Diary Miss To Move

Diary Miss To Move
Emosi?


__ADS_3

Sama seperti sebelumnya, dia masih berdiri pada posisinya. Aku di buat bingung dengan pendirian manusia es.


*


Hari ini aku ke makam ayah, membersihkan rumbut rumput liar yang tak enak di lihat.


Mengirim doa, dan bercerita seperti biasanya.


Melepaskan rasa rinduku yang terus mengalir.


"Ayah, semua baik baik saja, bang Vhen menjaga kami semua dengan baik. Menantu perempuan ayah juga sangat baik, abang terlihat sangat bahagia."


"Cucu ayah sudah bertambah besar dan pintar. Aku akan mengajarnya bermusic jika kakak tak keberatan. Latihanku juga semakin baik, Yevn akan ingat janji Yevn pada ayah, bahwa Yevn hanya akan memberi kabar yang baik buat ayah. . ."


Aku tertunduk, menahan sesuatu yang membuncah.


"Aku rindu,,, Yevn benar benar rindu pelukan ayah. Yevn rindu tangan kokoh ayah, Yevn rindu yah.... Dengan apa rindu ini bisa terobati yah?"


Tangis ku pecah,, dan aku coba tetap menahannya.


Ku tinggal makam ayah begitu aku tenang.


Melangkah meninggalkan kawasan perkuburan menuju mobil yang terparkir di masjid seberang jalan.


Aku langsung berangkat menuju pemakaman muslim tempat kak Arfan, calon suami yang hingga saat ini masih menjadi pengisi hati.


Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar.


Dua laki laki yang kini hanya bisa ku kunjungi makamnya.


Menapaki kaki di area pemakaman.


Air mataku mulai kembali menetes tatkala melihat nisan dari kejauhan.


Aku menghampirinya, tersenyum seakan dia sedang menyambutku dengan senyumannya.


'Arfan Hadi Al-Ghifary bin Usman Al Ghifary'


Namanya sudah terlihat dari jarak beberapa langkah.


"Assalamu'alaikum warohmatullah,,,,, kak."


Ku sentuh Nisannya dengan tanganku.


Menyunggingkan senyuman meski hati ku rapuh.


Seperti di makam ayah, ku lantunkan bait baik doa pada yang kuasa untuk almarhum.


Menatap ke arah nisan tanpa berucap, lama.


Hingga bulir itu mengalir ke pipi.


"Kakak masih menempati hatiku kak, tak ada yang berubah. Tak akan ada yang bisa merubahnya. Semua masih sama, aku masih menjaga nya dengan baik hingga hari ini."


"Dia masih bertahan, meski sudah ku katakan berulang kali. Bagaimana mungkin aku menggantikan posisimu dengan dia. Biar dia menemukan titik jenuhnya."


"Kak, uhibbuka fillah ,, Allahu ya'lamu qalbi."


Tangisku menderu dengan isak nya.


Rabbi,,


Remuk hatiku menahan rindu yang tak menemukan titik jenuhnya,


Rindu yang masih menguasai segenap hati dan raga,


Jika tak berjodoh di dunia,


Biarkan kami bertemu di jannah Mu,


Sebagai jodoh yang sempat tertunda,.


Jodoh yang menyerahkan segalanya pada Mu,

__ADS_1


Sebagai hamba yang selalu bersyukur dan tawaddu',,


Ya Rahman Ya Rahim,,


Jaga hatiku agar tak lalai dan melampaui batas,


Jaga hatiku untuk lebih mencintaiMu di bandingkan cintaku padanya.


Jaga hatiku agar cinta ini tidak menjadi dosa,,


.....


Aku melangkahkan kaki meninggalkan makam kak Arfan.


Tangisku masih belum reda. Aku merogoh ponsel di dalam saku karena sedari tadi bergetar.


Aku mengusap pipiku, serta mataku yang kabur karena airmata.


Dia berdiri di gerbang makam, iya, dia.


Laki laki menyebalkan dan keras kepala.


"Ngapain?" Tanyaku tanpa basa basi.


Aku tak mengindahkannya, berlalu tanpa menoleh padanya.


"Yevn," Dia memanggil dan terus mengekori langkahku.


"Aku tidak suka di buntuti pak," Ucapku tanpa menoleh sedikitpun.


"Aku tidak membuntuti, aku hanya khawatir."


Jawabnya.


