Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Hujan hujanan


__ADS_3

Renata menjatuhkan sendok yang ia pegang Renata sudah menduga kalau ia akan bertemu dengan Nayra, tapi tetap saja ia tidak bisa menghilangkan rasa kagetnya ketika pandangan matanya bertemu dengan Arfi


Renata tahu kalau ia akan bertemu Nayra saat ia melihat Raddit berada diatas pelaminan. hanya saja ia tidak mengira kalau Arfi juga akan datang kepesta pernikahan Raddit.


Bukan hanya Renata, Satria yang duduk disamping Renata juga tidak mengira kalau ia akan bertemu dengan Arfi.


"Pak Arfi." Satria menyapa Arfi dengan sopan.


"Tidak usah memanggil aku pak, kamu sudah berhenti bekerja denganku. panggil saja namaku." Baru kemarin Arfi menerima surat pengunduran diri Satria.


Satria merasa tidak enak bekerja dengan Arfi karena ia sudah mengingkari janjinya pada Arfi, itu sebabnya ia memutuskan untuk mengundurkan diri.


Renata hanya diam, Renata merasa canggung, ia tidak tahu bagaimana harus bersikap pada Arfi.


Merasa suasana menjadi kaku Nayra memilih untuk meninggalkan mereka.


"Maaf, aku permisi dulu. aku belum mengucapkan selamat pada Raddit." ucap Nayra sebelum ia berjalan pergi.


Kevin seperti ingin mengatakan sesuatu pada Nayra, tapi Nayra susah terlanjur pergi.


"Kevin, papa pergi nak." Arfi berjongkok agar ia bisa memeluk Kevin.


"Tapi, aku masih kangen pa... " Kevin seperti tidak rela Arfi pergi.


"Papa juga masih kangen, tapi papa harus pergi. besok kalau papa ada waktu papa akan datang kesekolah kamu. kita ketemu disana."


"Kenapa disekolah pa? kenapa papa tidak datang saja keapartement mama?"


Untuk sesaat Arfi dan Renata saling berpandangan, tapi Arfi buru buru mengalihkan pandangan matanya.


"Besok papa banyak kerjaan. apartement mama kamu jauh, lebih dekat kalau kesekolah kamu."


Jarak perusahaan Arfi memang lebih dekat dengan sekolah Kevin dibanding dengan Apartement Renata, tapi bukan itu alasan Arfi yang sebenarnya. Arfi tidak tahu kenapa rasanya ia ingin menghidari Renata.


"Papa pergi dulu ya." Setelah berpamitan dengan Kevin, Arfi lalu pergi begitu saja. ia tidak menyapa atau mengucapkan sesuatu pada Renata maupun Satria.


Arfi sempat menoleh kearah Pak Haris, saat itu pak haris sedang sibuk bicara dengan orang orang yang mendekatinya dan berusaha menyapanya.


Begitu banyak tamu undangan yang ingin bicara dengan pak Haris, Sejak Arfi tahu bahwa pak Haris adalah orang tua Satria. Arfi sudah tidak berminat lagi mengajukan kerja sama dengan perusahaan pak Haris rasanya ia malas berurusan dengan Satria.


Arfi menghampiri Nayra yang sedang berada diatas pelaminan, saat itu Nayra sedang asik ngobrol dengan Raddit.


"Selamat ya Raddit." ucap Arfi yang tahu tahu sudah berdiri dibelakang Nayra membuat Nayra sedikit terkejut.


"Syukurlah kamu sekarang sudah nikah, jadi kamu tidak bisa mendekati istriku lagi." Ucap Arfi dengan santai.


Nayra langsung menengok kearah Arfi, ia terlihat marah. Sama seperti Nayra, Raddit juga kesal mendengar ucapan Arfi. Raddit melihat wajah Lisa yang cemberut.


Nayra merasa malu pada Raddit dan istrinya. ia lalu segera mengajak Arfi turun dari pelaminan, Nayra dan Arfi kemudian berjalan keluar dari gedung itu.


Ketika Nayra dan Arfi berada ditaman, Nayra dan Arfi mendengar suara Kevin memanggil nama Nayra


"Bu Nayra." Kevin berlari kecil menghampiri Nayra dan Arfi.


