Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Hari yang penuh kejutan


__ADS_3

Arfi dibuat kaget ketika tiba tiba Satria menghentikan mobilnya secara mendadak.


"Satria kenapa berhenti?" Arfi terlihat marah.


"Bu Nayra mengikuti kita." ucap Satria gugup, ia tampak gelisah keringat dingin mengalir dari dahinya.


"Aku tau, tapi Nayra masih jauh. kalau kamu berhenti seperti ini bisa bisa kita akan terkejar oleh Nayra."


Mobil Arfi dan taksi yang Nayra naiki memang kejar kejaran, tetapi taksi yang mengejar mobil Arfi masih lumayan jauh dibelakang karena sebelum mengejar mobil Arfi Nayra sibuk membujuk supir taksi lebih dulu. barulah ia bisa mengejar mobil Arfi.


Arfi juga memberi perintah pada Satria agar jangan terlalu ngebut karena mereka sedang membawa Bintang dan bulan anak anak Arfi yang masih bayi.


"Bu Nayra kecelakaan." ujar Satria terbata bata.


"Apa? bodoh! kenapa tidak bilang dari tadi." Arfi marah marah.


"Satria, tolong jaga anak anakku." Arfi meletakan Bulan yang semula berada dipangkuannya.


Arfi meletakan Bulan persis disamping Bintang lalu ia keluar dari mobilnya, Arfi sangat terkejut melihat Taksi yang dinaiki Nayra sudah terbalik.


"Nayra!" Arfi berteriak histeris sambil menangis.


Dengan berurai air mata Arfi berlari menghampiri taksi itu. Taksi itu memang berada aga jauh dari mobil Arfi namun masih bisa terihat oleh Arfi dan Satria.


Arfi berlari dengan cepat. Ia ingin menghampiri Nayra, tapi sayangnya karena terburu buru Arfi tidak melihat ada motor yang lewat didepannya. sama seperti Nayra Arfipun mengalami kecelakaan.


Pengendara motor yang tanpa sengaja menabrak Arfi ketakutan. ia cepat cepat kabur dan pergi dari tempat kejadian, pengendara motor itu sama sekali tidak berniat untuk bertanggung jawab.


Melihat kejadian Itu Satria langsung panik, entah apa yang dipikirkan Satria. Satria bukannya berteriak minta tolong, tapi ia malah berlari menghampiri taksi yang ditumpangi Nayra.


Satria melihat hanya ada Nayra didalam taksi karena supir taksi yang mengendarai taksi itu, ternyata tubuhnya sudah terpental keluar.


Satria buru buru membuka pintu taksi yang sudah terbalik itu, Satria menarik tubuh Nayra hingga Nayra keluar dari taksi itu. Satria kemudian menggendong Nayra agar ia dan Nayra bisa menjauh dari taksi itu. beberapa detik kemudian taksi itupun meledak.


"Satria, tolong aku." ucap Nayra dengan suara yang sangat lemah.


"Iya Nay, kamu tenang saja. aku akan membawa kamu kerumah sakit." Satria memandang wajah cantik Nayra. Satria bahkan tidak sadar kalau ia sudah tidak menggunakan bahasa formal lagi saat bicara dengan Nayra.


"Bukan, bukan itu yang aku mau. aku minta jangan beritahu Arfi, dimana aku. aku mau pergi. pergi jauh dari Arfi." Nayrapun pingsan setelah mengatakan itu.


"Nayra, Nayra jangan pergi." Satria menangis.


Satria kemudian berjalan karah mobil Arfi, ia lalu memasukan Nayra kedalam mobil Arfi. Satria meletakan Nayra dibangku depan karena dibangku belakang ada Bintang dan Bulan yang sedang terbaring.


"kalau aku membawa kabur Nayra dan anak anaknya Arfi pasti mencari Nayra dan anak anaknya, bisa bisa persembunyian Nayra diketahui Arfi. lebih baik aku bawa Nayra saja dulu."


Satria lalu membuka pintu mobil bagian belakang, setelah itu ia mengambil Bintang ia meletakan bintang diatas tanah rerumputan yang ada dihadapannya.


Selesai meletakan Bintang, Satria gantian mengambil Bulan. sama seperti Bintang Satria juga meletakkan Bulan diatas tanah rerumputan.


