Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Rumah sakit 2


__ADS_3

Renata sudah sampai dirumah sakit, ia menunggu Nayra yang sedang diperiksa oleh dokter.


"Dokter bagaimana keadaan Nayra?" Tanya Renata ketika dokter sudah selesai memeriksa Nayra.


"Ibu Nayra dan bayinya baik baik saja." Jawab dokter itu.


Bagai mendengar suara petir yang mengelegar, Renata sangat terkejut. Tubuhnya mendadak lemas seperti tak bertenaga. hatinya sangat sakit seakan ada ribuan jarum yang menusuknya.


"Maksud dokter Nayra hamil?" Meskipun Renata tahu apa maksud dari kata kata dokter tersebut, tapi Renata berusaha meyakinkan dirinya sendiri. Benarkah Nayra sedang hamil.


"Iya benar, ibu Nayra sedang hamil. Karena usia kandungannya masih muda jadi Ibu Nayra harus banyak istirahat dan tidak boleh cape cape." Dokter itu memberi penjelasan pada Renata.


Setelah memberi penjelasan pada Renata dokter itu pergi meninggalkan kamar tempat dimana Nayra dirawat.


"Padahal yang ingin punya anak itu aku, tapi kenapa yang hamil Nayra? Apa ini pertanda kalau Nayra dan Arfi tidak bisa berpisah?"


Renata menangis, dunianya seakan runtuh. susah payah ia mempertahankan rumah tangganya, tapi ia harus menghadapi kenyataan pahit bahwa Nayra istri kedua suaminya sedang hamil.


Renata ingin meninggalkan ruangan yang membuat dadanya terasa sesak. melihat Nayra seperti melihat bayangan penghianatan suaminya.


Ponsel nayra tiba tiba berdering, hal itu membuat Renata membatalkan niatnya. Renata mencari ponsel Nayra yang berdering dan ternyata ponsel itu ada disaku baju Nayra. Renata mengambil ponsel itu, dilayar ponsel itu terlihat tulisan myprince.


Renata menjawab telphone itu. betapa hancurnya hati Renata, ketika ia mendengar suara Arfi.


"Nayra sayang, kamu dimana? Aku ada didepan rumah kamu." Suara Arfi terdengar lembut.


Renata, mematikan ponsel Nayra, ia tidak sanggup mendengar suara lembut Arfi yang ditunjukan untuk perempuan lain.


Nayra tidak mengunci ponselnya, karena ponselnya belum lama ia beli. ia lupa untuk mengunci ponselnya. Renata membuka isi pesan yang ada diponsel Nayra, ternyata disana tidak ada apa apa.


Sejak Nayra mengganti ponselnya. Nayra memang belum pernah mengirim pesan pada Arfi, Nayra juga tidak memberi tahu nomer ponselnya baru pada Arfi.


"Nayra pasti sudah menghapus semua pesan mesranya dengan Arfi." Renata kemudian menulis pesan untuk Arfi.


Aku ada dirumah sakit, cepat datang kesini. Renata kemudian mengirim pesan itu.


Arfi panik dan cemas setelah membaca pesan, yang ia kira dari Nayra. Renata juga memberitahu nama rumah sakit dan kamar dimana Nayra dirawat.


Disamping tempat tidur Nayra ada sebuah horden, Renata sengaja menutup horden itu agar cahaya matahari pagi tidak membuat matanya menjadi silau. Renata tidak menutup horden jendela karena jendela dikamar itu aga jauh dari tempatnya duduk.


Tidak lama kemudian Arfi datang, Arfi melihat kamar itu kosong.


"Benar ini kamarnya, tapi kenapa Nayra tidak ada?" Arfi membuka lagi ponselnya dan ia merasa ia tidak salah kamar.


Arfi kemudian berinisiatif untuk menelphone Nayra. Arfi mendengar suara ponsel Nayra berdering tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Arfi melihat kesamping dan ia sangat terkejut melihat horden disampingnya tiba tiba terbuka, ia bertambah terkejut karena yang membuka horden itu ternyata adalah Renata.


"Renata." Arfi menjadi gugup, keringat dingin mengalir didahinya. Wajahnya sedikit pucat. Arfi menurunkan tangannya ponsel yang semula menempel ditelinganya kini ikut turun bersama tangannya.


"Kamu, kenapa ada disini?" Arfi mengusap dahinya.


"Karena aku yang membawa Nayra kesini." Renata berjalan mendekati Arfi.

__ADS_1


Saking terkejutnya Arfi sampai tidak menyadari kalau ia belum mematikan panggilan telphonenya.


"Kamu lihat ini, Myprince. Jadi bagi Nayra kamu itu adalah pangeran. tidak disangka, romantis juga istri kamu." Renata memperlihatkan ponsel Nayra.