"Terakhir kamu ke sini, langsung drop,,,"


"Bapak terlalu ambil tau semua privasi aku. Dan aku tidak suka itu." Ucap ku memotong ucapannya.


"Jelas aku ambil tau, Yevn. Karena aku peduli." Jawabnya menaikkan suaranya lebih tinggi.


prraaakk...


Ponsel yang berasa di genggaman, ku banting dengan kasar ke sembarang tempat.


Dia kaget dengan tindakanku.


"Astaghfirullah, Yevn."


Dia tidak bisa berkata kata setelah melihat tindakanku.


"Aku punya kehidupan aku sendiri. Kamu gali semua hal tentang aku dari orang orang di sekeliling aku. Bahkan kamu mengikutiky seperti ini. Kamu kira aku nyaman?"


Aku melepaskan kekesalan dan rasa kecewaku padanya.


Aku memungut ponselku yang retak kemudian berlalu meninggalkannya.


"Yevn, Yevn kamu salah." Ucapannya melunak berusaha mengimbangi langkahku.


"Yevn," Panggilnya.


Aku memasuki mobil berlalu meninggalkannya.


Ku arahkan mobil menuju pulang ke rumah.


***


Bang Vhen mengetuk pintu kamarku.


Aku masih setia di bawah selimut, karena libur kerja.


Abang masuk begitu aku menyahut.


Menghampiriku dan menyentuh kening memeriksa suhu.

__ADS_1


"Kamu demam, dek?" Begitu pertanyaannya.


"Hm,, gak. Baik kok, ga fit aja" Jawabku tak menoleh.


"Bangun, mandi, sarapan, minum obat." Ucapnya cerewet. Aku menutup telingaku dengan bantal.


"Di tunggu di luar, buruan." Ucap abang sambil melempar paperbag yang entah apa isinya di atas tempat tidur, tepat di hadapan mukaku.


Setelah abang keluar dari pintu aku memeriksa isi dari paperbag yang di bawa abang.


Ponsel. Sebuah ponsel,, Bagimana bang Vhen tau ponselku lecet dan layarnya retak? Gumamku.


Aku menguping keluar pintu, samar samar terdengar bang Vhen sedang berbicara dan sekali sekali menyebut namaku.


Aku tak mendengar jelas apa yang sedang di bicarakan.


Aku mengenakan jilbabku melangkah keluar kamar. Tak lupa paperbag beserta isinya juga ku tenteng.


Alfandy duduk di sana bersama bang Vhen.


Aku menyerahkan paperbag padanya.


"Maaf, aku ga bisa ambil." Ucapku.


Aku menoleh pada bang Vhen yang melihat ke arahku juga, Bang Vhen menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hmm, aku tinggal, Fan." Ucap bang Vhen serba salah.


Aku menjelaskan bahwa aku tidak bisa menerima pemberiannya. Katanya ponsel itu untuk mengganti ponselku yang telah rusak karena dia.


Aku tetap tidak bisa menerimanya, karena ponselku rusak bukan karena dia. Itu murni karena aku sendiri.


Dia memintaku menerimanya, dan ku tolak keras keras, hingga dia tidak bisa berkutik lagi dengan penolakanku.


***


Aku kembali ke dunia keduaku.


Aku menceritakan hal yang telah menimpaku pada mak Megha.


Mom May juga ikut merespon. Mom May salah satu member vvip di GC Ayu.


Sudah berkeluarga dan memiliki seorang putra.


Sering menasehati kami untuk tidak bergadang, banyak istirahat dan tidak telat makan.


Fifit, Santi juga sering di ingatkan oleh mom May.


Fifit merupakan salah satu panitia keamanan GC Ayu, begitu juga Santi.


Santi juga memiliki masalah urusan perasaan dan hati. Hanya saja bertolak belakang dengan masalah yang aku hadapi. 😂


"Mami, jajan, kak Anast jajan, semuanya kasi Ruru jajan." 😅


Ini Ruru anak asuh Ayu. 😅😂😂


Fadhil, Nathan mulai menonjolkan kegesrekan mereka, tentunya selain New sang ratu Gesrek. ✌


Aku diam diam suka menyimak sambil tertawa. Disinilah, duniaku berubah.


****


Aku meringkuk di sudut tempat tidur, memeluk lutut dan berselimut hinga ke batas leher.


Inilah saat saat aku merasa terpuruk dengan perasaanku. Setelah apa yang terjadi 2 tahun yang lalu.


.


.


Bersambung


Dilamar

__ADS_1


.


..


__ADS_2