Diary Miss To Move

Diary Miss To Move
Lauhul Mahfuzdh


__ADS_3

"Aku bersyukur, kini doa ku terkabul, menjadi suami mu, bisa di sisi mu dan memiliki mu merupakan harapan terbesar dalam hidup." Aku hanya diam tak bergeming.


"Aku tak ingin apapun sekarang, selain bisa membahagiakan mu dan memastikan kau baik baik saja." Sambung nya.


"Kenapa diam?" Wajah nya memperhatikan ku, melonggar dekapan nya untuk menanti jawaban ku.


"Bapak ngomong, lantas aku mendengar kan." Jawab ku bodoh. Bukan berarti aku tidak memperhatikan ucapan nya, justru aku sangat tertegun dengan pengakuan nya.


"Aku suami mu, bukan atasan mu atau rekan kerja yang harus di panggil bapak? Atau aku harus memanggil mu 'ibu', Bu Yevn?" Tanya nya.


"Rasanya lebih baik di panggil kutub dari pada 'bapak', aku lebih suka dengan panggilan kutub?" Aku kaget bukan kepalang, memang sebelum menikah aku sering keceplosan memanggil nya kutub.


"Bukan kah itu terdengar lebih buruk?"


"Aku lebih menilai nya itu panggilan sayang yang di khusus kan." Aku tak percaya dengan apa yang ku dengar.


"Aku masih canggung, pak. Bisa beri aku waktu untuk memanggil bapak dengan sebutan yang sepantas nya. Insyaallah, aku akan belajar."


Ucap ku dengan rasa bersalah.


"Selalu, semua waktu ku adalah waktu mu. Jangan di fikirkan." Ucap nya.


Pak Kavin mencium kening ku lama,, aku hanya diam tanpa penolakan. Aku sadar dia memiliki hal atas diri ku, bahkan aku masih setia mengenakan jilbab di depan nya, dan dia tak pernah memaksakan kehendak nya.


Rasa bersalah mulai menyerang ku.


. . . .


Aku duduk di ruang music, pak Kavin sudah keluar sejak tadi karena ada urusan mendadak, sekaligus mampir ke rumah nya yang dulu untuk mengambil pakaian nya.


Telfon ku berdering,, ku lihat nama kak Teguh tertera di layar.


"Assalamu'alaikum,, " Ucap suara laki laki yang sudah lama tak ku dengar.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi,," Jawab ku.


"Bagaimana kabar kakak?" Aku langsung bertanya pada nya.


Lama dia terdiam,,


"Alhamdulillah, baik,, Kamu bagaimana?"


"Alhamdulillah, aku baik kak."


"Yevn,"


"Iya, kak."


"Aku minta maaf karena tidak hadir di acara pernikahan mu kemarin."


"Iya, ga apa apa. Aku tau kakak pasti sangat sibuk, kak Jerry juga udah bilang, kita bekerja di tempat yang sama, aku ngerti sibuk nya gimana, jadi santai saja." Jawab ku.


"Iya, aku sibuk belakangan ini, jadi,,,,,"


"Iya, aku tau." Jawab ku.


"Yevn, aku bohong." Ucap kak Teguh.


"Iya, aku tau." Ucap ku.


"Aku tau, kakak berbohong. Tapi aku juga tidak tau harus bagaimana kan?" Ucap ku mengerti apa yang di maksud kak Teguh.

__ADS_1


Terdengar suara nya mulai bergetar di seberang sana.


"Aku tak bisa menerima kenyataan nya, mungkin jika melihat mu bersanding dengan laki laki lain, menambah hancur hati ku saat itu juga. Tapi kini aku sadar, ini lah yang kamu tanggung selama ini, meski berbeda, tapi aku tau itu. Menghindar dari mu juga bukan pilihan yang tepat, justru aku lebih merasa bersalah." Jelas kak Teguh.


"Jelas, mana mungkin kakak bisa menghindar dari adik yang konyol dan suka menyusahkan kakak dengan tanggung jawab dalam bekerja. Kalo kakak menghindar dari ku, lantas ke siapa lagi aku bisa melempar tugas ku." Aku menjawab dengan kekonyolan, berusaha mencair kan suasana.


Terdengar tawa nya yang masih kaku di seberang sana.


"Aku kangen dengan rekan rekan di kantor, nanti kalo udah masuk kerja, bakal ku tagih traktiran dari semua nya, terutama team." Ucap ku.


"Yang baru gelar pesta siapa, yang harus traktir siapa coba?" Balas nya.


Kami sama sama tertawa.


"Baik lah, kakak tutup dulu, harus berangkat lagi. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi...."


Aku menarik nafas lega, setelah semua nya ku rasa baik baik saja.


.....


