Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Opname


__ADS_3

Sudah menjadi rutinitas ku setiap pagi aku menyempatkan waktu untuk mengantar Alex kesekolah agar tercipta kedekatan secara emosional antara aku dengannya .


Tanpa sengaja aku melihat luka lebam di pahanya luka itu nampak keungungan aku segera mengintrogasi Alex secara diam diam apa yang di lakukan suster padanya.


" Jagoan papa ini kenapa ?." tunjuk ku pada luka lebam di pahanya.


Alex ujur pada papa suster pernah mukul alex atau cubit alex?."


Ia menggelengkan kepalanya, aku mulai curiga dia di ancam oleh susternya.


Aku segera mengecek semua cctv dan ternyata memang tidak ada satupun gerak gerik yang mencurigakan suster Lely merawatnya dengan kasih sayang terlihat dari rekaman cctv.


Lagi pula tidak mungkin suster menganiaya, dirumah selain ada cctv ada Mbok minah dan yang lainnya fikir ku lagi, segera ku tepis fikiran fikiran buruk tentang suster yang mengasuh Alex.


Aku tersentak kaget ternyata selain di paha luka lebam terdapat di bagian punggung aku masih berusaha untuk tetap positive thinking mungkin karena lelah fikir ku.


Karena baru saja pulang dari berlibur dan selama disana dia tampak sangat aktif.


Tidak lama kami pun sampai di depan gerbang sekolahnya Ia langsung nyelonong turun dari mobil di susul suster.


" Hai .. Adrian." sapanya pada teman yang juga baru turun dari mobil, sang teman balas menyapanya kemudian mereka bergandengan tangan sambil berlari lari kecil menuju kelas.


Melihat nya sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan teman teman baru nya aku merasa lega.


Sesaat kemudian dia membalikan badan menoleh kearah ku dia melambaikan tangan dan tersenyum aku membalas dan kemudian beranjak pergi dari sana.


Seperti biasa sepulang nya dari kantor aku berusaha meluangkan waktu untuk bercengkrama dengan putra semata wayang ku demgan menanyakan kegiatannya selama di sekolah.


" Papaaa." Dia berlari lari kecil menghampiri sambil membawa buku di tangan mungilnya.


" Hai jagoan papa, kenapa sayang ." Ujarku sambil memintanya duduk di samping ku.


" I got home work, can you you teach me please." Ujarnya sambil tersenyum.


" Sure, memang ada pr apa sich jagoan hmm?."


Dia segera menunjukan tugas apa yang di berikan gurunya sebagai pr.


" Thank you papa." Ujarnya sambil mencium pipi ku saat kami selesai mengerjakan pr nya.


" My pleasure jagoan papa" Sahut ku sambil mengelus kepalanya.

__ADS_1


Saat aku mengechek ponsel aku mendapati chat dari Miss Arum guru nya di sekolah yang mengabarkan bahwa dia tadi mimisan di kelas.


Karena waktu sudah larut aku urung membalas pesan dari gurunya, pikir ku toh esok aku bisa berbicara langsung dengannya.


Keesokan paginya..


Alex ayo maem dulu nanti biar kuat." Bujuk Suster Alex menolak untuk menyantap sarapan yang telah di siapkan.


Aku yang baru saja kembali dari Gym menghampirinya yang tengah duduk di depan televisi menonton kartun kesayangan nya.


" Alex Ayo maem dulu, mau papa suapin." Ujar ku ia menganggukan kepalanya .


Saat tengah mengunyah tiba tiba ia bersin, sontak nasi yang berada di dalam mulut nya berhamburan keluar.


Yang membuat ku terkejut saat dia menangkup kan tangannya ke arah mulut aku melihat luka lebam di lengan bagian dalam dan pergelangan tangannya.


" Ini kenapa sus?" Tanya ku pada suster sambil menunjuk luka lebam pada tangan Alex


Suster Lely menghampiri ku dan ia pun terkejut melihat luka lebam tersebut.


" Astagfirullah! Saya pun baru melihat pak." sahut suster dengan muka panik.


