
Arfi marah pada Renata karena Renata menyembunyikan kenyataan kalau Renata sudah tidak bisa punya anak, Arfi bingung Renata terlihat sehat. usianya juga belum tiga puluh tahun, tapi kenapa Renata tidak bisa hamil lagi.
Untuk menjawab pertanyaan pertanyaan yang ada dalam pikirannya, Arfi memilih untuk bertanya pada Renata.
Arfi membuka pintu kamarnya dilihatnya Renata sedang bersiap siap untuk tidur.
"Renata aku mau bicara?" Arfi duduk diatas tempat tidur.
Renata yang semula berbaring kemudian duduk, ia ingin tahu apa yang ingin Arfi bicarakan.
"Kenapa kamu tidak bisa hamil? Setahuku kita ini sama sama sehat?"
Apa yang harus aku katakan? kalau arfi tahu aku pernah minum obat pencegah kehamilan, Dia pasti marah. Renata terdiam.
"Renata jawab, jangan diam saja. Memangnya apa yang dokter katatakan?" Arfi menunggu Renata bicara, tapi karena Renata tidak mau bicara Arfi menjadi kesal.
"Aku....aku juga tidak tahu." Renata bohong.
"Kamu tidak tahu? kalau begitu, besok kita akan tahu karena kita akan pergi kedokter bersama mami." Arfi ingin keluar dari kamarnya.
"Arfi, tunggu. Aku akan menjelaskan semuanya." Renata menghalangi Arfi untuk pergi.
Arfi duduk kembali diatas tempat tidur, ia ingin mendengarkan penjelasan Renata.
"Aku tidak bisa hamil lagi, karena peranakanku kering." Renata mulai bercerita.
"Itu semua karena aku sudah lama meminum obat pencegah kehamilan." Renata melanjutkan ceritanya.
Renata tidak berani menatap mata Arfi, pandangannya lurus kedepan ia tidak menoleh kesamping tempat dimana Arfi duduk.
"Apa?" Wajah Arfi terlihat amat marah.
Arfi ingin melampiaskan amarahnya dengan menampar wajah Renata atau menjambak rambut Renata, tapi Arfi tidak mungkin melakukan itu karena ia tidak pernah memukul wanita.
"Selama ini aku selalu merasa bersalah padamu karena aku sudah menikah dengan Nayra, tapi sekarang tidak lagi. Keputusanku memang benar, memang seharusnya aku menikahi Nayra." Arfi mengepalkan tangannya, ia berusaha menahan rasa marahnya.
"Kamu sudah menghianati aku dan kamu bilang kamu tidak salah." Renata tidak mengerti, kenapa Arfi tidak merasa bersalah.
"Yah.. aku memang tidak salah, kalau aku tidak menikah dengan Nayra. Aku tidak bisa punya anak lagi. Renata, sebaiknya kamu terima saja takdir kita. Mungkin memang kamu harus ikhlas berbagi suami."
__ADS_1
Apa benar yang dikatakan Arfi? aku harus menerima Nayra jadi istri kedua Arfi. Arfi bahkan memgucapkannya dengan santai, tanpa beban. Dia sama sekali tidak memperdulikan perasaanku. Renata terisak.
"Tega kamu Renata, aku dan keluargaku menunggu nunggu kamu hamil, tapi kamu malah menimum obat pencegah kehamilan."
Arfi kemudian keluar dari kamar dengan hati yang sedih dan kecewa.
Arfi lalu membuka ponselnya, ia membaca pesan dari Satria.
Pak Arfi, saya sudah datang kerumah bapak tapi sepertinya bapak sedang sibuk dengan ibu Renata. Jadi saya pergi lagi. Sekarang saya ada didepan rumah Ibu Nayra.
Setelah membaca pesan dari Satria, Arfi memasukan ponselnya kedalam saku bajunya lalu ia bergegas pergi untuk menemui Nayra. Tidak sampai dua puluh menit Arfi sudah sampai didepan rumah Nayra.
Didepan rumah Nayra, Arfi melihat mobil Satria masih berada disana. Arfi meminta Satria untuk pergi dari rumah Nayra, ia mengatakan ia sendiri yang akan menjaga Nayra. Setelah Satria pergi, Arfi mengetuk ngetuk pintu rumah Nayra.
Nayra membukakan pintu, ia kaget melihat Arfi datang.
"Arfi, kamu mau ngapain?" Nayra seperti tidak suka melihat kedatangan Arfi.
"Ini rumahku, jadi aku bebas mau ngapain aja." Arfi masuk kedalam rumah itu dengan santai ia duduk disofa ruang tamu.
"Kamu sudah memberikan rumah ini untuk aku, jadi aku berhak mengusir siapa saja yang aku mau. sekarang juga aku minta kamu pergi dari sini." Nayra mengusir Arfi.
"Nay, aku ini suami kamu. harusnya kamu sambut aku, buatin aku minuman atau apa. Bukannya malah mengusir aku."
