Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Dinner romantis


__ADS_3

Nayra bingung, ia tidak tahu harus melakukan apa karena Arfi malah sibuk menelphone. Arfi tidak memberi tahu Nayra dimana kamarnya.


Karena merasa lelah dan tidak ingin menunggu lagi, Nayra lalu memilih kamar yang paling depan yang berada dibawah. kamar itu dekat dengan ruang keluarga. Nayra mendorong stroller Bintang dan Bulan kekamar itu.


Selesai menelphone Arfi melihat Nayra bersama anak anaknya sudah tidak ada diruang tamu.


"Kemana Dewi?" Arfi mencari cari keberadaan Nayra.


Arfi melihat pintu kamar depan terbuka, Arfi lalu berjalan kekamar depan, ia ingin tahu siapa yang masuk kedalam kamar itu karena seingat dirinya kamar itu tadi tertutup. sampai didepan pintu kamar Arfi melihat Nayra sedang menyuapi Bintang dan Bulan.


kenapa melihat Dewi aku seperti merasakan kehadiran Nayra? Nay, seandainya saja kamu masih hidup. Batin Arfi.


Aku tidak percaya, ini seperti mimpi. aku tinggal bersama Arfi seperti layaknya pasangan suami istri, tapi disini aku hanya sebagai pengasuh bukan istri Arfi. Batin Nayra sedih.


"Dewi." Panggilan Arfi membuat Nayra menoleh.


"Apa apaan ini, kenapa kamu masuk kamar ini tanpa ijin ku? Seharusnya kamu tanya aku, yang mana kamar untuk anak anakku dan yang mana kamar untukmu."


Arfi sebenarnya tidak marah, ia hanya pura pura. ia tidak ingin Nayra bersikap lancang lagi.


"Habisnya bapak kelamaaan, anak anak susah cape mau istirahat."


Nayra mengucapakan kata anak anak, seakan anak anak itu adalah anak anaknya sendiri. itu membuat Arfi bertanya tanya.


"Anak anak?" Arfi menaikan satu alisnya.


"Maksud saya, anak anak bapak." Nayra segera meralat ucapannya.


"Pak, saya boleh tidur disini sama anak anak bapak?" Nayra memberanikan diri untuk bertanya.


"Anak anakku boleh tidur disini, tapi kamu tidak beleh. kamar ini hanya untuk anak anakku."


Arfi menatap Nayra dengan wajah cemberut, ia tidak suka Nayra tidur satu kamar dengan anak anaknya.


"Kenapa tidak pak? dirumah ibu Ayrin saya tidur satu kamar dengan Bintang dan Bulan." Nayra kesal.


"Ini rumahku bukan rumah mamiku, kamu pikir aku akan membiarkan kamu tidur dengan anak anakku? Kamu lupa siapa diri kamu? kamu itu cuma pengasuh anak anakku." kata kata Arfi membuat hati Nayra tercubit rasanya sakit.


"Justru karena saya pengasuh anak anak bapak, saya harus selalu ada untuk anak anak bapak. Bagaimana kalau malam malam mereka nangis karena haus atau karena mau digendong? Bu ayrin bilang, merepotkan kalau saya mondar mandir dari kamar saya kekamar anak anak bapak." Nayra menjadi marah.


"loh... kenapa kamu jadi marah marah sama aku? kamu itu kerja sama aku. aku majikan kamu, jadi kamu yang harusnya menuruti aturanku." Nayra membuat Arfi kesal.


"Ya sudah... dimana kamar untuk saya." Nayra memutar bola matanya malas.

__ADS_1


"Disebelah kamar Bulan dan Bintang." Arfi kemudian berjalan. ia ingin keluar dari kamar itu, tapi kakinya tersandung.


Arfi cepat cepat memegangi bahu Nayra agar ia tidak terjatuh, kebetulan saat itu Nayra sedang berdiri. Nayra ingin membawa peralatan makan Bintang dan Bulan kedapur.Dan lagi lagi mereka saling bertatapan.


Kalau dilihat dari dekat seperti ini. Dewi benar benar mirip Nayra, cuma kaca mata dan cara dandan mereka yang berbeda. Arfi terus memandangi Nayra, seolah olah sedang mengamati setiap inci tubuh Nayra.


Merasa sedang diawasi Nayra buru buru mendorong dada Arfi.


"Pak... lain kali hati hati." Ucap Nayra sambil berlalu pergi meninggalkan Arfi.


Arfi berjalan mengikuti Nayra tapi belum sampai didapur Arfi mendengar bel pintu rumahnya berbunyi.


Arfi tidak jadi mengikuti Nayra ia memilih membuka pintu rumahnya dan ternyata tamu yang datang adalah Satria. Arfi lalu meminta Satria untuk duduk.


"Satria, saya kan sudah bilang, kamu istirahat dirumah. kenapa kamu masih datang kesini?"


