Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Pernikahan Renata dan Satria


__ADS_3

Nayra merasa tubuhnya memanas ciuman lembut Arfi membuat Nayra terlena, mereka berhenti saat ponsel Arfi berbunyi.


Untunglah ada yang menelphone, kalau aku terus meladeni Arfi. Arfi bisa tahu siapa aku sebenarnya.


Nayra cepat cepat berdiri, ia berlari kecil kekamar meninggalkan Arfi yang sedang menjawab telephone.


Selesai menelphone Arfi baru sadar kalau Nayra sudah tidak ada.


"Dia kabur?" Arfi tersenyum kemudian ia juga masuk kedalam kamarnya.


"Siapa sebenarnya Dewi? Kenapa dia bisa mirip sekali dengan Nayra?" Arfi bertanya tanya.


"Aku harus selidiki Dewi. aku akan cari tahu, siapa sebenarnya Dewi? tidak mungkin ada dua orang sangat mirip kecuali saudara kembar."


Arfi mengambil handuk yang tergantung dikamarnya, kemudian ia bergegas untuk mandi. Setelah mandi barulah ia tidur.


Nayra mondar mandir didalam kamar. ia tidak habis pikir Kenapa Arfi menciumnya, bukankah Arfi tidak suka padanya. penampilannya yang kampungan dan wajahnya yang kelihatan jelek membuat Arfi selalu kesal jika memandangnya.


Apa dia sudah tau kalau aku ini Nayra?


Nayra mulai merasa cemas, tapi karena ia sudah sangat mengantuk. Nayra pada akhirnya memilih untuk tidur


Pagi harinya


Nayra berada didapur saat itu ia sedang memasak bubur untuk Bintang dan Bulan. ia juga sudah selesai memasak untuk Kevin.


Nayra sedang mengaduk aduk bubur yang hampir matang ketika tiba tiba Arfi memeluknya dari belakang, Nayra lalu mematikan kompor ia berusaha ingin melepaskan pelukan Arfi, tapi Arfi justru mempererat pelukannya.


"Nay, jangan kabur lagi." bisik Arfi ditelinga Nayra.


Mata Nayra seketika membulat, Nayra mengira Arfi sudah tahu kalau ia adalah Nayra.


"Pak, lepas saya bukan Nayra. saya Dewi." Nayra tetap tidak mau mengaku kalau dirinya adalah Nayra.


Arfi membuka matanya yang semula terpejam, ia melepaskan pelukannya pada Nayra kemudian ia membalikan badan Nayra agar mereka berdiri saling berhadapan.


"Tapi kenapa wajahmu mirip Nayra?" Arfi mendekatkan wajahnya pada wajah Nayra, ia berusaha mengamati wajah Nayra dari dekat.


Gawat, Aku lupa memakai kaca mata. Nayra keringat dingin, ia meremas bajunya dengan tangan.


Ia ingin mendorong dada Arfi, tetapi Arfi sudah terlanjur mencium bibirnya.


"Bahkan bibirmu rasanya sama seperti Nayra." Arfi tersenyum mengejek saat ia melihat Nayra masih memejamkan matanya padahal Arfi sudah berhenti menciumnya.

__ADS_1


Nayra benar benar malu, ia menundukan wajahnya. seandainya ia tidak memikirkan Anak anaknya, mungkin Nayra sudah kabur dari rumah itu.


"Dewi, aku mau kerja. oiya jangan tunggu aku. aku akan pulang malam."


"Siapa yang perduli? Bapak mau pulang malam atau sore itu kan bukan urusan saya. kenapa bapak harus memberi tahu saya." omelan Nayra, membuat Arfi jadi gemas.


"Cerewet." Arfi tiba tiba mencium bibir Nayra lagi.


Nayra hanya bisa diam mematung ia bahkan sama sekali tidak memberontak dan Ketika Nayra ingin membalas ciuman Arfi tiba tiba terdengar suara Bintang menangis.


"Pak, anak bapak menangis." Dengan cepat Nayra berjalan kekamar Bintang dan Bulan.


Benar saja sampai dikamar Nayra melihat Bintang menangis.


"Sayang, kamu haus ya?"


Nayra mengambil botol susu yang berada diatas meja lalu ia memberikannya pada Bintang. Sedangkan Bulan masih tertidur pulas.


"Untung tadi aku udah buatin susu." Nayra merasa lega ketika Bintang sudah tidak menangis lagi.


"Dewi aku pergi dulu." Arfi masuk kedalam kamar Itu untuk kedua kalinya ia berpamitan pada Nayra.


Nayra tidak menjawab, setelah Arfi menciumnya ia tidak berani menatap mata Arfi. Nayra benar benar khawatir Arfi menyadari kalau ia adalah Nayra bukan Dewi.


