Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Adik untuk Kevin


__ADS_3

Rasanya Nayra ingin berlari jauh dari Restaurant itu tapi ia tidak mungkin melakukannya, bagaimanapun ia harus bertanggung jawab karena sudah memecahkan barang direstaurant itu.


"Ada apa ini?" Ibu Karin pemilik restaurant itu bertanya sambil melihat kearah lantai.


"Maaf bu, saya tidak sengaja memecahkan gelas." Ucap Nayra merasa bersalah.


"Nayra. baru satu hari bekerja, kamu sudah memecahkan barang barang. Apa kamu tahu? gelas gelas itu saya pesan secara khusus, harganya mahal."


Selain makanannya enak, restaurant itu memang memiliki ciri khas lain yaitu peralatan makannya yang unik.


"Maaf bu, nanti saya akan ganti." Nayra merasa tidak enak.


"Ganti? Gaji kamu berbulan bulan saja tidak cukup untuk membayar barang yang sudah kamu pecahkan, sekarang kamu bilang mau ganti. uang dari mana kamu?" Bu Karin menghina dan meremehkan Nayra.


"Memangnya berapa harga gelas yang sudah saya pecahkan?" Tanya Nayra.


"Ah, sudahlah. kamu tidak perlu tahu percuma, kamu tidak akan bisa menggantinya. Sekarang juga kamu saya pecat!" Hardik bu Karin.


Arfi sangat marah, melihat Nayra dihina seperti itu ia tidak terima. rasa marah membuat Arfi lupa kalau saat itu ia sedang bersama Renata dan Kevin. Arfi bergegas menghampiri Nayra.


Kevin ingin menyusul Arfi, tapi Renata melarangnya.


"Sayang, papa sedang bicara dengan ibu Nayra. Kita tunggu disini saja." ucap Renata sambil memegang tangan Kevin yang ingin pergi menghampiri Arfi.


"Tapi aku kangen sama bu Nayra."


"Iya, nanti ibu Nayra sama papa akan kesini. Kita makan sama sama." Renata membohongi Kevin agar Kevin tidak pergi menghampiri Nayra.


"Berapa harga gelas yang dia pecahkan?" Arfi tiba tiba sudah berdiri samping Nayra, ia membuat Nayra terkejut.


Bu Karin terdiam, melihat penampilan Arfi ia merasa Arfi bisa mengganti gelas yang dipecahkan Nayra.


"Apa ini cukup." Arfi membanting beberapa lembar uang puluhan dolar diatas meja.


"Cukup pak, cukup." Bu Karin mengambil uang itu, ia sangat senang. Bu karin kemudian pergi meninggalkan Arfi dan Nayra.


"Arfi, kamu apa apaan sih. Buat apa kamu kasih uang sebanyak itu? kamu mau pamer, supaya semua orang tahu kalau kamu itu kaya." Nayra kesal, ia mamarahi Arfi.


"Nay, aku sudah membantu kamu seharusnya kamu berterima kasih."


"Aku engga minta bantuan kamu."


"Nayra, Nayra.. Kamu kabur dan menghindari aku. Aku pikir hidup kamu lebih baik ternyata.."


"Hidup aku memang lebih baik. Kenapa kamu bicara begitu? o.. aku tahu, hanya karena aku melakunan pekerjaan kecil, kamu menganggap hidupku tidak baik. Arfi, tidak semua kebahagiaan bisa dihargai dengan uang." Nayra kemudian meninggalkan Arfi begitu saja.


"Arfi."


Arfi ingin mengejar Nayra,tapi ia membatalkan niatnya karena ia mendengar suara Renata memanggil namanya. Renata dan Kevin ternyata sudah berdiri dibelakangnya.


Aku lupa disini ada Renata dan Kevin. Batin Arfi.


"Kenapa kamu diam? Kamu kejar sana, istri kamu." Sindir Renata.


"Renata, jangan salah paham. Tadi aku cuma menolong Nayra itu saja." Arfi alasan.


"Pa, kenapa bu Nayra pergi? Kenapa dia tidak makan bersama kita?" Kevin kecewa.


"Sayang ibu Nayra, masih ada urusan." Arfi melirik Renata. wajahnya muram, Renata terlihat sangat sedih.