"Ini pak, tadi dompet bapak ketinggalan dimobil." Satria meletakkan dompet Arfi diatas meja.


"Satria, kembalikan dompetnya kan bisa besok. o..iya karena kebetulan kamu ada isi sekalian saja saya kasih tahu kamu. kamu jangan pernah bilang sama Renata, dimana saya tinggal."


"Kenapa pak?"


"Saya tidak mau dia mengambil Kevin."


"Iya... saya tidak akan membiarkan Renata bertemu dengan Kevin kecuali dia mau menuruti keinginan saya."


"Pak, sebaiknya bapak jangan mengancam Bu Renata seperti ini. nanti bisa bisa bu Renata benci sama bapak, kalau pun dia menurut semua itu pasti karena terpaksa." Satria menasehati Arfi.


"Saya memang harus memaksanya. kalau tidak, Renata tidak akan mau menuruti keinginan saya." Arfi merasa putus asa.


"Bapak tenang saja, saya sudah bilang. saya akan bantu bapak."


"Saya saja tidak bisa membujuk Renata, apalagi kamu." Arfi meragukan Satria.


"Bukan saya yang akan membujuk Bu Renata, tapi bapak. saya cuma membantu bapak supaya bu Renata mau menuruti kemauan bapak, tanpa merasa dipaksa." Satria memberi penjelasan pada Arfi.


"Caranya?" Arfi jadi penasaran.


"Saya akan carikan tempat untuk bapak dan ibu Renata. disekitar sini ada Restauran yang bagus, restaurant itu dekat danau. saya akan hias restaurantnya biar terlihat indah, disana bapak bisa makan malam romantis dengan bu Renata." gagasan Satria membuat Arfi terdiam dan hanya bisa mendengarkan Satria bicara.


"Sambil dinner romantis, bapak sebaiknya menyatakan cinta bapak pada bu Renata. bu Renata pasti akan senang, setelah bu Renata merasa senang barulah bapak meminta bu Renata untuk menuruti kemauan bapak. saya yakin, bu Renata pasti mau menuruti bapak." Lanjut Satria.


Ide Satria membuat Arfi geleng geleng kepala, sejujurnya Arfi merasa kagum pada asistentnya itu. Arfi bahkan tidak pernah berpikir untuk melakukan itu.

__ADS_1


"Bapak setuju dengan saran saya?" Tanya Satria yang melihat Arfi diam.


"Saya setuju, sangat sangat setuju." Arfi tersenyum bahagia.


"Kalau begitu, saya pulang dulu pak, saya akan siapkan semuanya untuk dinner romantis bapak bersama ibu Renata.


"Iya, tapi... apa kamu yakin Renata akan datang?" Arfi khawatir Renata tidak mau datang.


"Tenang saja pak, saya yakin bu Renata akan datang. serahkan semua pada saya." Satria berdiri.


Setelah berbicara panjang lebar dengan Arfi, Satria kemudian pergi meninggalkan rumah Arfi.


"Dewii... Dewii... " Arfi memanggil manggil Nayra.


"Ada apa pak?" Nayra tergesa gesa menghampiri Arfi.


"Anak anakku sudah selesai makan kan?"


"Sudah pak, saya juga sudah memandikan Bulan dan Bintang. sekarang mereka tidur."


"Bagus, nanti aku mau makan malam diluar,tolong kamu jaga anak anakku. Jangan lupa, kalau Kevin sudah bangun, suruh dia mandi terus makan." Perintah Arfi.


"Baik pak." Nayra menundukkan wajahnya.


"Kamu kenapa? setiap bicara denganku kamu selalu nunduk. Lihat aku." Arfi menangkat dagu Nayra agar nayra melihat wajahnya.


Jarak mereka sangat dekat, Nayra bisa merasakan hembusan napas Arfi yang mengenai wajahnya.


"Saya tahu bapak tidak suka melihat muka saya yang jelek karena itu saya menunduk" Nayra cepat cepat menepis tangan Arfi.


"Kalau tidak ada lagi yang ingin bapak katakan, saya permisi." Nayra ingin pergi tapi Arfi malah memegang tangannya


"Tunggu, kamu bisa bantu saya?" ada getaran aneh yang arfi rasakan saat Arfi menyentuh tangan Nayra.


Aku merasakan ada sesuatu yang rasakan saat aku menyentuh Dewi, rasanya sama seperti saat aku menyentuh Nayra.


Untuk kesekian kali Arfi bisa merasakan adanya Nayra didalam diri Dewi. ia belum juga menyadari kalau Dewi adalah Nayra.


"Bantu apa?" Nayra kembali menepis tangan Arfi.


"Engga jadi, biar aku sendiri saja. tadinya aku mau minta tolong untuk memilih baju, tapi melihat baju yang kamu pakai. aku tahu selera kamu buruk." Arfi berjalan pergi meninggalkan Nayra.


Dia selalu saja menghinaku. Nayra merasa sedih.

__ADS_1


__ADS_2