
Apa yang harus aku lakukan? disaat aku akan bercerai dengan Arfi, aku malah hamil. Nayra melamun ia duduk ditaman rumah sakit.
Nayra melihat seorang laki laki dan perempuan yang sedang berjalan dihadapannya. Nayra tahu mereka adalah pasangan suami istri karena perempuan itu sedang hamil besar.
Mereka bergandengan tangan, sesekali laki laki itu memegang perut istrinya. Pasangan suami istri itu terlihat bahagia membuat Nayra menjadi iri dan sedih.
"Aku berusaha pergi kerumah sakit sendiri meskipun kepalaku pusing, badanku juga lemas. seharusnya Arfi menemani aku dan seharusnya Arfi tahu kalau kalau aku hamil, tapi apa dia akan bahagia? Sepertinya tidak. Arfi sudah bahagia bersama Kevin dan Renata." Nayra bicara sendiri.
Mungkin ini karma buat aku, karena aku sudah menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Arfi. aku harus menerima, kalau Arfi lebih mencintai Renata dibandingkan dengan aku. Aku juga harus menerima kalau kehadihanku tidak dianggap dan selalu disembunyikan seperti sebuah aib.
Narya tiba tiba teringat. Arfi selalu memintanya bersembunyi ketika Renata datang, Nayra juga ingat Arfi merahasikan pernikahan mereka.
"Pernikahan macam apa ini? aku bahkan tidak bisa mengakui, kalau Arfi adalah suamiku. keputusanku memang sudah benar aku harus pergi dari kehidupan Arfi. Aku akan bersembunyi dan menghindari Arfi sampai anak ini lahir, setelah anak ini lahir aku akan minta cerai. Aku tidak akan memberi tahu Arfi kalau kita punya anak, supaya dia tidak mengambil anakku." Tekat Nayra sudah bulat, ia ingin berpisah dengan Arfi.
Nayra Akhirnya sampai divilla Raddit. Sampai disana, Raddit sudah menunggunya didepan teras.Nayra langsung menghampiri Raddit.
"Nayra, kamu engga apa apa?" Raddit terlihat khawatir.
"Aku engga apa apa?" Nayra merasa heran, karena Raddit datang tanpa memberi kabar.
"Syukur kalau gitu." Raddit menarik nafas lega.
"Raddit, sebenarnya ada apa? Kenapa kamu kelihatan cemas?"
"Aku kira kamu sakit, tadi waktu ditelphone kamu diam aja terus hp kamu tiba tiba mati." Ucap Raddit.
Raddit, dia mengkhawatirkan aku dan dia jauh jauh datang hanya untuk melihat keadaanku. sedangkan Arfi suamiku sendiri, dia bahkan tidak pernah mencariku. bukankah ini yang aku inginkan? Arfi kembali lagi bersama Renata, tapi kenapa hati ku sakit? Nayra ingin menangis tapi ia berusaha untuk menahannya.
"Aku engga sakit." Nayra tersenyum dalam tangis yang ia sembunyikan.
"Terus kamu dari mana?" Perhatian Raddit membuat Nayra merasa mempunyai teman yang bisa andalkan.
"Aku bosan, jadi aku jalan jalan disekitar sini." Nayra membohongi Raddit.
"Ya udah Kalau kamu engga apa apa, aku pulang dulu." Raddit mendadak ingin pulang.
"Kenapa buru buru? Kamu engga nginep?" Nayra tidak ingin Raddit pergi.
"Engga, besok pagi pagi aku mau kekampus." Raddit berdiri ingin pergi dari villa itu.
"Raddit, tunggu." Nayra menghalangi Raddit pergi.
"Apa nay?"
"Aku sudah dapat rumah baru." ucap Nayra.
"Serius? Dimana?" Raddit ingin tahu.
"Aku sewa rumah yang jauh dari tempat ini."
"Kenapa jauh jauh?"
"Tempat ini sepi, jauh dari mana mana. susah cari kerja disini." Nayra memberi alasan.
"Iya kamu benar? Kapan kamu pindah?" Raddit tidak tahu kenapa ia merasa sedih, hati kecilnya mengatakan Nayra pergi dan tidak akan pernah kembali.
"Dua hari lagi."
Kalau aku bilang besok Raddit pasti akan membantuku, aku tidak mau berhutang budi lagi. Raddit sudah banyak membantuku. Batin Nayra.
"Kalau gitu, aku pulang ya. dua hari lagi aku datang. Aku akan antar kamu kerumah yang baru, sekalian ambil kunci villa. Nay, jaga diri kamu. Kalau ada apa apa telphone aku." Raddit berpampitan sambil mengelus elus rambut Nayra.
Kata kata Raddit membuat hati Nayra tersentuh, belum pernah ada orang memperhatikan Nayra seperti itu. Bahkan Arfi saja tidak pernah melakukannya.
"Raddit terima kasih, selama ini kamu sudah membantuku. Hati hati dijalan." Nayra tiba tiba memeluk Raddit.
