
Renata masuk kedalam kamar Arfi dan ia melihat barang barang yang berserakan dilantai sepertinya Arfi baru saja membanting barang barang yang ada disekitarnya.
Arfi memang baru saja membanting pas bunga yang ada disamping tempat tidurnya, ia juga membuang bantal dan selimut yang berada diatas tempat tidurnya. karena Arfi tidak bisa berjalan dia hanya bisa membanting barang barang yang ada didekatnya.
"Arfi, ada apa ini?" Renata mendekati Arfi.
"Tidak usah pura pura, kamu pasti tahu. aku sekarang lumpuh." Arfi menyeka air matanya.
"Apa kamu sudah ketemu dokter?" Setelah bicara dengan dokter Renata pergi ketoilet sebentar, ia mengira Arfi sudah bertemu dengan dokter.
"Tanpa bertemu dengan dokter aku juga sudah tahu kalau aku lumpuh. aku ingin berjalan, tapi tidak bisa." Mata Arfi memerah.
"Arfi, kamu sabar ya. kita akan cari dokter terbaik dan rumah sakit yang terbaik kalau perlu kita keluar negeri untuk mengobati kaki kamu. aku yakin kamu pasti bisa berjalan lagi."
"Kamu tidak perlu menghibur aku Renata, lebih baik sekarang kamu keluar dari sini." Arfi mengusir Renata.
"Tapi... " Renata tidak bergerak dari tempatnya berdiri.
"Aku bilang keluar, keluar!"
Bentakan Arfi membuat Renata kaget, selama menikah untuk pertama kalinya Arfi membentak Renata dengan suara yang keras.
Renata berdiri mematung, ia memegangi dadanya yang terasa sakit.
"Kenapa kamu masih berdiri disini? Sana pergi!" Dengan kasar Arfi mendorong Renata menggunakan tangannya.
Renata hampir saja terjatuh, untunglah Satria datang tepat waktu. Satria buru buru memegangi tubuh Renata dari belakang agar Renata tidak jatuh.
"Pak Arfi, ada apa ini?" Tanya Satria dengan wajah bingung, ia masih memegangi Renata dari belakang.
"Lepaskan tanganmu! jangan pegang pegang istriku." Arfi tiba tiba menjadi emosional.
"Maaf pak, saya cuma mau menolong ibu Renata." Satria menurunkan tangannya dari bahu Renata.
__ADS_1
"Satria, bagaimana dengan Nayra? kamu sudah menolong dia kan? Apa dia baik baik saja?" Pertanyaan pertanyaan Arfi membuat Satria terdiam.
"Hey, jangan diam saja. jawab pertanyaanku? " Arfi marah marah.
Bagaimana ini? aku sudah berjanji pada Nayra aku tidak akan memberi tahu siapapun kalau dia ada dirumah sakit, tapi kalau aku bilang aku tidak sempat menolong Nayra. Arfi pasti akan marah, bisa bisa aku dipecat.
Satria memang sudah membohongi Renata, tetapi ketika berhadapan langsung dengan Arfi ia tidak berani melakukannya. Satria tahu bagaimana sikap Arfi, kalau sampai Arfi tahu dirinya berbohong. Arfi pasti tidak akan memaafkannya dan Satria akan kehilangan pekerjaannya.
Ketika suasana dikamar itu sedang tidak enak, seorang dokter dan beberapa orang suster datang. mereka ingin kembali memeriksa keadaan Arfi.
Mereka sedikit kaget melihat kamar Arfi berantakan. bukannya merasa bersalah dan minta maaf, Arfi dengan sombongnya justru memarahi mereka.
"Kenapa? tidak suka lihat kamar ini berantakan? tenang saja aku akan ganti semua barang yang kurusak." ujar Arfi dengan juteknya.
"Suster tolong panggil petugas kebersihan dirumah sakit ini dan suruh dia merapikan kamar ini." Perintah Arfi, gayanya seperti bos yang sedang memerintah anak buahnya.
Semua yang ada diruangan itu memandang Arfi dengan tatapan aneh, tapi tidak ada berani berkata apa apa. mereka tahu siapa itu Arfi, ia adalah seorang pengusaha sukses bahkan orang tua Arfi adalah pemilik rumah sakit tempat Arfi dirawat saat itu.
