
Nayra dan Arfi duduk disebuah ditaman yang tidak jauh dari rumah Nayra. Nayra melupakan niatnya untuk membeli obat, bertemu dengan Arfi membuat sakit ditangan Nayra tiba tiba terasa hilang.
Mungkin terdengar berlebihan, tapi hanya dengan melihat Arfi Nayra bisa mengabaikan rasa sakitnya.
"Sayang, kenapa kamu menangis." Arfi melihat Nayra menghapus air matanya.
"Raddit.." Nayra menyebutkan nama Raddit.
"Ada apa dengan bocah aneh itu?" arfi kesal Nayra menyebut nyebut nama Raddit.
"Raddit marah. dia tidak mau lagi, berteman denganku. Raddit sudah tahu kalau kita sudah menikah karena itu dia marah." Nayra bercerita sambil menangis.
"Sayang, biarkan saja kalau dia tidak mau berteman denganmu. lagi pula kamu juga tidak pantas berteman dengannya, dia itu masih bocah."
Arfi berusaha untuk menghibur Nayra, tetapi bukannya terhibur Nayra justru merasa kesal
"Raddit memang bocah, tapi dia temanku. dia selalu ada untukku. tidak seperti kamu." Sindir Nayra.
"Raddit selalu ada untuk kamu? kalau begitu minta maaf sama dia. kalau perlu kamu nikah sekalian sama dia." Arfi cemburu, ia tidak suka Nayra membanding bandingkan dirinya dengan Raddit.
"Kamu datang kesini hanya untuk mengajak aku bertengkar? kalau iya, lebih baik kamu pulang." Nayra mengusir Arfi.
"Oke.. oke.. aku pulang. tidak perlu disuruh,aku juga mau pulang." ucap Arfi sewot.
"Sampai dirumah, Renata pasti akan menyambutku dengan senang hati. tidak seperti kamu. suami datang bukannya senang, malah marah marah." Arfi memanas manasi Nayra agar Nayra cemburu.
Nayra tidak menggubris Arfi yang sedang marah, ia berjalan meninggalkan Arfi begitu saja. Nayra berjalan tanpa melihat jalan disekitarnya, ia tidak menyadari saat ada motor yang akan melintas dihadapannya.
"Awas.. " Seseorang menarik tangan Nayra dengan cepat, membuat Nayra terkejut.
"Kalau jalan lihat lihat!" Bentak orang itu.
"Raddit." Nafas Nayra terengah engah, ia merasa lelah.
Satu tangan Raddit memegang tangan Nayra dan satu satu tangannya lagi memegang pinggang Nayra, mereka saling berpandangan.
Deg...
Jantung Raddit berdetak lebih kencang, Raddit mengalihkan pandangan matanya. kemudian ia melepaskan pegangan tangannya pada Nayra.
"Ehemm.. Romantis banget kalian." Arfi yang melihat kejadian itu menjadi geram.
"Gue cuma menolong Nayra." ucap Raddit ketus.
"Dengan cara memegang tangan istriku?" Arfi tidak kalah sinis.
"Kalau lu engga mau, istrilu dipegang pegang. jaga istri lu."
Raddit pergi meninggalkan Arfi dan Nayra, ia tidak memperdulikan Arfi yang sepertinya ingin membalas perkataannya.
__ADS_1
"Ayo, kita pulang." Arfi menarik tangan Nayra.
"Aww.. " Nayra meringis kesakitan.
"Nay, kamu engga usah pura pura. tadi waktu Raddit narik tangan kamu, kamu diam saja." Arfi mengira Nayra sedang berpura pura sakit.
"Raddit menarik tangan kiriku dan yang sakit itu tangan kananku." Nayra menunjukan tangannya yang terluka ia sangat kesal.
"Tangan kamu kenapa?" Arfi ingin memegang dan melihat tangan Nayra yang terluka.
"Bukan urusanmu." Nayra menarik tangannya.
Nayra ingin pergi meninggalkan Arfi tetapi Arfi manahannya.
"Tunggu." Arfi memegang pergelangan tangan Nayra. tanpa meminta ijin dari Nayra, Arfi langsung menggendong Nayra.
"Arfi, turunkan aku." Nayra memukul mukul dada Arfi.
"Diam Nay! tadi kamu hampir tertabrak motor, kamu tidak fokus, pikiran kamu kemana mana. Bagaimana kalau ada motor yang benar benar menabrak kamu?" Arfi membentak bentak Nayra.
Nayra diam, ia tidak membalas kata kata Arfi. dimatanya, saat itu Arfi sedang berubah. berubah menjadi orang yang menyeramkan. Nayra memang sedikit takut ketika Arfi sedang marah.
"Kenapa kamu diam? kamu tidak suka aku gendong? atau kamu lebih suka dipegang pegang sama Raddit?"
