
Nayra tidak ingin bertemu Arfi, ia memilih keluar dari kamar melalui jendela. Saat Arfi dan ibu Ayrin masuk kekamar Nayra sudah tidak ada.
"Mami, mana Dewi? dia tidak ada dikamar ini." Arfi hanya melihat Bintang dan Bulan yang sedang tidur pulas.
"Mami juga tidak tahu, tadi ada disini. mami telphone dulu sebentar."
Ibu Ayrin lalu menenelphone Nayra.
Nayra yang bersembunyi disamping jendela buru buru lari, ia masuk kedalam rumah melalui pintu samping.
Meskipun aku bekerja dirumah orang tua Arfi, tapi aku harus tetap berusaha menghindari Arfi.
Nayra masuk kedalam dapur dan mengambil segelas air. Nayra menarik napas dalam dalam, lalu ia meminum air itu. dalam hati ia berharap Arfi tidak mengenali dirinya.
Ponsel Nayra yang berada disaku baju Nayra tiba tiba berbunyi membuat Nayra terkejut dan tanpa sengaja ia menjatuhkan gelas yang ia pegang.
Prang...
Suara gelas jatuh itu bisa terdengar sampai ketelinga Arfi dan ibu Ayrin.
"Mami... mami dengar kan? seperti ada benda yang jatuh." Arfi buru buru keluar dari kamar Bintang dan Bulan.
Ibu Ayrin mengikuti langkah kaki Arfi, mereka melihat Nayra sedang menyapu pecahan gelas. Nayra memasukan pecahan gelas itu kedalam pengki, Ketika itu Nayra berdiri membelakangi Arfi dan Ibu Ayrin.
"Dewi kamu tidak apa apa?" ibu Ayrin merasa khawatir.
"Saya tidak apa apa Bu." Nayra membalikan badannya.
Nayra berdiri terpaku sapu yang ia pegang terjatuh ketika padangan matanya bertemu dengan mata Arfi, merekapun saling pandang. Jantung Nayra kembali berdebar debar ia takut Arfi mengenalinya.
Jadi wanita ini Dewi, Kenapa dia mirip Nayra? Tidak, tidak mungkin. Nayra sudah mati dan wanita jelek ini tidak bisa dibandingkan dengan Nayra.
Arfi memandangi Nayra dari ujung kaki sampai ujung rambut, ia sangat kesal melihat penampilan Nayra yang menurutnya kampungan.
Penampilan Nayra memang sangat berubah. Dulu meskipun sederhana Nayra tetap terlihat sangat cantik, tapi kini kecantikan Nayra sudah tidak terlihat lagi.
Kaca mata yang ia pakai, rambut yang diikat serta bajunya yang longgar membuat kecantikan Nayra tertutupi. Nayra tidak perduli dengan semua itu yang penting bagi Nayra, ia bisa dekat dengan anak anaknya.
"Hey wanita udik, apa yang kamu lakukan disini?" Hardik Arfi.
Syukurlah, Arfi tidak mengenaliku. Nayra merasa lega.
"Maaf tuan, saya haus. saya habis minum." Nayra menundukkan wajahnya , ia masih tetap cemas. khawatir kalau kalau Arfi akan mengenalinya.
"Lain kali, jangan pernah tinggalkan anak anakku sendiri." Arfi ngomel ngomel.
__ADS_1
"Arfi, kamu jangan berlebihan. Dewi cuma kedapur, lagi pula anak anak kamu sedang tidur." Ibu Aryin malah membela Nayra.
"Mami, kok malah belain Dewi?" Arfi menatap sinis pada Nayra, ia lalu duduk sambil terus memandangi Nayra.
Suasana tegang diruangan itu berubah ketika pak Bisma dan Kevin datang. Melihat pintu rumah yang terbuka dan melihat pintu dapur juga terbuka. Pak Bisma dan Kevin langsung masuk kedalam dapur.
"Papa... papa udah pulang?" Kevin merasa bahagia, saking bahagianya Kevin sampai meneteskan Air mata.
Kevin berlari kecil menghampiri Arfi, ia memeluk Arfi.
"Papa..papa jangan pergi lagi ya, Nanti Kevin kangen sama papa." Kevin masih memeluk Arfi, anak itu seakan tidak ingin jauh dari Arfi.
"Iya sayang, sekarang papa udah sembuh jadi papa engga akan pergi lagi." Arfi menghapus air mata Kevin saat Kevin sudah melepaskan pelukannya.
"Papa, kita mau pulang kerumah kan?" Pertanyaan Kevin membuat Arfi terdiam
Seandainya waktu itu aku tidak menceraikan Renata. saat ini aku dan Kevin pasti bisa langsung pulang kerumah bersama Renata, Kevin maafin papa nak. papa janji, papa akan menikah lagi dengan mama kamu. Arfi merasa sangat sedih.
"Kevin, kita pasti akan pulang. tapi engga sekarang." Arfi merasa bersalah pada Kevin.
