
Arfi sangat kesal mendengar kata kata Nayra yang selalu saja membahas tentang perceraian. apalagi Nayra seperti tidak tahu tempat dan waktu. ia habis melahirkan dan masih terbaring lemah dirumah sakit, tapi ia masih saja membicarakan perceraian.
"Arfi aku mohon, jangan bawa anak aku. kalau kamu mau ambil anak aku, ambil saja satu jangan ambil dua duannya." Nayra memohon.
"Nayra sudah cukup ya! kamu itu habis melahirkan kita sekarang juga masih ada dirumah sakit, bisa tidak? kamu berhenti bicara cerai, cerai. aku itu pusing dengernya." Arfi membentak bentak Nayra.
"Tapi... "
"Cukup, aku bilang cukup sebaiknya sekarang kamu istirahat." Arfi akhirnya keluar dari ruangan Nayra dengan perasaan yang masih kesal.
Sementara diruangan bayi, ibu Ayrin dan pak Bisma kelihatan sangat bahagia melihat cucu cucu mereka.
"Mami senang akhirnya kita punya cucu lagi." Ibu Ayrin memandangi cucu cucunya yang sedang tertidur ditempat tidur bayi.
Ibu Ayrin dan pak Bisma tidak menyadari kalau Renata sedang berdiri didepan pintu dan memperhatikan mereka berdua.
"Mami dan papi kelihatan bahagia, sayangnya bukan aku yang membuat mereka bahagia tapi Nayra. Nayra sangat beruntung, dia melahirkan bayi kembar, bahkan bayinya laki laki dan perempuan." Renata bicara sendiri, ia bicara dengan suara yang pelan sehingga ibu Ayrin dan pak Bisma tidak mendengarnya.
Renata memutuskan untuk duduk ditaman rumah sakit, perasaannya campur aduk. ada rasa sedih, iri dan juga cemburu dihatinya.
Nayra dan Arfi sebenarnya tidak ingin berpisah, mereka terpaksa berpisah karena aku. apa aku ini salah? disaat Arfi dan Nayra baru memiliki anak aku justru menunggu perpisahan mereka. Renata mulai merasa bimbang tanpa terasa Air matanya mengalir.
Renata tersadar dari lamunannya ketika dikejutkan oleh seseorang yang tiba tiba duduk disampingnya.
"Arfi, kenapa aku ada disini?" Renata menoleh.
"Kamu sendiri kenapa ada disini?"
"Aku tidak mau mengganggu kalian. bagaimana keadaan Nayra?" Suara Renata terdengar berat.
"Renata, tadi aku bicara dengan Nayra, dia tidak merubah keputusannya. Nayra tetap ingin bercerai, Renata kamu jangan menangis. aku janji sebentar lagi semua akan berakhir, setelah aku dan Nayra bercerai tidak lagi Nayra dalam hidupku yang ada hanya kamu." Arfi merangkul Renata.
Sementara itu dikamar Nayra, Nayra merasa bosan berbaring terus dengan susah payah ia berusaha untuk duduk. Nayra melihat keluar jendela kebetulan jendela itu berada tepat disamping Nayra duduk.
Dari jendela itu Nayra bisa melihat Arfi yang sedang berpelukan dengan Renata.
"Arfi, pantas saja sikapnya dingin, ternyata disini ada Renata. Arfi, aku tahu. aku ini cuma istri kedua, istri simpanan tapi apa bisa kamu perhatian sama aku sedikit saja? aku ini habis melahirkan." Nayra sangat sedih, ia memegangi perutnya yang masih terasa sakit.
Sama seperti Nayra, Arfi juga sebenarnya sangat sedih. ia sedih karena Nayra benar benar ingin meninggalkannya. Arfi melihat kearah jendela kamar, kamar tempat Nayra dirawat. Arfi melihat Nayra yang sedang menatapnya, merekapun saling berpandangan.
Nayra. Arfi buru buru melepaskan rangkulannya pada Renata.
