
Nayra menuduk kemudian ia memalingkan pandangannya, ia tidak ingin melihat mata Arfi yang sedang menatap tajam kearahnya.
Nayra sedang apa dia disini? Arfi menatap Nayra.
Arfi, kenapa harus dia yang jadi tamu istimewa diacara kampus ini? Nayra rasanya ingin pergi jauh dari tempat itu.
Nayra tidak mungkin pergi dari kampus itu karena ia sudah berjanji akan mengikuti acara kampus itu sampai selesai. ia adalah pegawai baru dikampus itu, Nayra merasa tidak enak bila belum apa apa ia sudah mengingkari janji.
Nayra juga tidak mungkin menggunakan kehamilannya sebagai alasan untuk meningalkan acara itu, karena jika ia terlihat lemah bisa saja ia dianggap tidak bisa bekerja dan bisa saja ia dipecat.
Nayra kembali menatap Arfi yang ketika itu sedang bicara dengan si pembawa acara.
"Senang sekali bapak Arfi mau meluangkan waktu untuk datang ketempat ini. suatu kehormatan dan kebanggaan bagi kami karena bapak bersedia datang." Ucap pembawa acara itu sambil tersenyum manis pada Arfi.
Kebangaan, kehormatan. apanya yang pantas dihormati? seandainya orang orang tahu? Arfi bukan laki laki setia. apa mereka masih bisa tersenyum ramah pada Arfi. Nayra kesal.
"Semua orang disini pasti penarasan dan bertanya tanya, bagaimana anda bisa sukses diusia yang masih muda? bisakah anda berbagi kiat sukses pada kita semua." Pembawa acara itu bertanya pada Arfi.
"Saya tidak punya kiat sukses. saya sebenarnya pemalas, saya juga tidak suka bekerja keras. saya bisa seperti sekarang ini karena dukungan dan semangat dari istri saya."
Kata kata Arfi membuat Renata tersenyum bahagia, berbeda dengan Nayra. hatinya seperti tersayat mendengar Arfi memuji Renata. dada Nayra tiba tiba terasa panas.
"Apa boleh saya meminta istri bapak untuk naik keatas panggung?" Pembawa acara itu ingin melihat dan bertemu secara langsung dengan istri Arfi.
'Boleh.. boleh, kebetulan istri saya ada disini." Arfi melihat kearah Renata sambil tersenyum.
Sama seperti Nayra, Renata juga duduk dikursi depan. Renata duduk dikursi depan bagian pojok sebelah kanan. sedangkan Nayra duduk dikursi depan bagian pojok sebelah kiri.
Jadi Arfi datang bersama Renata, untungnya Renata tidak melihatku. lebih baik aku pergi, sebelum Renata melihatku. Nayra buru buru mengambil masker yang ada ditasnya.
Nayra memakai masker yang baru saja ia ambil, lalu ia berdiri dari duduknya. Nayra ingin segera pergi dari tempat itu. Nayra berjalan kearah belakang sedangkan Renata berjalan kearah depan, Renata sama sekali tidak melihat Nayra.
Arfi tidak memperhatikan Renata yang naik keatas panggung, matanya memandang Nayra yang pergi dari tempat itu.
Ternyata Nayra pergi ketoilet, ia memegang megang dadanya yang terasa sakit. ketika itu kebetulan toilet sedang kosong dan tidak ada orang disana kecuali Nayra.
Nayra terkejut karena tiba tiba lampu mati, beruntung Nayra sedang bercermin bukan sedang buang air kecil.
Nayra berlari pelan pelan, ia ingin segera keluar dari toilet itu. saat sampai diluar Nayra menabrak seseorang.
"Maaf, aku tidak sengaja." Nayra menunduk, ia meraba raba kantong jasnya takut takut kalau ponselnya jatuh.
Hari itu Nayra terlihat sangat cantik. dengan makeup yang natural, dengan dress panjang dan ditambah jas berwarna lembut membuat kecantikan Nayra semakin terpancar.
Nayra menggunakan dress berlengan pendek karena Nayra pikir ia datang ke acara formal Nayra menggunakan jas untuk menutupi lengannya. Nayra tidak mengancingkan jasnya sehingga warna dress bagian atas Nayra tetep terlihat.
Jika kecantikan Renata seperti wanita yang anggun dan elegan berbeda dengan Nayra yang kecantikannya terlihat alami. Nayra dan Renata sama sama cantik. tapi dimata Arfi, Nayra adalah perempuan yang kecantikannya nyaris sempurna.
Rumput tetangga memang akan terlihat lebih hijau. biasanya sesuatu akan terlihat indah jika belum dimiliki, tapi ketika sudah dimiliki semua akan terasa biasa.
Mungkin itulah yang sedang Arfi rasakan, ia sudah lama hidup berumah tangga dengan Renata. melihat dan bersama dengan Renata adalah sesuatu yang biasa bagi Arfi.