"Kenapa pa?" Kevin terlihat kecewa.
"Kevin, mama kamu masih betah tinggal diapartement. nanti kalau mama kamu sudah bosan kita pasti akan pulang kerumah kita" Arfi mengelus elus kepala kevin.
"Mami, papi aku akan membawa anak anakku pulang." Ucapan Arfi membuat Pak Bisma dan Ibu Ayrin kaget.
Arfi memang berencana membawa Bintang dan bulan tinggal dirumahnya sendiri.
"Arfi, kenapa kamu terburu buru? mami dan papi sudah terlanjur senang tinggal bersama Bulan dan Bintang." Ibu Ayrin merasa keberatan Arfi membawa Bintang dan Bulan.
"Mami dan papi jangan khawatir aku akan sering sering datang kesini atau kalau Mami dan papi mau, mami dan mami bisa datang kerumahku."
Arfi bisa mengerti perasaan orang tuanya, pasti mereka berat berpisah dengan Bulan dan Bintang karena selama beberapa bulan Bintang dan Bulan tinggal bersama Kedua orang tua Arfi.
Nayra mendengar pembicaraan Arfi dengan kedua orang tuanya, ia menjadi gelisah dan takut.
Bagaimana ini? Arfi akan membawa Bintang dan Bulan. apa aku akan dipecat? Batin Nayra.
"Dewi, ngapain kamu berdiri disitu? kamu nguping?" Tidak tahu kenapa setiap melihat Nayra, Arfi jadi emosi. rasanya Arfi ingin sekali memaki maki Nayra untuk meluapkan semua amarahnya.
Nayra yang sedang berdiri didepan ruang makan buru buru ingin pergi, tapi Arfi menghalanginya.
"Tunggu Dewi." panggilan Arfi membuat Nayra menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa tuan?" Tanya Nayra tanpa membalikan badannya, Nayra berdiri membelakangi Arfi yang sedang duduk.
__ADS_1
"Kalau aku bicara, lihat aku." Arfi merasa kesal.
Nayra membalikan badannya, ia menunduk. Nayra tidak ingin menatap mata Arfi yang sedang memandangnya dengan penuh rasa kesal.
Wanita ini, sudah jelek bodoh lagi. dia malah nunduk, padahal aku sudah bilang lihat aku. Arfi marah marah sendiri dalam hati.
"Kamu dengar kan? aku mau membawa Bintang dan Bulan." Arfi tidak behenti menatap Nayra.
"Iya tuan." Nayra mengangguk.
"Karena kamu itu pengasuh Bulan dan Bintang jadi kamu juga ikut bersama saya."
Seharusnya Nayra senang Arfi mengajaknya, karena dengan begitu Nayra bisa selalu dekat dengan anak anaknya, tapi bukannya senang, Nayra justru merasa was was.
Berada didekat Arfi membuat Nayra selalu waspada, ia gelisah dan takut.
Kalau aku sering dekat dekat Arfi, bisa bisa penyamaran aku terbongkar. Nayra menghembuskan nafas berlahan lahan.
"Dewi, Kenapa kamu malah diam? cepat bereskan barang barangmu atau saya Pecat kamu." Ancaman Arfi membuat Nayra buru buru masuk kekamarnya.
Sampainya dikamar Nayra langsung memasukan baju bajunya kedalam tas besar.
Selesai membereskan bajunya Nayra keluar dan menghampiri Arfi dan keluarganya yang sudah berada dihalaman rumah.
"Mami, papi aku pulang dulu." Arfi memeluk mami dan papinya secara bergantian.
"Oma, opa aku juga pulang dulu." Kevin bersalaman dengan Ibu Ayrin dan pak Bisma.
Setelah Kevin dan Arfi berpamitan, Nayrapun ikut berpamitan.
Bu Ayrin dan pak Bisma hanya bisa menatap kepergian Arfi dengan wajah sedih, mereka sedih karena rumah mereka akan terasa sepi tanpa kehadiran Bintang, Bulan dan juga Nayra.
"Tuan, jadi saya akan tinggal bersama tuan?" Tanya Nayra saat ia sudah berada didalam mobil Arfi
"Menurutmu?" Arfi merasa pertanyaan Nayra adalah pertanyaan yang tidak perlu dijawab.
"Tuan, apa boleh saya tinggal dirumah saya sendiri?" Nayra kembali bertanya.
"Maksud kamu?"
"Maksud saya, saya akan datang kerumah tuan pagi pagi dan malam harinya saya pulang kerumah saya sendiri." Nayra berusaha agar ia tidak tinggal serumah dengan Arfi.
"Tidak bisa, kalau malam hari anak saya butuh kamu bagaimana? sudah jangan banyak tanya, kamu mau tingggal dirumah saya atau saya pecat?" Meskipun sedang marah Arfi tetap berusaha konsentrasi menyetir.
Nayra tidak punya pilihan, selain menuruti keinginan Arfi.
__ADS_1