
Arfi berjalan mendekati Renata dan Satria. hatinya seakan terbakar, tubuhnya sedikit bergetar.
"Renata." panggil Arfi dengan suara berat.
Mendengar namanya disebut Renata menoleh, ia terkejut melihat Arfi berada direstaurant yang sama dengannya.
"Kamu bilang, kamu mau merawat Kevin. mana buktinya? harusnya kamu dirumah menjaga Kevin, ini malah keluyuran." Arfi masih mengepalkan kedua tangannya.
"Arfi, kamu jangan salah paham. aku engga keluyuran, aku cuma makan. selesai makan aku juga mau langsung pulang, lagi pula dirumah ada perawat yang mengurus Kevin" Renata tidak terima dituduh seperti itu.
"Alasan saja kamu. kalau kamu males masak, kamu bisa pesan makanan lewat online." Arfi merasa dirinya paling benar.
"Pak Arfi maaf, tolong jangan bicara seperti itu pada Renata." Satria tidak suka mendengar Arfi memarahi Renata.
"Sejak kapan kamu membela Renata? bukannya selama ini kamu selalu ada dipihakku?" Arfi bertambah marah.
"Arfi, aku mau bicara. bagaimana kalau kita cari tempat lain?" Renata tidak ingin bertengkar dengan Arfi ditempat umum.
"Tidak mau, aku kesini mau makan. bukan mau bicara." Dengan sombongnya Arfi menolak permintaan Renata.
"Arfi, cuma sebentar. ini penting." Renata berusaha membujuk Arfi, ia berusaha sabar menghadapi Arfi yang sedang marah.
"Oke.. " Arfi akhirnya mau bicara dengan Renata.
Karena tidak ingin repot repot mencari tempat lain, Renata memesan satu ruang vip yang ada direstaurant itu.
Arfi berjalan disebelah Renata sementara Satria mengikuti mereka dari belakang, sesampainya diruangan vip mereka duduk bertiga.
"Kenapa kamu mengajak Satria?" Arfi mengira Renata ingin bicara berdua dengannya, tapi ternyata tidak. Arfi merasa kecewa.
"Yang mau aku bicarakan ini tentang pernikahanku dan Satria, jadi Satria juga harus dengar." Renata menarik nafas pelan pelan.
"Katakan." Perasaan Arfi tidak enak, ia merasa Renata akan mengatakan sesuatu yang menyakiti hatinya.
"Akuu.. aku tidak akan pernah bercerai dengan Satria." Renata tahu. apa yang akan ia disampaikan. mungkin akan membuat Arfi sakit hati, tapi meskipun sakit. Renata harus mengatakannya.
"Apa maksudmu? kamu mau ingkar janji?" sorot mata Arfi tiba tiba berubah.
Tatapan Arfi sangat mengerikan, ia bagai hewan buas yang siap menerkam mangsanya.
"Arfi, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud ingkar janji. pernikahan itu ikatan suci bukan permainan, jadi aku tidak akan bercerai dengan Satria."
Brak....
Arfi berdiri lalu ia menggebrak meja.
"Sejak awal kita sudah sepakat kalian menikah untuk bercerai, kenapa sekarang kamu bicara seperti itu?"
"Maaf, aku tidak bisa menepati janjiku." Renata merasa bersalah, ia kembali meminta maaf.
Dada Arfi tiba tiba terasa sesak, kata kata Renata membuat dirinya tak karuan, seketika ia merasa hidupnya hancur. Arfi sakit hati karena rencananya gagal.
Arfi sangat berharap Renata bisa menjadi istrinya lagi. Arfi bahkan rela menikahankan Renata dengan Satria, tapi siapa sangka Renata berubah pikiran. Renata tidak ingin bercerai dengan Satria, membuat harapan Arfi menjadi sebuah mimpi yang tidak bisa menjadi kenyataan.
"Bagaimana denganmu Satria? apa kamu juga tidak mau bercerai?" Arfi berharap Satria akan menepati janjinya.
"Kalau Renata ingin bercerai. saya akan menceraikannya, tapi kalau Renata tidak ingin bercerai. saya juga tidak akan menceraikan Renata. Maaf pak Arfi, saya benar benar minta maaf. saya hanya menuruti apa kata istri saya."
Deg..
Jantung Arfi seakan ingin berhenti berdetak Saat ia mendengar Satria mengucapkan Kata istriku.
__ADS_1
Rasanya Arfi ingin sekali memukul Satria, tapi Arfi ingat. Satria adalah salah seorang yang berjasa dalam hidupnya.
Saat pertama bekerja diperusahaan yang didirikan oleh orang tuanya, Arfi sering bermalas malasan. Arfi seperti tidak punya semangat Hidup, ia datang dan pergi sesuka hatinya.
Waktu itu Arfi baru saja putus dengan Nayra, karena itu ia menjadi orang yang frustrasi. Namun semua berubah ketika Satria mulai bekerja menjadi asistentnya, sedikit demi sedikit Arfi mulai berubah.