"Alex ini kenapa sayang ,sakit ?."


Aku tidak punya rasa curiga pada suster karena dirumah ini full dengan Cctv .


"Lain kali di perhatikan ya sust takutnya ada hal yang tidak diingin kan." Ujar ku mewanti wanti


" Baik pak."


Baru saja aku selesai berbicara dengan suster Alex berteriak panik


" Paaa paaa ..! di sodorkannya telapak tangan mungilnya di sana ada bercak darah segar saat ku pandangan ku mengarah pada wajahnya terlihat jelas dari hidung nya mengalir darah.


Sontak aku di landa panik yang luar biasa aku merasa ada yang tidak beres dengan kesehatan Alex.


" Sust ganti bajunya kita kerumah sakit." Ujar ku


" Baik pak." ujar suster seraya menggendong alex masuk kekamar untuk mengganti baju nya.


Sesampainya di rumah sakit alex segera di larikan ke igd perawat tengah mengambil sampel darahnya untuk di analisa lebih lanjut.

__ADS_1


Tiga pula menit kemudian perawat menghampiriku.


"orang tua pasien harap ikut saya." Seru perawat yang tadi mengambil sample darah, aku berjalan menuju ruang dokter dengan berbagai tanda tanya dan kekhawatiran ynag berkecamuk dei benak ku.


" Selamat pagi pak, maaf dengan siapa dan apa hubungan dengan pasien?." Sapa dokter seraya mengulurkan tangannya.


" Selamat pagi dok, Arya saya papanya."


" Baik pak Arya silah kan duduk."Lanjut nya.


Dokter segera menanyakan riwayat penyakit yang pernah di derita di keluarga kami maupun keluarga Soffie.


Bagai di sambar petir saat dokter mengatakan dari hasil lab Alex di ketahui mengidap leukemia type AML( ACUTE MYELOID LEUKEMIA) dimana type ini pada kebanyakan kasus harus menerima BMT( BONE MARROW TRANSPLANTATION) transplantasi sumsum tulang belakang.


" Tapi ini ini tidak mungkin dok di keluarga kami tidak ada yang pernah mengidap penyakit ini." Ujarku bersikap denial.


Dokter tampak menghela nafas kemudian mengusapkan telapak tangan kewajahnya melihat reaksi ku yang tidak bisa menerima kenyataan.


Sejurus kemudian dokter menerangkan lebih lanjut bahwa Leukemia tidak hanya berasal dari faktor genetik.


" Jadi begini pak Arya Faktor genetik bukan merupakan faktor satu satunya seseorang bisa terserang penyakit ini.


" Faktor eksternal juga bisa jadi pemicunya , contoh terkena paparan radiasi dan lain lain." terang nya dengan sabar.


" Saya tahu jika bapak bersikap denial, memang hal memang sulit untuk di terima tapi faktanya seperti itu."


" Kami akan upayakan yang terbaik."


Setelah mendengar penjelasan panjang lebar dari dokter yang menghandle Alex tentang segala hal yang mencakup di dalam nya aku segera pamit undur diri dari ruangan dokter.


" Baik dok tolong berikan yang terbaik untuk anak saya satu satunya ,apapun akan saya lakukan." Ujarku dengan perasaan campur aduk.


" Tentu sudah menjadi kewajiban kami untuk mengupayakan yang terbaik."


" Baik saya permisi dulu dokt." Ujar ku.


" Silahkan."


Aku melangkah gontai keluar dari ruangan dokter mahluk kecil yang menggemaskan itu harus menerima takdir sepahit ini, dan harus menjalani pengobatan dalam jangka waktu yang lama dengan berbagai resikonya.


Jika aku bisa meminta aku ingin menggantikan posisinya saat ini ternyata aku yang tidak aware selama ini Alex susah sering menunjukan gejla bahwa dia mengidap penyakit serius.

__ADS_1


Dan aku hanya menganggap sebagai hal yang sepele kini semua sudah terlambat untuk di sesali, yang bisa aku lakukan adalah mengupayakan yang terbaik untuk kesembuhannya.


__ADS_2