Lain halnya dengan Nayra, wanita itu membuat Arfi merasa tertantang. walaupun Arfi dan Nayra sudah menikah tapi Arfi belum merasa menjadi suami Nayra yang seutuhnya.
Mereka tidak pernah tinggal bersama, mereka juga tidak pernah mengakui status mereka didepan orang. Yang membuat Arfi sering marah, ia merasa sebagai suami yang tidak dianggap.
Nayra bisa dengan bebas pergi dengan siapa saja tanpa meminta ijin darinya, bahkan Nayra sering kabur untuk mengindarinya seakan akan Nayra tidak suka jika berdekatan dengan Arfi.
__ADS_1
Nayra juga selalu pergi kemana saja yang ia mau. ia tidak perduli, walau Arfi melarangnya. Nayra tetap pergi sesuka hatinya. Arfi tidak habis pikir, wanita pembangkang seperti Nayra bisa membuatnya mengabaikan Renata.
"Kalau jalan hati hati." Bentakan Arfi membuat Nayra kaget, Nayra yang semula menunduk berlahan mengangkat kepalanya.
"Arfi." Nayra tidak mengira kalau orang yang ia tabrak adalah Arfi.
"Iya aku Arfi, memangnya kamu pikir siapa? Raddit?" Arfi menatap Nayra dengan aura yang menakutkan, ia terlihat sangat marah.
Arfi maju mendekati Nayra, Nayrapun berjalan mundur ia sedikit takut. Arfi terus berjalan maju hingga tubuh Nayra mundur sampai menempel dipohon besar yang ada dibelakang Nayra.
"Untuk apa berdandan seperti ini? supaya semua mata laki laki terpesona melihatmu? kamu sengaja mau menggoda orang?" Arfi memegang dagu Nayra dengan satu tangannya tampaknya api cemburu sedang membakar jiwa Arfi.
"Aku berdadan biasa, lagi pula siapa yang akan tergoda dengan perempuan hamil seperti aku. pikiranmu saja yang jelek." Nayra kesal.
"Oh.. jadi pikiran aku jelek? terus yang pikirannya bagus siapa? Raddit?" Arfi bertambah emosi nada suaranya mulai naik.
"Kamu kok jadi bawa bawa Raddit, udah ah. aku males ngomong sama kamu."
Nayra mendorong dada Arfi agar jarak mereka tidak terlalu dekat. Nayra baru saja ingin pergi meninggalkan Arfi, tapi Arfi menghalanginya.
"Kamu males ngomong sama suami kamu sendiri, apa kamu lebih suka ngomong sama Raddit?" Arfi mencengkeram lengan Nayra kuat kuat.
"Sakit, Arfi lepasin aku." Nayra merasa kesakitan, air matanya berlinang.
"Sakit kamu bilang, asal kamu tahu hati aku lebih sakit. aku sakit hati lihat istriku lebih dekat dengan laki laki lain."
Melihat air mata Nayra yang jatuh, Arfi merasa tidak tega. ia lalu, melepaskan cengkeraman tangannya pada Nayra.
"Ikut aku sekarang." Arfi menggenggam tangan Nayra.
Raddit yang melihat kejadian itu menjadi marah. darahnya seakan mendidih, jiwanya dikuasai amarah yang rasanya seperti ingin meledak.
Dengan hati yang dipenuhi oleh amarah Raddit menghampiri Nayra dan Arfi, ia kemudian melayangkan tinjunya diwajah Arfi.
"Lepasin Nayra!" Perintah Raddit, tangannya masih mengepal.
"Bocah aneh, dia ini istriku jadi jangan ikut campur urusan tangga kami." Arfi mengusap sudut bibirnya yang berdarah.
Kalau saja Raddit bukan Remaja berusia delapan belas tahun mungkin Arfi sudah memukulinya, berani beraninya dia meninju Arfi Ardiansya pranata. seorang pengusaha sukses yang disegani, begitu pikir Arfi.
"Wah.. om Arfi kamu itu memang serakah, didepan semua orang kamu bilang Renata itu istri kamu. kamu memuji muji Renata, menyanjung nyanjung Renata setinggi langit. tapi dibelakang semua orang kamu mengakui Nayra sebagai istri kamu."
Arfi mengabaikan Kata Kata Raddit ia tetap menggenggam tangan Nayra, Bahkan kini ia berjalan sambil menggandeng tanggan Nayra.
Raddit menjadi geram ia kembali memukul Arfi. tidak terima dengan perlakuan Raddit, Arfi lalu mengepalkan tangannya satu pukulanpun mengarah kewajah Raddit. mereka berdua akhirnya berkelahi.
Melihat Arfi dan Raddit saling memukul, Nayra menjadi panik ia lalu berusaha memisahkan mereka berdua
"Cukup! tolong jangan berkelahi disini." Suara nayra terdengar lemas.
