Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Permintaan Arfi


__ADS_3

Nayra ingin mengejar Arfi, tapi karena merasa lelah ia mengurungkan niatnya.


"Apa aku salah?"


Nayra mengunci pintu, setelah itu ia merebahkan tubuhnya diatas sofa, semula Nayra hanya ingin berbaring sebentar tapi karena lelah ia tertidur disofa.


Baru lima menit Nayra tertidur, Nayra sudah terbangun. Tidur Nayra terganggu karena, ia mendengar suara ponsel yang berdering.


"Hp siapa sih? berisik sekali." Nayra Bangun dari tidurnya, ia yang semula berbaring kemudian duduk.


Nayra mengusap usap matanya dan Nayra melihat ponsel yang tidak ia kenal, ponsel itu berdering dihadapannya. Nayra saat itu duduk sofa sedangkan ponsel yang berdering itu ada diatas meja.


Meja yang berada tepat didepan Nayra duduk, dilayar ponsel itu terlihat jelas ada panggilan masuk dari istriku sayang.


"Hp ini, hp keluaran terbaru dan harganya sangat mahal. kenapa bisa ada disini?"


Nayra mengagumi ponsel yang ia pegang, Nayra juga sibuk mengingat serta berfikir. siapa pemilik ponsel itu, ia mengabaikan panggilan telphone yang masuk.


Nayra akhirnya ingat. Saat Arfi mengobati lukanya, Arfi meletakan ponselnya diatas meja. tidak lama kemudian Arfi pergi karena bertengkar dengan Nayra, Arfi melupakan ponselnya.


Dengan wajah kesal Nayra meletakan kembali ponsel Arfi diatas meja, Nayra bernapas lega ketika dering suara ponsel itu berhenti.


"Istriku sayang." Hati Nayra sangat sakit saat mengatakan itu. Matanya mulai berkaca kaca.


Nayra memang sudah tahu kalau Arfi menuliskan nomer ponsel Renata dengan nama Istriku sayang, tapi waktu itu Nayra berusaha untuk tidak perduli karena Arfi bukan suaminya.


Sekarang ketika Arfi sudah menjadi suaminya rasanya sangat berbeda. Nayra ingin marah cemburu, tapi apa dia punya hak, apa dia pantas memarahi Arfi atau Renata. tentu saja tidak, karena Arfi dan Renata adalah suami istri.


Jadi begini rasanya jadi istri kedua? mau marah tidak bisa. hanya bisa diam dan menyimpan semua perasaan dalam hati. perasaan sedih, marah dan kecewa semuanya tidak bisa aku katakan atau aku lampiaskan. Hati Nayra terasa panas dan sakit.


Nayra tersadar dari lamunannya ketika ponsel Arfi kembali berdering, kali ini yang menelphone bukan Renata tapi klien Arfi. bukan hanya telphone, tapi ada banyak pesan yang masuk kedalam ponsel Arfi.


"Bagaimana kalau ada pesan yang penting? atau ada telphone lagi, apa aku antar saja hp ini kerumah Arfi? tapi disana kan ada Renata. aku antar saja, nanti hp ini aku titipkan saja sama satpam yang ada dirumah Arfi." Nayra bergegas pergi kerumah Arfi.


Sementara itu dirumah Arfi.


"Dari mana kamu? dari rumah Nayra?"

__ADS_1


Arfi baru saja pulang tapi Renata menanyakan sesuatu yang membuatnya marah, Renata duduk dengan wajah cemberut.


"Jangan salah paham, aku baru pulang kerja." Arfi duduk disebelah Renata.


"Kapan kamu mau menceraikan Nayra?" Pertanyaan itu selalu Renata tanyakan setelah ia tahu tentang pernikahan Arfi dan Nayra.


"Kamu tenang saja, aku akan menceraikan Nayra." Arfi menghela nafas.


"Kamu serius?" Renata sangat senang mendengar Arfi akan menceraikan Nayra.


"Tapi tidak sekarang." Arfi melanjutkan kata katanya.


Senyum diwajah Renata seketika menghilang, ia kecewa dengan Arfi.


"Maksud kamu?" Tanya Renata dengan menunjukan wajah sedih.


"Aku merindukan istriku Renata. Renata yang dulu aku kenal, bukan Renata yang sekarang. aku rindu Renata yang selalu ada setiap kali aku butuhkan." Arfi menatap mata istrinya, istri yang ia anggap sudah berubah.


"Kamu masih ingat? dulu setiap aku pulang kerja. kamu selalu membukakan pintu untuk aku, bahkan sebelum aku mengetuknya. Kamu juga menyiapkan makanan untukku" Arfi mengenang masa masa indah saat ia baru menikah dengan Renata.