__ADS_1


"Ya sudah kita makan ditempat lain, disini suasananya sudah tidak enak." Arfi menggandeng tangan Kevin.


Kalau bukan karena Kevin, rasanya berat aku mengikuti keinginan Arfi. Aku tidak tahu kenapa? semangatku untuk liburan tiba tiba hilang hanya karena aku melihat Nayra. Batin Renata.


Mereka bertiga akhirnya makan direstauran lain, setelah itu mereka pergi kevilla yang sudah disewa Arfi.


Dalam perjalanan


"Kamu pasti sengaja, kamu ingin pergi keVilla supaya kamu bisa bertemu dengan Nayra?" Renata melihat Kevin tertidur di kursi mobil belakang.


"Renata, kamu jangan berpikiran buruk. Nayra itu sudah pergi meninggalkan aku, aku juga tidak tahu kalau Nayra ada direstaurant itu. Lagi pula, yang ingin makan direstauran itu kamu bukan aku." Arfi mencoba memberi penjelasan pada Renata.


Kelihatannya Arfi tidak bohong, tapi kenapa mereka bisa betemu? Ini kebetulan atau Arfi dan Nayra memang berjodoh?


Renata berpikir sambil memejamkan matanya, ia tidak ingin betengkar dengan Arfi.


Arfi, Renata dan Kevin akhirnya sampai divilla tempat mereka akan menginap. Arfi dan Kevin sangat senang berbeda dengan Renata yang sejak tadi diam, ia seperti tidak bahagia.


"Kevin, kamu sekarang boleh pilih kamar yang kamu suka." Ucap Arfi sambil mengelus elus kepala Kevin.


"Iya pa.." Kevin berlari kekamar utama yang berada paling depan.


"Sayang, kamu kenapa? Aku sudah berusaha membahagiakan kamu, tapi muka kamu malah cemberut begitu." Arfi menegur Renata.


"Membahagiakan aku? dengan cara membela Nayra didepan aku dan menjadi pahlawan untuk istri kesayangan kamu itu."


"Sudah aku bilang, aku dan Nayra akan bercerai, aku membantu dia karena bagaimanapun Nayra itu masih istriku."


"Istri?" Renata hampir menangis.


Ya Allah, hatiku sakit. suamiku sendiri menyebutkan nama perempuan lain sebagai istrinya. Renata sakit hati.


"Renata tolong, jangan seperti ini. Aku tidak mungkin diam saja melihat Nayra kesusahan. kalau Satria atau siapapun orang yang aku kenal sedang ada masalah, aku pasti akan bantu sebisaku." Arfi banyak bicara agar Renata tidak marah lagi.


"Renata, kita datang ketempat ini untuk bersenang senang, jadi jangan merusak suasana dengan menyebutkan nama Nayra." Arfi tiba tiba memeluk Renata.


Sudah lama Arfi tidak memelukku seperti ini. Batin Renata, ia melupakan rasa marahnya.


"Kamu pasti cape, lebih baik kamu istirahat, aku mau kekamar mandi dulu." Arfi meninggalkan Renata sendiri.


Arfi masuk kedalam kamar mandi tapi setelah ia keluar dari kamar mandi Renata sudah tidak ada diruang tamu, Renata sudah pergi kekamar untuk tidur.


Arfi berjalan keluar Villa ia duduk melamun ditaman sambil memandangi bunga bunga serta pepohonan hijau yang ada disana. Arfi mengusap usap matanya ia seakan akan tidak percaya kalau ia melihat Nayra.


Nayra keluar dari villa yang ada disebelahnya, ternyata villa Raddit bersebelahan dengan Villa yang disewa Arfi.


Nayra berjalan terburu buru, ia ingin segera pergi dari villa itu. Saat Nayra berjalan kepalanya sedikit pusing, ia hampir terjatuh tapi Arfi memegangi Nayra.


"Nay, hati hati." Satu tangan Arfi memegang pinggang Nayra, dan satu tangannya lagi memegang lengan Nayra.


"Kamu, kenapa kamu ada disini? Kamu pasti ngikutin aku?" Nayra mendorong dada Arfi sehingga kedua tangan Arfi terlepas dari pinggang dan lengan Nayra.


