
"Ya beda konteks lah kalau gw di posisi loe dan istri gw sebaik almarhumah Nanda mungkin gw pun tidak akan pernah akan cari pengganti." sahut ku.
Aku melihat Anton meraih tissue dan mengusap matanya saat Aku menyebut almarhumah Istrinya, rasa bersalah mendera hati ku karena telah membangkitkan kenangannnya bersama Almarhumah Nanda istrinya.
" Sorry bro bukan maksud gw bangkitkan kenangan loe bersama almarhumah."
" Its ok bro gw hanya tiba tiba merasa kangen dengan almarhumah." Sahutnya sambil tersenyum getir.
" Sampai kapan pun dia akan tetap ada disini tidak akan terganti" Ujarnya sampil menunjuk dada kirinya dimana disana adalah letak jantung manusia.
" Gw salut sama loe bro hebat!." Puji ku pada nya
"Thank's bro tidak ada wanita seperti Almarhum buat gw , dia wanita terhebat yang tuhan kirim buat gw. " Ujarnya
Diam diam ku akui kesetiaan Anton dia sudah melajang cukup lama pernikahannya berakhir dengan perceraian sama hal nya dengan diri ku , yang membedakan adalah dia bercerai karena istri tercintanya meninggal dunia karena kanker serviks 6 tahun lalu.
Meskipun kerap menyambangi club dia tidak pernah sekalipun menyentuh wanita yang ada didalam club itu karena dalamnya rasa cinta pada istrinya.
Setelah kepergian istrinya Anton bertahun tahun terpuruk dalam kesedihan baginya Nanda adalah dunianya Nanda adalah segalanya mereka adalah gambaran bahwa cinta sejati itu ada.
Bahkan aku tidak menyangka dia bisa bertahan sampai detik ini ,karena awal awal di tinggal Nanda istrinya menghadap tuhan ,dia tidak punya keinginan untuk hidup berkali kali dia mencoba mengakhiri hidupnya demi bisa bersama dengan belahan jiwanya.
Anton adalah sahabat ku semasa sekolah bahkan kuliah kami bersama sama hingga berlanjut sampai kami memasuki dunia kerja dan berumah tangga persahabatan kami tetap terjaga.
Aku melirik arloji ku waktu sudah menunjukan pukul dua dini hari kuputuskan untuk segera pulang bisa berantakan kerjaan kantor kalau sampai tidak tidur malam ini.
" Cabut bro." ujar ku pada Anton setelah membayar bill kami.
" Bisa nyetir pulang loe?." Tanya nya saat kami berjalan beriringan keluar menuju parkiran
Aku meninju lengannya kembali atas pertanyaanya.
"Meremehkan Sekali anda." Ujarku sambil masuk kedalam mobil.
" Hahaha, bukan meremehkan tapi mengkhawatirkan." Sahutnya sambil tergelak
" Ya udah bro jalan dulu ya."
" Ok hati hati." Aku mengarahkan mobil meninggalkan parkiran club yang tampak penuh dengan mobil mobil yang terparkir disana.
Nyaris saja aku kesiangan dan tidak masuk kantor gara gara bergadang di club semalam untuk menghilangkan suntuk .
__ADS_1
Setelah menyelesaikan sarapan aku bergegas keluar menuju halaman depan dan memanggil pak Amin untuk mengantarku kekantor hari agak terasa malas menyetir sendiri.
"Pak tolong antor saya kekantor." Seru ku pada pak Amin yang tengah bercanda dengan pak Edy satpam rumah ku .
pak Amin menoleh kearah ku, segera menyeruput kopi dan berpamitan pada pak Edy kemudian dengan tergopoh gopoh menghampiri ku.
" Pakai mobil yang mana pak semua sudah saya bersihkan dan panaskan mesinnya." Ujar pak Amin sambil sedikit membungkuk.
" Terserah pak Amin Asal jangan pakai keranda saja" Jawab ku sekenanya.
" Pak Arya becandanya serem ah jadi takut saya". sahut pak Amin sambil nyengir kuda.
Pak Amin segera menuju garasi dengan sigapnya pak Edy membantu membuka gerbang
" Selamat Pagi pak Arya."