Kedekatan Arfi dan Satria membuat Satria lebih sering bicara serta menasehati Arfi, Satria yang rajin bekerja membuat Arfi merasa malu dan entah sejak kapan sikap rajin Satria menular pada diri Arfi.
Satu hal lagi yang membuat Arfi merasa berhutang budi pada Satria, Satrialah yang membantu Arfi sehingga Arfi bisa berjalan lagi.
Arfi sempat putus asa dan hampir saja bunuh diri karena Arfi pikir, ia tidak akan bisa berjalan lagi. dimasa masa sulit dalam hidupnya Satrialah yang selalu menemaminya. Satria memberi semangat untuk Arfi, bahkan Satria banyak menghabiskan waktunya dirumah sakit.
Satria bukan hanya asisten bagi Arfi. Arfi juga sudah menganggap Satria seperti saudara sendiri, tapi apa karena jasa jasa Satria. Arfi harus merelakan Renata. perempuan yang pernah mengisi hidupnya, perempuan yang pernah menjadi istri serta ibu dari anaknya.
Kepala Arfi berdenyut, mendadak ia jadi pusing.
"Pak Arfi, kalau Pak Arfi ingin saya bercerai. bicara saja dengan Renata, bujuk saja Renata karena semua keputusan ada ditangan Renata. Saya minta maaf, saya permisi."
Mata Satria sedikit berair, sama seperti Renata. Satria juga merasa bersalah pada Arfi karena mungkin ia tidak bisa menepati janjinya pada Arfi.
Setelah sedikit membungkukan badannya, Satria pergi meninggalkan ruangan itu.
"Aku sudah selesai bicara. Aku pergi dulu." Ada rasa iba dihati Renata saat ia melihat kedua mata Arfi yang memerah.
"Renata, apa kamu sudah jatuh cinta pada Satria?" Hati Arfi sangat sakit, tapi ia berusaha untuk tidak menangis dihadapan Renata.
"Arfi, kamu ingat? kita menikah karena dijodohkan, meskipun begitu aku tetap menjadi istri kamu. bahkan saat kamu menikah lagi, Aku masih tetap setia menjadi istri kamu. kamu, kamu yang menceraikan aku. Aku tidak pernah ingin bercerai dengan suamiku, dulu aku tidak ingin bercerai denganmu dan sekarang aku juga tidak mau bercerai dengan Satria." Tanpa terasa air mata Renata berjatuhan, ia mulai menangis.
"Aku pulang, aku minta maaf Arfi, kita tidak akan bisa bersama lagi." Renata keluar dari ruangan itu sambil menangis.
"Renata, Satria. kalian pikir dengan minta maaf, kalian bisa menyembuhkan hatiku yang terluka. percuma. meskipun kalian meminta maaf berulang ulang, hatiku tetap sakit. kalian penghianat!"
Ari membanting barang barang yang ada dihadapannya.
Nayra tidak tahu kenapa Arfi membanting barang barang diruangan itu. ketika Nayra melihat ada Renata dan Satria direstaurant itu, Nayra memang sengaja tidak ikut masuk
Nayra membiarkan Arfi masuk sendiri lalu menghampiri Renata dan Satria. Saat Arfi, Renata dan Satria masuk kedalam ruang vip barulah Nayra masuk.
Nayra duduk setelah itu ia memesan minuman direstauran itu, beberapa saat menunggu Nayra melihat Satria keluar dari ruangan Vip, tidak lama kemudian Renata juga keluar dari sana.
Nayra menutupi wajahnya dengan buku menu agar Renata maupun Satria tidak melihat dirinya. setelah Satria dan Renata keluar Nayra bergegas berjalan menuju ruang vip yang ada direstaurant itu.
"Pak Arfi ada apa ini?" Nayra segera masuk kedalam ruangan itu, kebetulan pintunya tidak ditutup.
"Jangan dibanting." Nayra memegangi tangan Arfi yang ingin membanting vas bunga.
"Dari mana saja kamu?" Arfi terlihat sangat marah, ia sedang dikuasi emosi. emosi yang meledak ledak sehingga membuat wajahnya tampak mengerikan.
"Dari toilet." Nayra bohong.
Arfi tidak ingin melampiaskan kemaraharannya pada Nayra, ia menepis tangan Nayra lalu ia pergi meninggalkan Nayra begitu saja.
"Pak, bapak mau kemama?" Nayra berjalan mengikuti langkah kaki Arfi.
"Aku mau membunuh Renata." Arfi kelihatan bersungguh sungguh dengan ucapannya.
"Tapi kenapa pak?" Nayra bergidik ngeri.
"Kalau aku tidak bisa memiliki Renata, maka Satria juga tidak boleh memiliki Renata." Arfi berjalan lebih cepat.
Tubuh Arfi yang tinggi serta langkah kakinya yang besar membuat Nayra kesulitan mengikuti Arfi, apalagi saat itu Nayra menggunakan sepatu hak tinggi membuat Nayra semakib tertinggal jauh dibelakang Arfi.
