Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Hanya mimpi


__ADS_3

Nayra menunggu Raddit sambil duduk ditaman yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumahnya, beberapa saat kemudian Raddit datang dengan membawa dua bungkus makanan.


"Ini nay, buat kamu satu. aku satu." Raddit memberikan satu bungkus makanan untuk Nayra lalu ia duduk disebalah Nayra.


"Ini apa?" Tanya nayra sambil membuka bungkusan yang diberikan Raddit.


"Itu nasi padang Nay."


"Raddit, maaf ya. aku engga suka nasi padang." Nayra menolak.


"Coba dulu Nay, ini enak lho...lauknya daging." bujuk Raddit.


Karena menghargai Raddit yang sudah susah payah membelikannya makanan, Nayra akhirnya mencoba nasi padang itu.


"Iya bener enak, enak banget." Nayra menyantap nasi itu dengan lahap.


"Nay, aku pergi dulu ya. aku baru ingat. aku mau mengantar ibuku kerumah sakit." ucap Raddit tiba tiba.


"Ibu kamu sakit?" Nayra menghentikan makannya.


"Engga, teman ibuku sakit. ibuku mau jenguk, karena bapakku engga ada dirumah. ibuku minta aku antar kerumah sakit." Raddit berdiri dari duduknya.


"Ya udah kamu pulang saja, kasian ibu kamu nunggu. ini kamu bawa nasi kamu." Nayra, memberikan nasi bungkus milik Raddit yang tertinggal.


"Engga usah Nay, aku buru buru. buat kamu aja biar kenyang." Raddit berlari kecil meninggalkan Nayra.


"Mana mungkin aku habisin dua bungkus nasi sekaligus, mana nasinya banyak banyak."


"Ehem..ehemm..." Suara deheman seseorang membuat Nayra menoleh.


Nayra kaget melihat Arfi yang sudah berdiri didepannya, belum hilang rasa kagetnya. Arfi tiba tiba mengambil nasi bungkus yang dipegang Nayra.


Tanpa merasa bersalah dan tanpa merasa berdosa Arfi duduk disamping Nayra, ia lalu membuka nasi bungkus itu.


"Ini enak apalagi lauknya daging. rasanya mirip masakan kamu Nay." Arfi memakan nasi bungkus itu dengan santai seakan akan tidak ada masalah antara dirinya dan Nayra.


"Nay, kamu engga makan?" Arfi melihat Nayra diam saja.


Nayra mengambil sesendok nasi dan memasukkan nasi itu kedalam mulutnya, matanya tidak berkedip menatap Arfi.


"Sayang kamu kangen?" Arfi menggeser duduknya hingga merapat dengan Nayra.


"Kalau kamu kangen bilang aja engga usah malu." Bisik Arfi sambil merangkul Nayra.


"Arfi, aku lagi makan. jangan bercanda, nanti keselek." Nayra menurunkan tangan Arfi dari pundaknya.


Arfi dan Nayra kemudian melanjutkan makannya, disaat mereka sedang menikmati makannya terdengar suara petir menggelegar. untunglah makanan mereka sudah mau habis.


"Arfi." Nayra terkejut tanpa sengaja makanan yang ia pegang jatuh, Nayra langsung memeluk Arfi dari samping.


Kenapa aku selalu merasa nyaman didekat Arfi? apa karena aku sedang hamil? anak ini adalah anak Arfi, mungkin anak ini merasa nyaman didekat orang tuanya.


Pertanyaan pertanyaan itu muncul dalam pikiran Nayra.


"Sampai kapan kamu mau memelukku?" Arfi tersenyum meledek.


"Maaf, aku tadi kaget." Nayra melepaskan pelukannya kemudian ia berdiri.


"Sayang, kamu tidak perlu minta maaf aku ini suami kamu, lagi pula kita pernah melakukan yang lebih dari sekedar berpelukan." goda Arfi.


Nayra ingin berjalan pergi. ia tidak ingin bicara lagi dengan Arfi, tapi sebelum ia pergi hujan turun membasahi bumi. Arfi buru buru membuka jasnya.


"Nay, ayo kita pulang." Arfi memayungi Nayra dengan jasnya.

__ADS_1


"Kita?" Nayra seperti tidak ingin pulang bersama Arfi.


"Nay, ini bukan waktunya membantah." Arfi tidak suka Nayra membantahnya, ia ingin Nayra menuruti keinginannya.


Nayra akhirnya mengalah, Nayra dan Arfi berjalan cepat cepat menuju rumah Nayra.