Aku menekan tuts piano ,,,, memainkan sebuah lagu yang pernah di populerkan oleh Meyda Safira,


Wajah pak Kavin terbayang di sela sela suara piano yang ku main kan.


kau yang tertulis di lauhul mahfuzdh


kau adalah rahasia terbesarku


kehadiranmu menyempurnakan hidupku


kau yang ku sebut di dalam doaku


kehadiranmu menyempurnakan imanku


ku menunggu dalam sabar ku


ku ikhlaskan semua harapanku


bersamamu di masa depanku


membangun cinta, membangun syurga


menggapai ridho-Nya....


Jantung ku berdetak semakin laju, membayangkan wajah laki laki itu, dia yang bergelar suami.


Sebuah kecupan mendarat di pipi ku. Tangan nya memeluk ku dari belakang. Aku kenal dengan aroma nya, hingga aku menoleh dengan jari masih memain kan tuts piano.


Melihat wajah nya, aku langsung berhenti, meraih tangan nya dan menciumi punggung nya.


"Maaf, aku ga denger suara mobil, dan malah di sini tanpa menyambut bapak." Ucap ku.


"Aku bukan raja yang butuh di sambut setiap pergi dan kembali, bahkan memancung istri yang sangat ku cintai karena merasa ini sebuah kelalaian." Ucap nya


"Tapi syurga ku ada pada bapak, kecewa nya bapak pada ku, adalah hal terburuk untuk ku." Ucap ku penuh rasa kecewa.


Lagi lagi tanpa di duga duga, tubuh ku kembali melayang, aku sudah berada di atas tangan nya pak Kavin yang menggendong ku.


Secara refleks aku merangkul pada leher nya, dia tersenyum senang atas apa yang aku lakukan.

__ADS_1


Menyadari hal itu, aku melepas pegangan tangan ku pada leher nya.


"Aku tak tanggung jawab, jika kamu sampai terjatuh." Ucap nya sambil melonggarkan pegangan nya pada tubuh ku.


Tangan ku otomatis kembali merangkul leher nya, jelas siapa yang tidak takut jatuh terjerembab di atas lantai tanpa ada pengaman.


"Turunin, tolong." Pinta ku. Jelas hanya sia sia.


Pak Kavin membawa ku ke kamar, melempar tubuh ku dengan pelan, kemudian menindih ku. Kali ini dengan apa aku bisa selamat? hikss....


"Mandi sana." Ucap ku,


"Sudah, sayang."


"Sholat belum kan." Aku berusaha lagi.


"Sudah, tak salah aku memilih istri yang setia mengingatkan suami nya beribadah." Ucap nya tersenyum penuh kemenangan.


Aku tersudut dan hampir kehabisan akal. Habis lah sudah, singa siap menerkam dan menelan ku hidup hidup. hiks hiks....


"Aku mau masak." Ucap ku cepat.


"Tidak perlu, aku sudah beli makanan." Jawab nya tak kalah cepat.


"Tapi aku lapar,,,," Ucap ku lagi mencari celah untuk menang.


"Hahaha,,,, baik lah, kita makan."


Akhir nya pak Kavin bangkit dari atas tubuh ku, aku bebas penuh kemenangan.....


* * * *


Usai shalat isya, aku mencium punggung tangan nya, seperti biasa beliau selalu menjatuhkan kepala nya di atas pangkuan ku.


Namun kali ini tak berselang lama, beliau membantu ku merapikan sajadah. Saat aku berganti mukena dan mengenakan jilbab, beliau memeluk pinggangku, meletak kan dagu nya di pundak ku.


Beliau menghentikan gerak tangan ku yang tadi sibuk mengurus jilbab. Perlahan di raih nya jilbab ku dengan pasti, hingga berhasil lepas dari kepalaku dengan sempurna.


Perlahan ku buka mataku, hingga terlihat di pantulan cermin, terpampang sudah rambut ku yang tergerai begitu saja. wajah nya yang menatap ku lewat sana.


"Kamu sangat cantik, sayang." Bukan nya memperdulikan ucapan nya, aku malah gugup luar biasa.


*Apa aku sudah berdosa? aurat ku, rambut ku di lihat laki laki yang bukan keluarga ku.


Tidak, dia suami ku, dia mahram ku, dia punya hak untuk semua ini*.


Hati ku gulana dan sibuk berdebat.


Pak Kavin mengecup bibir ku, kembali beralih ke kening ku. Kemudian menarik tubuh ku dalam pelukan nya, ku benam kan wajah ku di dada bidang nya. Bau maskulin khas tubuh nya jelas tercium. Kembali beliau mencium pucuk kepala ku.


"Kan ku jaga kamu dengan segenap hati." Bisik nya.


Aku hanya diam meresapi ketulusan nya.


"Apa mau jalan jalan keluar? " Tanya nya yang langsung mendapat anggukan kepala ku.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung , , , ,


__ADS_2