Diantara Dua Hati

Diantara Dua Hati
Kembali kerumah


__ADS_3

Renata menunggu Kevin yang masih tertidur dikamar rumah sakit, ia duduk dibangku yang berada dihadapan tempat tidur.


"Mama." Kevin terbangun, ia membuka matanya.


"Kevin, kamu udah bangun." Renata tersenyum bahagia.


"Mama, dimana Ibu Nayra?"


Kenapa kevin mencari Nayra?


"Sayang, disini kan ada mama. Kenapa kamu malah mencari bu Nayra?" Renata sedih.


"Aku khawatir sama bu Nayra ma. Tadi bu Nayra udah nolong aku, kasian bu Nayra. Bu Nayra lagi sakit, tapi berusaha nolong aku." cerita Kevin.


"Bu Nayra sakit apa?" Renata tidak tahu, kenapa kevin bisa mengatakan kalau Nayra sedang sakit.


"Kevin engga tau ma, tapi waktu nolong Kevin. bu Nayra keliatan lemas. untung bu Nayra engga pingsan didalam air, Ma.. bu Nayra kenapa ya? Apa gara gara perutnya besar bu Nayra jadi sakit?" Kevin terus bicara tentang Nayra.


Nayra sedang hamil. dia lemah, tapi dia berusaha untuk menolong Kevin. Sedangkan aku, aku malah sibuk menerima telphone. aku juga sempat cemburu dan kesal pada Nayra padahal Nayra sudah menyelamatkan Kevin. Renata merasa bersalah.


"Sayang, kamu tenang saja. Bu Nayra baik baik saja. Sekarang dia ada dikamar sebelah."


"Mama, mama sekarang kekamar sebelah ya. lihat bu Nayra." Pinta Kevin.


"Mama engga bisa, mama kan harus jaga kamu. lagi pula disana ada papa yang menemani bu Nayra."


"Ma, ayo dong ma. Lihat bu Nayra. terus nanti mama balik lagi kesini. kasi tahu aku, bu nayra masih sakit apa engga?" Kevin merengek.


"Iya sayang." Renata terpaksa menuruti keinginan Kevin walau dalam hati sebenarnya ia tidak ingin meninggalkan Kevin.


"Suster tolong jaga anak saya, saya mau kekamar sebelah." ucap Renata pada suster yang baru saja masuk kemamar tempat Kevin dirawat.


Sementara itu dikamar tempat Nayra dirawat Nayra juga sudah bangun dari tidurnya, ia melihat Arfi tertidur dikursi yang ada didepan tempat tidurnya.


"Arfi, bangun. Arfi." Nayra memegang megang bahu Arfi.


"Sayang, akhirnya kamu bangun." Arfi senang, ia langsung memegang tangan Nayra.


Sudah lama rasanya, aku tidak mendengar suara lembut Arfi yang memanggilku dengan kata sayang, tidak seharusnya aku merasa senang. Kenapa didekat Arfi? aku selalu lupa, kalau Arfi sudah punya anak dan istri. Nayra berusaha menahan perasaannya.


"Kenapa kamu ada disini? Seharusnya kamu menjaga Kevin." Nayra melepaskan pegangan tangan Arfi.


"Kamu tidak perlu mencemaskan Kevin, ada Renata yang menjaga Kevin."


"Arfi, sebaiknya kamu pergi. Aku engga enak, kalau Renata tahu kamu ada disini. dia akan salah paham lagi." Nayra mengusir Arfi.


Nayra seharusnya aku membenci kamu, karena kamu berada diantara aku dan Arfi. Tapi entah kenapa? meskipun marah, aku tidak bisa membencimu. Apalagi kamu sudah menyelamatkan nyawa Kevin. Batin Renata.


Renata ketika itu sudah berdiri didepan pintu kamar Nayra.

__ADS_1


"Aku tidak akan salah paham, aku yang suruh Arfi menjaga kamu." Renata masuk kedalam kamar tempat Nayra.


"Nayra, terima kasih. Kamu sudah menolong Kevin, kalau tidak ada kamu mungkin Kevin sudah tidak ada. Nayra, aku berhutang budi. sebagai gantinya, aku akan berikan suami aku untuk kamu." Mata Renata berkaca kaca.


Arfi dan Nayra terdiam mendengar kata kata Renata, mereka berdua memandang Renata secara bersamaan.


"Renata, kamu jangan bicara seperti itu. Kamu ingat? Waktu aku diganggu preman preman, kamu yang menolong aku. Aku tidak tahu bagaimana nasibku? kalau waktu itu kamu tidak menolongku. Sekarang aku menolong Kevin, jadi kita impas. Kamu tidak perlu merasa berutang budi padaku. Lagi pula aku ikhlas menolong Kevin." Nayra turun dari tempat tidurnya.


"Nayra kamu mau kemana?" Arfi merasa cemas.


"Aku sudah sadar dan aku baik baik saja, aku mau pulang." Nayra seperti ingin menangis.


"Nayra kamu baru sadar, kamu harus banyak istrihat." Renata mencoba mencegah Nayra pergi.


