Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Penyesalan Arfi


__ADS_3

Arfi menghentikan mobilnya disebuah pemakaman umum, Ketika itu Kevin tertidur pulas dikursi mobil yang berada disamping Arfi. Sedangkan Nayra memangku bulan sementara Bintang tidur disamping Nayra duduk.


"Dewi aku mau kemakam istriku dulu, tolong jaga anak anakku." Arfi membuka pintu mobil


Apa yang Arfi maksud makamku?


Nayra diam saja, Nayra jadi merinding membayangkan kalau Arfi menganggap orang didalam kubur itu adalah dirinya.


"Apa kamu tuli? kenapa tidak menjawab." Merasa diabaikan oleh Nayra, Arfi menjadi kesal.


"Iya tuan." Nayra berusaha agar ia tidak menatap mata Arfi karena Arfi sedang memandangnya, kalau mereka saling pandang bisa bisa Arfi tahu bahwa Dewi sebenarnya adalah Nayra.


"Jangan panggil aku tuan." ucap Arfi lalu berjalan pergi meninggalkan Nayra.


"Mumpung anak anak sedang tidur, aku ikuti saja Arfi sebentar. lagi pula ditempat ini kelihatannya aman." Nayra diam diam mengikuti Arfi.


Arfi berhenti didepan makam yang ia anggap sebagai makam Nayra, Arfi lalu duduk didepan makam itu.


"Nay, aku datang. seperti janjiku. aku akan datang setelah aku pulang dari luar negeri. Nay, apa kamu tahu? betapa tersiksanya saat aku tinggal diluar negeri. aku lumpuh dan setiap hari aku selalu merasa menyesal, aku menyesal atas apa yang sudah aku perbuat padamu dan Renata." Arfi memegangi batu nisan dimakam itu.


"Nay, aku sudah bercerai dengan Renata. waktu itu aku mengira aku ini suami tidak berguna. aku pikir, aku tidak akan bisa berjalan lagi karena itu aku menceraikan Renata. aku tidak ingin menyusahkan Renata, tapi ternyata tuhan masih memaafkan kesalahanku. aku sudah sembuh dan aku juga sudah bisa berjalan lagi." Arfi membiarkan air matanya jatuh.


"Aku tidak tahu, sekarang aku harus sedih atau bahagia. aku bahagia karena aku bisa berjalan lagi, tapi sekarang aku kehilangan segalanya aku kehilangan kamu dan Renata. aku juga ragu, apa aku bisa rujuk lagi dengan Renata? aku sudah menjatuhkan talak tiga pada Renata." Arfi bicara sangat panjang, ia mencurahkan isi hatinya.


Nayra terkejut mendengar penuturan Arfi, ia segera pergi dari tempat itu. Nayra tidak ingin berlama lama berada disana karena Arfi pasti akan marah, jika ia sampai tahu Nayra meninggal anak anaknya dan Nayra juga mendengarkan apa yang Arfi katakan.


"Jadi Arfi keluar negeri karena dia ingin berobat dan dia sudah menceraikan Renata. Arfi kenapa kamu tega menceraikan Renata? padahal Renata sangat mencintai kamu dan selama ini aku selalu kabur, menjauhi kamu karena aku tidak mau merusak rumah tangga kamu dengan Renata."


Nayra menutup mulutnya dengan satu tangannya ia tidak dapat menahan tangisnya,


Nayra cepat cepat menghapus air mata nya saat ia melihat Arfi sudah kembali.


Arfi masuk kedalam mobilnya sepanjang perjalanan Arfi sama sekali tidak bicara, sikapnya sangat dingin membuat Nayra merasa tidak nyaman.


Saat mereka sedang sama sama terdiam ponsel ditas Kevin berbunyi, Arfi tidak ingin membangunkan Kevin ia lebih memilih menghentikan mobilnya.


Arfi mengambil tas Kevin, ketika itu Kevin tidur sambil memeluk tasnya. Arfi kemudian mengeluarkan ponsel yang ada didalam tas Kevin. Arfi melihat panggilan telphone untuk Kevin ternyata dari Renata., Arfi lalu menjawab telphone dari Renata.


"Hallo Kevin, nak kamu dimana? kenapa kamu belum pulang juga? tadi mami telphobe oma Ayrin, oma bilang kamu pulang sama papa." Ucap Renata jauh dari seberang sana.