"Renata, aku mau melihat bayi aku." Arfi berdiri dari duduknya.
"Iya, aku juga mau kesana. aku boleh ikut?"
"Boleh sayang. Ya sudah kamu jalan duluan ya. aku mau balas pesan dari rekan kerjaku dulu." Arfi meminta Renata untuk pergi terlebih dulu.
Setelah Renata pergi Arfi kembali melihat kearah jendela kamar Nayra, namun sayang Nayra sudah tidak terlihat lagi. Nayra memang sengaja munutup horden jendela kamar itu agar Arfi tidak bisa melihatnya lagi.
__ADS_1
Arfi kembali duduk dibangku taman itu, ia tiba tiba tiba teringat saat saat ketika Renata habis melahirkan, ketika itu Renata bersikap sangat manja. ia tidak mau ditinggal Arfi meskipun hanya sesaat. bahkan hanya untuk pergi ketoilet saja Arfi harus meminta ijin pada Renata.
Arfi juga teringat ketika Renata sedang mengandung Kevin, ia sering tidak bekerja karena harus mengantar Renata kerumah sakit. bukan hanya itu, Renata juga sering meminta sesuatu yang membuat Arfi kerepotan.
Kadang Renata meminta rujak ditengah malam, ia juga suka meminta Arfi memasak untuknya dengan alasan ngidam atau bawaan bayi.
Arfi baru sadar apa yang ia lakukan pada Renata tidak pernah ia lakukan pada Nayra, Arfi semakin merasa bersalah. apalagi ia baru saja membentak bentak Nayra.
"Apa yang sudah lakukan? aku benar benar jahat, Nayra baru melahirkan tapi aku malah memarahinya. Nayra itu masih istriku, seharusnya aku berlaku adil padanya." Tanpa terasa air mata Arfi jatuh.
Tidak ingin Renata menunggunya terlalu lama, Arfi memutuskan untuk pergi kekamar bayi. ia menyusul Kedua orang tuanya dan Renata.
"Arfi, sini masuk coba kamu lihat anak kamu lucu, cantik." Ibu Ayrin memanggil Arfi yang masih berdiri didepan pintu. ia sedang menggendong cucu perempuannya.
"Arfi, kamu juga lihat anak kamu yang satu lagi, ganteng mirip papi waktu masih muda." Ucap Pak Bisma penuh percaya diri, ia juga menggendong cucu laki lakinya.
"Ih...papi siapa bilang mirip papi? ya jelas mirip Arfi, ini kan anak Arfi." protes ibu Ayrin.
"Arfi itu mirip papi, berarti cucu papi juga mirip papi." Pak Bisma tersenyum bahagia, ia merasa pendapatnya yang paling benar.
"Ya..terserah papi." Ibu Ayrin mulai malas mendengar pak Bisma yang membanggakan dirinya sendiri.
Arfi hanya tersenyum melihat sikap papi dan maminya yang mendadak berubah seperti anak kecil.
Apa setelah anak anak ini lahir kevin tidak akan disayang lagi? apa mereka semua akan lebih menyayangi anak anak Nayra. Renata mulai berpikir yang tidak tidak.
Pak Bisma menyenggol lengan Ibu Ayrin, matanya menunjuk kearah Renata yang sedang menundukkan wajahnya.
"Maksud Mami kamu sudah tanya Nayra, siapa nama cucu cucu mami?" Ibu Ayrin memang ingin tahu nama cucu cucunya.
"Aku belum tanya mi." Jawab Arfi
"Ya sudah kalau begitu sekarang kita tanya Nayra, siapa nama anak ini."
Tanpa menunggu persetujuan Arfi Ibu Ayrin mengajak pak Bisma keluar dari ruangan bayi. mereka ingin menemui Nayra. Ibu Ayrin dan pak Bisma membawa bayi kembar Nayra, mereka ingin memperlihatkan bayi bayi lucu itu pada Nayra.