"Kalian tidak usah khawatir, aku bisa jaga diri aku sendiri. Lebih baik kalian urus saja Kevin." Meskipun berlahan lahan, Nayra tetap berusaha berjalan keluar dari kamar itu.


"Arfi, bagaimana ini?" Renata mengkhawatirkan Nayra.


"Biarkan dia pergi, dokter bilang dia tidak boleh stress. Kalau dengan pergi dari sini, dia merasa senang. ya kita biarkan saja." Arfi terlihat santai walaupun dalam hati, sebenarnya ia sangat mencemaskan Nayra.


"Terserah kamu." Renata keluar dari kamar itu, tapi ia tidak mengejar Nayra karena ia harus kembali kekamar Kevin.


Setelah Renata pergi Arfi segera menelphone Satria asistennya.


"Satria kamu dimana sekarang?" Tanya Arfi saat Satria sudah menjawab telphonenya.


"Saya sudah ada didepan rumah sakit pak." Jawab Satria.


"Kamu tunggu disana. sebentar lagi Nayra keluar, kamu antar Nayra pulang. Kalau dia tidak mau, kamu ikuti saja dia. pastikan Nayra selamat sampai dirumah." Perintah Arfi pada Satria.


Satria menutup telphone setelah Arfi memutuskan panggilan telphonenya dan benar saja Nayra keluar dari rumah sakit itu.


"Ibu Nayra." Satria menghampiri Nayra.


"Satria, kamu pasti mau ketemu Arfi? dia ada didalam. Aku pergi dulu, permisi." Nayra ingin pergi meninggalkan Satria.


"Bu Nayra, tunggu." Satria menghalangi jalan Nayra.


"Ibu mau kemana? Biar saya antar." Satria menawarkan diri.


"Tidak perlu, saya bisa naik taksi." Nayra menolak.


"Bu Nayra, ayolah jangan tolak saya. Saya iseng, lagi ga ada kerjaan." Satria bercanda.


"Memangnya kamu sudah berhenti jadi asistentnya Arfi?"


"Saya masih jadi asistent pak Arfi, tapi ini hari minggu. saya libur bu."


"Terus buat apa kamu datang kesini?"

__ADS_1


"Saya mau jenguk Kevin, tapi kata pak Arfi tidak perlu. Bu Nayra mau kan saya antar pulang?" Satria tidak menyerah, ia tetap berusaha membujuk Nayra.


"Ya sudah. Saya mau, tapi dengan satu syarat. Kamu jangan bilang Arfi." Nayra mengajukan syarat.


"Siap bu." Satria tersenyum penuh kemenangan.


Nayra meminta tolong Satria untuk mengantarnya kehotel tempat ia menginap semalam, Nayra ingin mengambil tasnya.


Sesudah mengambil tasnya Nayra kembali lagi kemobil Satria.


"Bu Nayra, ibu mau kemana lagi sekarang?" Satria menjalankan mobilnya.


"Kerumah saya saja." Nayra memutuskan untul kembali kerumahnya.


...*******...


"Terima kasih Satria." Nayra mengucapkan terima kasih ketika ia dan Satria sudah sampai dirumah Nayra.


"Sama sama bu Nayra." Ucap Satria sambil memainkan ponselnya, ia menulis pesan pada Arfi. Satria memberitahu Arfi kalau Nayra sudah sampai dirumahnya.


Nayra membuka pintu mobil Satria lalu ia keluar dari mobil itu.


Nayra kemudian berjalan menuju pintu pagar rumahnya, Nayra menoleh karena ia mendengar suara seseorang memanggil namanya.


"Nayra." ternyata yang memanggil Nayra adalah Raddit. Raddit melihat perut Nayra yang sudah semakin membesar.


"Raddit." Nayra sangat senang melihat Raddit.


"Kamu hamil?"


Pertanyaan Raddit membuat Nayra gugub.


Bagaimana ini? Raddit marah waktu dia tahu aku menikah dengan Arfi. sekarang setelah tahu aku hamil, Apa Raddit akan marah? Nayra sedikit cemas.


Raddit berjalan meninggalkan Nayra. ia pergi begitu saja, tidak ada satu katapun yang ia ucapkan.


"Raddit tunggu." Nayra mengejar Raddit yang belum terlalu jauh.


"Raddit kamu marah?" Nayra memegang pergelangan tangan Raddit.


"Menurut kamu?" Raddit melepaskan pegangangan tangan Nayra.


"Raddit aku bisa jelasin."


"Engga ada yang perlu kamu jelasin, semuanya sudah jelas." Raddit tidak ingin mendengarkan Nayra


"Raddit."


"Nayra dulu aku pernah bilang, Jangan dekat dekat Arfi. dia itu sudah punya anak dan istri, tapi kamu nekat kamu malah nikah sama Arfi dan sekarang kamu hamil." Raddit merasa sedih.

__ADS_1


"Nay, mulai sekarang kamu engga usah menghungi aku lagi. Kalau ada apa apa, telphone saja Arfi." Raddit pergi dengan hati yang kecewa.


__ADS_2