
Aku dan ka Sri keluar dari mobil, memasuki salah satu rumah makan dan langsung memesan menu makan siang. Perutku sudah sangat lapar karena tidak makan sedari pagi, kecuali hanya minum segelas air hangat.
Terlihat kak Sri juga demikian, beliau bahkan berterus terang padaku tentang betapa lapar yang di rasakannya.
Kami memilih salah satu tempat dengan nuansa outdoor, dekat dengan pohon. Di hidangkan pemandangan dengan tumbuhan di sekelilingnya membuat sejuk mata memandang.
"Gimana kabarmu sekarang?" Tanya kak Sri membuka obrolan.
"Alhamdulillah,, masih bisa menikmati makan enak." Jawabku sambil bercanda.
Beliau teetawa mendengar jawabanku.
"Jadi, bagaimana bisa melakukan hal konyol seperti itu?" Aku di buat salah tingkah mendengar pertanyaannya.
Pasti manusia kutub itu yang menceritakan padanya. Kak Sri memang orang yang di percayakan pak Kutub.
lagi lagi kak Sri tertawa karena melihat ekpresiku. Aku hanya cengengesan.
"Pak Kavin menanggapi gimana setelah kejadian itu?" Tanya kak Sri.
"Hmmm, jaga jarak kak. Aku ga tau apa yang di fikirkannya." Aku melihat kak Sri penuh sesal.
"Kenapa malah memikirkan apa yang di fikirkannya. Karena justru dia memikirkan apa yang kamu fikirkan sehingga bisa nekat gitu." Ucapan kak Sri sedikit di tekan, aku mulai tersudut.
Tepat masanya, pesanan kami sampai, menu yang telah kami pesan sedang di tata satu persatu di atas meja.
Tidak ada obrolan di antara kami.
"Silakan di nikmati makanan nya bu." Ucap pelayannya dengan ramah.
"Terimakasih." Balasku dan kak Sri hampir bersamaan.
"Langsung makan deh, lapar banget seriusan." Ucap kak Sri. Benar yang ku duga, Mungkin jam istirahat kantor tidak di manfaatkan nya untuk makan siang. Sama seperti yang aku lakukan.
Aku menikmati makan siang bersama kak Sri dengan lahap, sambil sesekali menyela dengan perbincangan ringan.
Hingga makananpun ludes tak bersisa.
Meja sudah rapi kembali tanpa ada piring piring kotor yang tersisa. Kak Sri bahkan telah memesan makanan penutup dengan rasa manis.
Aku cukup dengan segelas air putih, karena tidak terbiasa dengan 'makan setelah makan'. Lagian perutku sudah terasa padat, aku bahkan tak menghiraukan kondisi perutku yang kosong justru melahap makanan dengan penuh gairah. Pasti habis ini perutku bakalan sakit dan melilit.
"Kamu kira bakal bisa lepas dari pak Es mu dengan begitu saja? Heh, ga bakalan Yevn." Ucap kak Sri.
"Meski beliau hampir saja kefikiran buat melepasmu pasca kejadian itu. Kamu ga tau betapa hancurnya dia, bahkan mengira kehadirannya begitu sangat tidak di inginkan olehmu. Aku ikut merasakan pas dia cerita sama aku. Kamu belum mengenalnya Yevn. Aku sudah mengenalnya sangat lama, bahkan saat statusnya masih sebagai Kasi Pemerintahan." Ucap kak Sri.
"Masih berat nerima dia?"
Kak Sri kembali bertanya setelah lama terdiam mungkin karena melihatku yang ragu ragu.
"Ini pertanyaan yang ga bisa terjawab olehku kak." Aku merasa kesal dengan diriku sendiri.
"Gini deh, aku ganti pertanyaannya," Kak Sri mulai menyusun kalimat yang akan di siapkan untukku.
"Apa kamu bisa nerima, ikhlas jika manusia es mu bersama perempuan lain, mengejarnya kemudia mereka saling jatuh cinta,?"
__ADS_1
Aku terpaku membisu, pertanyaan yang tidak pernah ku sangka sangka.
Aku melihat ke arah kak Sri penuh selidik.
Yang di lihat hanya tertawa dengan tingkahku.
"Jangan di jawab kalo ragu, cukup jawab dengan jujur pada hatimu."
"Sejatinya kita sama, menjalin hubungan serius lalu menikah di usia muda, bedanya aku dan ayah anak anak saling mencintai. Tak ada hambatan di antara kami, aku bahkan belum wisuda. Tapi takdir Tuhan sangat indah."
Kak Sri bercerita sambil menikmati makanannya.
"Satu hal Yevn, aku sangat tau bosku itu seperti apa, banyak perempuan tergila gila padanya meski sikapnya cuek dan beku membatu. Ga salah kalo kamu gelar dia manusia kutub. Tapi ada satu yang terang terangan ngejar dia, bahkan menemuiku karena tahu kedekatanku sama pak Kavin." Aku menilik wajah kak Sri yang berucap santai namun menekanku dengan peringatan peringatan yang di susun manis.
"Ozy?" Selidikku.
Kak Sri menatapku dengan senyum smirk nya.
"Kenapa kamu langsung menebak nama Ozy?" Tanya nya.
"Iyahhh,, bukankah kemarin dia terang terangan berucap demikian, bahkan tingkah nya selalu mencolok mendekati bos nya itu." Tuturku terus terang.
