
Arfi bangun dari tidurnya, ia meraba raba tempat tidur. Arfi mencari Nayra yang semalam tidur bersamanya, Arfi membuka matanyanya ketika ia menyadari Nayra tidak ada ditempat tidur.
"Nayra, pergi kemana dia?" Arfi turun Dari tempat tidurnya.
Arfi mencari Nayra kekamar mandi tapi ia tidak menemukan Nayra disana.
"Nayra, Nayra." Arfi memanggil manggil nama Nayra sambil mengelilingi rumah.
Setiap ruangan dirumah itu ia datangi satu persatu satu, tapi hasilnya tetap sama. Arfi tidak menemukan Nayra. Arfi mulai putus asa dan ia akhirnya menyadari Nayra sudah pergi dari rumah itu.
"Nayra, kenapa kamu pergi lagi?" Arfi sangat sedih.
Karena tidak menemukan Nayra Arfi memutuskan untuk pulang.
Sementara itu dirumah Renata sudah menunggu Arfi, ia mulai cemas. Renata khawatir Arfi tidak pulang lagi.
"Arfi dimana kamu? apa kamu lupa? Mami kamu sebentar lagi datang. apa yang akan kukatakan kalau mami datang dan menanyakan Arfi?" Renata bingung.
Wajah Renata kelihatan lelah, semalaman ia tidak bisa tidur nyenyak karena ia memikirkan Arfi. Renata tidak tahu bahwa semalam Arfi bersenang senang dengan Nayra.
Renata mendengar suara pintu terbuka, ia sangat senang karena Arfi sudah pulang.
"Arfi kamu dari mana? apa kamu dari rumah Nayra?" Renata menebak nebak.
"Aku dari apartemenku bukan dari rumah Nayra." Arfi membohongi Renata, ia masih menjaga perasaan Renata.
"Renata, Nayra sudah pergi dan dia tidak akan pernah kembali." Suara Arfi terdengar berat.
"Kamu tahu sendiri, selama ini Nayra selalu berusaha menghindari aku dan setiap kita bertemu. Nayra selalu mengatakan tentang perceraian." Arfi menjatuhkan dirinya diatas sofa.
"Arfi, aku minta maaf. mungkin selama ini aku bukan istri yang baik. aku bahkan tidak bisa memberikan kamu anak lagi dan semua ini salahku." Renata duduk disamping Arfi.
"Renata sudahlah, kamu tidak perlu merasa bersalah. aku juga punya kesalahan. kita ini hanya manusia yang tidak sempurna. sekarang semua terserah padamu, kamu ingin kita saling memaafkan dan berjuang untuk mempertahankan rumah tangga kita atau kamu ingin menyerah."
Arfi sudah pasrah jika Renata ingin meninggalkannya, Arfi sadar hatinya sudah terbagi. Arfi bahkan bersenang senang dengan Nayra disaat Renata sedang menunggunya pulang.
"Maksud kamu?"
"Kesalahanku terlalu besar, aku bisa mengerti jika kamu tidak bisa memaafkanku. Renata, kamu ingin tetap bersamaku atau ingin bercerai? aku tidak akan memaksa lagi, kamu bebas memilih."
Deg....
Ucapan Arfi membuat jantung Renata berdenyut, ada rasa sakit dihati Renata ketika Arfi sendiri mengatakan kalau suaminya itu rela berpisah dengan Renata.
Tok... tok...tok...
Terdengar suara pintu rumah diketuk membuat pembicaraan Arfi dan Renata menjadi terputus. Renata baru ingin membuka pintu, tapi pintunya sudah terbuka. ternyata yang datang adalah Bu Ayrin orang tua Arfi. karena pintunya tidak dikunci, bu Ayrin bisa membuka pintu itu sendiri.
"Mami, pagi pagi sudah datang. ada perlu apa?" Tanya Arfi saat melihat ibunya duduk tanpa disuruh.
"Kamu, kenapa Arfi? engga suka kalau mami datang kesini? Mami sama Renata kan mau kedokter." Ibu Ayrin mulai cerewet.
"Mami, papi mana? papi engga ikut?" Arfi sengaja mengalikan pembicaraan.
"Papi kamu sakit makanya dari semalam engga ikut kesini."
"Papi sakit apa?" Arfi cemas.
"kamu tidak perlu khawatir, papi kamu cuma meriang nanti juga sembuh." ucap ibu Ayrin enteng.
"Mami, sebaiknya mami pulang saja. mami urus papi. biar aku dan Renata yang kerumah sakit?" Arfi sebenarnya tidak ingin kerumah sakit, tapi ia tidak ingin maminya selalu mendesak Renata untuk punya anak lagi.
"Kamu serius mau kerumah sakit?" Bu Ayrin senang akhirnya Arfi mau pergi kerumah sakit.
"Iya mami." Arfi menghela nafas.
"Biarpun kamu ikut kerumah sakit, mami tetep harus ikut. mami sudah terlanjur janjian sama dokter kenalan mami." Ibu Ayrin kekeh mau mengantar Arfi dan Renata kerumah sakit.