Arfi melihat layar ponsel Nayra yang Renata pegang, ponsel itu berada tepat didepan wajah Arfi. Saat Arfi sedang fokus melihat ponsel Nayra, dengan cepat Renata mengambil ponsel milik Arfi.


Ponsel Arfi sudah berpindah tangan, Renata sudah memegang ponsel itu, Renata melihat layar ponsel Arfi, disana terlihat panggilan telphone untuk Nayra dan Arfi menulis nama Nayra dengan tulisan Myprincess.


"Myprincess, oh.. ternyata bukan cuma Nayra yang romantis tapi kamu juga. Kalian memang pasangan serasi." Tanpa terasa air mata mengalir dari kedua belah mata Renata.


Arfi tidak bisa berkata kata, ia hanya diam membisu.


"Apa kamu tahu, kenapa aku meminta kamu datang kerumah sakit ini? Karena aku punya berita bahagia untuk kamu. Nayra istri kesayangan kamu sedang hamil."


Lagi lagi Renata membuat Arfi terkejut, seandainya tidak ada Renata mungkin Arfi sudah memeluk Nayra yang saat itu masih terbaring dikamar rumah sakit.


Jadi Nayra hamil, itu berarti kita tidak bisa bercerai.


Arfi sangat bahagia tapi ia tidak ingin menunjukan dihadapan Renata.


Nayra tersadar dari pingsannya, ia melihat Arfi dan Renata sedang berdiri berhadap hadapan.


Arfi dan Renata, mereka ada disini. mereka pasti sudah tahu kalau aku hamil. Nayra yang semula berbaring mencoba untuk duduk.


"Renata." Suara Nayra membuat Arfi dan Renata menoleh. mereka baru menyadari kalau Nayra sudah sadar.


"Renata, terima kasih kamu sudah menolongku." Nayra berterima kasih pada Renata.


"Tidak perlu berterima kasih. Selamat untuk kalian berdua, sebentar lagi Kalian akan punya anak. Arfi, kamu pasti senang karena sebentar lagi impian kamu akan terwujud." kata kata Renata membuat Nayra merasa tidak enak.


Nayra dan Arfi sama sama menatap Renata, Renata baru ingin melangkahkan kakinya, ia ingin meninggalkan kamar itu.


"Tunggu Renata, Renata meskipun aku hamil aku akan tetap bercerai dengan Arfi. Setelah anak ini lahir aku akan bercerai dan anak ini, akan aku berikan pada kalian." Kalau tadi Arfi dan Nayra yang dibuat kaget karena ucapan Renata, kini giliran Arfi dan Renata yang kaget mendengar apa yang Nayra katakan.


"Bercerai, bercerai. itu yang selalu kamu ucapkan. kamu bukan hanya ingin membuang aku, tapi kamu juga ingin membuang anakmu." Arfi yang sejak tadi diam mulai buka suara.


"Aku tidak membuangmu. sejak awal kamu adalah suami Renata, jadi sudah sepantasnya kamu bersama Renata bukan bersamaku dan tentang anak ini, aku juga tidak membuangnya. Aku hanya tidak ingin kita berebut anak." Nayra turun dari tempat tidur sambil memegangi perutnya.


"Oke... Kalau kamu ingin bercerai. Aku akan kabulkan permintaanmu, tapi soal anak yang ada diperut kamu. Aku tidak akan mengambilnya, bawa dia pergi bersamamu. Aku tidak mau merawatnya. Aku dan Renata bisa punya anak sendiri jadi aku tidak butuh anakmu." Kata kata pedas Arfi membuat Nayra sakit hati.


Arfi bahkan memanas manasi Nayra dengan merangkul Renata dihadapan Nayra.


"Arfi, kamu jangan bicara begitu. Kamu ingat papi dan mami kepingin punya cucu lagi dan sekarang Nayra hamil. Kenapa kamu meminta Nayra membawa anakmu?" Renata melepaskan rangkulan tangan Arfi.


"Sayang, kita kan bisa punya anak sendiri." Arfi ingin membuat Nayra cemburu, ia sengaja memanggil Renata dengan kata sayang.


"Tapi sekarang yang hamil itu Nayra, aku belum hamil." Renata kesal dengan sikap Arfi yang angkuh.


Arfi, seandainya kamu tahu? Renata tidak bisa punya anak lagi, hanya aku yang bisa memberikanmu anak. Kalau aku memberi tahumu. kamu pasti akan malu dan tidak akan bersikap sombong seperti ini. Nayra sedih.


"Arfi, kamu harus menerima bayi Nayra." bujuk Renata.


"Kalau aku bilang tidak, ya tidak." Arfi marah.