Besok pagi, aku akan pergi dari disini. Raddit maaf, aku tidak memberi tahu kamu kemana aku pergi. Aku takut kamu keceplosan dan memberi tahu Arfi, dimana tempat tinggal aku. Aku juga tidak akan memberi tahu kamu kalau aku hamil. Nayra cepat cepat menghapus air matanya.
Deg...
__ADS_1
Jantung Raddit berdebar debar saat Nayra memeluknya, Raddit buru buru melepaskan pelukan Nayra.
"Nay, aku pergi sekarang. Sebentar lagi malam." Raddit berlari kecil meninggalkan Nayra sendiri.
"Aku sendiri lagi, langit mulai gelap. Lebih baik aku masuk." Nayra masuk kedalam villa kemudian menutup dan mengunci pintu.
Nayra pergi kekamar untuk merapikan pakaiannya, ia memasukan pakaiannya yang ada dilemari kedalam tas. karena sudah tidak ada lagi yang ingin Nayra lakukan, Nayra merebahkan dirinya diatas tempat tidur.
Nayra baru ingin memejamkan matanya saat tiba tiba perutnya berbunyi, Nayra merasa lapar.
"Aku belum lama makan, tapi kenapa aku sudah lapar lagi? mungkin karena aku hamil jadi makanku bertambah banyak."
Nayra menangis, air mata yang sempat ia tahan kini mengalir dari kedua belah matanya.
"Nak, kita cari makan yuk. Sambil jalan jalan." Nayra mengelus elus perutnya.
Nayra berjalan kaki, ia pergi dari villa itu untuk mencari makanan. Jam menunjukan pukul lima tiga puluh sore, tidak sampai setengah langit akan gelap.
Setelah berjalan agak jauh Nayra akhirnya menemukan sebuah restaurant, Restaurant itu ramai bahkan beberapa pegawai disana tampak kewalahan melayani pembeli.
Nayra duduk dibagian luar restauran itu, Nayra tidak ingin masuk kedalam karena ia sudah letih berjalan. diluar restauran itu juga disediakan kursi kursi dan meja, untuk pengunjung yang ingin makan diluar Restauran.
"Permisi mau pesan apa?" Seorang pegawai restaurant menyapa Nayra.
"Sebentar mba, saya lihat lihat menunya dulu." Nayra mengambil buku menu makanan yang ada diatas meja.
"Saya pesan satu porsi nasi, udang saus tiram terus minumnya sup buah." Setelah membaca menu makanan, Nayra memesan makanan yang ia inginkan.
Aku sedang hamil jadi aku tidak boleh banyak makan pedas dan minum dingin.
"Mba saya engga jadi pesan yang tadi, saya pesan Nasi satu porsi, sup ayam sama teh hangat." Nayra merubah pesanannya.
"Baik, ditunggu sebentar ibu." Pegawai Restaurant itu lalu berjalan kearah dapur.
Setelah menunggu hampir sepuluh menit pesanan Nayra akhirnya tiba. Nayra sangat senang, dengan rakus ia melahap makanan yang ada dimejanya. teh hangat yang ia pesan juga ia habiskan.
"Nak, kamu sudah kenyang?" Nayra memegang perutnya.
Nayra membayar makanan yang ia makan ia ingin segera pulang karena langit sudah gelap, tetapi mendadak Nayra merasa mual. Nayra berjalan tergesa gesa ketoilet yang ada direstauran itu
Nayra memuntahkan semua makanan yang ia makan didalam toilet. Nayra lalu menyalakan keran air untuk menyiram wastafel yang tadi ia muntahi. Nayra kembali ingin menangis, tapi lagi lagi ia berusaha menahan air matanya.
"Tidak Nayra, kamu harus kuat. Kamu tidak boleh menangis kamu harus kuat." Nayra memberi semangat pada dirinya sendiri.
Nayra keluar dari Restauran itu melalui pintu samping karena pintu samping lebih dekat dibandingkan dengan pintu utama.
Nayra membaca ada tulisan lowongan pekerjaan yang ditempel dipintu restaurant itu.
lowongan kerja. dibutuhkan waitress pengalaman tidak diutamakan, bersedia bekerja keras. Nayra tersenyum membacanya.
Selama tinggal divilla Raddit Nayra memang sempat mengirim surat lamaran kerja tapi belum ada hasilnya, belum ada panggilan interview untuk Nayra.
"Aku coba melamar saja." Nayra menghampiri salah satu pegawai Restauran itu.
"Maaf mba, apa benar disini ada lowongan kerja?" Tanya Nayra.
"Ada, ibu mau melamar?" Jawab pegawai itu, ia sangat ramah.
"Iya mba." Nayra malu malu
Bagaimana mungkin Nayra tidak malu, ia baru saja makan dan menjadi tamu direstauran itu, tapi kemudian ia menanyakan lowongan pekerjaan. Seakan akan Nayra sengaja makan direstauran itu hanya untuk menanyakan lowongan pekerjaan.
"Ibu jalan urus saja, dipojok ada ruang kerja pemilik Restaurant ini. Kebetulan pemilik restaurant ini ada didalam.
"Terima kasih." Nayra mengucapkan terima kasih, ia segera pergi keruangan yang dimaksud oleh pegawai restauran itu.