Satria lalu menutup kedua pintu mobil yang semula terbuka, tidak lama kemudian datanglah beberapa mobil. Mobil mobil itu berhenti dilokasi kejadian.


Mobil mobil itu ternyata milik beberapa orang pegawai yang bekerja pada Arfi. dikantor mereka adalah orang orang kepercayaan Arfi, Satria juga sudah sangat mengenal mereka hingga ia tidak sungkan untuk menelphone dan meminta bantuan pada mereka.

__ADS_1


Satria meminta tolong pada orang orang itu untuk membawa Arfi beserta anak anaknya kerumah sakit. rumah sakit tempat Nayra melahirkan.


"Tolong kalian bawa pak Arfi dan anak anaknya kerumah sakit. oiya.. supir taksi yang terjatuh disana, kalian bawa juga."


Ucap Satria dengan sopan, Satria juga ingin menolong supir taksi yang jatuh terpental itu.


Setelah mereka semua pergi kerumah sakit. Satria buru buru masuk kedalam mobil ia segera menjalankan mobilnya. Satria ingin membawa Nayra kerumah sakit, tentu saja kerumah sakit yang berbeda dengan rumah sakit Arfi.


Didalam perjalanan Satria sempat memberi pesan pada Renata, ia memberi tahu Renata kalau Arfi mengalami kecelakaan.


...*******...


"Arfi!"


Renata bangun dari tidurnya karena ia bermimpi, ia mimpi Arfi jatuh kedalam sungai. Renata lalu menyalakan lampu tidur, ia kaget karena Arfi tidak ada ditempat tidurnya.


"Arfi kemana dia? kenapa perasaanku tidak enak?" Nayra memegangi dadanya.


Renata mencari Arfi kekamar mandi tapi Arfi tidak ada disana, Renata keluar dari kamarnya lalu menyalakan lampu yang ada diruang tengah.


"Semua lampu didalam rumah masih mati, apa mungkin Arfi tidak ada dirumah?" Renata berjalan keruang tamu.


Renata menyalakan lampu ruang tamu, ia membuka horden untuk melihat mobil yang biasa dipakai Arfi.


"Mobil Arfi tidak ada, apa mungkin Arfi pergi kerumah sakit?" Renata menutup kembali horden yang tadi ia buka.


Kenapa aku terjebak dalam keadaan seperti ini? aku jadi merasa serba salah, kalau aku bercerai dengan Arfi dan merelakan Arfi bersama Nayra. bagaimana dengan Kevin dan aku? aku tidak mau jadi janda. tapi aku juga tidak tega kalau aku meminta Nayra bercerai dengan Arfi. aku bingung apa yang harus aku lakukan?


Renata duduk disofa sambil merenungi nasibnya.


Renata memang sudah tahu kalau Arfi menikah lagi dengan Nayra, tapi selama itu Arfi selalu mengutamakan dirinya, Arfi hampir tidak pernah menginap dirumah Nayra. Nayra juga sering kabur kaburan sehingga membuat Arfi dan Nayra jarang bertemu.


Renata tidak tahu. kalau ia ikhlas untuk berbagi suami, apa dirinya akan sanggup menerima jika Arfi juga membagi waktunya untuk Nayra.


"Aku tidak boleh memikirkan apa yang belum terjadi, sebaiknya aku kerumah sakit sekarang. aku akan bicara dengan Nayra."


Renata masuk kedalam kamarnya untuk berganti baju. Renata baru saja membuka lemari baju ketika tiba tiba ia mendengar suara ponselnya berbunyi.


"Pesan dari siapa?" Renata mengambil ponselnya yang ada diatas meja.


Ponsel Renata hampir jatuh saat Renata membaca pesan dari Satria.


Bu Renata, Pak Arfi kecelakaan. sekarang pak Arfi ada dirumah sakit, tempat bu Nayra dirawat.


Tubuh Renata terasa lemas, tangannya bergetar, ia cepat cepat meletakan ponselnya agar tidak terjatuh.


Renata buru buru menelphone mba imas orang yang bekerja sebagai pengasuh Kevin. Ia meminta mba imas untuk datang dan menjaga Kevin dirumah.


Dua puluh menit kemudian


Renata sudah sampai dirumah sakit, ia langsung pergi menuju keruang UGD. didepan ruang UGD ia melihat Satria sedang duduk menunggu.


