluar dari rumah karena mendengar suara ribut ribut.


"Arfi, kamu yang merusak pot bunga aku?" Nayra melihat salah satu pot bunganya berserakan dilantai.

__ADS_1


Nayra, kenapa dia menangis? Arfi melihat mata Nayra yang sembab.


"Iya maaf, aku tidak sengaja." Arfi membohongi Nayra.


"Dia bohong, dia tadi sengaja nendang pot bunga kamu." Raddit memberitahu Nayra.


"Bocah aneh, engga usah ikut ikutan kamu." Arfi menatap sinis kearah Raddit.


"Arfi, sudah cukup. Kita pergi saja sekarang, Nayra kita pulang dulu." Renata menarik tangan Arfi dan akhirnya Renata dan Arfi pergi dari rumah Nayra.


Melihat mereka bersama, kenapa hatiku sakit? Nayra sedih.


"Nay, kamu nagis?" Tanya Raddit yang melihat mata Nayra seperti orang habis menangis


"Engga, aku engga nangis." Nayra tidak ingin bercerita.


"Terus, mata kamu kenapa merah?" Raddit tidak percaya pada Nayra.


"Kelilipan." Nayra asal menjawab.


"Nay." Panggil Raddit ia duduk dibangku teras rumah Nayra.


"Apa?" Nayra ikut duduk disebelah Raddit.


"Kenapa kamu masih dirumah ini? Katanya, mau pulang kampung?" Tanya Raddit ingin tahu.


"Kamu tidak suka melihat aku? Kamu maunya aku cepat cepat pergi?" wajah Nayra terlihat sedih.


"Bukan begitu Nay, Aku cuma engga mau kamu diganggu Arfi."


"Tadi dijalan, aku pingsan sampai sampa aku ditolong orang dan dibawa kerumah sakit. Karena itu aku belum pergi." Nayra bercerita.


"Ya ampun Nay, kamu sakit apa sampai bisa pingsan?" Raddit khawatir.


"Aku engga apa apa, kata dokter aku cuma kecapean dan kurang istirahat." Nayra tetap tidak ingin mengatakan pada Raddit kalau ia sedang hamil.


"Syukur deh...kalau kamu engga apa apa,Terus, kapan kamu mau pulang kampung?" Tanya Raddit.


"Besok." Nayra memutar bola matanya malas.


"Ntar besok, ntar besok. Ditunda tunda terus nanti malah engga jadi." Raddit sebenarnya hanya becanda agar Nayra sedikit terhibur dan tidak sedih lagi, tapi siapa sangka Nayra justru bertambah sedih.


"Yaudah, aku pergi sekarang. Supaya kamu senang karena tidak melihat wajahku yang membosankan." Nayra berdiri dari duduknya.


"Serius juga engga apa apa, aku masuk dulu. Mau beresin baju." Nayra masuk kemudian menutup pintu, ia meninggalkan Raddit sendirian.


"Kenapa Nayra jadi sensitif?" Raddit bingung.


Nayra memasukan bajunya kedalam tas besar, ia tidak membawa koper. menurutnya akan merepotkan jika naik bis dengan membawa koper.


Nayra membuka pintu rumah, ia melihat Raddit masih berada diteras rumahnya.


"Nay, kamu beneran mau pergi sekarang?" Raddit berdiri lalu menghampiri Nayra.


"Iya."


"Aku antar ya?" Raddit menawarkan diri.


"Tidak usah. aku naik taksi sampai halte bis, dari sana aku akan naik bis kekampungku." Nayra menolak.


"kamu kan lagi sakit. Kalau kamu pingsan dijalan lagi gimana?" Raddit mencemaskan Nayra.


"Kalau naik motor, yang ada aku masuk angin dan tambah sakit." Ucap Nayra ketus.


"Aku antar kamu pakai mobil kok bukan motor. kalau kamu mau, aku bisa pakai mobil papaku." Raddit tetap ngotot ingin mengantar Nayra.


"Kamu bener mau antar aku? apa aku engga ngerepotin kamu?" Nayra tersenyum senang.


"Iya Nayra sayang."


Deg...


jantung Raddit berdebar debar.


Jantungku, berdebar debar lagi, ini pasti karena aku didekat Nayra. Kenapa aku panggil Nayra sayang. Raddit mengalihkan pandangan matanya saat ia menyadari Nayra juga sedang menatapnya.


"Kamu bilang apa? Nayra sayang." Nayra pikir ia salah dengar.


"Aku belum selesai ngomong maksud aku, iya Nayra. Sayang kalau mobil papaku engga dipake. Mobil papaku ada empat dan yang satu jarang dipake heehee.."


"Sombong." Nayra mecubit tangan Raddit.


"Aduh... Sakit Nay." Raddit mengusap usap tangannya yang dicubit Nayra.

__ADS_1


"Raddit maaf, aku engga bemaksud." Nayra merasa tidak enak.


"Iya engga papa. Yaudah kita pergi sekarang."


Nayra dan Raddit kemudian pergi meninggalkan rumah Nayra.


Dimobil Renata.