Nayra tetap diam, badannya lemas dan kepalanya sedikit pusing Nayra memilih menyandarkan kepalanya dibahu Arfi.
"Cih.. tadi menolak. semua perempuan yang aku kenal sama saja, lain dimulut lain dihati." Arfi tersenyum.
"Aku ambil kotak obat dulu dimobil." ucap Arfi sambil berjalan keluar dari rumah Nayra.
Mobil Arfi diparkir tepat didepan rumah Nayra, sehingga Arfi tidak membutuhkan waktu lama untuk mengambil obat. Arfi duduk disamping Nayra setelah ia mengambil kotak obat dimobilnya.
"Lain kali hati hati." Arfi mengoleskan obat luka ditangan Nayra.
Nayra masih tetap diam tak bersuara, ia tidak mengeluarkan satu patah katapun.
"Nay, aku minta maaf. beberapa hari aku tidak memberimu kabar, ini semua karena Renata. Renata cuti kerja, kemanapun aku pergi dia selalu mengikutiku. aku sampai risih." Cerita Arfi.
"Dia itu istrimu. apa salahnya seorang istri mengikuti suaminya." Nayra cemberut.
"Kamu juga istriku."Arfi tiba tiba membaringkan tubuhnya, ia meletakan kepalanya diatas paha Nayra.
"Bangun, kenapa kamu tiduran disini? Nayra menjadi salah tingkah, ia mencoba mengangkat kepala Arfi agar Arfi bangun.
Arfi tidak ingin bangun, ia justru memeluk pinggang Nayra
"Aku sering mencoba menelphonemu, tapi hp kamu tidak aktif. hp kamu masih rusak?" Arfi menatap mata Nayra yang sedang menatapnya.
"Iya." Nayra buru buru melihat kearah lain.
__ADS_1
"Nay, lihat aku." Arfi tiba tiba duduk, ia mendekatkan wajahnya dengan wajah Nayra dan ketika Arfi ingin mencium bibir Nayra tiba tiba terdengar suara yang membuat Arfi kesal.
Bunyi suara ponsel Nayra terdengar sangat jelas, Nayra segera mengambil ponselnya yang ada diatas meja makan. ia meninggalkan Arfi yang masih duduk disofa.
Nayra menjawab telphone dari pak Hardi, kepala sekolah tempat Nayra bekerja. beberapa saat setelah Nayra menjawab telphone, ia kembali duduk disamping Arfi.
"Telphone dari siapa?" Arfi terlihat tidak senang.
"Pak Hardi." Jawab Nayra
"Mau apa dia?"
"Pak Hardi bilang, dua hari lagi ada rapat orang tua murid. besok aku diminta datang lebih pagi ada yang mau Pak Hardi bicarakan." Nayra memberi penjelasan.
"Rapat? mau membahas soal apa?"
"Aku juga belum tahu." Nayra mengangkat sedikit bahunya.
"Arfi."
"Apa?"
"Renata sudah tahu kalau kita sudah menikah, apa dia tidak marah?" Tanya Nayra ingin tahu.
"Renata ingin mempertahankan rumah tangga kita dan semua ini demi Kevin."
"Jadi Renata menerima kalau kamu punya istri lain?"
"Tidak, Renata ingin kita bercerai."
Untuk sesaat Nayra memejamkan matanya, tanpa terasa butiran butiran bening jatuh dari kedua matanya yang indah.
"Kamu turuti saja keinginan Renata."
"Kamu mau kita bercerai?" Arfi menjadi marah, ia tidak menyangka Nayra ingin bercerai dengannya.
Nayra tidak berani bicara, ia hanya mengangguk.
"Kita baru menikah tapi kamu sudah minta cerai, keterlaluan kamu." hardik Arfi.
"Lalu aku harus bagaimana? Renata ingin mempertahankan rumah tangganya, dia tidak bisa menerima kehadiranku dan aku.. aku juga tidak sanggup terus terusan jadi yang kedua." Nayra terisak.
"Jalan satu satunya kita bercerai." dengan berat hati Nayra mengucapkan kata kata pisah.
"Nay, apa tidak ada sedikitpun rasa dihati kamu untukku? sampai kamu ingin berpisah denganku. apa kamu pikir aku ini mainan yang bisa kamu buang kapan saja?" kata cerai yang terucap dari mulut Nayra membuat hati Arfi sakit.
"Bukan begitu aku... " belum Selesai Nayra bicara, Arfi sudah memotong kata katanya.
"Cukup Nay, cukup. aku tidak mau dengar lagi.semuanya sudah jelas, aku ini memang tidak ada artinya bagi kamu karena itu kamu minta cerai." Mata Arfi mulai berair.
__ADS_1
Arfi tidak ingin menangis didepan Nayra, ia buru buru pergi dari rumah Nayra. Arfi meninggalkan Nayra yang masih menangis