Setelah mengantar Nayra kerumah sakit yang berbeda, Satria cepat cepat pergi kerumah sakit tempat Arfi diperiksa. Satria tidak ingin Arfi curiga karena Arfi tidak melihatnya disana.

__ADS_1


"Satria bagaimana keadaan Arfi?" Renata duduk disamping Satria matanya sudah mulai basah.


"Saya juga belum tahu, dokter yang memeriksa pak Arfi belum keluar." Satria tampak cemas.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Renata menangis.


"Tadi waktu saya dan pak Arfi datang kerumah sakit ini. Kita melihat ibu Nayra sedang ada didalam taksi sepertinya dia ingin kabur bersama anak anaknya, pak Arfi sangat marah kemudian pak Arfi mengambil anak anaknya secara paksa. bu Nayra mengejar kita karena itu bu Nayra mengalami kecelakaan, taksi yang ditumpangi bu Nayra berguling guling sampai akhirnya meledak."


Cerita Satria, membuat Renata sangat shock mendengar cerita Satria wajah Renata pucat. air mata terus mengalir dari kedua belah matanya.


"Sebelum taksi itu meledak pak Arfi berlari. dia ingin melihat keadaan Nayra, tapi pak Arfi malah tertabrak motor." Satria melanjutkan ceritanya.


"Lalu bagaimana keadaan Nayra?" Renata terisak.


"Saya belum tahu, menurut ibu bagaimana keadaannya? taksi itu meledak dan bu Nayra ada didalamnya." Arfi membohongi Renata.


Maaf bu Renata, saya terpaksa berbohong karena ini permintaan Nayra. Batin Satria.


"Tidak, tidak mungkin Nayra meninggal. kamu pasti bohongkan? Satria, kenapa kamu tidak menolong Nayra? seharusnya kamu bantu Nayra keluar taksi itu." Renata berdiri dari duduknya.


"Ibu Renata. saya juga mau menolong Bu Nayra, tapi waktu saya mau berlari mendekati taksi itu, taksi itu sudah terlanjur meledak. saya bingung karena pak Arfi juga kecelakaan, saya takut terjadi sesuatu pada pak Arfi karena itu saya membawa pak Arfi kerumah sakit. saya, belum sempat melihat bu Nayra." Lagi lagi Satria membohongi Renata.


"Tapi ibu tenang saja, saya sudah minta tolong orang untuk datang ketempat kejadian. sebentar lagi, kita pasti akan mendengar kabar tentang bu Nayra." Satria berusaha membuat Renata tenang.


Tapi bagaimana Renata bisa tenang setelah mendengar berita kalau Nayra mungkin saja meninggal.


Nayra, kenapa kamu pergi? maafkan aku Nayra. kamu mau kabur pasti karena aku, karena kamu sudah berjanji padaku. kalau kamu akan bercerai dengan Arfi setelah kamu melahirkan. Renata menyalahkan dirinya sendiri.


Beberapa saat kemudian dokter yang memeriksa Arfi keluar dari ruang UGD, ia ingin bicara dengan keluarga Arfi.


"Maaf, saya mau bicara dengan keluarga pak Arfi."


"Saya istrinya dokter" Renata menghapus air matanya.


Renata dan dokter itupun pergi keruangan dokter.


Diruangan dokter


"Dokter bagaimana hasil pemeriksaan suami saya?" Wajah renata kelihatan kusut, dari ekspresi dan raut wajahnya menunjukan kalau ia sedang sedih.


"luka suami ibu tidak terlalu parah. tidak ada luka yang serius ditubuhnya, tapi kakinya.. "


"Tapi apa dokter?"


"Karena kecelakaan ini, mungkin suami ibu tidak bisa berjalan lagi." Dokter itu memberi tahu Renata.


"Apa?" Renata tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Tapi suami saya masih bisa sembuh kan dok?" Tanya Renata sambil berusaha menahan tangisnya.


"Bisa, tapi kemungkinannya sangat kecil."


Selesai bicara dengan dokter, Renata lalu keluar dari ruangan doktek itu. dunia Renata seakan akan runtuh. suaminya kecelakaan dan dinyatakan lumpuh sementara Nayra, mungkin saja Nayra sudah meninggal dengan cara yang tragis.

__ADS_1


Hari ini benar benar penuh kejutan. Renata merasa sangat lelah.


__ADS_2