Diary Miss To Move

Diary Miss To Move
Ayah....


__ADS_3

Siap siap dapat pc cinta Yevn 😉


Nanti di umumkan nama namanya...


Disini Yevn tidak benar benar menulis novel. Di sela sela kesibukan kerja, Yevn menyempatkan diri menulis kisah pribadi, kisah yang hanya menjadi sejarah buat Yevn.


Ambil ibrah nya saja, yang buruk ketepikan.


😘😘


****


Sudah lebih dari sepuluh tahun, ayah berhenti merokok. Ayah seorang penderita diabetes, yang membuat tubuh ayah yang sebelumnya kekar dan berisi, sekarang mulai kurus.


Karena jenis diabetes ayah bukan jenis jika luka susah sembuh, tapi hanya membuat tubuh ayah semakin kurus. *(orang orang biasa menyebutnya 'diabetes jenis kering. Jika diabetes jenis basah bila terdapat luka susah sembuh bahkan bisa merebak. Tapi menurut dokter tidak ada jenis kering dan basah. Aku tidak tau di daerah kalian bagaimana menanggapi ini).


Di tambah usia yang semakin menua. Tapi ayah tetap semangat dan ceria seperti biasa.


Ayah juga sudah berhenti merokok lebih dari sepuluh tahun. Dulu pada saat ayah ada keinginan buat merokok, ayah selalu menghindar dengan cara makan permen yang ada kopinya.


Bahkan ayah selalu menyediakan stok permen di rumah. Itu tidak berlangsung lama, dan ayah bisa benar benar berhenti merokok.


****


"Ayah gimana kabarnya, bang?"


Tanyaku pada bang Vhen saat sedang telfon.


"Ayah baik, cuma sering susah nafas."jawab abang.


"Yevn nanti coba izin dari kantor minta libur. Nanti munta tolong sama kak Teguh aja, bang." Ucapku.


"Ga apa apa dek, kamu kerja aja, lagian abang kerja ga tiap hari, beda sama kamu. Nanti kalo ada apa apa abang kabari kok."


"Hmmm.... masa libur Yevn masih belum di pake kok bang. Cuma pas sakit kemarin aja. Nanti Yevn coba tanya sama kak Teguh." Jawabku.


Saat ini aku benar benar khawatirkan ayah.


Aku juga sangat rindu sama ayah. Aku ingin segera pulang ke rumah.


Akhirnya aku tolak diam diam tawaran main musik di kota ***, yang mana bayaran yang di tawari sangatlah menggiurkan.


Aku tidak memberitahukan hal ini pada keluargalu, terutama ayah.


Akhirnya aku bisa mendapatkan izin libur kerja, semua berkat bantuan kak Teguh yang mengambil jadwal dinas keluar dan tugas lapangan.


Aku langsung meluncur pulang ke kampung, menuju rumah kelahiranku.


Saat memasuki halaman rumah, ku lihat ayah yang kaget dan senang melihat kepulanganku.


Baru saja keluar dari mobil, aku langsung memeluk ayah, ayah mendekapku.


"Asslamu'alaikum..."


"Wa'alaikumsalam." Jawab ayah.


"Kenapa ga bilang bilang pulang nya? Atau apa hanya ayah saja yang tidak tau?"


Tanya ayah.


"Enggak, semuanya ga tau. Yevn sengaja ga kasi tau, ntar yang ada semua pada ngelarang Yevn pulang." Jawabku.


"Hahaha,,, Di kantor gimana? kamu ga sibuk?" Tanya ayah sambil menatapku curiga.


"Ga sibuk kok, karena santai makanya Yevn bisa izin." Jawabku berbohong.


-


Ayah masih melihatku dengan curiga. Matilah aku....


"Mama.." Tiba tiba ku lihat mama keluar dari samping rumah.


"Kapan sampainya? Kok ga bilang?" Ucap mama.


Inilah kesempatan buat kabur dari lirikan ayah yang menaruh curiga padaku.


Untunglah, karena aku sudah ga sanggup berbohong. Karena pada kenyataan nya, di kantor kerjaan sangat banyak. Rapat dan dinas dimana mana.


Aku langsung memeluk mama, mencium pipi mama. *I love you mom..


