
Nayra menunduk melihat tubuhnya sendiri, karena baju Nayra basah lekukan tubuhnya terlihat lebih jelas. Nayra segera memakai jas yang diberikan Arfi.
"Nay, kenapa kamu selalu kabur? Kamu mau bawa pergi anakku?" Arfi kesal.
"Aku tidak ingin membawanya. nanti setelah anak kita lahir aku akan memberikannya padamu, tapi bukannya kamu tidak mau anak ini?" Nayra bingung.
"Aku berubah pikiran, aku mau anak itu." Arfi mendadak ingin bayi yang dikandung Nayra.
"Aku akan berikan anak ini tapi jangan ganggu aku, biarkan aku sendiri sampai aku melahirkan." Nayra mengajukan permintaan.
"Ganggu? Aku ini suami kamu. Kamu bilang aku ganggu." Arfi marah karena Nayra mengatakan dirinya sebagai pengganggu.
"Kita akan bercerai, dan istri kamu hanya Renata." Untuk kesekian kali Nayra mengucapkan kata cerai.
"Stop Nay, stop mengulang kata kata cerai. yang pasti aku ini masih suami kamu, kamu harus nurut sama suami. Kamu sadar atau tidak? Setiap kamu sendirian, kamu bukan hanya membayakan diri kamu sendiri tapi kamu juga membahayakan anak kita. kamu bisa saja pingsan dijalan atau diganggu preman, kalau tadi aku tidak datang. aku yakin kamu masih kehujanan." Arfi marah marah, ia menjadi cerewet.
"Kalau kamu tidak mengikuti aku, aku tidak akan turun dari bis dan mungkin sekarang aku sudah sampai dibandung." Nayra membantah kata kata Arfi.
"Oh... Jadi kamu turun dari bis karena melihat aku?" Arfi bertambah marah.
"Iya..."Jawab Nayra tanpa merasa kalau Arfi sudah sangat kesal.
"Nayra dengarkan aku. sekarang juga, aku mau kamu pindah kerumah yang sudah aku belikan. Disana ada beberapa orang yang akan menjagamu dan ada juga orang orang yang membantu mengurus kamu, pokoknya dirumah itu kerjaan kamu cuma duduk santai." Maksud Arfi sebenarnya baik ia tidak ingin Nayra kelelahan, tapi Nayra malah merasa itu seperti sebuah ejekan.
"Duduk santai, kamu pikir aku bisa? diam saja dan tidak melakukan apa apa. Aku tidak mau, aku tidak mau tinggal dirumah yang kamu beli. Aku mau tinggal dirumah aku sendiri." Nayra tidak ingin menuruti keinginan Arfi.
"Ya sudah, kalau begitu kamu turun sekarang." Arfi mengusir Nayra.
"Apa?" Nayra tidak percaya Arfi tega mengusirnya.
"Kalau kamu tidak mau menuruti keinginanku, lebih baik kamu keluar dari sini." Arfi kelihatan serius dengan ucapannya.
"Taksi ini kendaraan umum jadi siapa saja boleh naik, kamu tidak punya hak mengusir aku." Nayra tidak mau kalah.
Tempat ini sepi, aku takut turun disini. Batin Nayra.
Nayra memejamkan matanya. ia pura pura tidur agar Arfi tidak bicara lagi, tapi akhirnya Nayra justru benar benar tertidur.
"Bisa bisanya dia tidur." Arfi menghela nafas.
Karena sedang tidur Nayra tidak sadar, ia menyandarkan kepalanya dibahu Arfi.
"Nayra, sudah lama aku tidak sedekat ini denganmu." Arfi mengusap usap kepala Nayra.
Taksi yang membawa Nayra dan Arfi akhirnya sampai didepan sebuah rumah mewah, setelah menikah dengan Nayra. Arfi memang memberikan rumah untuk Nayra tapi ia belum sempat memberitahu Nayra. Arfi mengangkat tubuh Nayra dari taksi itu, Arfi meletakan tubuh Nayra disofa.