"Jadi bu Nayra masih hidup?" Tanya Kevin dengan mata yang berkaca kaca.


Nayra memang datang bersama Arfi, tapi karena Kevin hanya fokus pada Arfi dan Nayra buru buru pergi, Kevin jadi belum sempat bicara dengan Nayra


"Bu Nayra, aku senang ibu masih hidup. aku kira ibu sudah mati." Kevin memeluk Nayra.


"Ibu juga senang bisa bertemu kamu lagi." Nayra mengusap usap kepala Kevin.


"Kevin ibu harus pergi, sebaiknya kamu kembali lagi kedalam. mama kamu pasti sedang mencari kamu."


"Papa.. bu Nayra, boleh aku ikut papa?" Kevin memohon dengan wajah yang terlihat sedih.


"Kevin, papa senang kalau kamu mau ikut papa. tapi bagaimana dengan mama? Mama kamu tidak akan mengijinkan kamu ikut dengan papa." Melihat Kevin sedih, Arfi jadi ikut sedih.


"Kenapa sekarang semuanya berubah? Kenapa papa dan mama tinggal terpisah? Apa kita tidak bisa sama sama seperti dulu?" Kevin menangis tanpa suara.


"Maaf Kevin, maafkan papa. semua ini salah papa." Arfi tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil memeluk Kevin.


Nayra menyeka air matanya, mendengar keluhan Kevin dirinya merasa tertampar.


Bukan, bukan Arfi yang salah, aku yang salah. Aku ini pelakor.


Nayra berlari kecil, ia ingin meninggalkan Arfi dan Kevin, Nayra berlari tanpa melihat kedepan. ia sibuk menghapus air matanya.


Brug....

__ADS_1


Nayra tidak sengaja menabrak tubuh seseorang, seseorang yang ternyata adalah Renata.


"Mau kemana kamu? mau melarikan diri lagi?" Renata seakan tahu yang ada dipikirkan Nayra.


"Sebaiknya aku pergi, aku sudah menghancurkan keluargamu. karena aku, Kevin jadi tidak punya keluarga yang utuh." Nayra merasa sangat bersalah.


"Meskipun kamu pergi. keluargaku, tidak akan pernah bisa utuh lagi. Semuanya sudah terlambat. kamu sudah punya anak dengan Arfi dan aku sudah menikah, aku tidak akan pernah bercerai dengan Satria." Ucap Renata penuh dengan keyakinan.


"Nayra, kalau kamu pergi. Arfi akan sedih dan aku tidak mau melihat Arfi sedih. aku dan Arfi memang sudah berpisah, tapi bagaimapun dia tetap ayahnya Kevin kalau Arfi sedih. Kevin juga akan sedih. Nayra, aku mohon jangan pergi. Jangan menutupi kesalahanmu dengan melakukan kesalahan lagi, pikirkan anak anakmu." Setelah bicara panjang lebar Renata berjalan meninggalkan Nayra, Renata mendekati Arfi dan Kevin.


"Kevin." Panggilan Renata membuat Kevin dan Arfi menoleh.


Ketika itu Kevin dan Arfi sedang duduk dibangku taman, Renata kemudian duduk disamping Kevin. mereka duduk bertiga bagai sebuah keluarga.


Kevin sangat bahagia karena ia bisa duduk diantara Renata dan Arfi, ia merasa memiliki sebuah keluarga yang utuh.


"Jadi anak kesayangan mama, mau ikut papa? mama dengar semua." Renata merangkul Kevin.


"Iya ma..boleh kan?" Ucap Kevin seperti memohon.


"Boleh sayang." diluar dugaan Renata ternyata mengijinkan Kevin ikut dengan Arfi.


"Horee..." Kevin bersorak kegirangan.


"Ya..sudah, sekarang kamu masuk dulu. kamu main sama kakek Haris atau sama papa Satria. mama mau bicara sama papa sebentar."


"Iya mamaku sayang." Wajah Kevin yang semula sedih langsung berubah ceria dan terlihat bahagia.


Dengan senyum bahagia Kevin pergi meninggalkan Renata dan Arfi.


"Kamu serius? mengijinkan Kevin ikut bersamaku." Tanya Arfi seakan tidak percaya.