"Hmm,, bener juga ya. Sepertinya bukan rahasia umum lagi, bahkan orang orang banyak yang mengira mereka ada apa apanya. Status dan posisimu sedikit di ragukan."
Aku hanya tertawa geli dengan kalimat akhir dari ucapan kak Sri.
"Kemarin dia mengirimiku pesan." Ucapku melaporkan pada kak Sri, mungkin kak Sri tau apa maksud Ozy mengirimiku pesan seperti itu.
"Oh iya? Maksudmu Ozy kan?" Kak Sri tertarik dengan ceritaku.
"Hmmm, sebenarnya ini yang ingin ku sampaikan padamu." Aku mengangkat sebelah alis mengira ngira ucapan kak Sri.
"Ozy tadi pagi menemuiku," Kak Sri mulai memberi kabar.
"Dia menanyakan hubungan antara kamu dan pak Kavin. Sebenarnya dia kaget begitu melihat pak Kavin yang berbalik arah menyusulmu, yang dia kira pak Kavin berniat menyusulnya saat kalian akan pulang dari acara di ekowisata Mangrove tempo hari. Bahkan katanya beliau lebih kaget ketika pak Kavin menggenggam tanganmu dan menarikmu ke mobilnya."
Kak Sri bercerita dengan pelan tak buru buru. Mungkin tak ingin aku melewatkan informasi yang di sampaikannya.
"Ozy menyangka kamu melangkahinya untuk dekat sama pak Kavin, aku sudah menjelaskan kebenarannya sama Ozy. Tapi dia rada rada ga percaya, aku bahkan semakin muak dengan sikapnya yang ga tau sopan santun. Baru magang aja belagu nya minta ampun."
Aku tak merespon omongan kak Sri dan rasa kesalnya. Yang aku fikirkan hanyalah bagaimana aku akan menghadapi Ozy ketika kami bertemu.
.
.
***
....
Aku tiduran di sofa ruang keluarga sambil menonton cartoon Spongebob. Tadinya aku mau ke studio music bang Aye, tapi mood ku berubah.
Hari semakin sore, aku mengenakan daster panjang dan handuk yang menutup kepalaku. Niat nya mau mandi tapi malah nyangkut menonton cartoon.
Hingga aku terbang di bawah alam sadarku. Mimpi yang sama terus berulang menghampiriku.
__ADS_1
"Yevn, Yevn, singaaaaa, bangun ga elu, melek oiy, melek, gue siram ya pake air es, bangun ga lu, sumpah susah banget di bangunin."
Suara Eva terdengar semakin jelas, hanya mataku belum sepenuhnya terbuka.
"Kuntilanak dari mana ini, sejak kapan kamu jadi kunti Va? Kok ga bilang bilang?" Ucapku setengah sadar.
"Kuntilanak dari masa Dinasti abasiyah. Bangun lu cicak, kalo elu ga mau dapat malu, mending cepetan bangun." Ucap Eva berteriak di telingaku dengan setengah berbisik.
"Masih ga bangun dia Va?" Ucap suara laki laki yang sangat ku kenal, Bang Vhen.
"Iya nih bang, kebiasaan yang sulit untuk di hilangkan." Suara Eva membuat geli aku yang mendengarnya. Sementara bang Vhen terkekeh.
"Beruang kutub es balokmu di sini," Ucapan Eva membuat mataku terbuka sempurna.
'Dia di sini? aku tertidur sudah berapa lama? apa sudah 3 atau 4 hari? Bukankah katanya dia akan pulang beberapa hari lagi?'
Aku berbalik badan melihat Eva yang kaget dengan gerakanku yang tiba tiba.
Kemudian senyum jahatnya terukir seketika.
Aku sedikit memiringkan kepalaku, menoleh ke asal suara yang sedang berbicara dengan bang Vhen. Aku cepat cepat menarik tangan Eva mengajaknya masuk ke kamarku, menghindari badai yang ada di dekatku.
Belum sempat membuka pintu kamar, badai berhasil meremukkan tulang dan membuat kaku sendiku. Bang Vhen melangkah dan Kavin yang tersenyum senang padaku.
"Mau kemana dek?" Tanya abang.
"Hah? Mandi, iya aku mau mandi." Jawabku gugup, ujung handuk ku tahan dengan tanganku agar tak lepas menutup kepalaku. Aku janji sehabis ini aku akan berterima kasih pada handuk yang menyelamatkanku dan menjaga aurat ku di masa terdesak seperti saat ini.
"Trus ngapain aku di tarik tarik?" Eva nyerocos polos.
Membuat aku segera membuka knop pintu dan meninggalkan Eva di depan pintu kamarku.
Tidur di waktu sore emang tak baik untuk di lakukan, selalu saja mendatangkan sial buat aku. 😥
.
.
.
"Katanya masih 3 atau 4 hari lagi di sana, mau sekalian liburan." Aku berucap sambil menuangkan air saat makan malam.
Bang Vhen, kak Aisyah, Eva, dan manusia kutub sedang menjamu hidangan yang tersedia di atas meja. Aku hanya menonton kegiatan mereka dengan segelas air hangat.
Semua mata mengarah kepadaku.
"Ini urusan mu Vin, aku ga ikut campur kalo perempuan yang ngambek susah jadinya." Bang Vhen mulai berseloroh.
.
.
Bersambung,,,,
.
__ADS_1
.