
Hari yang ditunggu tunggu pun tiba tamu undangan menghadiri pesta yang ku adakan untuk putraku semata wayang ku Alex di sebuah hotel .
Anton yang turut ku undang menyikut dengan cukup keras saat melihat dengan mata kepalanya sendiri perubahan yang terjadi pada Soffie.
“ Gila sedrastis itu perubahan Soffie?."
Ujarnya setengah berbisik kearahku, dia berdecak sambil menggeleng gelengkan kepala.
“ Yups seperti yang loe lihat gw pun tidak nyangka bisa begitu.” Sahutku.
Anton mengarahkan pandangan kearah Soffie yang tengah berbincang dengan beberapa undangan yang dia kenal.
“ Ya ampun jeng Soffie! Masya allah cantik sekali memakai hijab pangling loch saya.” Pekik salah satu kenalan Soffie sambil memandang takjub pada Soffie.
“ Ahh ibu berlebihan masih belajar.” Sahut Soffie tampak tersipu malu mendengar pujian yang di alamat kan padanya .
" Serius loch saya jeng, memang manglingi loch."
Soffie kembali hanya tersenyum simpul sejurus kemudian dia menggandeng kenalannya itu untuk bergabung dengan tamu undangan lainnya.
Baik Anindya maupun Soffie sama sama tampil memukau dengan style mereka.
Aku sejenak tertegun memandangi kedua wanita itu, Anidya tampil chic dan elegant dengan rambut curlynya sedang Soffie? Aakkh! mantan istri ku itu semakin membuat ku di dera rasa sesal setelah perceraian yang terjadi diantara kami.
Dia seolah terlahir Kembali dengan kepribadian yang berbeda, Soffie yang ada di hadapan ku kini berbeda 360 derajat dengan Soffie yang aku kenal saat menjadi istriku 7 tahun yang lalu.
Dari kejauhan Anindya melangkah kearah kami dengan senyum yang senantiasa tersungging di wajahnya dia bak pinang di belah dua dengan putrinya.
“ Happy birthday sayang, be a good boy ya sayang.” ucap Anindya sambil mencium kedua pipi Alex.
“ Terima kasih tante .“ sahut alex sambil mencium tangan Anindya .
“Nazwa ayo sayang beri selamat dulu pada dek Alex.” Anindya memanggil putrinya yang asyik berbaur dengan anak sebayanya sesama undangan .
Putrinya tampak malu malu mengulur kan tangan pada Alex.
“Salam sama oom dan tantenya juga dong” perintah Anindya pada putrinya agar menyalami aku dan Soffie yang mendampingi Alex.
“Cantik, siapa namanya sayang?.” Tanya Soffie sambil berjongkok mencium pipi nya .
“ Nazwa Aurel Hendrawan tante .“ jawabnya seraya menyebut kan nama panjang nya
Mendengar gadis kecil itu menyebut kan nama belakang tak urung membuat ku tersenyum getir.
Sementara itu Alex tampak tidak sabar untuk segera meniup lilin dan memotong kuenya.
__ADS_1
“ Tiup ..tiup ..tiup’.” sorak para tamu undangan sambil bertepuk tangan menambah ballroom itu tampak semakin meriah.
Soffie membantu Alex memposisikan tangannya sebelum meniup lilin.
“Make a wish first sayang.” ujar Soffie.
“Satu.. dua …ti… gaaa tiup ‘suara mc sedikit berdengung karena sedkit masalah pada soundsystem.
“ Ayo suapan pertama mau di berikan pada siapa sayang?.” ujar mc yang memandu acara.
Alex tampak bingung dia memandangi kami secara bergantian sejurus kemudian dia mengarahkan pandangan berkelililing seperti tengah mencari keberadaan seseorang.
“Suster lely.” jawabnya polos
Namun tak urung membuat semua yang hadir tersentak kaget dengan pilihannya.
“Bisa di maklumi ya ..Ananda sehari hari dengan suster karena mommy sama daddy nya sibuk di kantor jadi wajar jika Ananda Alex memilih orang yang sehari hari ada di dekat nya“ ujar mc berusaha mencairkan suasana .
Suster Lely tampak malu malu sekaligus merasa segan pada kami yang jelas tergambar pada raut wajahnya .
Karena Alex justru memilihnya untuk menerima potongan pertama kue ulang tahun alih alih memberikan potongan kue itu pada kami selaku orang tuanya.
Kejadian ini menjadi tamparan keras buat ku ya aku akui aku jarang memberikan perhatian pada Alex.
Alex menyuapkan potongan kue itu ke mulut suster kesayangannya di sambut dengan tepuk tangan yang meriah para undangan tapi menghadirkan rasa pedih di hati ku.
Saat tengah menikmati hidangan yang tersedia mataku tidak lepas memperhatikan Anindya yang duduk satu meja dengan Anton.