__ADS_1
Arfi masuk kedalam mobilnya, Arfi merasa keberuntungan sedang berpihak padanya. dilihatnya Renata yang ingin menyebrang jalan. Arfi langsung tancap gas, ia ingin menabrak Renata.
"Mati kamu Renata." Mata Arfi bagai bara api yang menyala.
Mendadak Arfi seperti kehilangan akal sehatnya, rasa sakit hatinya membuat dirinya diselimuti amarah dan dendam. Arfi bahkan tidak berpikir kalau yang ia lakukan adalah satu tindak kejahatan.
Nayra yang mengikuti Arfi, sudah bisa menebak apa yang akan dilakukan Arfi. Dengan cepat Nayra melepas sepatunya.melihat Arfi masuk kedalam mobilnya, Nayra buru buru berlari menghampiri Renata.
Nayra sampai tepat waktu, Saat mobil Arfi hampir menabrak Renata, Nayra lebih dulu menarik tangan Renata.
Nayra dan Renata jatuh tersungkur, Renata terjatuh diatas tubuh Nayra sedangkan Nayra terjatuh dibawahnya. Nayra pingsan karena kepalanya sempat terbentur batu, tapi ia berhasil menyelamatkan Renata.
Renata sangat terkejut, saat melihat wajah orang yang sudah menolongnya.
"Nayra." Renata tidak percaya kalau perempuan yang sudah menyelamatkan nyawanya adalah Nayra.
Arfi keluar dari mobilnya, menyadari kalau Nayra menolong Renata. Arfi buru buru berlari menghampiri Nayra dan Renata.
"Dewi.. bangun Dewi. Dewi! jangan bercanda. jangan buat aku takut." Arfi duduk berlutut. sambil menepuk nepuk pipi Nayra.
Renata, terlihat bingung, ia tidak tahu kenapa ada perempuan yang wajahnya sangat mirip dengan Nayra dan kenapa Arfi memanggilnya Dewi.
Ketika Renata sedang bingung, Satria datang. dari tadi Satria menunggu Renata didalam mobil, ia sangat terkejut melihat kejadian itu. Kejadian itu terjadi begitu cepat, sehingga Satria tidak sempat menolong Renata.
"Nayra." Sama seperti Renata Satria juga terkejut melihat Nayra.
Renata terkejut karena wajah orang yang menolongnya mirip dengan Nayra sedangkan Satria terkejut karena ia bertemu kembali dengan Nayra.
Sejak menemami Arfi berobat keluar negeri, Satria memang tidak pernah lagi bertemu Nayra. Nayra seperti menghilang ditelan bumi dan tiba tiba saja Satria dibertemu lagi dengannya.
"Kamu bilang apa? Nayra?" Arfi menatap Satria, matanya menyiratkan dendam.
"Iya.. Nayra, perempuan ini Nayra."
"Bukan, Nayra sudah mati. dia ini Dewi, baby sisternya anak anakku." Arfi bicara dengan suara sedikit keras.
"Pak Arfi, Nayra sebenarnya masih hidup."
"Apa? engga, engga mungkin. kamu pasti bohong."
"Saya engga bohong, saya sendiri yang membawa Nayra kerumah sakit. Sebelum taksi yang dinaiki Nayra meledak saya sempat menyelamatkannya."
Penjelaskan Satria membuat tubuh Arfi terasa lemas tak bertenaga, perasaannya campur aduk antara bahagia, sedih dan juga marah.
Arfi bahagia ternyata Nayra masih hidup, tapi ia sedih karena Nayra pingsan. Arfi juga marah karena Nayra dan Satria sudah membohonginya.
"Jadi.. kamu menipuku lagi?"
"Menipu lagi?" Satria tidak mengerti kenapa Arfi berkata begitu.
"kamu bilang kamu mau membantuku supaya aku bisa kembali lagi dengan Renata, tapi ternyata kamu bohong. kamu bilang, Nayra sudah mati dan itu juga bohong! dua kali Satria, dua kali kamu menipu aku."
Arfi bediri ia. ingin memukul Satria, namun Renata menghalanginya. Renata mememegangi tangan Arfi.
"Kenapa Renata? kamu mau membela suami kamu?" Dengan kasar Arfi menarik tangannya yang dipegang Renata.
"Bukan begitu Arfi, ini bukan saatnya untuk bertengkar. kamu lihat? Nayra pingsan, kita harus bawa dia kerumah sakit." Renata seperti ingin menangis.
"Pak Arfi, saya minta maaf. saya tidak bermaksud membohongi bapak, ini semua permintaan Nayra. Sebaiknya sekarang kita bawa Nayra kerumah sakit." Satria bicara dari wajahnya terlihat, kalau ia sangat menyesal.
"Tidak usah, aku bisa mengurus istriku sendiri. aku tidak butuh kalian, satu lagi. kamu tidak perlu minta maaf padaku karena aku bosan mendengarnya." Arfi mengangkat tubuh Nayra.
__ADS_1
Arfi menggendong Nayra sampai kedalam mobilnya, ia ingin membawa Nayra kerumah sakit secepatnya.