
Aku berusaha mengenyahkan bayangan Soffie dari benak ku, wake up arya wake up!! dia mantan istri kamu! Kamu yang membuangnya kenapa menyesal! Terjadi peperangan hebat antara perasaan dan logika ku.
Sementara Anindya sudah lama aku tidak menghubunginya , karena aku tidak kunjung membalas pesannya Anindya pun tampaknya menjadi segan untuk menghubungi ku lagi.
Seperti biasa club adalah pelarian ku saat sedang di landa masalah aku tahu ini bodoh, tapi hanya tempat itulah satu satunya jalan untuk ku melampiasakan rasa frustasi ku.
Tok.. tok!
" Masuk." Sahut ku.
" Pak, ada yang ingin bertemu dengan bapak Anton namanya.
" Iya ..persilahkan masuk Ris ." Ujar ku begitu tahu yang ingin menemui ku adalah anton sahabat sejatiku.
"Hei Ton tumben gak ngantor hari ini." Ujar ku pada sahabat ku.
" Jenuh gw hari ini, by the way ganggu gak nich gw datang " tanya anton sambil mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan kantor ku.
" Gak santai aja, hari ini gw lagi longgar jadwalnya lagi gak ada meeting."
" Cantik sekretaris loe." ujar anton.
" Kenapa? naksir, sayangnya dia sudah ada yang punya." Ledek ku menanggapi pujiannya pada sekretaris ku.
" Gak lah, gw masih setia sama Almarhumah." cetusnya kehadiran Anton di kantor lumayan bisa menyegarkan fikiran ku kami membahas banyak hal di selingi joke joke segar dari Anton yang mengocok perut ku.
" Yaudah lah Bro gw pulang dulu ya." Pamit Anton.
" Thanks ya bro ,atas kunjungan nya sering seringlah kesini." Ujarku berbasa basi.
" Sip, gimana nich satnite?." Ujarnya sebelum. meninggalkan ruangan ku.
" Seperti biasa." Sahut ku.
Alex menyambut ku saat kau baru saja turun dari mobil.
" Hey jagoan papa ,how was your day?." Ujar ku.
" Great.. Papa ayo main lego." Sahutnya.
" Alex main sama sus ya, papa mau mandi dulu."
Dia mengacungkan jari jempolnya ada rasa pilu saat melihat sorot mata nya jelas dia merindukan kasih sayang orang tua secara lengkap tapi apa daya dia tidak bisa mendapatkannya.
__ADS_1
Badan ku terasa jauh lebih segar setelah berendam dalam air hangat dalam bath up tadi, terdengar dering yang berasal dari ponsel ku saat aku baru saja keluar dari kamar mandi.
Nyaris tidak percaya saat melihat nama yang tertera di layar ponsel ku, Anindya?! Aku berfikir bahwa dia sudah tidak ingin menghubungi ku setelah aku tidak kunjung membalas pesannya.
" Hallo... ya Anindya." Sapa ku.
" Mas ..apakabar?." Ujarnya dengan suara khasnya.
" Baik kamu apa kabarnya nya tumben telfon?."
Anindya mengajak ku bertemu saat week end nanti setelah banyak hal yang jadi pertimbangan, akhirnya aku terima ajakannya untuk bertemu.
Aku tidak ingin hubungan kami hancur karena masalah perasaan yang tidak bersambut.
" Hai.. Mas apa kabar sapanya saat kami berada di dalam sebuah cafe.
" Hai ..baik dong kalau gak baik gimana bisa bertemu kamu." Ujar ku.
" Heheh ...iya juga ya oh ya mas ada rencana mau righ issue ya?."
" Betul .. Pastikan kamu tebus hak kamu kalau tidak nanti porsi kepemilikan kamu terdilusi." saran ku pada Anindya karena dia adalah salah satu investor di perusahaan ku.
Anindya mengaguk anggukan kepala mendengar penjelasan yang ku sampaikan.
Dia masih seperti yang dulu tetap menawan dan Aku masih tetap mengharapkan dia membuka hatinya untuk ku.
Aku mencuri curi pandang pada wajah ayunya di sela sela pembicaraan kami "akhh Anindya pesona mu sungguh membuat ku mabuk kepayang." Ujar ku di dalam hati.