Aku langsung masuk sambi menggandeng tangan mama dan ayah.


Tangan ayah memang sudah kurus dan berkeriput.

__ADS_1


Ada rasa sedih saat itu, tapi aku tak mau menghancurkan suasana.


Aku menghabiskan 'liburku' di sini bersama keluargaku. Dan ayah? Ayah baik baik saja di hadapan kami.


Tapi, aku? Aku hanya berpura pura polos menjadi gadis kecilnya yang tak mengerti apa apa.


Sejak kepergian almarhum kka Arfan, aku hanya menunjukkan sisi ceriaku di hadapan keluarga dan kerabatku.


Aku berusaha menutup semua kesedihanku dari semua. Dengan membangun sisi ceria yang membaluti duka ku yang tak kunjung usai.


Kini, di hadapan ayah, sekali lagi ku bangun, ku tutup 'aku mengerti' dengan menjadi polos.


Ayah, aku bukan Yevn si gadismu yang polos lagi. Aku cukup mengerti apa yang ayah tutupkan. Yevn tau ayah sedang membangun menutup kenyataan yang menurut ayah itu akan membuat kami sedih dan khawatir.


Yevn akan ikut arusnya ayah.....


Aku akan tetap menjadi si kecil polos buat ayah.


Selamanya, aku akan tetap si gadis kecilmu....


Gadis yang usil dan lugu.


Aku tak kan berubah, selalu jadi gadis kecilmu....


****


Aku sudah pulang ke rumahku. Kini aku sudah tinggal bersama Eva, sepupuku sekaligus teman baikku.


Aku rutin menelfon ayah, menanyakan kabar. Ayah hanya akan jawab, ayah baik, ayah sehat.


Setelah menelfon ayah, biasanyq aku akan menelfon bang Vhen, untuk menanyakan kabar ayah.


Ayah semakin sering sakit.


Suatu hari, ketika aku baru saja melaksanakan sholat subuh, aku meraih ponselku yang sedari tadi berdering.


"Assalamu'alaikum,..."


"....." Seseorang berbicara di seberang telfon yang membuatku kaku.


Aku sontak tak bisa berkata kata.


"Dek.."


Airmata ku menetes, satu, dua, dah kini deras.


"Dek, pulang, kalo mau ketemu sama ayah, pulang. Ayah dek,, ayah,," Begitulah yang di sampaikan bang Vhen.


Aku langsung menghubungi bu Syarifah membatalkan MC upacaravyang di selenggarakan pagi ini.


Aku menyampaikan maafku dengan tulus, karena mendadak membatalkan kesepakatan.


Aku menceritakan alasannya saat di tanya sam beliau.


Aku langsung berangkat menyetir mobil sendiri yang mana sebelumnya bang Vhen melarangku menyetir karena fikiranku yang kacau saat ini.


Tapi tak ku hiraukan. Aku hanya ingin pulang, dan segera sampai di rumah.


Sesampainya di rumah. aku langsung masuk, dan ku lihat bang Vhen duduk menangis di luar kamar orang tua ku.


Beberapa kerabat dan tetangga dekat sudah di sana. Ayah dah sadarkan diri, nafasnya juga berat.


Ayah tidak merespon orang orang di sekelilingnya.


Aku duduk mengelus rambut ayah yang mulai memutih. Ku pegang tangan ayah, ku cium kening nya.


"Ayah, ini Yevn pulang, bangun yah." Ucapku menahan isak, airmata ku meleleh, xan segera ku usap.


"Ayah, Yevn dah pulang, buka mata nya yah. Yuk bangun, buka matanya." Suaraku mulai bergetar.


Kak Mashel dan beberapa orang mengaji memohon kesembuhan ayah.


Ayah tak merespon.


Tak lama kemudian, dokter dan perawat tiba di rumah dan langsung memeriksa kondisi ayah.


"Gimana dok? oh iya, ayah ada penyakit diabetes dok." Ucapku.


"Oh, iya, kita cek dulu ya bu." Jawab dokter Ferdi.


Setelah di periksa, dokter Ferdi menjelaskan kalo kadar gula ayah menurun drastis dan itu membuat ayah drop. Dan untungnya bisa di sadari penyebabnya.


