
Malam ini aku hanya membolak balikan badan mata ku benar benar enggan terpejam bayangan Soffie dan Anindya berseliweran di benak ku.
Segala cara telah kucoba dari berendam panas di bath up hingga menutup mata ku dengan sleeping pack tapi hasil nya nihil.
Entah pukul berapa aku bisa terlelap yang jelas aku merasakan tubuhku sangat lelah akibat kurang tidur.
Jika tidak ingat bahwa hari ini ada meeting penting dengan client tentunya aku memilih untuk melanjutkan tidur.
Saat aku baru saja turun dari mobil aku melihat sekurity tengah bersitegang dengan seseorang di loby nampaknya seseorang itu yang kelihatan seorang wanita memaksa menerobos masuk kedalam kantor.
Aku mempercepat langkah ku karena didorong rasa penasaran ada apa sepagi ini sudah ada drama di kantor.
Namun aku urung meneruskan langkah ku saat aku tahu siapa wanita yang tengah bersitegang dengan security itu.
" Heh, kamu tidak tahu siapa saya? Saya ini istri pemilik perusahaan ini minggir jangan halangi saya!." Bentak wanita itu sambil tetap berusaha menerobos masuk kedalam.
Karena situasi yang semakin tidak kondusif akhirnya aku bergegas menghampiri mereka, karena sibuk adu mulut mereka sepertinya tidak menyadari kehadiran ku.
" Maaf bu kami hanya menjalan kan tugas kami." sahut kedua sekuriti kantor itu.
" Erhhhm! ada apa ini pagi pagi ada keributan." Ujar ku sambil berdehem sontak hal itu membuat kedua kubu yang tengah bersitegang spontan menoleh kearah ku.
" Selamat pagi Pak Arya." Ucap dua orang security yang seraya sedikit membungkukan badan nya.
" Pagi." Sahut ku membalas ucapan mereka.
" Ini pak ibu ini mencari Pak Hendrawan, dan berteriak teriak". Ujar salah seorang diantara mereka menunjuk kearah istri Hendrawan dengan jari jempolnya.
"Tidak apa apa biarkan beliau masuk." Sahutku datar dan meneruskan langkah menuju keruangan kerja ku melawati Istri Hendrawan.
" Tunggu.. sepertinya kita pernah bertemu . " seru istri Hendrawan aku menghentikan langkah ku dan membalikan badan kearahnya.
" Maaf anda sepertinya salah orang kita tidak pernah bertemu sebelumnya, permisi."
Sahut ku berusaha se cool mungkin untuk menutupi rasa grogi ku karena ternyata istri Hendrawan masih mengenali ku kejadian di cafe tempo hari saat dia melabarak Anindya.
Fiuuuuh! aku menghembuskan nafas lega karena bisa mengecoh istri Hendrawan , aku ingin tahu apa yang selanjutnya terjadi diantara mereka .
Terutama diantara Anindya dan Hendrawan akan kah Hendrawan mencampak kan Anindya? hati ku sibuk menerka nerka.
__ADS_1
Jika Hendrawan mencampakan Anindya berarti aku sudah tidak punya halangan untuk mendekatinya lagi gumam ku senang.
Aku bersiap siap hendak keluar kantor karena akan menghadiri RUPSLB yabg di gelar di salah satu hotel di bilangan MH TAMRIN itu.
Ditengah perjalanan , Anindya menghubungi ku suaranya terdengar serak dan parau aku bisa menebaknya hal itu di sebabkan karena dia habis menangis.
" Hallo Nind , kamu kenapa dan kamu dimana?." Ujar ku merasa khawatir dengan keadaannya.
" Maaaas, saya.."
Anindya tidak meneruskan ucapannya membuat hatiku di landa rasa cemas yang besar
" Nind... Kamu kenapa jangan bikin mas cemas dong." ujar ku panik.
Anindya menceritakan apa yang telah terjadi dengan dirinya setelah Hendrawan menyalah kan diri nya atas semua yang terjadi .
Dan kini hendrawan menceraikan dirinya karena memang mereka hanya menikah secara bawah tangan.
"Ya sudah kamu tunggu, mas tidak bisa menemui kamu sekarang karena ada urusan perusahaan yang harus mas hadiri." Seloroh ku.