"Kevin sedang bersamaku. kamu tidak perlu menunggunya, malam ini Kevin akan tidur dirumahku." Arfi lalu memutuskan panggigilan telhone Renata secara sepihak.


"Arfi... Arfi! kembalikan anakku." Renata setengah berteriak namun sayang Arfi sudah tidak mendengarnya.


Renata lihat saja nanti, aku tidak akan mengembalikan Kevin kalau kamu tidak mau rujuk denganku.


Arfi sudah punya niat untuk mengancam Renata.


Arfi akhirnya sampai dirumah, ia memilih untuk pulang kerumah yang ia belikan untuk Nayra.


"Papa kita dimana ini?" Kevin teebangun dari tidurnya ketika Arfi menghentikan mobilnya.


"Kita sampai dirumah papa nak. " Arfi menoleh kesamping.


"Kenapa papa engga antar aku kerumah mama?" Kevin mengusap usap matanya.

__ADS_1


"Mami kamu sedang ada pekerjaan keluar kota nak, jadi untuk sementara kamu tinggal sama papa dulu ya."


"Iya pa.. aku juga masih kangen sama papa. tante Dewi juga tinggal sama kita kan pa?" Kevin sangat berharap Dewi tinggal bersama mereka.


Sejak Nayra menjadi baby sister untuk anaknya sendiri, Kevin memang menjadi lebih dekat dengan Nayra karena Kevin sering datang kerumah ibu Ayrin dan pak Bisma.


"Iya sayang, tante Dewi juga tinggal bersama kita." Jawaban Arfi membuat Kevin senang.


Kevin dan Arfi lalu turun dari mobil, Arfi lalu meninggalkan mereka begitu saja.


"Kenapa dia tidak ada inisiatif buat bantu aku." Nayra yang sedang kerepotan kesal karena Arfi tidak membantunnya.


Nayra memang sedikit kesulitan mengeluarkan dua buah stroller dari bagasi mobil. Setelah mengeluarkan stroller itu Nayra mengendong Bintang dan bulan secara bergantian.


Nayra meletakan Bintang dan Bulan satu persatu distroller itu.


"Tante Dewi mau aku bantu?" Kevin yang sejak tadi melihat Nayra kerepotan menawarkan bantuan.


"Engga usah sayang." Nayra menolak sambil tersenyum manis.


"Engga apa apa tante." Kevin memegangi salah satu stoller.


"Tante dorong adik Bintang, aku dorong adik Bulan." Kevin kelihatannya bersungguh sungguh ingin membantu Nayra.


"Iya... tapi kamu hati hati ya dorongnya." Nayra mencubit pelan pipi Kevin, ia merasa gemas dengan sikap anak itu yang sudah seperti orang tua.


Nayra dan Kevin kemudian mendorong stroller stroller itu masuk kedalam rumah.


"Sebenarnya aku mau bantu tante Dewi dari tadi, tapi aku kan engga bisa gendong bayi makanya aku diem aja liat tante kerepotan mindahin adik bayi." Ucap Kevin ketika mereka sudah sampai didalam rumah.


"Ehem.... " Suara deheman seseorang membuat Nayra menoleh.


"Pak Arfi." Nayra gugub ia khawatirkan Arfi mendengar apa yang baru saja ia katakan.


"Permisi, saya mau ketoilet dulu pak." Dengan cepat Nayra berlari kecil kebelakang.


"Aku belum memberi tahu dia, dimana toiletnya. Kenapa dia sudah tahu?" Arfi merasa curiga.


"Papi.. " Panggilan Kevin membuat Arfi berhenti bicara.


"Ada apa nak?" Arfi melihat kearah Kevin.


"Tante Dewi itu mirip bu Nayra ya? apa mungkin tante Dewi itu sebenarnya bu Nayra?" Kata kata Kevin membuat Arfi terkejut.


Pertama kali melihat Dewi, Arfi memang sempat mengira Dewi itu adalah Nayra. tapi karena Arfi yakin Nayra sudah meninggal dan penampilan Dewi yang berantakan membuat Arfi membuang pikirannya kalau Dewi adalah Nayra.


Arfi mengira karena perasaan bersalahnya pada Nayra dan karena belum bisa melupakan Nayra maka ia menyangka Dewi adalah Nayra.


