
"Katanya masih 3 atau 4 hari lagi di sana, mau sekalian liburan kan katanya." Aku berucap sambil menuangkan air saat makan malam.
Bang Vhen, kak Aisyah, Eva, dan manusia kutub sedang menjamu hidangan yang tersedia di atas meja. Aku hanya menonton kegiatan mereka dengan segelas air hangat.
Semua mata mengarah kepadaku.
"Ini urusan mu Vin, aku ga ikut campur kalo perempuan yang ngambek susah jadinya." Bang Vhen mulai berseloroh.
"Apaan? Emang kak Aisyah yang suka ngambek?" Ucapku yang di sambut tawa pecah dari kak Aisyah.
Manusia kutub hanya diam dan menyunggingkan senyumannya. Bahkan tak menghiraukan pertanyaanku.
Aku meliriknya dengan kesal, melihatnya masih makan seperti dengan yang lainnya dan sesekali membalas ucapan bang Vhen.
Satu suapan,,
Dia masih asik mengobrol dengan bang Vhen.
Dua suapan,,
Masih terus saling mengobrol, 😒
Tiga suapan,,
Oh,, dan aku benar benar di acuhkannya. 😒
Dan itu membuatku cukup kesal.
Aku memainkan ponselku membuka aplikasi Noveltoon, membuka satu persatu grup chat dan comot comotan kotak hadiah.😂
Aku tak menghiraukan orang orang yang di sekelilingku yang asik dan senang mengacuhkanku.
",,,,,"
"Dek, temanmu yang jago main gambus itu, siapa? Dia ga terpilih untuk ikut acara di Lombok itu?" Suara bang Vhen jelas terdengar olehku. Tapi aku memilih diam sebagai bentuk protesku.
Entah mengapa moodku agak oleng sejak kemarin. Yang aku duga ini efek yang muncul berbarengan dengan sakit di punggung hingga ke pinggang yang sekali sekali muncul. Jadwal rutinku sebelum tamu istimewaku berkunjung.
"Dek,,"
Belum sempat melanjutkan kalimatnya, bang Vhen terdiam karena mendapatkan sengatan listrik yang mengalir dari mataku. 😂
"Aku salah lagi deh kayaknya." Ucap bang Vhen.
Eva dan kak Aisyah tertawa cekikikan. Pak Kavin terlihat melihatku penuh kemenangan. Tapi, kemenangan apa?.
Aku membuang mukaku dari nya dan melanjutkan comot comot kotak melepaskan kekesalanku,, terus comot,,, terus comot,, hoorraaayyy... banyak yang lose. 😅😂
Usai makan, aku membersihkan meja makan, mencuci piring di bantu oleh Eva. Sementara kak Aisyah sudah berlalu membawa teh manis ke ruang keluarga yang sudah berkumpul bang Vhen dan manusia serigala itu.
"Sedang jadwal rutin bulanan?" Tanya Eva padaku.
"Enggak." Jawabku santai sambil terus mencuci piring di bantu Eva.
"Sebenarnya aku lagi banyak pikiran Va," Ucapku lagi.
"Hmm, masalah dengan kak Teguh?" Eva menebak.
"Beda lagi, ini tentang Ozy." Jawabku.
"Ozy? si Ana? Karyawan si onta gurun kan?"
"Iya.,,, dia." Jawabku singkat.
"Kenapa lagi dia?" Tanya Eva sambil terus melanjutkan membilas piring yang sudah ku cuci dengan sabun.
__ADS_1
Aku mencuci kedua tanganku dan mengelapnya. Eva masih menunggu jawaban dariku.
"Ah, sudahlah, aku lagi ga mau mikir atau bahas itu, apalagi ada manusia serigala."
Eva diam dan menganggukkan sedikit kepalanya. Sebenarnya aku tak ingin membagi masalah ku dengan Eva, karena dia masih banyak masalah terkait hubungannya dengan Rahmad tunangannya. Entah bagaimana hubungan mereka sekarang.
"Masalahmu gimana?" Tanyaku hati hati.
"Aku?" Eva terlihat gelisah, beliau selesai menyeka tangannya yang basah dengan handuk kecil karena telah selesai mencuci piring.
"Iya, Kamu sama Rahmad gimana? Udah baikan?" Tanyaku lagi.
"Entahlah, lihat saja kedepannya, kalo jodoh kan ga kemana." Ucapnya. Aku menyadari Eva sedang tidak ingin membahas masalahnya. Dan aku bisa mengerti itu, mungkin masalahnya belum selesai.
