Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Rumah Arfi


__ADS_3

Arfi tidak mengira ia bisa melihat Nayra berada didalam kamar Kevin. Arfi ingin masuk kedalam dan bicara dengan Nayra, tapi mengingat Nayra sedang menghindarinya Arfi memilih untuk tetap berdiri didepan pintu.


"Kevin, kamu mau ibu bacakan cerita?" Nayra mengambil ponsel yang ada disaku bajunya. lalu ia mencari cerita anak melalui internet.


"Iya bu aku mau?" Kevin sangat antusias.


"Tapi setelah ibu bacakan cerita, kamu harus tidur. istirahat biar kamu cepat sembuh."


Inikan masih pagi. kenapa aku meminta kevin tidur? tapi Kevin kan sedang sakit. lagi pula aku harus cepat cepat pergi, jadi tidak apa apa kalau dia tidur. Batin Nayra.


"Iya bu, nanti kalau aku tidur ibu boleh pulang." Ucapkan Kevin membuat Nayra sedikit kaget.


"Kamu engga apa apa ibu tinggal sendiri?" Ada rasa senang bercampur cemas dihati Nayra.


Nayra senang karena ia bisa segera pulang, tapi ia cemas karena Kevin sendirian dirumah.


"Engga apa apa bu, aku sudah biasa."


Nayra merasa kagum pada Kevin karena anak sekecil Kevin sudah bisa mandiri.


"Kevin, rumah ini besar. pasti ada orang orang yang bekerja disini untuk membersihkan rumah ini, dimana mereka sekarang?" Nayra ingin tahu


"Hari ini semuanya libur."


"libur?" Nayra merasa heran.


"Tadi waktu mamaku ngantar aku kesekolah. mamaku bilang papa sakit, engga mau diganggu. jadi semua yang kerja disini disuruh libur." Cerita Kevin dengan wajah polosnya.


Arfi sakit, kalau begitu sekarang dia ada dirumah. jangan jangan dia ada dikamarnya. aku harus pergi sekarang, sebelum Arfi melihatku disini. Nayra menjadi gelisah.


"Kalau papa kamu sakit berarti dia ada dirumah? Kevin ibu pulang sekarang ya. kan sudah ada papa kamu jadi kamu tidak sendiri." Nayra mulai keringat dingin.


"Papa engga ada bu, biarpun sakit papa pasti tetap kerja. papa itu cuma demam." Ucap Kevin.


"Kamu yakin?" Nayra meragukan Kevin.


"Iya bu, kalau papa ada dirumah. papa engga mungkin betah dikamar, pasti papa nonton tv diruang tengah atau papa minum kopi ditaman. pokoknya papa engga betah seharian dikamar." Cerita Kevin.


Syukurlah. Nayra merasa lega.


Arfi yang mendengar pembicaraan Nayra dan Kevin langsung menutup pintu, ia sengaja menutup pintu pelan pelan agar Nayra dan Kevin tidak menyadari kehadirannya. Karena asik ngobrol Nayra dan Kevin sampai tidak melihat Arfi.


Beberapa saat Kemudian, Kevin tertidur setelah mendengarkan dongeng yang diceritakan Nayra.


"Kevin sudah tidur, sebaiknya sekarang aku pulang." Nayra keluar dari kamar Kevin.


Nayra menutup pintu kamar Kevin, Nayra tiba tiba merasa tenggorokannya kering.


"Aku haus." Nayra berjalan menuju dapur, ia tidak tahu kalau Arfi mengikutinya dari belakang.


Nayra mengambil gelas, lalu ia membuka lemari es yang ada disana.


"Wah... kulkasnya penuh. Arfi benar benar tidak adil, dia tidak pernah memberi aku uang untuk belanja. sedangkan Renata, kulkasnya penuh sampai sampai isinya mau keluar." Nayra bicara sendiri.


"Aku lapar, dari pagi aku belum sempat makan. mumpung engga ada orang. aku makan disini saja." Nayra mengeluakan makanan dan minuman dari lemari es itu, ia meletakannya dimeja.


Pertama tama Nayra mengeluarkan roti tawar dan susu cair kemudian ia mengeluarkan beberapa buah buahan, setelah itu ia mengeluarkan dua botol minuman


Arfi hanya tersenyum melihat kelakuan Nayra yang menurutnya lucu.


Nayra mengolesi roti yang ia ambil dengan susu, lalu Nayra duduk dikursi makan.


"Enak banget roti ini, beli dimana ya?" Nayra memakan roti itu, ia terlihat menikmati makanannya.


Selesai memakan dua potong roti, Nayra membuka buah jeruk ia lalu memakan jeruk itu. terakhir Nayra membuka satu botol minuman berisi air mineral dan meminumnya.


"Aku tidak bisa menghabiskan semuanya." Nayra mengelus elus perutnya karena kekenyangan.


"Udah kenyang? kalau belum, kamu bisa ambil lagi makanan yang ada kulkas. anggap saja ini rumah sendiri." Arfi memegang bahu Nayra dari belakang.


Deg..


Jantung Nayra berdebar debar.


