
"Dek, bagaimana menurutmu? Apa kamu sudah memikirkan waktu yang pas?" Tanya bang Vhen . Semua mata yang hadir di sini melirik ke arahku, semua menunggu jawabanku.
Terlebih manusia kutub yang menatapku seakan tak berkedip sedikit pun. Menanti jawaban yang akan keluar dari bibirku.
"Yevn ikut aja bang."
Dari awal aku memang sudah pasrah dengan jalan hidupku, kutub menunduk lesu. Entah apa yang di fikirkan nya, apa yang membuatnya murung?
Kak Aisyah menuangkan air ke cangkir yang sudah di tata di atas piring kemudian kembali menatanya satu persatu di hadapan bang Vhen dan manusia kutub.
”Eva dimana, dek?" Tanya bang Vhen pada kak Aisyah.
"Di kamar." Jawab kak Aisyah singkat.
"Loh, kenapa ga ikut gabung?" Tanya bang Vhen lagi
"Katanya merasa gak enak gabung di diskusi penting gini." Jawab kak Aisyah setengah berbisik.
"Panggil aja dek, ajak dia gabung di sini." Perintah bang Vhen.
Aku merasa lega mendengar perintah bang Vhen yang meminta Eva gabung disini. Setidaknya dengan kehadirannya bisa sedikit mencairkan suasana yang tegang. Kak Aisyah pun berlalu menuju kamar Eva.
"Vhen, masalah waktu pernikahan ini, aku sengaja ingin mendengar langsung dari Yevn. Sebelum orang tua kita saling bertemu dan membuat kesepakatan mutlak, setidaknya aku bisa mendiskusikannya dengan orangtuaku. Mereka pernah menanyakannya padaku, mengira aku dan Yevn pernah mendiskusikan jadwal pernikahan secara pribadi. Tujuannya hanya ingin membuat Yevn nyaman dengan jadwalnya." Jelas manusia kutub.
"Mereka hanya tak ingin memberatkan Yevn, jika nanti jadwal yang di putuskan tidak sesuai dengan harapan Yevn, dan malah membuat Yevn kecewa." Sambungnya.
"Iya, aku mengerti. Sepertinya kalian memang belum pernah mendiskusikannya berdua secara pribadi. Atau mungkin pernah, tapi tidak imbang atau ada kendala." Ucap bang Vhen membuatku gugup.
Abang mungkin tau bahwa akulah yang tak pernah mau di ajak membahas tentang pernikahan oleh kutub.
Ucapan bang Vhen sudah jelas menunjukkan itu semua.
Karena sebelumnya manusia kutub pernah mendiskusikannya padaku lewat pesan, namun aku tak menggubrisnya.
Di satu sisi, manusia kutub tak menjawab pertanyaan bang Vhen selain hanya mengangguk pelan memikirkan sesuatu di kepalanya.
"Yevn, bener kamu belum memikirkan jadwal yang pas?" Tanya bang Vhen menatap lekat ke arahku.
"Tujuan Kabin baik dek, ingin mendengar pendapatmu langsung, tak ingin membuatmu merasa di ketepikan terkait jadwal pernikahan yang akan segera di putuskan." Sambung bang Vhen.
Kak Aisyah dan Eva sudah duduk di sampingku, menyimak inti dari pertemuan malam ini.
"Insyaallah, Yevn percayakan pada abang dan keputusan orang tua." Ucapku dengan mengukir sedikit senyum pada bang Vhen berusaha meyakinkannya kalo aku baik baik saja dan akan baik baik saja dengan apa pun keputusan nantinya.
__ADS_1
***
"Jadi kapan pertemuan orang tua dari kedua belah pihak akan di adakan?" Tanya kak Sri saat kami bertemu di salah satu kafe.
"Secepatnya kak, sepertinya hanya formalitas saja, mereka sepertinya sudah menemukan waktunya dan sudah menyepakati nya." Jawabku.
"Hehe, hal biasa itu, selain hanya formalitas seperti yang kamu katakan, pertemuan ini juga guna untuk mempererat silaturrahmi antar keluarga. Hmm,,, lantas kenapa kamu terlihat murung?" Aku mendongak melihat ke arah wajah kak Sri.
"Apa begitu kelihatan kak?" Tanyaku pada kak Sri yang hanya menjawabku dengan senyuman penuh arti.