Arfi lalu kembali menghampiri taksi yang tadi ia naiki. Arfi mengambil tas Nayra yang ada didalam taksi, setelah itu Arfi membayar uang taksi lalu ia masuk kedalam rumah.
Arfi menggedong Nayra kedalam kamar, ia membaringkan Nayra diatas tempat tidur karena baju Nayra basah. Arfi berinisiatif untuk menggantikannya.
Arfi sempat tergoda ingin menyentuh Nayra, tapi karena Nayra tidur pulas. Arfi memendam keinginannya, mengingat Nayra sedang hamil Arfi tidak menggangu istirahat Nayra.
...****************...
Nayra bangun dari tidurnya, Nayra terkejut karena ia sudah berada dikasur yang besar. Nayra melihat lihat sekelilingnya.
"Ya ampun kamar ini besar dan mewah. jauh kalau dibandingkan dengan kamarku." Nayra merasa kagum.
"Kamu suka?" Arfi mendadak muncul dari dalam kamar mandi.
Iya aku suka. Nayra bicara dalam hati.
"Biasa aja." Nayra mengalihkan pandangannya saat matanya bertatapan dengan Arfi.
"Nak, kamu jangan nakal ya." Arfi tiba tiba duduk ditempat tidur, ia duduk tepat disamping Nayra, Arfi memegang megang perut Nayra.
"Jangan pegang pegang." Nayra yang semula duduk langsung berdiri.
__ADS_1
"Apa aku tidak boleh memegang anakku sendiri?" Arfi sedih.
"Boleh, tapi nanti kalau sudah lahir. Sekarang anak ini masih ada didalam perutku. jadi kalau kamu memegang anak ini, sama saja kamu memegang perut aku." Nayra kesal, ia teringat saat ia memeluk Arfi tapi Arfi malah mendorongnya.
"Nay, aku ini suami kamu?" lagi lagi Arfi mengingkatkan Nayra akan statusnya sebagai suami.
"Suami yang mendorong aku." Nayra cemberut.
"Jadi kamu marah karena tadi aku mendorong kamu, waktu kamu peluk aku?" Arfi berdiri dihadapan Nayra.
Arfi melangkahkan kakinya hingga jarak diantara ia dan Nayra sangat dekat.
"Nay, tadi itu aku marah, Karena kamu selalu kabur dan karena Kamu ingin meninggalkan aku. Nayra, apa kamu benar benar ingin berpisah denganku? Apa kamu sudah tidak mencintaiku lagi?" Arfi berharap Nayra menjawab Kalau Nayra masih mencintai Arfi.
"Perasaan aku itu tidak penting, yang harus kamu pikirkan itu rumah tangga kamu dan Renata. aku sudah bilang, aku tidak bisa berada ditengah tengah kalian lagi. sudah cukup aku melakukan kesalahan, menikah denganmu. aku tidak ingin kesalahan ini terus berlanjut, Aku tidak ingin menyakiti hati Renata." Mata Nayra berkaca kaca.
"Jadi menurut kamu pernikahan kita adalah sebuah kesalahan?" Arfi sangat kecewa mendengar ucapan Nayra.
"Kamu sudah menikah dengan Renata, tentu saja penikahan kita adalah sebuah kesalahan besar."
"Aku pikir kita menikah karena kita saling mencintai, aku tidak mengira dimatamu pernikahan kita hanyalah sebuah kesalahan." Arfi kembali bersedih.
"Aku.." Nayra kehilangan kata kata, entah mengapa Nayra merasa, ia sudah salah bicara.
Apa yang aku katakan itu benar, tapi kenapa? Melihat Arfi sedih, aku merasa salah bicara. Batin Nayra.
"Arfi, kenapa kita harus membahas ini lagi? kamu tadi bilang, kamu akan mengabulkan keinginan aku." Nayra tidak bisa menahan air matanya yang berjatuhan.