Sementara aku dan Soffie harus bersandiwara menjadi orang tua yang sempurna setidaknya khusus di hari istimewa putra semata wayang kami .
Soffie lebih banyak diam dan memilih sibuk tepatnya menyibukan diri dengan putra kami.
“Soff... kapan rencana kamu untuk menikah tanya ku sebagai bentuk basa basi dan terlihat akrab agar tidak terasa janggal di lihat oleh sebagian undangan yang belum tahu jika kami sudah bercerai.
“Tidak dalam waktu dekat pastinya, tapi juga tidak dalam waktu yang terlalu lama ."Sahutnya terkesan tidak ingin aku tahu lebih banyak tentang kehidupan pribadinya .
" Mas sendiri sudah ada calon? Ujarnya balik bertanya.
Aku menggeleng lemah menanggapi pertanyaan nya.
" Ayo dong biar ada yang menemani masa mau sendiri terus." ujarnya seraya menyunggingkan senyum .
"Dengar dengar mas sering ke club ya?" tanya nya hati hati takut menyinggung perasaan ku.
" Tahu dari mana?" tanya ku seraya menatap wajahnya.
__ADS_1
" Tidak penting saya tahu dari mana , jangan lah mas sering keluar malam, sayangi diri mas sendiri." Imbuhnya lagi
Akkkhh ! Soffie.. mengapa kamu sekarang sangat berbeda? seandainya dulu aku bisa berfikir jernih dan tidak tergesa gesa menceraikan mu mungkin Alex tidak perlu menjadi korban dari keegoissan orang tuanya .
Tapi laki laki mana yang bisa menerima istri yang pernah berselingkuh? Gumam ku dalam hati.
Tampak Para pekerja dirumah ku duduk bersama dalam satu meja mbok Minah pak Edy dan pak Amin sus Lely dan juga mang Imran .
Aku memboyong mereka semua untuk turut merasakan kebahagaian kami merayakan ulang tahun Alex karena mereka lah orang orang yang sehari harinya turut membantu meringan kan tugas ku.
Setelah semua tamu undangan pulang aku menghampiri Soffie yang tengah menemani Alex mengemasi kado yang di berikan oleh para tamu undangan.
“Soff. “sapa ku rupanya kehadiran ku yang tiba tiba berdiri di belakangnya membuat Soffie sedikit terkejut.
“ Errhh .. mas kenapa?.” ujar nya datar.
“Kamu ikut pulang kerumah kan? ini hari istimewa putra kita masa kamu tidak ingin meluangkan waktu sedikit lebih lama untuk Alex.” seloroh ku.
Ada perasaan bimbang yang menderanya terlihat jelas dari raut wajahnya.
Mungkin kejadian malam itu meninggalkan trauma di hatinya dia terdiam cukup lama sebelum akhirnya dia menjawab.
“ Jangan di tanya perasaan seorang ibu tentu ingin selalu dekat dengan buah hatinya tapi keadaan sudah tidak memungkinkan” dengan nada lirih.
“ Mas janji tidak akan berbuat konyol seperti dulu malam itu mas khilaf .“ uajrku mencoba meyakinkannya.
"Maaf mas saya tidak bisa menginap lagi, kita bukan mahram takut kita khilaf ."
"Sebagai gantinya boleh saya membawa Alex meski ini bukan jadwal saya? ujar nya setengah memohon
“ Silahkan kamu ibunya jadi bebas kapan pun kamu mau ” sahut ku seraya mengajak nya meninggalkan hotel tempat acara di adakan.
Dia berjalan di depan ku menuju mobil dan mengajak Alex serta sust Lely masuk kedalam mobilnya .
Sepanjang perjalanan pulang fikiran ku benar benar kacau ,kejadian saat alex memilih susternya sebagai orang pertama yang menerima potongan pertama kue ulang tahun nya jelas merupakan suatu tamparan buat ku .
Meskipun dia tinggal satu rumah dengan ku aku jarang sekali memberikan perhatian kepadanya di waktu senggang.
Aku lebih memilih menghabiskan waktu ku di club mencari kesenangan semu di banding mencurah kan kasih sayang ku pada putra semata wayang ku.
Putra semata wayang yang dulu mati matian aku perjuangkan agar hak asuh nya jatuh kedalam tangan ku ,di banding jatuh ketangan Soffie ibu kandung nya.
Aku yang dulu begitu arogan berkata bahwa akan jadi apa jika Alex berada di bawah asuhan seorang ibu yang berselingkuh sepertinya .
Tapi kini setelah aku memenangkan hak asuh atas putra semata wayang kami nyatanya aku justru menyerahkan suster yang mengurusnya, dia tumbuh dari kasih sayang sorang suster yang aku gaji ayah macam apa aku ini?.
__ADS_1