"Iya...aku ingin kita berbagi waktu mengurus Kevin. Seminggu Kevin tinggal bersamamu, seminggu kemudian Kevin tinggal bersamaku begitu seterusnya."


"Aku kira Kevin akan tinggal bersamamu dan aku hanya boleh menjenguknya." Arfi merasa senang mendengar ucapan Renata.


"Aku cuma mau berbuat adil. Kevin itu anak kamu juga, dia juga butuh kasih sayang kamu" Renata kemudian berdiri dari duduknya.


"Aku masuk dulu kedalam, kamu tunggu disini." Renata kemudian pergi menyusul Kevin.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


"Nayra, aku sampai melupakan dia. jangan jangan dia kabur lagi. aku baru ingat, kunci mobilku Nayra yang memegangnya." Arfi tiba tiba teringat Nayra, dengan tergesa gesa Arfi berjalan menuju parkiran mobil.


Arfi menarik nafas lega saat melihat mobilnya masih terparkir disana.


"Itu berarti Nayra masih ada disini, tapi kemana dia?"


Arfi lalu membuka pintu mobil yang ternyata tidak dikunci.


"Kenapa tidak kunci? Nayra benar benar ceroboh."


Arfi kemudian masuk kedalam mobil, ia sedikit terkejut melihat Nayra yang sedang tertidur didalam mobil.


"Nayra, kamu tidak pernah berubah. suka tidur disembarang tempat."


Arfi lalu menyentuh bibir Nayra. beberapa detik kemudian ia mendekatkan wajahnya pada wajah Nayra dan entah dorongan dari mana Arfi tergoda untuk mencium bibir Nayra.


Nayra terbangun dari tidurnya karena ia merasakan ada seseorang yang menyentuh bibirnya, Nayra membulatkan matanya Saat ia tahu Arfi sedang menciumnya. Nayra buru buru mendorong dada Arfi.


"Kamu menolakku?" Arfi kelihatan marah.


"Bukan begitu, itu ada Renata." Nayra menatap keluar jendela mobil.


Melihat Nayra menatap keluar jendela, Arfi ikut melihat keluar jendela. ia jadi kesal setelah melihat Satria menggendong Kevin dan membawanya masuk kedalam mobil, Renata juga ikut masuk kedalam mobil itu.


"Kenapa Renata membawa kevin pergi? apa dia mau ingkar janji?" Arfi langsung turun dari mobilnya.


Arfi baru saja ingin menghampiri Renata, tapi ponselnya bergetar. membuat Arfi berhenti lalu ia mengambil ponsel disaku bajunya.


Arfi lalu membuka pesan yang ternyata dikirim oleh Renata.


Arfi maaf, sepertinya Kevin lelah. dia ketiduran jadi aku membawanya pulang,besok saja kamu jemput Kevin disekolah.


Pesan dari Renata membuat Arfi kesal.


"Ada apa?" Tanya Nayra penasaran, ia Nayra sudah turun dari mobil.


Memandang wajah cantik Nayra, rasa kesal Arfi mendadak hilang.

__ADS_1


"Tidak ada, kita jalan jalan sekarang." Arfi menggengam tangan Nayra. mereka berdua lalu masuk kembali kedalam mobil.


"Jalan jalan? Bukannya kita mau pulang?"


"Kita jalan jalan dulu. baru pulang." Arfi tidak menunggu jawaban Nayra, ia langsung menjalankan mobilnya.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Renata bingung dengan sikap Satria yang tiba tiba berubah menjadi dingin, untunglah saat itu mereka pulang terpisah dengan pak Haris. Pak Haris sudah pulang lebih dulu bersama supirnya, jadi ia tidak melihat sikap dingin Satria.


"Satria, kamu marah?"


"Menurut kamu? Suami mana yang tidak marah melihat istrinya berduaan dengan laki laki lain."


"laki laki? siapa maksud kamu?"


"Siapa lagi kalau bukan Arfi, mantan suami kamu."


"Satria, tolong jangan salah paham. aku dan Arfi sudah tidak punya hubungan apa apa lagi, kita cuma membicarakan soal Kevin."


"Benar, kamu tidak punya hubungan apa apa dengan Arfi?"