"Aku engga ngikutin kamu."


"Terus, kenapa kamu ada dimana mana? tadi direstaurant sekarang divilla ini." karena merasa lelah Nayra duduk dibatu taman.


"Kemanapun kamu pergi kita akan selalu bertemu, kamu tahu kenapa? Karena kita memang berjodoh."


"Arfi kamu engga usah bercanda, engga lucu." Nayra kesal.

__ADS_1


"Aku engga bercanda, memang benar kan? Kita selalu bertemu."


"Sudahlah, aku engga punya waktu untuk membahas sesuatu yang engga penting." Nayra berdiri ia ingin pergi tapi mendadak perutnya sakit.


"Aduh..." Nayra memegang perutnya.


"Sayang kamu kenapa? Perut kamu sakit?" Arfi memegang perut Nayra.


Biasanya kalau aku lemas dan pusing seperti ini. aku langsung muntah muntah, tapi kenapa sekarang aku merasa baik baik saja? Aku engga muntah. Apa ini semua karena Arfi memegang perukku.


Nayra memandang Arfi yang sedang menatapnya. Mereka berduapun saling berpandangan


"Aku baik baik saja." Nayra menepis tangan Arfi.


"Engga apa apa gimana? Kamu tadi kesakitan." Arfi mencemaskan Nayra.


"Itu kan tadi, sekarang aku udah engga apa apa."


"Nay, kamu sakit apa? Apa kamu sudah kedokter."


"Aku engga perlu kedokter, ini biasa terjadi pada perempuan yang sedang datang bulan." Nayra bohong lagi.


"Sudahlah, aku mau pergi taksi aku pesan sudah datang."


Nayra dan Arfi yang berhenti didepan villa.


"Nay, kamu mau kemana?" Arfi memegang tangan Nayra.


"Pulang, liburan aku sudah selesai." Nayra melepaskan pegangan tangan Arfi kemudian ia masuk kedalam taksi.


Arfi hanya diam melihat kepergian Nayra, ia tidak menghalangi Nayra karena ia sadar ia sedang liburan bersama Renata dan Kevin.


"Sebenarnya aku ingin bicara banyak dengan Nayra, tapi Nayra sepertinya sedang menghindariku. Apa karena disini ada Renata? Maafkan aku Nay, lagi lagi aku menyakiti hatimu." Arfi segera masuk kedalam Villa.


"Arfi kamu kemana saja?" Tanya Renata ketika melihat Arfi masuk kedalam villa.


"Ku habis dari halaman, ada apa?"


"Barusan papi sama mami kamu telphone. mereka sekarang sedang ada dirumah kita." Nayra memberitahu Arfi.


"Apa." Arfi terkejut mendengar kedua orang tuanya sedang berada dirumahnya.


"Arfi, sebaiknya kita pulang sekarang." Renata mengajak Arfi pulang.


Arfi, Renata dan Kevinpun pergi dari Villa itu, dengan terpaksa mereka harus segera pulang. Sampai dirumah mereka melihat kedua orang tua Arfi sedang menunggu diruang tamu.


"Oma, opa." Kevin berlari kecil menghampiri kakek neneknya, ia memeluk kakek dan neneknya secara bergantian.


"Cucu oma pasti cape, kamu istirahat ya. Oma sama opa mau bicara sama mama dan papa kamu." Ucap Ibu Ayrin yang merupakan ibu kandung Arfi.


"Iya. Oma, opa aku istirahat dulu." Setelah berpamitan Kevin bergegas pergi.


"Sebenarnya ada apa? apa yang ingin mami dan papi bicarakan?" Arfi duduk dihadapan kedua orang tuanya.


Melihat Arfi duduk, Renatapun ikut duduk. ia duduk disebelah Arfi.


"Mama cuma mau tanya, kapan kalian memberikan Kevin adik?" Jawab ibu Ayrin.


Deg

__ADS_1


Jantung Renata seperti ingin berhenti berdetak.


Bagaimana ini? Selama ini aku selalu meminum pil pencegah kehamilan. Renata menjadi cemas.


__ADS_2