
Nayra membiarkan saja air mata Arfi jatuh membasahi bajunya, hampir lima menit Nayra memeluk Arfi.
Nayra, andai kamu masih hidup. apa kamu akan memelukku seperti ini?
Arfi merasa nyaman berada dalam pelukan Nayra.
"Pak, sudah siang. saya mau kekamar Bintang dan Bulan." Nayra ingin berdiri tapi arfi menahannya.
Arfi memeluk Nayra erat erat.
"Jangan pergi dulu." Arfi tidak ingin Nayra pergi meninggalkannya.
Mereka saling bertatapan ada perasaan tenang yang menyelimuti hati Arfi ketika ia berada didekat Nayra. didekat Nayra Arfi bisa melupakan semuanya, lupa tentang masalahnya dan juga lupa tentang kesedihannya.
"Dewi, kenapa kamu selalu pakai kaca mata?"
Pertanyaan Arfi membuat Nayra gelagapan. tidak mungkin Nayra mengatakan, kalau ia memakai kaca mata agar tidak ada orang yang mengenalinya.
"Mata saya minus."Jawab Nayra asal asalan.
Arfi bisa merasakan detak jantung Nayra yang kencang karena walaupun Arfi sudah melepaskan pelukannya, saat itu posisi mereka sangat dekat.
Arfi mendekatkan wajahnya pada wajah Nayra dilepasnya kaca mata yang Nayra pakai.
"Apa kamu bisa melihatku dengan jelas?" Arfi semakin mendekat dan hampir tidak ada jarak diantara wajah mereka.
Nayra terdiam, ia tidak bisa berkata kata dan ketika pikiriannya sedang berkelana Arfi tiba tiba mencium bibirnya.
Mata Nayra membulat, mendapat sentuhan secara mendadak membuat Nayra tidak siap. ia berusaha mendorong dada Arfi tapi Arfi malah menarik tengkuknya hingga ciumannya semakin dalam.
Nayra hampir tidak bisa bernafas, ciuman Arfipun berpindah keleher Nayra. Arfi membuat tanda tanda merah dileher Nayra, Nayra mengeluarkan suara ******* dan tanpa Nayra sadari Arfi sudah membuka kancing bajunya.
Arfi dan Nayra sudah tidak dapat menahan diri lagi, Arfi mendorong tubuh Nayra sampai tubuh Nayra terbaring disofa. Arfi membuka bajunya dan membuangnya sembarangan, namun saat ia ingin kembali menyentuh Nayra terdengar suara tangisan dari kamar Bulan dan Bintang.
"Pak, anak bapak bangun." Nayra berdiri, dengan cepat ia berjalan kekamar Bulan dan Bintang.
Arfi mendecak kesal, karena ia gagal menyentuh Nayra.
Apa yang aku lakukan? aku hampir saja melakukannya dengan Dewi. ini semua salah, Dewi itu bukan istriku. aku tidak boleh menyentuhnya, tapi kenapa aku merasa kecewa? Arfi duduk ia menyandarkan kepalanya diatas sofa.
Nayra memberikan asi pada Bintang, ternyata Bintang menangis karena haus selesai minum susu Bintang tidur lagi, Nayra ingin meninggalkan kamar itu, tapi Bulan gantian menangis.
Nayra segera menggendong Bulan, ia tidak ingin Bintang terganggu tidurnya. Nayra duduk ditempat tidur, ia lalu menyusui Bulan.
Selama bekerja dirumah ibu Ayrin Nayra memang diam diam selalu memberi asi pada anak anaknya. ia memberikan susu formula hanya ketika ibu Ayrin dan Pak Bisma berada dirumah,
__ADS_1
Arfi berjalan kekamar anak anaknya, ia ingin melihat Bulan dan Bintang, ia menjadi kesal karena pintu kamarnya ditutup dan terkunci. Nayra memang sengaja mengunci pintu agar Arfi tidak bisa masuk kekamar itu.
"Dewi, buka pintunya." Arfi mengetuk pintu kamar anaknya.
Nayra menjadi panik, beruntunglah Bulan kembali tertidur. dengan berlahan lahan Nayra meletakan Bulan ditempat tidur, setelah itu ia membuka pintu.
"Ada apa pak?" Tanya Nayra gugub.
"Aku mau melihat anak anakku. kenapa kamarnya dikunci?" Arfi merasa curiga
"Engga dikunci pak, mungkin bapak kurang keras bukanya." Nayra bohong.
Arfi menatap tajam pada Nayra. dari sorot matanya terlihat jelas, Arfi tidak percaya dengan ucapan Nayra.
Mata Arfi turun sedikit kebawah ia melihat baju Nayra bagian atas terbuka, Arfi memalingkan pandangannya. Melihat belahan dada Nayra terpampang nyata membuatnya berpikir macam macam.
"Kenapa kancing bajumu terbuka?" Tanya Arfi masih penuh dengan rasa curiga.
"Kenapa bapak bertanya? Bapak yang buka kancing baju saya."
Wajah Arfi memerah karena malu, ia tidak tahu kalau Nayra sudah membohonginya. Tadi memang Arfi yang membuka kancing baju Nayra, tapi Nayra sudah menutupnya ketika ia berjalan cepat kekamar.
Nayra membuka lagi kancing bajunya saat ia tahu kalau Bintang haus dan ingin minum susu.