"Mami, sebelum kita pergi kerumah sakit. aku mau bicara." Renata lalu meminta Ibu Ayrin untuk duduk.
__ADS_1
Arfi, Renata dan ibu Ayrin kini duduk bertiga di kursi ruang tamu.
"Kamu mau bicara apa?" Ibu Ayrin sudah tidak sabar, ia mendengar apa yang ingin Renata sampaikan.
"Sebenarnya aku sudah pernah pergi kedokter dan dokter bilang aku tidak bisa punya anak lagi." Renata berterus terang pada ibu mertuanya.
"Apa? Renata kamu jangan bercanda." Kepala ibu Ayrin tiba tiba pusing, darah tingginya sepertinya kumat. mendapat berita yang tidak menyenangkan membuat ibu Ayrin shock.
"Mami, maafin aku tapi ini kenyataannya. aku....aku tidak bisa memberikan mami cucu lagi." ucap Renata dengan berlinang air mata.
"Tidak, tidak Renata. kamu tidak boleh putus asa. ini baru fonis dokter dan kita harus tetap berusaha." Ibu Ayrin memberi semangat pada Renata.
"Maksud mami?" Renata tidak mengerti, kenapa ibu mertuanya itu masih memberi semangat pada dirinya.
"Nanti mami akan tanya sama dokter, kenapa kamu tidak bisa punya anak lagi? supaya dokter bisa mengobati kamu dan kamu bisa hamil lagi." Ibu Ayrin memang orang yang tidak mudah menyerah, jika ia memiliki keinginan. ibu Ayrin akan berjuang sekuat tenaga.
Bagaimana ini? kalau mami tahu yang sebenarnya mami pasti marah dan kecewa.Batin Renata.
Tanpa sepengatuhan Renata dan ibu Ayrin, Arfi memberi pesan pada pak Bisma papinya. Ia meminta papinya untuk menelphone Ibu Ayrin, Arfi beralasan kalau ia ingin pergi kerumah sakit hanya berdua dengan Renata saja.
Pak Bisma menurut saja dengan kemauan anak kesayangannya itu, ia menelphone Ibu Ayrin untuk segera pulang.
"Ada apa mami?" Arfi tersenyum tipis ketika ia melihat bu Ayrin baru saja menerima telphone dari pak Bisma.
"Biasa papi kamu bawel." Ibu Ayrin tampak kesal.
"Papi kenapa lagi" Arfi pura pura tidak tahu.
"Papi kamu minta mami pulang sekarang, dia bilang biar kamu dan Renata saja yang pergi kerumah sakit." Ibu Ayrin cemberut.
"Ya udah mami, mami turutin aja papi. kasihan papi lagi sakiit." ucap Arfi.
"Iya, iya." Ibu Ayrin berdiri dari duduknya.
Baru saja ibu Ayrin ingin melangkahkan kakinya Kevin datang dan langsung memeluknya.
"Sayang, kamu udah bangun? Maaf ya oma engga bisa lama lama disini. oma harus pulang." Ibu Ayrin mengelus elus kepala Kevin.
"Yah... oma, kenapa buru buru? Kevin kecewa.
"Nanti oma datang lagi kesini, tapi sekarang oma harus pulang dulu. Kevin, sayang kamu jangan ngambek. oma pulang ya." Ibu Ayrin berpamitan pada Kevin.
"Ya sudah mami pulang, kalian berdua harus benar benar pergi kedokter." Ibu Ayrin kemudian pergi dari rumah Arfi, wajahnya masih kelihatan kesal.
Sebelum pergi Ibu Ayrin sempat memberi tahu Renata, dimana rumah sakit tempat Renata harus periksa. ibu Ayrin juga mengatakan ia sudah memberitahu temannya yang seorang dokter, kalau menantunya Renata akan datang.
"Papa sama mama mau pergi?" Tanya Kevin sedih.
"Iya sayang, mama sama papa mau kerumah sakit." Renata bisa membaca dari sorot mata Kevin, anak itu seakan tidak rela ditinggal pergi.
"Mama, aku boleh ikut?" Kevin berharap Renata dan Arfi mengajaknya.
"Boleh dong sayang, anak kesayangan papa pasti boleh ikut. ya udah, sekarang kamu mandi terus ganti baju." Arfi mengacak acak rambut Kevin.
"Horee... " Kevin bersorak kegirangan, ia langsung berlari kekamar mandi.
"Arfi, kamu yakin mau mengajak Kevin?" Renata sedikit keberatan Arfi mengajak Kevin, karena bagi Renata rumah sakit adalah tempat orang sakit bukan tempat anak kecil yang sehat seperti Kevin.
"Yakin, kasihan kalau Kevin kita tinggal sendiri." Arfi lalu berjalan kekamar mandi yang ada dikamarnya.
Arfi, Renata dan Kevin lalu pergi kerumah sakit bertiga. saat mereka berada dihalaman rumah sakit tanpa sengaja mereka berpapasan dengan Raddit.
"Arfi, itu kan Raddit." Renata berbisik pada Arfi.