Tok..tok..tok.. Nayra mengetuk pintu.
"Masuk!" Mendengar suara dari dalam Nayra langsung membuka pintu.
__ADS_1
Nayra melihat seorang perempuan berusia Empat puluhan sedang duduk dikursi, perempuan itu sepertinya judes dan galak itu telihat dari raut wajahnya yang cemberut.
"Ada perlu apa?" Tanya permpuan itu tanpa basa basi.
"Saya mau melamar pekerjaan." Nayra sedikit ragu, kesan pertama melihat perempuan itu membuat Nayra ragu melamar pekerjaan ditempat itu.
"Ya sudah, kamu saya terima."
"Apa?" Nayra bingung. Belum diinterview dan belum memberikan surat lamaran kerja, tetapi Nayra sudah diterima.
"Ibu Serius?" Nayra seakan tidak percaya.
"Ya, saya orangnya serius saya tidak pernah main main. Mulai besok kamu boleh bekerja, besok kamu datang jam delapan. bawa surat lamaran kerja, saya akan mengawasi pekerjakan kamu selama satu minggu. Kalau pekerjaan kamu bagus kamu bisa tetap bekerja disini, tapi kalau pekerjaan kamu tidak bagus. kamu tidak bisa bekerja direstaurant ini." Pemilik Restauran itu menjelaskan panjang lebar.
Nayra sangat bahagia karena ia sudah mendapat pekerjaan, meskipun pekerjaannya sebagai Waitress dan itu tidak sesuai dengan pendidikannya Nayra tetap bersyukur.
"Tidak apa apa aku kerja direstauran, restauran itu dekat dengan rumah yang aku sewa. Aku butuh uang, aku tidak boleh pilih pilih pekerjaan." Ucap Nayra saat ia sudah berada divilla.
Matahari pagi bersinar terang, Nayra segera bersiap siap untuk berangkat kerja.
"Nak, doain ibu ya, hari ini ibu mau mencari rejeki buat kita." Setelah tahu dirinya hamil Nayra hampir setiap saat mengelus elus perutnya.
Sementara itu ditempat lain, diwaktu yang sama. Arfi, Renata dan Kevin sedang memasukan tas mereka kedalam bagasi mobil. Sejak Nayra pergi, Renata pulang kembali kerumah.
Sebenarnya Renata sudah tidak ingin pulang kerumah Arfi tapi karena Kevin sakit, ia terpaksa menuruti Kevin. Demi Kevin Renata bersedia pulang kerumah Arfi, walaupun ia tidak tahu bagaimana perasaan Arfi. setelah membaca buku catatan Arfi, Renata meragukan cinta Arfi padanya.
"Arfi kita mau kemana?" Tanya Renata ketika mereka bertiga sudah berada didalam mobil.
"Kita mau jalan jalan kevilla."
"Kevilla?" Renata tidak mengerti, kenapa Arfi mengajaknya pergi kevilla, biasanya Arfi selalu mengajak Renata liburan keluar negeri.
"Aku tidak bisa pergi jauh jauh karena lusa aku ada pekerjaan penting." Arfi seperti tahu apa yang Renata pikirkan.
"Aku suka pergi kevilla yang penting sama mama dan papa." kata kata Kevin membuat Renata dan Arfi terharu.
"Aku juga suka pergi kevilla. pemandangan bagus, udaranya juga sejuk." Sambung Renata.
"Arfi berhenti!" Renata mendadak meminta Arfi menghentikan mobilnya.
"Ada apa?"
"Itu ada restaurant, kita makan dulu. Aku lapar." Renata melirik Restaurant yang berada tidak jauh dari samping mobil Arfi.
Arfi, Renata dan Kevin turun dari mobil, mereka bertiga pergi kerestaurant itu.
Didalam Restauran.
"Nayra tolong antarkan ini kemeja nomer lima belas." perintah bu sonya manager Restaurant itu.
"Baik bu." Nayra membawa nampan berisi tiga gelas minuman."
"Setelah itu kamu kembali lagi kesini, makanan pesanan meja nomer lima belas hampir selesai."
Nayra mengangguk kemudian ia pergi membawa nampan berisi air itu, Nayra berjalan kearah meja nomer lima belas. betapa terkejutnya Nayra ketika ia melihat Arfi, Renata bersama Kevin ada disana.
"Jadi minuman ini pesanan Arfi dan keluarganya." Tangan Nayra bergetar tubuhnya seketika menjadi lemas.
Prang...
Nayra tanpa sengaja menjatuhkan nampan berisi gelas itu, Nampan dan gelas itupun pecah berantakan dilantai. pengunjung yang mendengar suara benda jatuhpun melihat kearah Nayra.
Arfi, Renata dan Kevin juga melihat kearah Nayra.
"Nayra." Perasaan Arfi campur aduk saat ia melihat Nayra. sedih, senang serta marah bercampur jadi satu.
Arfi, dia melihat aku. Nayra menatap Arfi.
Arfi dan Nayra saling berpandangan tanpa mereka sadari, Renata memperhatikan mereka berdua.
__ADS_1