Arfi dan Raddit tetap berkelahi kehebohan yang mereka buat membuat orang orang berkerumun. karena malu menjadi tontonan banyak orang, Arfi dan Radditpun berhenti berkelahi.
"Pak Arfi ada apa ini?" Tanya salah seorang dosen yang melihat wajah Arfi dan Raddit yang lebam.
"Tidak ada apa apa pak, ini hanya salah paham." Arfi memegang wajahnya yang terasa sakit.
"Maksud pak Arfi?" Dosen itu kelihatannya ingin Arfi menceritakan kejadian yang sebenarnya.
__ADS_1
"Tadi bu Nayra berlari lari keluar dari toilet. dia hampir saja jatuh saya memegangi bu Nayra supaya tidak jatuh, tapi Raddit salah paham. Raddit mengira saya mau berbuat kurang ajar pada bu Nayra karena itu dia memukul saya. saya membalas pukulan Raddit dan seperti yang bapak lihat kita berdua pukul pukulan."
Mendengar cerita Arfi yang bohong, Raddit menjadi muak iapun akhirnya buka suara.
"Dia bohong pak, dia itu memukul saya karena dia cemburu saya dekat dekat dengan Nayra. Nayra itu istri kedua Arfi."
Pernyataan Raddit membuat semua orang yang ada disana terkejut.
Renata baru saja menerima telphone dari teman kerjanya, dari jauh ia bisa melihat keramaian yang terjadi disana.
Renata berjalan menghampiri kerumunan orang disana dan betapa kagetnya Renata ketika ia melihat Arfi yang wajahnya memar memar.
"Arfi, apa yang terjadi." Renata mencemaskan Arfi.
Arfi diam saja ia enggan menjawab pertanyaan Renata, Renata melihat kearah Raddit dan Nayra.
Raddit dan Nayra, kenapa mereka ada disini?
Melihat wajah Raddit yang juga memar memar Renata sekarang mengerti, Arfi pasti berkelahi dengan Raddit karena Nayra.
"Pak Arfi, apa benar yang dikatakan Raddit. bu Nayra itu istri kedua bapak." Dosen itu kembali bertanya pada Arfi.
Nayra istriku atau bukan apa urusannya denganmu, tapi kalau aku tidak menjawab nama baikku akan rusak. Batin Arfi kesal.
"Itu tidak benar. satu satunya istriku adalah Renata, hanya Renata istriku."
Jawaban Arfi membuat Nayra sakit hati, tapi mau bagaimana lagi. sejak awal Arfi memang tidak pernah mengakui Nayra sebagai istrinya. lagi pula Nayra harus menerima resiko karena ia bersedia menjadi istri kedua Arfi.
Nayra mengelus dadanya sebentar. Nayra ingin mengurangi rasa sakit dihatinya, tapi ternyata usahanya sia sia. hati Nayra tetap saja sakit bahkan sangat sakit.
"Raddit, apa yang dikatakan pak Arfi itu benar. cuma Renata istri pak Arfi." Nayra hampir menangis namun ia mencoba menahan air matanya.
"Raddit, ayo kita pergi dari sini." Nayra menarik tangan Raddit.
"Tapi Nay.." Raddit ingin menolak, tetapi sorot mata Nayra seakan akan memohon agar Raddit mau menuruti keinginannya.
Hati Raddit menjadi luluh, ia berjalan mengikuti langkah kaki Nayra. mereka berjalan bergandengan tangan.
Nayra, kamu benar benar tidak menghargai aku sebagai suami. didepan aku, kamu bergandengan tangan dengan Raddit. Arfi mengepalkan satu tangannya.
"Pak Arfi, mari kita keruangan saya. diruangan saya ada kotak obat." Dosen itu merasa tidak enak karena Raddit salah seorang mahasiswa dikampusnya sudah memukul Arfi.
Sebenarnya dimobilku juga ada kotak obat, tapi aku terima saja tawaran dosen ini sekalian aku mau tanya tanya tentang Nayra.
"Iya, Pak. bapak duluan saja nanti saya nyusul." Arfi langsung setuju.
Dosen itu dan orang orang yang berkerumunpun ikut pergi meninggalkan tempat itu.
"Arfi, kita juga punya kotak obat dimobil. aku bisa obatin kamu dimobil." Renata bingung kenapa Arfi menerima tawaran dosen itu.
"Aku engga enak nolak tawarannya, lagi pula dari tadi kamu sibuk main hp terus." Arfi mencari cari alasan.
"Arfi, ini pesan pesan dari teman kerjaku. aku sudah terlanjur baca jadi aku harus balas. ini soal pekerjaan."
"Ya sudah kamu tunggu aku dimobil, kamu urus saja urusan kamu. biar aku yang urus diri aku sendiri." Arfi kemudian meninggalkan Renata sendiri.
Arfi selalu ada didekatku, tapi kenapa aku merasa hatinya semakin jauh. Renata pada akhirnya memilih menunggu Arfi dimobil.
__ADS_1