Raddit melihat Arfi, Renata dan Kevin tapi ia tidak perduli. Raddit tidak menyapa mereka bahkan Raddit berjalan melewati mereka tanpa menoleh.
"Om Raddit." Panggil Kevin.
Raddit terpaksa menoleh ia berhenti sebentar.
__ADS_1
"Hay Kevin, maaf ya om Raddit sibuk. jadi engga bisa ngobrol lama." Raddit lalu kembali berjalan meninggalkan Kevin, Renata dan Arfi.
"Kalian masuk duluan, aku mau ketoilet." Arfi alasan, sebenarnya ia ingin mengejar Raddit.
Arfi melihat Raddit sedang menaiki motornya. Raddit baru ingin menjalankan motornya, tetapi Arfi menghalanginya.
"Raddit tunggu!" Arfi berdiri disamping motor Raddit.
"Apa?" Raddit membuka helmnya.
"Apa kamu tahu dimana Nayra?"
"Nayra itu istri kamu, kenapa nanya aku?" Raddit kesal.
"Raddit aku serius, Nayra pergi lagi dari rumahnya dan aku tidak tahu dia kemana? kamu ini kan temannya, mungkin kamu tahu dimana Nayra?"
"Aku tidak punya teman pelakor, aku tidak tahu dimana dia. lagi pula kalau aku tahu, aku tidak akan memberi tahumu." sikap Raddit sangat dingin.
"Heh... jangan bicara seperti itu tentang Nayra." Arfi marah Raddit menjelekan Nayra.
"Memangnya kenapa? memang benarkan Nayra itu pelakor." Raddit menjalankan motornya ia, meninggalkan Arfi yang masih ingin bicara dengannya.
"Raddit... tunggu aku belum selesai ngomong." Arfi setengah berteriak.
"Bodo amat." Raddit tetap menjalankan motornya.
Raddit kenapa? apa sekarang dia marah sama Nayra. Arfi merasa heran dengan perubahan sikap Raddit.
"Oiya, aku sampai lupa Renata dan Kevin pasti sudah menungguku." Arfi lalu masuk kedalam rumah sakit.
Didalam ruangan rumah sakit.
"Dokter bagaimana? apa saya masih bisa hamil? Renata sedang bicara dengan dokter sedangkan Arfi dan Kevin menunggu diluar.
Arfi sebenarnya ingin masuk tapi karena Arfi ingin menemani Kevin, akhirnya Arfi memilih berada diluar ruangan dokter.
"Maaf ibu Renata, sepertinya ibu memang sudah tidak bisa punya anak lagi."
Badan Renata terasa lemas mendengar jawaban dari dokter itu, dokter itu bahkan mengatakan meskipun diberi obat kemungkinan Renata untuk memiliki anak sangat kecil.
Renata keluar dari ruangan dokter dengan wajah yang terlihat sedih, dari raut wajah Renata Arfi bisa menebak kalau dokter mengatakan sesuatu yang membuat Renata sedih.
Untuk menghibur Renata, Arfi mengajak Renata dan Kevin pergi ketaman bermain anak. disana banyak permainan untuk anak anak, Kevin sangat senang. melihat Kevin senang Renata juga ikut senang.
"Renata, kita biarkan Kevin bermain. kita perlu bicara."
Renata tidak mengatakan apa apa ia hanya mengangguk, Arfi dan Renata duduk dibangku yang jaraknya tidak jauh dari tempat Kevin bermain.
"Renata, ada apa? dokter bilang apa?" Tanya Arfi sambil memegang satu tangan Renata.
"Dokter bilang, aku tidak bisa punya anak. aku tahu aku sudah tidak punya anak lagi, tapi waktu mami bilang mungkin saja dokter bisa mengobati aku, aku jadi berharap. ternyata harapan aku sia sia." Renata menghapus air matanya
"Renata, sudah ya. kamu jangan nangis lagi. meskipun kamu tidak bisa memberikan aku anak lagi, aku akan tetap mencintai kamu."
"Kalau kamu mencintai aku, kamu tidak akan berhianat."
"Renata, tolong jangan ungkit ungkit kesalahanku." Arfi merasa tidak enak.
"Sekarang, aku ingin melanjutkan pembicaraan kita yang tadi." Sambung Arfi.
"Pembicaraan yang mana?"
"Yang tadi pagi. Renata, aku tanya sekali lagi kamu mau memaafkan aku dan mempertahankan rumah tangga kita atau kamu ingin seperti Nayra? pergi meniggalkan aku." Arfi terlihat serius.
kalau aku berpisah dengan Arfi, tidak ada laki laki yang akan menerimaku. mana ada laki laki yang mau sama perempuan yang tidak bisa punya anak. lagi pula aku juga harus memikirkan Kevin, anak itu pasti tidak ingin orang tuanya berpisah.
"Aku... aku sudah memutuskan, aku mau mempertahankan rumah tangga kita.
"Renata, terima kasih. kamu sudah memaafkan aku." Arfi memeluk Renata.
__ADS_1