" Iya mas maaf , ya mas mengganggu." sahutnya merasa tidak enak.
Sepanjang rapat aku tidak bisa berkonsentrasi karena bayangan Anindya terus berkelabat di benak ku ada rasa khawatir yang begitu besar membebani perasaan ku.
Aku terus bertanya tanya tentang perasaan ku pada Anindya apakah ini cinta?, obsesi? atau sekedar empathy?" akhh entahlah! dengan ekor mata ku aku melirik kearah Hendrawan dia pun sama hal nya dengan diriku tampak gelisah dan tidak fokus sepanjang rapat berlangsung.
Akhirnya aku bisa bernafas lega rapat akhirnya selesai dan para investor merestui perusahaan menggelar Right issue yang dananya nanti akan di gunakan untuk ekspansi bisnis.
Investor begitu antusias mendengar penjabaran yang perusahaan sampaikan terkait right issue kali ini dan kami yakin bahwa right issue kali ini akan sukses besar.
Aku bergegas meninggalkan hotel tempat RUPSLB di gelar dan menuju parkiran segera aku menghubungi Anindya .
" Hallo, Nind mas baru saja selesai rapat kamu dimana?." Tanya ku saat sudah tersambung dengannya melalui sambungan telfon.
"Ya mas, saya dirumah." Sahutnya masih dengan suara serak.
" Mau mas jemput atau gimana." Tanyaku.
Anindya menolak untuk di jemput dia memutuskan untuk menyetir sendiri untuk datang ketempat yang telah kami sepakati.
__ADS_1
Dia datang dengan mata yang sembab dan raut muka yang sedih, dia menceritakan kronologi hingga akhirnya Hendrawan menceraikannya hanya melalui Pesan .
Suaranya tersendat tampak susah payah dia mengontrol emosinya saat menceritakan apa yang di alaminya.
Aku menghela nafas sebagai lelaki aku begitu kasihan melihat Anindya, namun aku tidak bisa memihak siapa pun jika aku di pihak Hendrawan aku pun tentunya akan kesulitan menentukan pilihan.
" Nind ..sudah ya lupakan . mungkin ini yang terbaik bagi kalian,mas tahu ini tidak akan mudah untuk di lalui."
" Tapi yakin lah, akan ada pelangi sesudah hujan semangat!." Ujar ku memberinya semangat sambil ku genggam tangannya.
" Entah lah mas , aku tidak yakin mampu melewati semua ini sendirian, apalagi ada nazwa suatu hari pasti dia akan menanyakan papanya."
" Be strong, be tough.. okay i know you can!." Ujar ku berusaha membesarkan hatinya yang tengah remuk redam.
" thank's mas i will." Sahutnya seraya memaksakan senyum .
" Kalau kamu butuh teman curhat jangan sungkan untuk contact mas ya hmm" imbuh ku lagi seraya menyeka buliran bening yang menggenang di pelupuk matanya.
...****************...
" Alex ayo sini sayang kenalan dengan teman teman barunya." Ujar wali kelas nya tersenyum lembut menghampiri Alex yang memegang erat tangan ku saat mengantar nya di hari pertama ia masuk sekolah.
Alex masih tampak sedikit canggung berbaur dengan teman temannya
" Ayo sayang." wali kelas nya masih berusaha membujuk Alex yang masih enggan melepaskan pegangan tangannya.
Aku berjongkok di depannya dan mencoba memberi pengertian padanya.
" Ayo jagoan papa, tuch banyak teman teman ." ujar ku sambil menunjuk kearah teman teman nya yang tampak riang bermain.
Alex sejenak tampak ragu untuk bergabung bersama mereka.
" Go.. Jagoan papa gak boleh takut." Imbuh ku akhirnya dia melepas kan tangannya dan berlari kearah teman temannya.
Beberapa saat aku masih berdiri memperhatikannya dia tampak sudah akrab dengan teman teman barunya akhirnya aku mantap meninggalkannya bersama suster.
" Sust simpan nomor pak Amin kan?." Tanya ku pada Lely suster yang sudah mengasuh Alex sejak bayi.
" Sudah pak." Sahut nya
__ADS_1
" Ya sudah, bapak tinggal titip Alex." Ujar ku seraya meninggalkan area sekolah dan menuju kantor.