Akhirnya, sesuai saran dokter Ferdi ayah di bopong ke ruangan yang terbuka dan tidak ber AC.

__ADS_1


Setelah infus terpasang dan ayah di beri air gula sedikit demi sedikit di bibirnya, akhirnya ayah sadar.


Setelah 7 jam ayah tak sadarkan diri. Kini ayah membuka mata, dan bingung dengan keadaannya.


Hari itu, sangat membekas, dan kami sekeluarga meminta agar hari dan kondisi itu tak akan pernah terjadi.


Saat ketika kami merasa takut akan kehilangan sosok ayah.


****


Pagi itu, saat mama bangun hendak berwudhu, mama membangunkan ayah,


"Yah, mama mau wudhu dan sholat subuh, ayah kalo ga kuat buat sholat, ga apa apa." Ucap ibuku berpesan pada ayah.


Saat itu kondisi ayah memang sedang lemah, ayah sedang sakit.


Mama berwudhu dan melaksanakan sholat subuh. Selesai sholat mama melihat ayah tak merespon.


Akhirnya mama viba membangunkan ayah, namun ayah tetap tak merespon.


Mama memanggil bang Vhen dan kak Mashel.


****


Sejak saat itu ayah sering susah bernafas. Akhirnya ayah di rujuk ke rumah sakit. Karena ayah bilang sudah tak kuat.


Pihak keluarga menyampaikan keluhan pada dokter, dan dokter menyarankan untuk rawat.


Tiga malam ayah di rawat, perubahan tidak banyak. Setelah diskusi dengan anggota keluarga, kesepakatan di buat bahwa ayah akan di rujuk di rumah sakit Beng***.


Ayah setuju untuk di rawat. Saat itu aku tak ikut mengantarkan ayah RS Beng**, karena perintah orangtuaku untuk tetap bersama kak Machel yang hanya menunggu hari persalinan.


Habis sholat Isya, ku hubungi mama ku lewat telfon, menanyakan kabar.


Dan ternyata sesuatu terjadi, di sini aku tidak ceritakan apa yang terjadi ketika maghrib di rumah sakit.


Dua jam setelah nya aku kembali menelfon mama.


Aku di kabari bahwa ayah akan segera di operasi. Karena ada masalah sama paru paru ayah.


Pukul sepuluh malam, aku terima pesan dari kak Machel, katanya perutnya mulai sakit, tapi kak Machel tidak tau apakah sakit nya kram biasa atau tanda tanda.


Aku langsung menelfon kak Machel.


"Gimana? apa kita langsung ke RS atau ke bidan?" Tanyaku.


"Ga usah dulu Yevn, sakitnya masih bisa di kontrol, cuma kamu siap siap aja ya, kalo axa apa apa kakak telfon kamu aja minta di bawa ke bidan Nina." Jelasnya.


Aku menanyakan posisi suaminya. Aku meminta kak Machel siapkan semua kebutuhan melahirkan. Hanya untuk jaga jaga.


Saat ini, pikiran ku berbagi.


Di satu sisi, ayah sedang menjalankan operasi dan sudah berjam belum ada kabar.


Di sisi lain kak Machel yang menyambut masa kelahiran anaknya.


Air mata ku menetes, aku tidak bisa tidur sama sekali.


Malam ini menjadi malam panjang buat ku.


2 jam kemudian, aku menerima telfon dari Umi, kakak angkat nya kka Machel.


Aku di kabarkan bahwa kak machel telah selamat melahirkan seorang anak laki laki.


Dan umi sengaja ga menelfonku ketika kak Machel akan melahirkan. Mereka khawatir dengan ke adaanku, yang mana aku sendiri sedang tidak fit.


Aku langsung menelfon mama, dan mendapat kabar, ayah telah selamat menjalankan operasi pemasangan alat di rongga dada ayah.


Tapi ayah masih belum sadar.


****


Tuhan,,


lihatlah, betapa rapuh hati ku saat ini,,


hanya keajaiban dan kasihMu yang ku harapkan kini,,


.....


****


__ADS_1


Bisa mampir di sini juga.


__ADS_2