Salah satu susterpun berjalan keluar dari ruangan itu, tapi tanpa sengaja ia menginjak remote tv yang berada dilantai, saat Arfi melempar bantal remote tv itu ikut jatuh terlempar kelantai karena kebetulan remote tv itu ada diatas kasur.
Tv itupun menyala, membuat semua orang yang ada dikamar itu melihat kearah tv.
"Berita terkini, telah terjadi sebuah kecelakaan taksi. taksi yang membawa seorang penumpang wanita meledak setelah berkali kali berguling guling dijalan raya. supir taksi itu selamat karena tubuhnya terpental keluar, saat ini ia sudah dibawa kerumah sakit. sedangkan penumpang wanita yang berada didalam mobil itu tewas terbakar. kejadian ini terjadi tidak jauh dari rumah sakit Cipta. berikut kita akan terhubung dengan rekan saya yang sedang berada dilokasi kejadian."
mendengar berita itu dan melihat lokasi kejadian dari televisi, tubuh Arfi mendadak lemas seperti tak bertenaga. dadanya terasa sangkat sakit.
"Tidak! Tidak mungkin, tidak mungkin istriku meninggal. ini tidak mungkin." Arfi memegangi dadanya dan
Brug.....
Arfi tiba tiba pingsan.
"Arfi.." Renata menghampiri Arfi, ia mencemaskan keadaan Arfi.
__ADS_1
Renata dan Satria keluar dari kamar itu karena dokter akan memeriksa keadaan Arfi, Renata memilih untuk duduk ditaman rumah sakit sambil menunggu dokter memeriksa Arfi.
Renata tidak bisa menahan lagi rasa sedihnya pada akhirnya ia menangis dan menumpahkan semua kesedihannya.
"Bu Renata, ibu tidak usah khawatir. saya yakin pak Arfi baik baik saja dan dia akan segera sembuh." Satria berusaha memberi semangat dan kekuatan pada Renata.
"Aku menangis bukan karena Arfi, tapi karena Nayra." Renata menangis tersedu sedu.
"Nayra? kenapa ibu menangisi bu Nayra bukankah bagus kalau dia tidak ada dengan begitu ibu Renata akan menjadi istri pak Arfi satu satunya." ucap Satria tanpa beban.
"Satria, kamu itu bicara apa? Kamu kira aku ini orang yang bisa senang disaat ada orang lain yang meninggal?" Renata tidak suka mendengar ucapan Satria.
"Maaf bu Renata, saya cuma bingung. kenapa ibu menangisi Nayra? dia itu kan pelakor. lagi pula ini kecelakaan bukan kemauan ibu."
"Satria Nayra itu bukan pelakor, dia perempuan yang Arfi cintai." Renata berdiri ia menghapus air matanya dengan tangan.
"Saya kedalam dulu, mungkin dokter sudah selesai memeriksa Arfi." Renata pergi meninggalkan Satria sendiri.
Renata kembali kekamar Arfi dan benar saja dugaannya Arfi sudah selesai diperiksa. Renata melihat Arfi masih memejamkan matanya.
"Dokter, apa suami saya masih pingsan?" Tanya Renata penuh dengan rasa cemas.
"Tidak, sekarang suami ibu sudah tidak pingsan. dia sedang tidur."
"Syukurlah." Renata menarik nafas lega.
"Dok, kenapa suami saya jadi emosional? dia gampang sekali marah?" Renata kembali bertanya.
"Bu, ibu harus bersabar. mungkin semua ini karena pak Arfi merasa frustrasi dan tertekan." Setelah menjelaskan keadaan Arfi dokter itupun keluar dari kamar Arfi.
Dokter itu benar Arfi pasti stress karena sekarang dia lumpuh, ditambah lagi Nayra meninggal. semuanya terjadi begitu cepat. Nayra, disaat aku mulai menerimamu sebagai istri kedua Arfi. kenapa kamu malah pergi?
Renata bisa memahami, apa yang dirasakan Arfi. Sama seperti Arfi, Renata juga sangat sedih karena kepergian Nayra.
__ADS_1