"Kalau aku punya hubungan dengan Arfi. aku akan minta cerai padamu lalu aku bisa kembali lagi dengan Arfi, tapi aku tidak melakukan itu." Renata kesal karena Satria tidak percaya padanya.


"Maaf Renata, seharusnya aku percaya padamu." Satria merasa bersalah.


"Seharusnya aku juga senang, kamu cemburu. karena cemburu itu tandanya cinta." Renata memeluk Satria dari samping membuat Satria tersenyum senang.


Aku tidak mengira kalau aku akan bercerai dengan Arfi lalu menikah dengan Satria, aku pikir aku akan menghabiskan sisa hidupku bersama Arfi, tapi takdir berkata lain. mungkin jodohku yang sebenarnya memang Satria bukan Arfi. Batin Renata.


🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸


Arfi mengajak Nayra kesebuah danau yang pemandangannya sangat indah, udara disekitarnya juga sejuk. Nayra tidak henti hentinya mengagumi tempat itu matanya berbibar bahagia.


Arfi dan Nayra duduk diatas tikar didepan mereka ada minuman dan makanan yang baru saja Arfi beli.


"Kenapa kamu mengajakku kesini?"


"Karena aku ingin memberikan sesuatu padamu." Arfi mengambil sebuah cincin dari saku bajunya.


"Cincin ini..." Nayra mengamati cincin yang dipegang Arfi.


Cincin itu adalah cincin yang dulu pernah Arfi berikan pada Nayra. seingat Nayra cincin itu hilang entah dimana.


"Nayra, maukah kamu menikah denganku?" Arfi memegang tangan Nayra lalu memasukan cincin itu dijari manis Nayra.


"Aku tidak mau." Nayra menolak.


"Apa?" Arfi kecewa mendengar jawaban Nayra.


"Kita kan sudah menikah buat apa menikah lagi?" Nayra tersenyum.


"Aku ingin kita mengadakan resepsi pernikahan, supaya semua orang tahu kalau kamu adalah istriku." Arfi merasa dulu ia tidak melamar dan menikahi Nayra dengan benar karena itu ia ingin mengadakan resepsi pernikahan.


"Aku tidak butuh semua itu karena aku tidak perlu pengakuan dari orang lain. yang penting kamu mau mengakui aku sebagai istri." Tanpa malu malu Nayra mencium bibir Arfi.


Arfi memejamkan matanya ia membalas ciuman Nayra. Arfi berhenti mencium Nayra ketika tiba tiba hujan turun.


"Nay, hujan. ayo kita masuk kedalam mobil."


Merekapun berlari sambil hujan hujanan, karena kebetulan Arfi memarkirkan mobilnya aga jauh dari danau itu.


Ditengah jalan Nayra menghentikan langkahnya, Arfi tidak mengerti kenapa Nayra tiba tiba berhenti belari.


Dulu aku pikir aku, aku tidak berjodoh dengan Arfi karena Arfi sudah menikah dengan Renata. setelah melalui banyak rintangan, aku tidak percaya aku bisa bersama dengan Arfi. Sekarang aku tidak perlu merasa bersalah lagi karena Renata sudah menemukan kebahagiaannya, aku juga tidak perlu sembunyi sembunyi lagi. Biarlah seluruh dunia tahu kalau sekarang Arfi adalah suamiku. Nayra bicara dalam hati.


"Kenapa berhenti? kita nanti kehujanan."


"Tidak apa apa, baju kita sudah terlanjur basah." Nayra memeluk Arfi.


Arfi ingin melepaskan pelukan Nayra, tapi Nayra justru mempererat pelukannya.


"Jangan dilepas. biarkan aku memelukmu seperti ini, sebentar saja. hanya sebentar, aku ingin merasakan kalau semua ini nyata bukan mimpi." Nayra masih memeluk Arfi.


Arfi melingkarkan satu tangannya dipinggang Nayra, satu tangannya lagi ia gunakan untuk mencubit pipi Nayra.


"Aww... sakit." Nayra melepaskan pelukannya pada Arfi.


"Sakit? Itu berarti, ini semua bukan mimpi."

__ADS_1


Arfi menarik tangan Nayra kemudian ia memeluk Nayra, mereka berduapun tersenyum senang tidak perduli meskipun baju mereka sudah basah tersiram air hujan.


__ADS_2