Arfi, ternyata dia ada dirumah. aku malu sekali.

__ADS_1


Nayra berdiri dari duduknya, ia membalikan badan dan melihat wajah Arfi yang seakan akan sedang mengejeknnya.


"Arfi, kenapa kamu ada disini?" Nayra gugub.


"Kamu lupa? ini rumahku." Arfi tersenyum.


"Iya aku tahu, tapi seharusnya kamu kerja."


"Jadi kamu ingin aku kerja supaya kamu bebas mencuri dirumahku?" Arfi kembali mengejek Nayra.


"Kamu jangan sembarangan bicara." Nayra kesal.


"Aku tidak sembarang bicara. kamu makan makananku tanpa ijin, bukannnya itu sama saja mencuri?" goda Arfi.


"Arfi, aku tidak mengambil barang berharga dirumah ini, aku cuma ambil makanan sedikit. kalau kamu tidak ikhlas, nanti aku ganti." Nayra kesal, tapi entah mengapa Arfi suka melihat wajah cemberut Nayra.


Nayra terdiam, untuk sesaat ia berpikir.


"Kamu itu suami aku, kewajiban kamu menafkahi aku, memberi aku makan. setelah aku pikir pikir, aku tidak akan mengganti makanan yang sudah aku makan." ucap Nayra.


"Suami? bukankah kita akan bercerai." Arfi mengingatkan Nayra.


"Tapi kita belum bercerai dan aku masih istrimu."


"Kalau begitu, kamu harus melakukan kewajiban kamu sebagai seorang istri." Arfi menarik tangan Nayra dengan satu tangannya, hingga tubuh Nayra berada dekat dengannya.


Saat itu Nayra berdiri sangat dekat dengan Arfi bahkan tanpa meminta persetujuan Nayra satu tangan Arfi sudah melingkar dipinggang Nayra.


"Kamu mau apa?" Tanya nayra dengan jantung yang berdetak lebih kencang.


"Aku ingin meminta hakku." Arfi menyeringai bagai seekor singa yang siap menerkam mangsanya.


"Arfi kamu jangan macam macam disini ada Kevin."


"Kevin sedang tidur." Arfi mendekatkan wajahnya pada wajah Nayra.


"Bagaimana kalau Kevin bangun?"


Arfi tidak menghiraukan kata kata Nayra, dengan gerakan cepat ia menggendong Nayra.


"Arfi lepaskan, aku." Nayra memukul mukul dada Arfi.


Arfi membawa Nayra kedalam kamar yang berada paling belakang, Arfi sengaja membawa Nayra kekamar belakang agar tidak ada yang tahu kalau mereka ada disana.


Arfi membaringkan tubuh Nayra diatas tempat tidur, ia kemudian berjalan untuk menutup dan mengunci pintu. Arfi terkejut karena ketika Ia membalikan badannya Nayra sudah tidak ada.


"Nayra kemana dia?" Arfi telihat kesal.


Arfi melihat jendela kamar itu terbuka lebar. jendela kamar dirumah Arfi memang besar besar dan tanpa teralis besi, sehingga dengan mudah Nayra keluar dari jendela. Arfi buru buru keluar dari jendela, ia ingin mengejar Nayra.


"Nayra... berhenti!" Arfi memanggil Nayra yang saat itu masih berlari dihalaman rumahnya


Nayra mendengar Arfi memanggil namanya tapi Nayra tidak perduli, Nayra tetap berlari tanpa menoleh. Karena takut Arfi mengejarnya, Nayra berlari lebih cepat hingga membuat Nayra hampir terjatuh.


Nayra mengira ia akan terjatuh, ia tidak menyangka Arfi akan memegangi tubuhnya dari belakang.


"Lepas." Nayra melepaskan tangan Arfi yang memeluknya dari belakang.


"Nay, kamu bisa tidak? nurut sama suami. gara gara kamu kabur kamu hampir saja jatuh, seharusnya kamu berterima kasih." Arfi terlihat marah.


"Iya iya... terima kasih suamiku." Nayra seperti sedang meledek Arfi.


Arfi yang geregatan dengan sikap Nayra langsung menarik tangan Nayra. Arfi dan Nayrapun kembali masuk kedalam rumah.


"Arfi, sebenarnya apa mau kamu? aku harus pulang sekarang. kalau Renata melihatku, dia akan berpikir aku yang menggoda kamu." Nayra sangat kesal.


"Memangnya kenapa kalau seorang istri menggoda suaminya? bukankah memang itu tujuan kamu datang kerumahku?" Arfi berjalan semakin mendekat kearah Nayra.


"Kamu jangan salah paham. aku datang untuk mengantar Kevin, lagi pula aku kira kamu kerja." Nayra berjalan mundur sampai tubuhnya menempel didinding, karena Arfi terus berjalan maju.


Arfi menghentikan langkahnya ketika ia mendengar suara mobil dengan buru buru Arfi berjalan kedepan jendela, Ia ingin melihat siapa yang datang.


"Gawat, kenapa Renata sudah pulang?" Arfi panik.