"Terus kenapa kamu engga kancingin lagi." untuk menutupi rasa malunya Arfi berlagak marah. Arfi sangat malu bila ia ingat apa yang ia sudah perbuat pada Nayra.
"Dewi aku minta maaf soal kejadian tadi. aku janji, aku tidak melakukan itu lagi. aku tidak akan menyentuhmu."
Nayra menjadi sedih setelah mendengar ucapan Arfi, padahal ia merasa sangat senang saat Arfi menyentuhnya. sudah lama ia merindukan sentuhan suaminya itu, tapi Arfi mengatakan sesuatu yang membuat Nayra sedih.
Arfi memang belum tahu kalau Dewi adalah Nayra, tapi bukan berarti Arfi bisa mempermainkan hati seorang perempuan.
Nayra tidak membalas ucapan Arfi, Ia memilih pergi begitu saja. Nayra mengabaikan Arfi. Arfi marah karena Nayra mengabaikannya, ia mengikuti Nayra sampai kekamarnya.
Sampai dikamar Nayra membuka lemari, ia mengeluarkan tas besar kemudian memasukan baju bajunya kedalam tas besar itu.
"Dewi kamu mau kemana?"
"Saya mau berhenti kerja pak, jadi saya akan pergi dari rumah bapak."
"Kenapa kamu mau berhenti? Dewi kalau aku salah. aku minta maaf, kamu masih marah?" Arfi kembali meminta maaf.
"Saya udah maafin bapak, tapi saya tetep mau berhenti." Nayra berjalan keluar tanpa memperdulikan Arfi.
Arfi masih tetap mengikuti Nayra dan ketika Nayra sudah berada didepan pintu, Arfi dengan cepat memegang tangan Nayra.
__ADS_1
"Dewi, jangan pergi. aku janji aku tidak akan menyentuhmu lagi." untuk kedua kalinya Arfi berjanji tapi sepertinya Nayra tidak percaya dengan janji Arfi.
"Bapak pikir saya akan percaya dengan janji bapak, bagaimana kalau bapak ingkar janji?"
"Kalau aku sampai menyentuh kamu lagi, aku akan tanggung jawab. aku akan... "
Belum sempat Arfi menyelesaikan kalimatnya lagi lagi Nayra dan Arfi mendengar suara tangisan dari kamar Bintang dan Bulan.
Nayra langsung meletakan tasnya dilantai tanpa diminta ia berlari kecil menuju kamar anak anaknya. Arfi bingung sendiri melihat sikap Nayra yang aneh, tapi dalam hati ia bersyukur karena Nayra tidak jadi pergi
Arfi masuk kedalam kamar anak anaknya, ia melihat Nayra sedang mengendong Bulan.
"Pak, Bulan keliatahannya lapar. ini bapak gendong dulu, saya mau ambilkan makanan untuk Bulan." Nayra memberikan Bulan pada Arfi.
Nayra lalu pergi kedapur, ia mengambil bubur yang sudah ia buat sebelum Arfi pulang, Nayra kemudian pergi kehalaman rumah dan meletakan mangkuk bubur yang ia bawa diatas bangku berukuran panjang. setelah itu barulah Nayra kembali lagi kekamar Bintang dan bulan.
Nayra mengambil Bulan yang sedang digendong Arfi, tanpa permisi ia berjalan keluar dari kamar itu. sikap Nayra benar benar seperti seorang istri yang sedang marah pada suaminya.
Nayra duduk dihalaman rumah sambil menggendong Bulan, disampingnya ada semangkuk kecil bubur yang tadi ia letakan dibangku itu. dengan telaten Nayra menyuapi Bulan dengan bubur itu.
Melihat pemandangan didepan matanya, hati Arfi menjadi tenang. ia sekarang mengerti kenapa kedua orang tuanya percaya kalau Nayra bisa merawat Bintang dan Bulan. ternyata memang benar, Nayra bisa mengurus Bintang dan Bulan dengan baik.
"Bapak ngapain berdiri disitu?" Nayra melihat Arfi berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk.
"Memangnya kenapa? terserah aku, mau berdiri dimana." Arfi tersenyum mengejek.
Nayra memutar bola matanya malas, ia kesal. ia memilih untuk melanjutkan menyuapi Bulan dari pada meladeni Arfi.
"Dewi." Arfi duduk disebelah Nayra.
"Apa?"
"Kamu engga jadi berhenti kerja?" Arfi menatap Nayra, ia sangat berharap Nayra tidak jadi pergi.
Aku memang bodoh, mendengar Bulan menangis aku langsung kekamarnya padahal aku mau berhenti kerja.
"Memangnya kenapa? terserah saya mau berhenti atau tidak." karena malu Nayra pura pura kesal.
Angin bertiup kencang membuat ikat rambut Nayra terlepas dan rambut Nayrapun seperti ingin terbang, Nayra memang tidak mengikat rambutnya dengan benar sehingga dengan mudah ikat rambutnya jatuh.
karena Nayra sedang menggendong Bulan sambil menyuapinya Nayra tidak bisa mengambil ikat rambutnya yang jatuh.
Arfi berinisiatif untuk mengambil ikat rambut Nayra dan yang membuat Nayra sedikit kaget Arfi mengikat rambut Nayra.
"Maaf aku menyentuhmu lagi, tapi aku cuma menyentuh rambutmu. kamu engga marah kan? "
__ADS_1
Arfi menatap mata Nayra yang saat itu juga sedang menatapnya.