"Makasih kamu udah antar aku, sekarang kamu boleh pulang." Begitu sampai dirumahnya Nayra langsung mengusir Arfi.


"Sayang, sekarang kan masih hujan. aku boleh masuk ya? Nanti kalau hujannya sudah reda, aku akan pulang." Arfi mencoba merayu Nayra.


"Tidak bisa." Nayra menolak mentah mentah keinginan Arfi.


Arfi sebenarnya bisa saja memaksa masuk kedalam rumah Nayra, tapi mengingat Nayra sedang hamil ia terpaksa mengalah. Arfi tidak ingin membuat Nayra kesal.


"Ya sudah kalau itu mau kamu. aku pulang dulu." wajah Arfi kelihatan sedih.


Arfi berjalan meninggalkan Nayra sendirian. ia tidak perduli meskipun saat itu sedang hujan, ia juga tidak perduli tubuhnya basah tersiram oleh air hujan. Nayra memandang Arfi hingga tubuh Arfi menghilang dari pandangan matanya.


Arfi, maafkan aku. aku tidak bermaksud mengusirmu, tapi aku tidak mungkin membiarkanmu masuk kedalam rumahku. aku takut, kalau kamu masuk. kita akan lupa diri. aku tidak ingin melakukan itu lagi karena kalau kita melakukannya, akan semakin sulit bagiku untuk berpisah denganmu.


Nayra masuk kedalam rumahnya, tapi entah mengapa pikirannya tidak tenang ia terus memikirkan Arfi.


"Tadi aku tidak melihat mobil Arfi, apa tadi dia naik taksi? kenapa aku jadi gelisah dan tidak bisa tidur?" Nayra mengambil ponsel yang ada dimeja, ia yang semula berbaring kemudian duduk dan membuka ponselnya.


"Sudah jam sepuluh malam, aku belum bisa tidur juga. apa Arfi sudah sampai dirumahnya?" Nayra berjalan mondar mandir didalam kamarnya.


Disaat Nayra sedang gelisah perut Nayra mendadak terasa lapar.


"Nak, apa kamu lapar?" Nayra mengelus elus perutnya.


"Karena tadi ngejar Raddit aku sampai lupa beli makanan untuk isi kulkas. apa aku pesan makanan aja? o iya.. sekarang kan belum jam dua belas, tukang nasi goreng didepan masih buka." Nayra berpikir.


Nayra awalnya ingin memesan makanan lewat online, tapi tidak tahu kenapa? ia ingin sekali makan nasi goreng yang dijual dipinggir jalan menuju rumahnya.


Arfi. Nayra menutup mulutnya dengan satu tangan.


"Arfi bangun Arfi! Arfi bangun!" Nayra menguncang guncang tubuh Arfi.


"Dia pingsan, badannya panas sekali. kalau aku teriak dan minta tolong pasti warga akan bertanya tanya tentang hubungan aku dan Arfi, lebih baik aku pesan taksi online."


Nayra segera memesan taksi online dan setelah taksi itu datang, Nayra meminta supirnya untuk membantu Nayra mengangkat Arfi kedalam taksi.


"Pak tolong suami saya, suami saya pingsan?" Nayra telihat sangat khawatir.


Supir taksi itupun membantu Nayra menangkat Arfi, setelah itu mereka pergi kerumah sakit.


Dirumah sakit.


Nayra menunggu Afri yang sedang terbaring ditempat tidur rumah sakit.


"Arfi kamu harus sadar, kamu harus kuat kamu tidak boleh lemah. Arfi aku mohon kamu jangan pingsan terus." Nayra sangat cemas.


Saat itu Nayra duduk didepan tempat tidur Arfi, ia lalu menyandarkan kepalanya diatas dada Arfi.


"Arfi aku mohon kamu harus sembuh, kamu harus sadar. Arfi, aku tidak bisa hidup tanpa kamu. kalau kamu pergi bagaimana dengan anak kita?" Nayra terisak.


Arfi membuka matanya, ia bisa mendengar semua yang Nayra katakan.


"Nayra sayang." ucap Arfi dengan suara yang terdengar pelan.


"Arfi kamu udah sadar." Nayra menangkat kepalanya dari dada Arfi.


Nayra sangat senang karena Arfi sudah sadar, saking senangnya tanpa sadar ia kembali menyandarkan kepalanya didada Arfi, ia juga memeluk Arfi erat erat.

__ADS_1


"Nayra, kamu tahu tidak? aku senang sekali bisa masuk rumah sakit." Arfi tersenyum bahagia.


"Kamu sakit, kenapa malah senang?" Nayra melepaskan pelukannya ia membenarkan posisi duduknya.