Nayra tidak tahu kalau Arfi habis bertengkar dengan Renata.
"Aku tidak mau pergi." Arfi melipat tangan diatas dadanya.
"Kamu itu keras kepala, aku bilang pergi ya pergi." Nayra menarik tangan Arfi agar Arfi berdiri dari duduknya.
Arfi menahan tangannya. ia tetap tidak mau beranjak dari tempat duduknya,karena Nayra menarik sekuat tenaga ia menjadi jatuh dan yang membuat Nayra kesal ia jatuh tepat dipangkuan Arfi.
"Nay, aku kangen." Arfi mendekatkan wajahnya pada wajah Nayra.
"Arfi jangan macam macam." Nayra menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Nayra tidak ingin menatap mata Arfi, ia khawatir hatinya akan luluh. Arfi memegang kedua tangan Nayra lalu ia menurunkan tangan Nayra dari wajahnya.
Nayra buru buru melepaskan tangan Arfi. ia ingin berdiri, tapi arfi malah memeluknya. Arfi meletakan wajahnya dibahu Nayra.
__ADS_1
"Nay, katakan. Apa kamu benar benar ingin berpisah denganku?" Suara Arfi terdengar lembut ditelinga Nayra.
Nayra menghela nafas ia menggerakan bahu karena merinding, Nayra bergerak gerak hingga membuat Arfi mengangkat kepalanya dari bahu Nayra.
"Jawab Nay?" Arfi memegang dagu Nayra.
Arfi memutar wajah Nayra kesamping agar Nayra melihat wajahnya dan agar ia bisa menatap mata Nayra, Arfi ingin melihat kejujuran dimata Nayra.
"Aku...Apa aku harus menjawabnya?" Nayra memalingkan pandangan matanya ketika matanya saling bertatapan dengan mata Arfi.
Arfi semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Nayra dan ketika wajah mereka sudah sangat dekat Arfi tiba tiba mencium bibir Nayra.
Nayra membulatkan matanya, ia ingin mendorong dada Arfi.Tapi Arfi malah menarik tengkuk Nayra, Arfi tidak memberi kesempatan Nayra untuk memberontak. Arfi terus memciumi bibir Nayra.
Nayra menjadi lupa diri. Nayra lupa kalau ia akan menceraikan Arfi, Nayra juga lupa dengan Renata. Mungkin saja saat itu Renata sedang menunggu Arfi pulang.
Arfi berhenti mencium Nayra ketika Nayra sudah mulai terbuai, Nayra menundukan wajahnya. Ia merasa kecewa, entah mengapa Nayra ingin Arfi melakukan sesuatu yang lebih dari itu.
"Tubuh kamu lebih jujur." Arfi tersenyum meledek.
"Kamu..." Nayra ingin memukul dada Arfi tapi Arfi sudah lebih dulu memegang tangannya.
"Sayang jangan marah marah terus, kita lanjutkan dikamar."
Wajah Nayra memerah karena malu, ia kembali menunduk. tanpa menunggu jawaban dari Nayra Arfi berdiri sambil mengendong tubuh Nayra. Nayra diam saja ia tidak menolak ataupun memberontak.
Arfi membawa Nayra kekamar, ia membaringkan tubuh Nayra diatas kasur. Arfi membelai wajah Nayra dengan satu tangannya. Nayra memejamkan matanya membuat Arfi merasa bahwa Nayra juga mengingikan dirinya dan tanpa paksaan Nayra melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.
Nayra membuka matanya, ia sedikit kaget saat ia menyadari kalau ia sedang tertidur diatas dada Arfi. Nayra bahkan memeluk pinggang Arfi.
"Apa yang sudah aku lakukan?" Nayra merasa menyesal.
Nayra segera mengambil handuk yang digantung disamping lemari, ia menutupi tubuhnya yang polos dengan handuk itu. Nayra pergi kekamar mandi.
Selesai mandi dan berganti pakaian Nayra mengambil bajunya yang berserakan dilantai Nayra memasukannya kedalam plastik. Nayra sengaja melakukan itu untuk membedakan baju yang bersih dan baju yang kotor. Nayra memasukan plastik itu kedalam tas besar, tas yang berisi baju baju Nayra.
Untung Arfi masih tidur, jadi aku bisa buru buru pergi dari sini. Kenapa aku bodoh sekali, Aku dan Arfi melakukannya padahal kita akan bercerai. meskipun sebenarnya aku tidak ingin berpisah dengan Arfi, tapi demi Renata dan Kevin aku harus melakukan ini. Aku tidak ingin merusak kebahagiaan mereka. Nayra merasa lelah.
Lagi lagi aku harus kabur dan bersembunyi dari Arfi.
__ADS_1
Nayra keluar dari kamar itu, ia meninggalkan Arfi yang masih tertidur pulas.
Maafkan Aku Arfi, aku harus pergi lagi.Sebelum pergi Nayra sempat menoleh, ia merasa berat untuk pergi dari rumah itu.