"Ingat Dewi, kalau kamu mau tidur kunci semua pintu dan jangan pernah tidur disofa lagi. aku tidak suka melihatnya." ucap Arfi sebelum keluar dari kamar itu.


Nayra memegang dadanya sambil mencoba mengantur napasnya.


"Syukurlah dia sudah pergi." Nayra menarik nafas lega.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Arfi tidak bisa fokus pada pekerjaannya karena pikirannya bercabang, ia memikirkan tentang penikahan Renata. ia juga memikirkan tentang apa yang sudah ia lakukan pada Nayra, Nayra yang ia anggap sebagai Dewi.


Aku kira setelah Nayra meninggal, hatiku tidak akan terbagi lagi. aku kira hatiku hanya untuk Renata, tapi kenapa aku merasa senang berada didekat Dewi? kenapa aku menciumnya? apa karena wajah Dewi mirip dengan Nayra? Nanti setelah Renata menikah aku akan minta Satria mencari tahu tentang Dewi. Arfi duduk sambil memejamkan matanya.


Tok... tok.. tok..


Terdengar suara pintu diketuk.


"Masuk." Arfi membuka matanya.


"Satria, hari ini kamu akan menikah. jadi kamu tidak usah bekerja." Arfi kesal melihat kedatangan Satria.

__ADS_1


Arfi tidak ingin rencana pernikahan Renata gagal karena Satria sibuk bekerja, Arfi ingin Satria fokus pada pernikahan yang akan diadakan sore hari itu juga.


"Saya datang bukan untuk kerja pak. saya cuma mau memberi tahu bapak, kalau persiapan pernikahannya sudah selesai. tempat pernikahan, penghulu, penata rias dan juga baju pengantin sudah saya siapkan." Satria menjelaskan maksud kedatangannya.


"Bagus, pokoknya saya mau semua berjalan lancar. pernikahan kamu dan Renata tidak boleh gagal." Arfi sangat berharap Renata menikah dengan Satria.


"Bapak tenang saja, saya yakin pernikahan ini berjalan lancar." Setelah meyakinkan Arfi, Satria lalu pergi dari ruangan Arfi.


Sore harinya


Renata, Arfi serta Satria sudah berada disebuah kamar hotel yang tertutup. disana juga sudah hadir penghulu dan dua orang saksi.


Sesuai permintaan Arfi, Pernikahan itu diadakan secara rahasia. Arfi membayar berkali kali lipat pada penghulu dan juga saksi yang datang agar mereka mau merahasiakan pernikahan Renata dan Satria.


Pernikahan itu sengaja diadakan didalam kamar hotel selain lebih privat, Arfi juga ingin Renata dan Satria menginap dihotel itu.


Jantung Renata berdebar debar, dalam hati ia masih bertanya tanya. apakah keputusannya itu benar, Menikah hanya untuk bercerai sungguh sesuatu yang tidak pernah ia inginkan. namun melihat wajah Arfi yang bahagia, membuat keraguan Renata menjadi hilang.


Setengah jam kemudian.


"Bagaimana saksi sah?" Tanya penghulu saat Satria sudah selesai mengucapkan ijab kabul.


"Sah.. "


Renata kemudian memegang tangan Satria, ia lalu mencium tangan laki laki yang sudah sah menjadi suaminya.


Arfi sangat kesal melihatnya, tapi ia tidak punya pilihan selain memendam rasa kesalnya.


Setelah penghulu dan dua orang saksi pulang, Arfi segera menarik tangan Renata supaya Renata berdiri didekatnya bukan didekat Satria.


"Aku sudah membayar mahal untuk pernikahan ini, aku harap kalian tidak mengecewakanku." Ucap Arfi dengan suara yang berat.


"Maksudmu?" Tanya Renata bingung.


"Kalian berdua harus melakukan tugas kalian sebagai suami istri, supaya besok kalian bisa bercerai." Arfi menjelaskan.


Jauh didalam hatinya Arfi sebenarnya tidak rela Renata tidur bersama Satria, tapi hanya itu caranya agar Renata bisa bercerai lalu menikah lagi dengannya.


Mendengar kata kata Arfi, Renata menjadi sadar kalau malam itu adalah malam pertamanya bersama Satria.


"Bapak jangan khawatir, saya janji. saya akan melakukan kewajiban saya malam ini juga." ucapan Satria membuat Arfi senang.


"Satria, kamu hanya boleh melakukannya sekali. awas kalau kamu melakukannya lebih dari kali." Perintah Arfi seperti peraturan yang tidak dapat dilanggar.

__ADS_1


Bahkan urusan ranjangpun Arfi ingin mengaturnya, dia benar benar diktator. Renata merasa kesal.


Setelah membuat Renata kesal dengan ucapannya, Arfi lalu meninggalkan kamar itu dengan wajah yang cemberut.


__ADS_2