Diary Miss To Move

Diary Miss To Move
Rindu Yang Tumpah


__ADS_3

Aku duduk di gazebo yang terletak di samping rumahku. Membawa sebotol minuman dan berbagai macam camilan.


Aku asik dengan dunia baru yang sudah lama tak sempat ku singgahi, membaca novel.


Aku sudah meng install aplikasi Novel Toon , dan telah membaca beberapa judul novel dari beberapa penulis.


Aku tidak tau fitur apa saja yang tersedia di aplikasi ini. Yang aku tahu aku hanya membaca dan membaca saat waktu luang.


Dan suatu hari aku bergabung di salah satu grup chat salah satu author.


Disini aku bertemu beberapa rekan baru, dan terbentuklah satu keluarga online.


Kami bercerita, bercanda, curhat dan berbagi pengalaman masing masing.


Di sini lah dan dengan merekalah, karakter ku yang aslinya,,,,, yaaa sudah ku jelas di bab bab sebelum nya, kalian bisa menilai sendiri, kini berubah jauh.


Saat sedang asik membaca dan terbawa arus cerita, tak jarang aku di ganggu oleh panggilan yang masuk.


Aku bahkan mulai lelah dengan nya. Siapa lagi kalo bukan dia. Seorang laki laki yang bernama Alfandy Kavindra yang terkenal dengan kebekuannya.


Pernah suatu hari saat aku menerima tawaran MC dan bang Vhen juga salah satu pengisi acara yang di undang oleh pihak kecamatan dan panitia untuk bermain music.


Dan aku sempat duet dengan bang Vhen di awal acara.


Ketika selesai acara aku melihat kalo bang Vhen sedang berbicara dengan manusia kutub itu.


Dan anehnya mereka terlihat telah saling mengenal dan akrab.


Aku tak bergeming dengan apa yang aku lihat. Bagaimana mungkin laki laki menyebalkan itu akrab dengan bang Vhen.


Di saat aku menghampiri bang Vhen, aku langsung menggandeng tangan bang Vhen. Dan dia hanya tersenyum.


****


Pernah suatu hari saat libur kerja aku pulang ke rumah mama beberapa hari.


Saat itu aku sedang membantu mama di dapur.


Tiba tiba terdengar dari arah dalam suara bang Vhen menyambut tamu.


'Siapa yang datang?' pikirku.


Aku langsung menyambar jilbab dan mengenakannya.


"Ma, ada pak Am." Ucap bang Vhen mengabari ke mama.


"Oh, suruh duduk, mama bikin minum." Jawab mamaku.


Tak lama setelah mama menjawab, muncul pak Am menyusul kami di dapur.


Karena pak Am sudah biasa ke sini, jadi tidak canggung untuk masuk ke dapur.


Aku yang awal nya duduk di meja sambil memotong sayur menyapa pak Am.


Dan, yang membuat aku kaget adalah saat ku lihat sosok laki laki yang muncul dari belakang pak Amrisal.


'Ngapain dia ke sini?'


Gumamku.


Pak Am mengenalkan dia ke mama, dan mengatakan hanya kebetulan lewat lalu mampir ke sini.


Aku membawa semua sayur yang sudah di potong ke meja dapur buat di cuci.


Mama menyuruhku menyediakan teh hangat buat mereka, dan aku menuruti perintah mama.


Bang Vhen mengajak mereka ke ruang keluarga untuk mengobrol, termasuk mama.


Begitu selesai menyediakan minuman di atas meja, pak Am iseng menanyakan ku, yaaaa,,, seputar urusan kerja.

__ADS_1


Kemudian aku berlalu ke dapur untuk menyelesaikan urusan masak memasak.


Mama menghampiriku, menyampaikan bahwa mereka akan makan siang di sini.


Saat makan sedang berlangsung aku tidak banyak bicara, hanya menyimak dan sekali sekali menanggapi mereka.


Dan dia, terlihat sangat tenang dan biasa saja.


Habis ini mereka berencana mau main ke pantai yang terletak tak jauh dari kawasan rumah mama.


Bang Vhen mengajak ku untuk ikut serta, tapi aku menolak. Aku ingin tiduran menikmati masa liburku.


Aku memasuki ruang latihan, memegang biola memainkan music menggambarkan isi hatiku saat ini.


Hati yang sedang di landa rasa rindu yang teramat sangat.


Ku lihat ke arah piano di sudut ruangan, lalu tersenyum seakan melihat kak Arfan yang tersenyum melihat ku,


Ku pejamkan mataku sambil terus memainkan music nya yang terdengar pilu.