"Karena dengan aku sakit, aku bisa berdekatan dengan kamu seperti ini. aku juga bisa mendengar isi hati kamu yang sebenarnya." Arfi memegang tangan tangan Nayra.


kepala Arfi tiba tiba terasa berputar putar, pandangan matanya mulai kabur. Arfi sangat mengantuk, matanya terasa berat untuk dibuka dan akhirnya ia memejamkan mata lalu tertidur.


"Arfi, Arfi bangun!" Nayra panik.


Nayra segera memanggil dokter untuk memeriksa Arfi, ia takut terjadi sesuatu pada Arfi.


"Dokter, bagaimana keadaan suami saya? apa dia pingsan lagi?" Nayra sangat cemas.


"Suami ibu sedang tidur."


"Tidur?" Jawaban dokter itu membuat Nayra heran, bisa bisanya Arfi tidur disaat mereka sedang bicara serius.


"Ini karena pak Arfi masih sakit dan kelelahan, ini juga efek dari obat yang saya berikan." Dokter itu memberi penjelasan pada Nayra.


"Begitu ya dok, dok saya minta tolong. tolong telphone kenomer ini dan bilang kalau pak Arfi sedang dirawat rumah sakit ini."


Nayra mengambil kertas dan bolpoin yang ada dimeja lalu ia mencatat nomer ponsel Renata.


"Ini dok, nomer telphone keluarganya. saya harus pergi sekarang." Nayra memberikan kertas itu pada dokter yang sedang berdiri dihadapannya.


"lho... ibu ini kan istrinya pak Arfi berarti ibu keluarganya." Dokter itu kebingungan.


"Keluarganya bukan cuma saya. dia juga punya ibu, ayah. maaf ya dok, saya jadi ngerepotin dokter. terima kasih dok."


Nayra tidak menunggu jawaban dari dokter itu, ia buru buru keluar dari ruangan tempat Arfi dirawat.


Nayra berjalan cepat cepat karena merasa lelah ia duduk dibangku yang terletak dihalaman rumah sakit.


"Sebenernya aku tidak tega ninggalin Arfi, badannya masih panas. tapi kalau aku lama lama disini aku takut tambah baper." Nayra menyandarkan punggungnya dibangku.


"Renata, aku tunggu saja dia sini. nanti kalau dia datang, baru aku pergi."


Tidak lama kemudian Renata datang, Nayra langsung bersembunyi dibalik pepohonan agar Renata tidak melihatnya. Setelah Renata masuk kedalam rumah sakit, Nayra keluar dari tempat persembunyiannya.


"Syukurlah Renata sudah datang, jadi aku bisa pulang." Nayra merasa lega.


...*******...


Renata sudah sampai diruangan Arfi dia melihat Arfi sedang tidur pulas.


"Arfi, kamu sakit apa? kenapa kamu bisa sampai masuk rumah sakit." Renata memegang tangan Arfi, ia merasa khawatir.


Karena merasakan ada orang menyentuh tangannya Arfi terbangun dari tidurnya.


Renata, jadi dia yang ada disini bukan Nayra berarti tadi itu aku hanya mimpi. Arfi membuka matanya, ia merasa kecewa karena Nayra tidak ada disampingnya.


"Arfi kamu kenapa? kamu tidak suka aku datang?" Tatapan Arfi yang dingin membuat Renata bisa merasakan kalau Arfi tidak mengharapkan kedatangannya.


"Renata jangan bicara seperti itu. aku senang kamu datang kesini."


"Tapi, muka kamu kelihatan tidak senang." Renata sedih.


"Renata, sebenarnya waktu tidur aku mimpi. aku mimpi mami sama papi datang kerumah sakit ini, aku senang sekali karena mami bawa makanan kesukaan aku. waktu aku bangun aku engga lihat mami dan mami aku baru sadar kalau ternyata aku hanya mimpi." Arfi mengarang cerita agar Renata tidak curiga.


"Arfi, jadi kamu kangen sama mami papi kamu. Ya sudah aku telphone ya. biar mereka datang kesini."


"Engga usah, nanti mami dan papi jadi khawatir." Arfi melarang Renata.

__ADS_1


Renata, aku bukannya tidak suka kamu datang. tapi dalam mimpiku tadi, aku sangat bahagia karena Nayra bilang. Nayra tidak ingin kehilangan aku, meskipun semua terasa nyata. ternyata itu hanya mimpi. Mimpi yang jauh berbeda dari kenyataan, kenyataannya Nayra selalu ingin pergi meninggalkanku.


__ADS_2