__ADS_1


Sebenarnya Arfi marah bukan karena Renata, tapi karena ia kecewa dengan Nayra. Nayra begitu ingin berpisah dengannya.


"Tapi..." Renata kembali ingin bicara tapi Nayra memotong kata katanya.


"Cukup! Kalian jangan bertengkar disini. Apa kalian tahu? berada diantara kalian berdua, membuat aku lelah. Aku.. Aku tidak sanggup lagi, aku pergi." Nayra seperti ingin menangis, tapi ia berusaha menahan air matanya.


Nayra lalu berjalan keluar dari kamar rumah sakit itu, Arfi juga keluar dari sana. Ia tidak berkata apa apa pada Renata.


Nayra berjalan berlahan lahan. Nayra tidak bisa berjalan cepat karena ia sedang hamil dan keadaannya masih lemah setelah pingsan.


Nayra melihat Arfi berjalan mendahuinya tanpa menyapa Nayra dan tanpa mengkhawatirkan keadaan Nayra Arfi pergi begitu saja.


Mata Nayra berkaca kaca. ia hampir saja menangis, tapi ia tidak mungkin menangis ditempat umum.


"Nayra." Suara Renata yang menyebut namanya membuat Nayra menoleh kesamping.


"kamu mau pulang? bagaimana kalau aku antar?" Renata menawarkan bantuan, entah mengapa Renata merasa iba pada Nayra.


Nayra sedang hamil, tapi kemana mana harus pergi sendiri tanpa suami. Renata masih ingat saat ia mengandung Kevin, Arfi sangat memanjakannya. Arfi selalu ada untuknya bahkan Arfi sering tidak bekerja hanya untuk menemani Renata dirumah.


Ketika Renata hamil, Arfi yang selalu mengantarnya periksa kerumah sakit. berbeda sekali dengan Nayra. ia sampai diganggu preman preman dijalan karena pergi sendirian, tiba tiba Renata merasa lebih beruntung dari Nayra.


"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri. Renata kamu jangan terlalu baik padaku." Ucap Nayra.


"Kenapa?"


"Aku ini pelakor, aku tidak pantas mendapatkan kebaikan dari kamu. Aku serius dengan apa yang aku katakan tadi, setelah aku melahirkan aku akan bercerai dengan Arfi dan bayi ini. Kalau kalian tidak mau, aku akan membawanya." Nayra kembali berjalan.


"Nayra." Renata memegang tangan Nayra.


"Ada apa lagi?" Nayra memegang perutnya.


"Kenapa kamu rela memberikan anakmu?" Tanya Renata penasaran, ia melepaskan pegangan tanganya pada Nayra.


"Karena aku tahu kamu tidak bisa punya anak lagi. meskipun anakku ini bukan anakmu, tapi anak ini darah daging Arfi. Aku yakin keluarga Arfi pasti akan menerimanya dengan begitu Arfi dan keluarganya tidak akan memintamu untuk punya anak lagi." Jawaban Nayra membuat hati Renata tersentuh.


Nayra, dia memang salah karena dia sudah berada diantara aku dan Arfi. Aku pikir Nayra akan menggunakan kehamilannya untuk merebut Arfi ternyata aku salah, Nayra tidak pernah berniat merebut Arfi dariku. Renata melihat Nayra yang mulai berjalan dan pergi menjauh darinya.


Nayra akhirnya sampai diumahnya, ia membuka pintu kemudian menutupnya kembali. Nayra juga tidak lupa mengunci pintu, ia tidak takut Arfi datang dan masuk kedalam rumahnya.


Apa yang aku pikirkan? Kenapa aku mengunci pintu dan berpikir Arfi akan datang mencariku. Nayra membaringkan tubuhnya diatas sofa.


"Arfi tidak akan datang, tapi memang sebaiknya aku mengunci pintu supaya lebih aman." Nayra ingat saat ia diganggu preman preman karena itu ia membiarkan pintu rumahnya tetap terkunci.


Tok...tok..tok..


Belum lima menit Nayra berbaring, pintu rumahnya sudah diketuk.


"Siapa yang bertamu pagi pagi begini?" Dengan malas Nayra berjalan kearah pintu.


Nayra membuka pintu dan ia menarik nafas panjang ketika ia melihat siapa yang datang.


"Renata, Arfi. Mau apa lagi kalian?" Nayra tidak tahu kalau yang mengetuk pintu adalah Arfi dan Renata.

__ADS_1


Bodoh, seharusnya tadi aku intip dulu dari jendela. biar aku tahu siapa yang datang. Kalau tahu mereka yang datang, aku tidak akan membukakan pintu. Batin Nayra.


__ADS_2