"Renata maafin mami dan papi aku." Arfi melihat wajah Renata sedih karena sikap mami dan papinya yang seakan akan menerima Nayra sebagai menantu mereka.
"Engga apa apa Arfi. mami dan papi kamu senang karena mereka punya cucu lagi, itu kan impian mereka dan yang mewujudkan mimpi mereka itu Nayra bukan aku. jadi wajar kalau mereka mau bertemu dengan Nayra." walau sakit hati Renata mencoba untuk berlapang dada.
Di**kamar Nayra**.
Nayra sedang duduk sambil memainkan ponselnya, ia berhenti memainkan ponselnya saat ia melihat pintu kamarnya dibuka.
"Ibu, bapak." Nayra tersenyum melihat orang orang yang tadi mengantarnya kerumah sakit.
"Nayra kamu kamu mau lihat bayi kamu?" Ibu Ayrin meletakan bayi yang ia gendong disamping Nayra.
Pak Bisma juga melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Jadi ini anak anak saya?" Nayra memandangi bayi bayi itu, karena Nayra belum kuat menggendongnya ia hanya mengelus elus pipi anak anaknya.
"Nak, akhinya ibu bisa melihat kalian." Nayra merasa terharu, ia sampai meneteskan air mata.
"Nayra siapa nama anak anak ini?" Melihat Nayra menangis ibu Ayrin jadi ikut sedih.
"Yang laki laki nama nya Raffi Ardiansya pranata." Nayra tidak bosan bosan memandangi bayi bayinya.
"Apa nama itu, ada artinya?" Tanya pak Bisma.
"Tidak ada itu cuma singkatan dari nama saya dan suami saya. Raffi itu singkatan dari Nayra dan Arfi. Kalau ardiansya pranata itu nama belakang suami saya" Nayra masih mengelus elus pipi bayinya.
"Bayi yang perempuan namanya siapa?" Ibu Ayrin kembali bertanya.
"Saya belum tahu, yang perempuan belum saya kasih nama." Jawab Nayra.
"Bagaimana kalau namanya ReNa." Arfi tiba tiba muncul dan ikut bicara.
Sejak tadi sebenarnya Arfi memang sudah berdiri didepan kamar Nayra, ia mendengar percakapan Nayra dengan kedua orang tuanya
"Rena apa artinya?" Nayra seperti tidak suka dengan nama itu.
"Rena itu singkatan dari Renata dan Nayra."
Arfi, begitu cintanya kamu sama Renata? sampai sampai anak aku kamu namai dengan nama singkatan Renata. Mendengar kata kata Arfi Nayra langsung terdiam.
"Dasar anak bodoh!" Ibu Ayrin mencubit lengan Arfi.
"Aduh.. sakit." Arfi menepis tangan ibu Ayrin.
"Kamu itu laki laki, dicubit begitu saja sakit." Pak Bisma sangat kesal rasanya ia ingin memukul Arfi sampai babak belur.
"Mami, papi aku kan cuma bercanda." Arfi mencoba membela diri.
"Bercanda kamu engga lucu." Ibu Ayrin menjewer kuping Arfi.
Nayra terkejut mendengar Arfi mengucapkan kata mami dan papi.
"Mami, papi. jadi bapak dan ibu ini orang tuanya Arfi?" Tanya Nayra.
"Iya, Nay mereka ini orang tuaku." Arfi duduk dikursi yang berada tepat didepan tidur Nayra.
"Setelah aku pikir pikir aku tidak jadi menamai anak ini dengan nama Raffi." Nayra sepertinya serius dengan ucapannya.
"Kenapa Nay?" Arfi menatap Nayra dengan penuh tanda tanya.
"Karena aku punya nama yang lebih bagus. aku akan namai anak laki laki ini Raddit.
Arfi teramat sangat marah mendengar anaknya ingin dinamai Raddit, ia mengepalkan tangannya.
__ADS_1