"Renata, kenapa kamu berubah?" Arfi melihat kearah Renata yang sedang fokus menyetir.


"Berubah bagaimana?" Renata tidak mengerti apa maksud perkataan Arfi


"Kamu sepertinya sudah bisa menerima Nayra jadi istri kedua aku."


"Arfi, kamu jangan mimpi. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah, menerima perempuan lain sebagai istri kedua kamu." Renata menghentikan mobilnya karena kesal.


"lalu, kenapa dari tadi kamu membela Nayra? Kamu juga berubah jadi baik. Kamu mau menolong Nayra, mengantarkan hpnya Nayra."


"Aku tidak mungkin diam saja melihat Nayra diganggu preman preman, dia juga pingsan dijalan. Karena kebetulan aku lewat yaudah aku tolong Nayra dan soal hp, kantor aku itu melewati rumah Nayra. Jadi apa salahnya aku mampir." Renata bicara panjang lebar.


Setelah itu Arfi dan Renata kembali saling diam. Sampai ditempat kerja Arfi, Arfi langsung turun dari mobil Renata.


"Sayang terima kasih." Arfi buru buru masuk kedalam perusahaan tempat ia bekerja.


Beberapa saat kemudian.


Arfi tidak bisa fokus pada pekerjaannya yang ada dalam pikirannya hanya Nayra.


"Nayra sedang hamil, bagaimana kalau dia pingsan lagi? atau bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Nayra?" Arfi mondar mandir didalam ruangan kerjanya.


Karena tidak bisa berhenti memikirkan Nayra, Arfi akhirnya memutuskan untuk pergi kerumah Nayra.


Sampai dirumah Nayra Arfi melihat pintu pagar rumah Nayra terkunci.


"Pergi kemana lagi Nayra?" Arfi sedih dan kecewa.


"Bapak cari Nayra?" Tanya seorang ibu muda yang kebetulan lewat didepan rumah Nayra.


"Iya bu."


"Nayra baru saja pergi, dia sudah pindah rumah." Jawaban ibu ibu itu membuat Arfi kaget.


"Pindah? Apa ibu tahu dia pindah kemana?" Arfi kembali bertanya.


"Saya tidak tahu, tadi saya lihat Nayra pergi sama Raddit. Nayra pamit, dia bilang mau pindah tapi dia tidak bilang mau pindah kemana." Ibu ibu itu menjelaskan pada Arfi.


"Ibu tidak tanya, Nayra mau pindah kemana?"


"Tidak. Nayra buru buru ibu tidak sempat Tanya, tapi tadi Raddit sempat bilang dia mau antar Nayra kehalte bis." Setelah menjawab pertanyaan pertanyaan Arfi, ibu ibu itupun berjalan pergi.


"Nayra, beraninya dia kabur membawa anakku." Arfi mengambil ponsel yang ada disaku bajunya, ia ingin menelphone Nayra.


"Bodoh, aku lupa. Hp Nayra kan sudah aku banting. Kenapa kalau kesal aku selalu membanting hp Nayra? kalau begini aku tidak bisa menelphonenya." Arfi marah marah sendiri, ia menyesal karena sudah membanting hp Nayra.


Arfi memutuskan untuk pergi kehalte bis, ia berharap Nayra ada disana.


Sementara itu dihalte bis. Nayra dan Raddit sudah sampai disana.


"Nayra, kamu yakin? Kamu engga mau aku antar sampai kekampung kamu?" Entah sudah berapa kali Raddit menanyakan pertanyaan yang sama pada Nayra.


"Engga usah Raddit kampungku itu jauh, nanti kamu cape nyetir mobilnya." Nayra menolak secara halus, ia tidak ingin merepotkan Raddit.


"Ya udah, kalau gitu aku pulang dulu.hati hati Nayra."


"Iya..Makasih Raddit sayang."


"Kamu bilang apa? sayang?" Raddit sangat bahagia, Ia seperti ingin terbang melayang jauh keangkasa.


"Aku bilang sayang, aku sayang kamu." Nayra mengucapkannya tanpa beban.


"Nayra, aku juga sayang sama kamu." Raddit memegang tangan Nayra.


"Syukurlah, ternyata perasaan kita sama, aku sayang kamu seperti aku menyangi adikku sendiri."


"Jadi kamu sayang sama aku sebagai adik." Senyum diwajah Raddit tiba tiba menghilang.


"Iya, aku engga punya adik jadi aku anggap kamu sebagai adikku." Nayra tidak tahu kalau Raddit menyayanginya sebagai seorang perempuan.


"Nay, aku pulang dulu. nanti keburu hujan." Raddit pergi dengan hatinya yang kecewa.


Setelah Raddit pergi, Arfipun sampai. Ia mencari cari Nayra. Arfi akhirnya menemukan Nayra, Ia melihat Nayra naik kedalam salah satu bis yang datang.


"Kamu pikir, kamu bisa kabur dariku. Jangan harap Nayra sayang." Arfi kemudian masuk kedalam bis yang dinaiki Nayra. Arfi sengaja memilih tempat duduk yang agak jauh dari Nayra agar Nayra tidak melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2