" Pagi pak Edy."
Setibanya dikantor aku di sambut Risa yang tampak gelisah menunggu kedatangan ku, dia memberi tahu bahwa aku sudah terlambat hampir sepuluh menit dan rapat sedang berlangsung.
Aku berjalan dengan tergesa menuju ruang rapat yang sedianya membahas rencana perusahaan yang akan mengadakan Right issue ,yang yang nantinya akan disampaikan pada para investor melalui RUPSLB pekan mendatang.
" Dugem lagi kamu?." celetuknya aku tidak merespon celetukannya yang membuat panas telinga.
" Baik sampai dimana bahasan tadi?" ujar Anggoro.
" Right issue." sahut Axel.
" Wait mengapa saya tidak di beritahu tentang rencana right issue ini?." Sahut ku.
"Maka dari itu jangan keseringan habiskan malam night club jadi tidak fokus." lagi lagi celetukan Hendrawan membuat telinga ku semakin panas.
"Hendrawan please." Sergah Abdullah.
Atmosfir diruang rapat sejenak menjadi tidak kondusif akibat celetukan Hendrawan yang cenderung memojokan.
" Menurut saya saat ini bukan waktu yang tepat untuk menggelar Right issue untuk saat ini karena laporan keuangan kuartal tiga tidak begitu bagus."
" Hal ini akan menyebabkan Hasil yang kurang maksimal nantinya, karena laporan keuangan Q3 akan dijadikan sebagai landasan oleh para investor sebelum merek menebus hak mereka."
" Ada standing buyer untuk apa cemas ." Sahut Hendrawan.
__ADS_1
" Well saya hanya menyampaikan pandangan saya kita lihat saja hasil Right issue nanti." sergah ku.
" Apakah investor akan antusias atau we have to took the risk."
" Semua keputusan tentu ada resikonya jadi apa yang kita takutkan?sahut Hendrawan lagi." Rapat di akhiri dengan keputusan bahwa right Issue akan tetap di gelar.
****************
Anindya kembali menghubungiku melalui telfon hati ku masih sedikit masygul , mengingat pertemuan kami beberapa hari yang lalu saat dia mengatakan bahwa aku salah faham dengan kedekatan yang terjadi diantara kami.
" Hallo ... Ada apa Anindya?" Sapa ku
" Mas bisa kita bertemu" ujar Anindya
Ada sedikit keraguan untuk mengiyakan ajakannya untuk kembali bertemu.
" Apa yang mau di bicarakan Anindya? "
" Mas please, kenapa mas seperti ini?"
" Seperti apa? Bukan kah sudah jelas kamu tegas kan jika mas salah faham tentang hubungan kita?".
"Mas tolong dengarkan saya, kita tidak bisa bicarakan hal ini melalui telfon"
" Anindya semua sudah jelas tolong jangan buat mas berharap lebih jika akhirnya hanya luka yang mas dapat."
" Maafkan saya mas" Sahut Anindya sebwlum mengakhiri percakapan kami
Ini satu satunya cara aku melindungi diriku agar tidak terluka lebih dalam lagi ya dengan jalan menghindari pertemuan dengan nya.
Ternyata hidup tidak selamanya berjalan mulus seperti yang apa yang kita harapkan disaat begitu juga dengan kehidupan ku.
Tuhan tidak mengujiku dengan kekurangan materi tapi tuhan mengujiku dalam rumah tangga ku yang kandas karena pengkhianatan.
Anindya masih berusaha untuk menjelaskan kesalahfahaman yang terjadi diantara kami, jika bukan karena ia mengirimi pesan pagi ini aku pun sudah lupa dengan permasalahan yang ada.
Aku menenggelamkan diri dalam kesibukan di kantor untuk bisa melupakan rasa kecewa ku karena penolakannya yang secara tidak langsung.
." Mas tolong beri saya kesempatan untuk menjelaskan tidak ada niat saya untuk mempermainkan perasaan mas." Aku membaca berulang kali pesan yang Anindya kirimkan.
Jika bukan mempermainkan lantas apa? sekian lama bersama tiba tiba dia mengatakan bahwa aku salah faham terhadap kedekatan kami selama ini?.
__ADS_1