"Baiklah. Nayra mulai hari ini, kamu aku bebaskan." Arfi menitikan air mata.
"Kamu bisa melakukan apa saja yang kamu mau, kamu bebas pergi kemana saja. Aku tidak akan menahanmu disini, aku juga tidak akan mengikutimu lagi. Anggap saja kita sudah bercerai. kita akan bertemu nanti saat kamu sudah melahirkan, saat kita benar benar akan bercerai."
Kata kata Arfi membuat hati Nayra sakit, seperti ada pisau yang menyayat hati Nayra. Rasanya sangat perih.
Kenapa aku sakit hati? Seharusnya aku senang karena Arfi menuruti keinginanku. Nayra menangis dalam hati.
"Aku pulang saja, aku tidak mau ada disini." Nayra menghapus air matanya.
"Tapi, kalau aku pulang. Aku malu sama Raddit, dia sudah mengantar aku pergi dua kali. aku harus pergi kemana?" Nayra bingung.
"Kenapa aku engga kepikiran, awalnya aku kan mau pulang kampung. sekarang aku lanjutkan saja rencanaku." Nayra mengambil tasnya lalu ia pergi dari rumah itu.
Hari sudah sore dan sebentar lagi malam, tapi Nayra tidak perduli, ia tetap ingin pergi kekampung halamanya. tempat dimana ia dilahirkan dan dibesarkan.
Beberapa jam kemudian.
Nayra sudah sampai ditempat tinggalnya saat ia masih kecil, ia sangat bahagia. Nayra masuk kedalam rumah peninggalan ayahnya, rumah itu berdebu karena sudah lama tidak ditempati.
Nayra kemudian membersihkan rumah itu, dalam waktu kurang dari satu jam rumah itu sudah bersih
"Rumah ini sudah aku bersihkan, sekarang aku mandi terus tidur."
Jam didinding dirumah Nayra menunjukan pukul sepuluh malam, selesai mandi Nayra ingin tidur, tetapi tiba tiba perutnya terasa lapar.
"Nak, kamu pasti lapar." Nayra mengelus elus perutnya.
"Huhh.. bagaimana ini? Uang ku sudah habis, aku belum ambil uang lagi."
Nayra memang sudah tidak punya uang, sisa tabungannya juga tinggal sedikit.
"Aku sudah tidak bekerja, uangku juga hampir habis. sebentar lagi awal bulan. dari mana aku dapat uang untuk membayar cicilan rumah?" Nayra mengeluh.
Meskipun Nayra sudah pindah kerumah peninggalan ayahnya, Nayra tetap ingin membayar cicilan rumah miliknya. Nayra tidak ingin kehilangan rumah yang sudah ia beli dengan susah payah.
Nayra memang membelinya secara kredit, tapi tinggal beberapa bulan lagi kredit rumah itu lunas.
Nayra membuka tas kecil yang ia pegang, Nayra sudah tidak tahan lagi. Ia sangat lapar, ia membuka dompetnya dengan harapan masih ada uang tersisa.
__ADS_1
Ketika ingin mengambil dompet ditasnya, Nayra tidak sengaja memegang tumpukan kertas. Nayra penasaran Nayra mengambilnya. sesuatu yang tanpa sengaja ia pegang.
"Uang" Nayra tidak percaya ada setumpuk uang yang berada didalam tasnya.
"Uang siapa ini? Nayra kaget.
"Ini pasti uang Arfi." Nayra merasa yakin uang itu milik Arfi karena terakhir kali tasnya berada dirumah baru yang Arfi beli.
"Sejak aku jadi istrinya, Arfi tidak pernah memberi aku uang. Ini pertama kalinya." Nayra terharu.
Aku dan Arfi bukan pasangan suami istri yang normal. kita tidak bisa bertemu setiap hari karena Arfi punya istri lain, aku bahkan tidak pernah berpikir meminta uang pada Arfi. Apa aku kembalikan saja uang ini?.tidak, buat apa aku kembalikan? Arfi saja sudah tidak ingin mencariku, itu berarti dia tidak ingin bertemu denganku. Nayra memutuskan untuk menyimpan uang Arfi.