" Masih menyambangi night club." Tanyanya seperti menyelidik.
" Masih.. " Jawabku.
" Mas kenapa sich katanya mau berubah." Ujarnya lirih.
" Entah lah nin.. gak ada yang nyemangatin sich " Seloroh ku.
" Ayo dong mas.. Kamu harus berubah ada Alex jadikan dia sebagai pemacu semangat mu" Ujar nya."
"Mas maunya kamu."
Dia hanya menyunggingkan senyum mendengar ucapan ku.
Tiba tiba saat sedang asyik mengobrol sekilas aku mendengar suara wanita marah marah dari arah pintu cafe sekuriti tidak mampu menghalangi langkah wanita itu yang terus merangsek masuk kedalam cafe.
__ADS_1
"Mana wanita ****** itu tadi saya lihat dia masuk kesini!" Teriaknya wanita yang dari penampilannya saja sudah terlihat bahwa dia bukan dari kalangan biasa mengedarkan pandangan keseluruh ruangan dalam cafe.
Tanpa ku duga dia menghampiri meja kami dan seketika menjambak rambut Anindya dengan sekuat tenaga sehingga kepala anindya mendongak keatas.
Melihat pemandangan itu aku kaget bukan alang kepalang segera bangkit dari kursiku untuk melerai di bantu oleh satpam cafe yang dari awal mengikuti ibu yang tengah di amuk api amarah.
" Bu ... Bu sabar ada apa ini." ujar ku sambil meminta dia melepas kan rambut Anindya dia tampak kesakitan dan memegangi kepalanya.
" Kamu siapa jangan ikut campur wanita ****** ini harus di beri pelajaran!." Ujarnya sambil melotot menunjuk kearah Anindya.
Wanita itu hendak menampar Anindya namun aku segera mencekal tangannya dan melindungi Anindya dengan badan ku.
Wanita itu tampak meronta berusaha melepaskan tangannya dari cekalan ku.
" Lepas brengsek!." Pekik nya.
" Ibu saya tidak tahu permasalahan yang terjadi antara ibu dengan teman wanita saya."
" Saya juga tidak mau ikut campur, tapi saya tidak bisa membiarkan kekerasan terjadi didepan mata saya!."
" Wanita itu pelakor penggoda suami orang!." teriaknya sambil menunjuk nujuk Anindya.
" Ibu jangan asal bicara saya tahu benar siapa dia!." Bela ku.
" Tahu benar, ? apa kamu juga tahu kalau dia simpanan Hendrawan Lie?." Ujarnya masih dengan nada tinggi.
Deghh!! jantung ku serasa berhenti berdetak mendengar wanita itu menyebut nama Hendrawan Lie ya tentu aku tahu benar siapa pemilik nama itu dia adalah komisaris di perusahaan ku.
Benar dugaan ku bahwa wanita ini bukan wanita sembarangan, sejak pertama dia datang aku sudah menduganya dilihat dari penampilannya meskipun simple namun jelas terlihat sangat berkelas.
Jadi dia istri sah dari Hendrawan Lie, dan Anindya sebagai simpanannya? Apakah gadis kecil itu anak Hendrawan Lie?.
" Ibu apapun masalahnya tolong jangan membuat keributan ini tempat umum, silahkan selesaikan di luar. " Ujar sekuriti cafe.
Karena merasa malu di jadi tontonan wanita itu beranjak meninggalkan cafe setelah mengeluarkan sumpah serapah kearah Anindya.
cafe kembali kondusif setelah Wanita itu pergi.
Namun ada beberapa pengunjung yang masih menatap kearah Anindya dengan pandangan sinis.
" Apa ?kalian fikir ini tontonan?! Merasa lebih baik?!!!." Pekik ku sambil menunjuk kearah mereka.
Pengunjung yang tadi menatap kearah Anindya langsung mengalihkan pandangannya mendengar aku berteriak mungkin merasa malu mendengar kata kata ku.
__ADS_1
Aku melambaikan tangan pada waitress untuk membawakan bill kami , setelah membayarnya aku langsung mengajak Anindya keluar dari sana.