"Aku tidak yakin dengan pernikahan ini kak. Aku melihat pak Kavin tak lebih dan tidak pada mestinya." Keluh ku pada kak Sri.
" Gini loh, Yevn. Yang sedang menghampirimu ini adalah calon imammu, yang akan membangun rumah tangga bersamamu, yang akan mendampingi mu, yang akan membimbing mu, yang sudah siap sejak lama. Coba kamu pandang dia dari sudut ini. Pandang dan jawab dengan jujur pertanyaan yang terus muncul. Jujur dengan hatimu sendiri, 'Apa yang sebenarnya yang kamu harapkan pada laki laki yang akan berdiri di sampingmu'. Satu hal lagi, suami itu bukan dia yang akan berdiri di depanmu, tidak pula di belakangmu, namun adalah dia yang akan berdiri di sampingmu."
"Dulu kakak menilai pak Kavin itu terlalu 'gila', egois memaksakan kehendak untuk mendapatkan sesuatu. Lalu dia mempercaya kan kakak untuk meminta pandangan dari sisi seorang perempuan, sampai kakak menemukan jawaban, apa yang membuatnya begitu keras mengejarmu." Jelas kak Sri.
Aku terus menyimak ucapan kak Sri, ingin rasanya ku tanyakan alasan pak Kavin memilihku sebagai teman hidupnya. Tapi pertanyaan itu jadi tak penting dari kegundahan ku yang terus berlanjut.
***
....
"Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban"
"Ya Rahman,,, kegundahan hati ku ini bersebab, jika sebab nya datang dari keragu raguan hasil bisikan syaitan, maka lindungilah aku, pelihara lah lahir bathinku, tunjukkanlah kebenaran pada tiap langkahku.
Ikhlas itu berat Tuhan,, sabar itu berat, tak semudah teori yang di ucapkan oleh banyak orang. Ku coba ikhlas atas takdir hidupku."
.....
"Fabiayyi ala irobbikuma tukadziban"
.....
"Nikmat mana yang ku dustakan ya Rabb,, sungguh besar dan luas nikmat yang Kau berikan padaku, terlahir dari keluarga penuh kehangatan, kesehatan dari sakit yang mematikan, nikmat makan dan pakai. Kau hadirkan laki laki yang sholeh, Kau berikan cobaan dengan memisah kan kami di dunia, dan Kau ganti dengan dia yang baik budi pekerti. Kau siap kan semua dengan indah. Lantas sabar dan ikhlas ku, masih terus di pertanyakan."
Tok,,
Tok,,
Tok,,,,
Terdengar pintu kamarku di ketuk dari luar.
__ADS_1
"Dek," Terdengar suara bang Vhen yang memanggilku dari balik pintu kamar.
" Iya, bang, masuk aja." Ucapku sambil menutup Quran.
Aku baru saja selesai membaca Al Qur'an usai sholat Maghrib di kamar.
Hatiku sedikit damai begitu berdialog dengan Tuhan lewat surat cinta Nya.
Terlihat bang Vhen muncul dengan kemeja koko berwarna putih dan kain sarung yang masih terikat di pinggang nya. Sepertinya beliau baru saja pulang dari masjid. Aku sendiri masih mengenakan mukenah.
" Kavin ingin menemui mu, seperti nya penting."
Aku mengernyit mendengar ucapan bang Vhen. Apa yang begitu penting.
"Iya." Aku menyimpan Quran dan berniat langsung menemuinya, tapi bang Vhen kembali berucap.
"Mau sekalian makan malam di luar atau di rumah saja kita?" Tanya bang Vhen.
Aku baru ingat, bahwa malam ini kami berencana makan malam ber empat. Yakni aku, bang Vhen, kak Aisyah dan Eva di salah satu cafe. Aku kembali mencerna pertanyaan bang Vhen barusan.
"Apa sebaiknya di rumah saja, dan memesan makanan?” Tanyaku pada bang Vhen.
"Setuju." Jawab bang Vhen cepat.
.....
"Assalamu'alaikum,,,," Ucapku padanya yang sedang duduk di bangku yang terletak di teras samping rumahku.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi,,," Jawabnya dengan wajah berseri.
"Kenapa ga di dalam saja? Apa ini begitu penting?" Tanyaku sambil bercanda.
"Buatku sangat penting untuk melihat bahagia mu tanpa beban." Jawabnya.
.
.
.
Bersambung,,
.
__ADS_1
.