"Dan aku akan marah, kalau kamu engga makan masakan yang aku buat." Sambung Renata.


"Waktu itu aku marah sama kamu dan selama beberapa hari aku mogok masak." Mata Renata mulai basah.


"Sekarang semua itu hanya tinggal kenangan entah sudah berapa? entah sudah berapa ratus hari kamu tidak masak untukku?" Arfi merasa sedih.


"Arfi aku...." Renata tidak tahu harus berkata apa.


"Renata, apa kamu bisa menuruti satu permintaan aku? Kalau kamu bisa, aku akan menuruti keinginanmu. aku akan menceraikan Nayra." Arfi bersungguh sungguh dengan ucapannya.


"Apa permintaan kamu?" Renata khawatir, ia tidak dapat memenuhi permintaan Arfi.


"Aku minta jadilah Renata yang dulu, seorang istri yang selalu siap untuk mengurus suaminya." Arfi memegang tangan Renata.


Kata kata Arfi membuat hati Renata tersentuh.


"Baiklah, aku akan usahakan." Renata memeluk Arfi.

__ADS_1


Arfi tersenyum bahagia, ia membalas pelukan Renata. Arfi bahkan mengelus elus punggung Renata. Arfi menurunkan tangannya ketika ia melihat kearah pintu.


Arfi sangat terkejut karena didepan pintu ia melihat Nayra, Nayra berdiri sambil menatap Arfi dan Renata yang sedang berpelukan.


Nayra, apa aku tidak salah lihat? Arfi mengucek ngucek matanya dan ketika ia selesai mengucek ngucek matanya Nayra sudah tidak ada.


Arfi melepaskan pelukannya pada Renata.


"Ada apa?" Renata seperti tidak rela Arfi berhenti memeluknya.


"Ini sudah malam, aku mau tutup pintu dulu." Arfi sebenarnya ingin memastikan, ia salah lihat atau tidak.


Kalau yang aku lihat, benar Nayra. dia pasti belum jauh dari sini. Batin Arfi.


"O iya, aku sampai lupa kalau pintunya belum ditutup. ya sudah kamu tutup pintu, aku mau kekamar mandi dulu." Renata meninggalkan Arfi karena ia ingin buang air kecil.


Arfi buru buru berjalan kedepan pintu dan ia kembali terkejut karena mendengar suara ponselnya berdering, Arfi melihat ponselnya berada dimeja teras.


"Hpku, kenapa bisa ada disini?" Arfi mengambil ponselnya sayangnya panggilan telphonenya sudah berakhir.


Arfi kemudian teringat ketika meletakan ponselnya diatas meja rumah Nayra. Arfi juga baru ingat kalau ia tidak membawa ponselnya saat pulang dari rumah Nayra.


Jadi benar, yang aku lihat tadi itu Nayra. Apa Nayra mendengar semua pembicaraan ku dengan Renata? Arfi memijit mijit pelipisnya, ia mulai pusing.


"Sebaiknya aku mengejar Nayra. mudah mudahan saja, dia belum jauh dari sini." Arfi meletakan ponselnya diatas meja lalu ia berlari kecil untuk mengejar Nayra.


Nayra masih berdiri didepan pintu pagar rumah Arfi, ia sedang menunggu taksi online yang ia pesan.


Aku tahu aku ini hanya istri kedua, istri simpanan. tapi aku pikir Arfi mencintai aku ternyata aku salah, Arfi hanya memanfaatkan aku. dia hanya ingin, aku melayaninya. Arfi meminta Renata untuk berubah seperti dulu dan kalau Renata berubah Arfi akan menceraikan aku. Nayra menangis.


"Kenapa taskinya belum datang juga?" Nayra menghapus air matanya.


"Nay." Arfi memegang bahu Nayra, tiba tiba Arfi sudah berdiri dibelakang Nayra dan itu membuat Nayra kaget.


Arfi membalikan tubuh Nayra, Arfi menarik tubuh Nayra kemudian ia memeluknya. Nayra ingin memberontak tapi Arfi memeluk Nayra sangat erat hingga membuat Nayra sulit untuk melepaskan pelukan Arfi dan bersamaan dengan itu tiba tiba turun hujan.


"Nay, ayo masuk. nanti kita kehujahan." Arfi melepaskan pelukannya pada Nayra.

__ADS_1


Nayra tidak menjawab, taksi yang ditunggu Nayra akhirnya datang. Nayra tidak menghiraukan Arfi, ia membuka pintu taksi lalu Nayra masuk kedalam taksi itu.


__ADS_2