Sentuhan tangan nya menyentuh ubun kepala ku seakan terasa hangat. Air mataku akhirnya mengalir.


'Ana uhibbuki fillah, kakak sangat menyayangimu, dek,'


Suara nya terdengar jelas membisikkan kata kata cinta nya.


Ya Tuhan,, rinduku memuncak.


Ku hapus air mataku dengan kedua tangan.


Ku sentuh piano dan duduk di depannya.


Menyentuh tuts piano, dan melihat tangan nya menyentuh jariku.


Ku lihat ke samping dan dia tersenyum manis padaku.


Dia menyentuh jariku, menuntunku menekan tuts piano.


Ku lihat ke arahnya, dan dia melihat ke arahku lalu tersenyum sambil masih menuntunku memainkan music nya.


Bayangan kak Arfan dan ayah membuatku sesak seketika.


Ya Allah aku rindu.


Aku bangun dan mengunci pintu ruangan dari dalam. Meringkuk di balik pintu dan menangis sejadi jadinya.


Ya Allah,,,, rinduku ini akan kah menemukan titik jedanya.


Izinkan aku bertemu mereka, rinduku sudah sangat memuncak.


Aku sungguh tak bisa meredam tangisku. Mengalir begitu saja tanpa bisa ku cegah. Inilah, yang aku tahan terkumpul padat dan sekarang tumpah.


Hingga tangis ku terhenti saat aku tak tau apa yang terjadi setelahnya.


Saat ku buka mataku, aku hanya melihat ruangan berwarna putih dan bau obat.


Aku menyadari bahwa aku sedang mengenakan seragam pasien rumah sakit, dan mengenakan alat bantu pernapasan.


Tangan ku terasa ngilu dan terlihat jarum infus melekat di sana.


Punggung ku sangat sakit, entah sudah berapa lama aku terbaring di sini. Tenggorokanku kering dan rasanya sangat dahaga.


Untunglah seseorang memasuki ruangan.


Deg,,


Itu dia. Alfandy Kavindra yang masih mengenakan seragam kantor, kemeja putih lengan panjang yang lengan nya di lipat hingga bawah siku.


Dia langsung menyapaku, terlihat raut senang dan cemas di wajahnya.

__ADS_1


"Aku mau minum." Ucap ku pelan.


Entah apa yang membuatku bisa meminta padanya. Karena dahaga yang ku rasakan.


Dia langsung eengan sigap mengambil air di nakas dan membantuku untuk minum.


"Maaf," Ucap nya begitu membantuku.


(Jika di bayangkan aku sangat menyesal sekarang, mengapa bisa aku mintai dia saat itu.)


Setelah membantu memberiku air, bang Vhen masuk ke ruangan, dan langsung berhamburan memelukku.


Aku yakin betapa khawatirnya abang saat ini.


Anggota keluarga yang lain juga mlai masuk setelah di kabari oleh dia.


Dokter memeriksa keadaanku, dan menyatakan aku telah melewati 'tidur panjangku'.


Aku masih harus tinggal di Rumah sakit untuk beberapa hari. Karena kondisiku yang masih lemah.


Eva memelukku dan tersedu sedan karena menangis. Aku hanya tertawa sambil menenangkannya. Kondisiku masih lemah.


Dua hari aku di rawat setelah sadar dari koma, pak Am mengunjungiku bersama istrinya.


Setelah bertanya kabar dan mengobrol pak Am angkat bicara.


"Kau tau betapa khawatirnya dia?" Tanyanya.


"Siapa pak?" Aku kembali bertanya.


"Alfandy." Jawab pak Am. "Seperti orang gila dan pucat Yevn. Bapak sendiri ga nyangka dia yang biasa nya dingin, calm, cuek, seperti bagu es, berubah gugup dan khawatir." Ucap pak Am.


Aku melihat ke arah istrinya, dan beliau mengangguk membenarkan ucapan pak Am.


"Bapak sudah menceritakan maksud baik nya pada mama mu, sisanya biar Vhen yang menjelaskan pada mamamu."


Ucap pak Am.


Aku hanya bisa terdiam, akhirnya kabarnya sampai pada mama dan keluargaku.


Yang jelas mama sangat ingin melihatku segera menikah.


"Tak ada kah niat mu menerima dia?" Tanya pak Am.


Aku hanya diam dan tersenyum pada pak Am.


Pak Am hanya menarik nafas panjang mengerti jawaban ku.


Tidak.


.


.


.


.


.


.


Bersambung,


Teman Baru


.


.

__ADS_1


__ADS_2