Baso...baso...
Nayra mendengar ada tukang baso yang lewat, Nayra keluar, ia ingin membeli baso, diluar Nayra bertemu seorang orang ibu ibu yang mengenalinya.
"Nayra kamu ada disini? Apa kabar Nayra?" ibu ibu itu menyapa Nayra.
"Bu imas, iya ini saya Nayra. saya baik baik saja." Nayra membalas sapaan bu Imas. Bu imas adalah tetangga Nayra, ia mengenal Nayra sejak Nayra masih sekolah.
Nayra lalu mendekati tukang baso yang berhenti didepannya.
"Bang, basonya satu mangkuk." Nayra memesan baso.
"Iya mba." Tukang baso itu membuka panci basonya.
Bau baso itu membuat Nayra mual, ia ingin muntah.
"Pak, tunggu sebentar." Nayra berlari kecil ia masuk kedalam rumah dan didalam kamar mandi ia muntah muntah.
Tidak lama kemudian Nayra keluar dari rumah, ia terlihat lemas.
"Bu imas, masih disini?" Nayra melihat bu imas masih berdiri didepan rumahnya.
"Iya Nayra, saya juga mau beli baso." Bu Imas ingin memesan satu mangkuk baso tapi Nayra melarangnya.
"Ibu Imas, ibu engga usah pesan baso. Ibu ambil saja baso saya." Nayra membayar satu mangkuk baso yang ia pesan.
"Kenapa Nayra?" Ibu Imas tidak mengerti kenapa Nayra memberikan baso itu padanya.
"Saya tiba tiba mual mual." Jawab Nayra jujur.
"Kamu hamil?" Tebakan bu Imas memang benar.
Aku berencana tinggal disini sampai melahirkan, jadi tidak mungkin aku bohong. Batin Nayra.
"Iya bu."
"Jadi kamu sudah menikah? Mana suami kamu? Ibu boleh kenalan?" Bu Imas kelihatan bersemangat.
"Suami saya sedang dinas diluar kota. karena rumah sepi, makanya saya datang kesini.
"Kenapa kamu engga ikut suami kamu? Suami kamu bisa menyembukan kan sakit kamu?"
"Maksud ibu Imas apa ya?" Nayra tidak tahu maksud perkataan bu Imas.
"Dulu waktu saya hamil. Saya juga sama seperti kamu sering mual mual, muntah muntah. anehnya kalau saya ada didekat suami saya, mual mualnya hilang. Padahal suami saya cuma duduk dan megang megang perut saya. Nayra, coba kamu meniru saya. Kalau mual kamu minta suami kamu untuk mengelus elus perut kamu, siapa tahu saja mualnya hilang." Ibu Imas bercerita sambil memberi saran pada Nayra.
"Heh... bu, jadi dimakan engga basonya? Saya mau keliling lagi." Tukang baso yang itu memotong pembicaraan Nayra dan Ibu Imas.
"Jadi, yaudah saya bawa pulang dulu basonya. Saya taruh baso ini dimangkuk saya sendiri. Rumah saya dekat dari, jadi engga akan lama."
Ibu imas lalu pergi membawa semangkuk baso itu. Tidak lama kemudian ia datang mengembalikan mangkuk itu, ia sudah memindahkan baso itu kemangkuk miliknya dirumah.
"Nayra, saya pulang ya. Jangan lupa, kamu coba saran saya." Setelah berpamitan bu imaspun pulang, tukang baso yang tadi berhenti didepan rumah Nayrapun sudah pergi.
"Nak, kamu pasti senang ada didekat ayah kamu. karena itu, ibu tidak pernah mual kalau ada ayah kamu. Maafkan ibu nak, ibu tidak bisa dekat dekat ayah kamu." Nayra mengusap usap perutnya.
__ADS_1