Ternyata Arfi salah bukan hanya dirinya yang mengira Dewi adalah Nayra, Kevin anaknya ternyata juga mempunyai pikiran yang sama dengannya.


"Sayang, itu engga mungkin. tante Dewi itu bukan Bu Nayra karena bu Nayra sudah meninggal" Arfi menyakinkan Kevin.


"Papi yakin?" Kevin merasa ragu.


"Tentu saja papa yakin, papa lihat sendiri taksi yang bu Nayra naiki berguling guling jadi engga mungkin bu Nayra selamat."

__ADS_1


"Begitu ya pa. pa.. dimana kamarku? aku mau istirahat." Kevin jadi sedih dan kecewa.


"Kamar dirumah ini banyak, kamu boleh pilih kamar mana saja yang kamu mau." Arfi bisa melihat raut sedih diwajah putranya.


Kevin kemudian berjalan cepat kelantai dua, ia memilih kamar yang ada diatas.


Kevin, papa juga sama seperti kamu. papa belum bisa percaya kalau Nayra sudah meninggal, tapi itu kenyataannya.


Lamuyan Arfi terbuyar ketika ia mendengar suara teriakan Nayra.


"Aa.... " Suara jeritan Nayra sampai terdengar ketelinga Arfi.


Arfi buru buru berlari menuju kearah toilet, Ketika Arfi berlari Nayra juga sedang berlari alhasil mereka bertabrakan.


Nayra hampir saja terjatuh, tapi Arfi dengan cepat memegangi pinggang Nayra. satu tangan Arfi memegang pinggang Nayra dan satu tangannya lagi memegang tangan Nayra yang berada diatas dada Arfi.


Jarak mereka sangat dekat, wajah Nayra memerah. Nayra jadi salah tingkah, untuk beberapa saat mereka saling berpandangan


Kenapa hatiku seperti ini? Kenapa aku merasa senang berada sedekat ini dengan Dewi? perasaan ini sama seperti ketika aku sedang bersama Nayra.


Arfi berusaha mengendalikan perasaannya, ia lalu mengucapkan kata kata pedas yang tidak enak didengar.


"Kamu kira ini dihutan? teriak teriak." ucapan sinis Arfi membuat Nayra tersadar kalau posisinya dan Arfi terlalu dekat.


"Maaf pak, tadi dikamar mandi saya takut." Nayra mendorong dada Arfi sambil membenarkan posisi berdirinya agar ia tidak terlalu dekat dengan Arfi.


"Takut kenapa?"


"Tiba tiba lampu mati jadi saya takut pak, untung saya sudah selesai buang air kecil." Nayra mencoba memberi penjelasan pada Arfi.


"Jadi sekarang mati lampu?" Karena masih sore dan langit masih terang Arfi tidak tahu kalau saat itu mati lampu.


"Iya Pak." Nayra langsung menuduk ketika ia dan Arfi kembali saling berpandangan.


"Kamu takut gelap?" Arfi maju selangkah mendekati Nayra.


Nayra berjalan mundur karena Arfi terus berjalan maju, sampai akhirnya tubuh Nayra menempel didinding.


"Kamu tahu kamu mirip seseorang?" Arfi tidak melepaskan pandangan matanya pada Wajah nayra yang mulai pucat.


"Siapa?" Nayra takut penyamarannya terbongkar.


"Istriku... istriku NAYRA" Arfi memperjelas kata Nayra.


Deg.....


Jantung Nayra berdetak lebih kencang, Nayra tidak mengerti. kenapa saat didekat Arfi jantungnya sering berdebar debar dan berdetak lebih kencang. Nayra berusaha untuk tenang, ia menarik nafas berlahan lahan.


"Tapi saya bukan Nayra." Nayra menggeleng.


"Benarkah? kalau begitu biar aku buktikan." tangan Arfi menyentuh kaca mata Nayra, ia ingin melepaskan kaca mata itu.


Arfi hampir saja membuka kaca mata Nayra, tapi karena ponselnya berbunyi Arfi menurunkan tanganya. Arfi berjalan menghampiri ponselnya yang ketika itu berada diatas meja makan.


"Syukurlah." Nayra menarik nafas lega sambil memegangi dadanya.

__ADS_1


__ADS_2