Arfi menoleh kesamping, ia ingin meminta Nayra bersembunyi tapi Nayra sudah tidak ada.

__ADS_1


Nayra, pergi kemana dia? Batin Arfi.


Renata membuka pintu dan ia melihat Arfi berdiri didepan jendela.


"Arfi." Panggil Renata.


"Kenapa berdiri disana?" Tanya Renata, sambil menutup pintu.


"Renata, kamu sudah selesai kerjanya?" Arfi malah balik bertanya.


"Laptop aku ketinggalan, jadi aku mau ambil. bahan bahan untuk meeting nanti siang ada disana." Renata segera pergi kekamarnya.


Selesai mengambil laptop dikamarnya, Renata bergegas pergi.


"Sayang, jangan tunggu aku. nanti aku pulang terlambat." Ucap Renata sebelum pergi.


Arfi belum membalas perkataan Renata, tapi Renata sudah pergi terlebih dahulu. Arfi tersenyum tipis, entah mengapa ia merasa senang Renata pergi.


Kenapa aku merasa senang Renata pergi bekerja? apa karena disini ada Nayra. bicara soal Nayra. dimana dia sekarang? Arfi baru ingat Nayra menghilang saat Renata pulang.


Arfi mencari cari Nayra dan ia akhirnya menemukan Nayra dikamar yang berada paling belakang. Nayra duduk dilantai, ia kelihatan sangat sedih dan tertekan.


"Sayang kamu kenapa?" Arfi khawatir dengan keadaan Nayra.


"Aku tidak apa apa, apa istrimu sudah pergi? kalau sudah aku mau pulang." Nayra berdiri.


"Nay, jangan pergi dulu." Arfi berusaha menghalangi Nayra.


"Papa.. papa." Terdengar suara Kevin memangil mangil Arfi.


Mendengar suara Kevin, Nayra dan Arfi segera keluar dari kamar itu. mereka ingin melihat keadaan Kevin.


"Papa" Kevin memeluk Arfi saat ia melihat Arfi masuk kedalam kamarnya.


"Papa aku takut diluar hujan, aku dengar suara petir" Kevin masih memeluk Arfi.


"Sayang, jangan takut. ada papa disini." Arfi mencoba menenangkan Kevin.


"Bu Nayra, ibu belum pulang?" Kevin senang melihat Nayra.


"Iya Kevin." Jawab Nayra malu malu.


"Kevin, sekarang sudah ada papa kamu. ibu pulang dulu ya." Nayra berpamitan.


"Nayra kamu tidak lihat? diluar hujan dan banyak petir. apa tidak bisa kamu menunggu sampai hujannya reda?" Arfi kesal.


Kenapa setiap aku datang kerumah Arfi selalu hujan? Batin Nayra.


"Kemarin waktu aku datang kesini. hujannya juga deras, tapi aku tetap bisa pulang padahal sudah malam dan gelap. Sekarang masih jam sepuluh pagi langit masih terang jadi aku pasti bisa pulang." Nayra melihat kearah jarum jam yang menempel didinding kamar Kevin.


"Sayang, papa mau bicara dengan bu Nayra sebentar." Ucap Arfi.


"Tapi pa... " Kevin ingin merasa keberatan.


"Kevin, papa cuma sebentar dan papa akan bicara didepan pintu kamar. jadi kamu jangan takut kamu bisa tetap melihat papa dari sini." Arfi membujuk Kevin.


Kevin mengangguk dan Arfi langsung menarik tangan Nayra sampai kedepan pintu kamar Kevin.


"Nay, aku ini suami kamu. kalau aku bilang kamu tidak boleh pulang itu artinya kamu tidak bisa pulang." Arfi bicara dengan suara pelan namun penuh penekanan, kata kata Arfi terdengar seperti sebuah perintah yang tidak bisa ditolak.


Nayra menuruti keinginan Arfi, ia tidak ingin bertengkar dihadapan Kevin. Nayra duduk disofa sedangkan Arfi duduk disamping Kevin. tidak lama kemudian Kevin kembali tidur.


Nayra memalingkan wajahnya saat pandangan matanya bertemu dengan Arfi.


"Aku mau pulang." Nayra melihat Kevin sudah tidur.


Sesaat setelah Nayra mengatakan itu tiba tiba terdengar suara petir.


"Aa.. ." Nayra setengah berteriak dengan cepat ia berlari menghampiri Arfi.


Nayra memeluk Arfi yang ketika itu sedang berdiri didepan tempat tidur Kevin.


"Jangan peluk peluk aku." Arfi berpura pura marah, meskipun sesungguhnya ia merasa senang.


Nayra memperat pelukannya karena ia memang takut petir, Nayra tidak menghiraukan suara Arfi yang terdengar sedang marah.

__ADS_1


"Nay, jangan salahkan aku jika aku menginginkan sesuatu yang lebih darimu." ucap Arfi, ia kemudian menggendong tubuh Nayra.


Nayra tidak menolak, Nayra hanya bisa pasrah ketika Arfi membawanya kekamar lain. rasa takutnya pada petir lebih besar dari pada keinginannya untuk menjauhi Arfi.


__ADS_2