....
Usai shalat Isya, aku duduk di ruang keluarga menonton tv. Kebetulan tidak ada siapa siapa. Mungkin pada ke masjid, hanya ada Eva dan kak Aisyah yang sedang menikmati camilan mereka.
Aku memeriksa area luar rumah, mobil manusia kutub masih ada. Jadi beliau ke masjid bareng bang Vhen jalan kaki.
.
.
.
.....
"Masih marah?" Tanya pak Kavin dengan lembut.
"Tidak," Jawabku cuek.
"Terus?" Tanya beliau.
"Terus maju, belok kiri, luruuuss ke kanan, muter setengah putaran, luruuus lagi, belok ke kanan,, nah ketemu tembok gede, tabrak aja." Jawabku kesel.
"Kutuuuuuubbbb....." Aku menggeram.
"Oooooiiiiyyy."Jawabnya datar.
Ingin rasanya aku menjerit saking kesalnya. Tapi aku hanya bisa mendengus kesal.
"Katanya pulangnya masih beberapa hari lagi. Tiba tiba nongol." Ucapku.
Laki laki di depanku ini hanya menatap ke arahku.
"Kenapa? Bukannya bagus. " Ekspresi datarnya masih ga berubah. Aku benar benar bisa gila menghadapinya.
"Ogah."
"Oleh olehnya mana?" Tanyaku yang berubah tiba tiba. Aku sendiri bingung dengan perubahan sikapku padanya, yang kini terkesan sedikit 'manja' mungkin.
Entahlah, aku tidak yakin itu, perubahan hormon padaku membuat semuanya berlalu tanpa di sangka sangka.
"Ga ada." Jawabnya datar.
Aku memanyunkan bibir, dan kembali membuka buku elektronik, aku sudah pusing di tambah ngadepin orang beku, batu seperti ini.
"Ada, di mobil, ambil gih." Ucapnya.
"Ga usah." Aku mulai lagi dengan sikapku yang berubah ubah.
"Ngambek." Ucapnya.
"Gak." Jawabku cepat dan singkat.
__ADS_1
"Aku mau nanya," Pak Kavin mulai terdengar serius.
Aku hanya diam menunggu ucapannya.
"Sudah ada secebis hati untukku?" Tanya pak Kavin yang terlihat menatap ke arahku menanti jawaban yang akan aku berikan.
Sebenarnya aku tak ingin menjawabnya, karena itu hanya akan mengecewakannya.
Pak Kavin hanya tersenyum meundukkan kepalanya, karena lama aku hanya terdiam. Seakan dia tahu arti dari diamku.
"Cintaku pada kak Arfan sudah cukup. Aku hanya mencintainya seumur hidupku."
"Masuk ke dalam yuk, disini terlalu dingin." Ucap pak Kavin seraya bangkit dari duduknya.
.
.
.
.
.
Hari ini tepat jam Tiga sore aku masih di kantor siap untuk pulang. Aku masih menunggu Eva yang katanya masih ada sedikit kerja sebelum bisa pulang. Sekarang pergerakanku sedikit di batasi, aku belum di izinkan membawa mobil atau motor oleh bang Vhen dan mama pasca keluar dari rumah sakit. Mereka khawatir aku akan nekat melakukan hal hal bodoh lainnya.
Aku masih menunggu Eva untuk berangkat ke kantor kecamatan X secara pribadi sebagai masyarakat yang tinggal di kawasan kecamatan X, bukan karena urusan antara kantor. Ini terkait masalah keberangkatan membawa nama kecamatan dan pertamina atas bakat bermusikku ke Lombok. Yang mana sebenarnya aku belum menjawab antara setuju ataupun menolak.
Meski aku tak sempat mengganti seragam kantorku, karena lebih efesien dan hemat waktu jika aku langsung menju ke kantor kecamatan X, dari pada harus pulang ke rumah untuk berganti seragam.
Tiba di kantor kecamatan X, aku menyapa bang Sigit, bang Jun, bang Indra yang duduk di lobi kantor. Eva memilih untuk menunggu di dalam mobil.
Ternyata rapat sedang berlangsung, aku sedikit terlambat. Ketika memasuki aula rapat yang terletak di lantai dua, aku di sambut oleh anggota rapat yang terdiri dari beberapa karyawan kantor yang terlibat, beberapa laki laki yang ku kira merupakan orang orang dari pertamina, anggota humas, pak Amrisal, dan yang pastinya kepala tuan rumah sendiri, Manusia Kutub.
Saat jeda rapat, aku izin untuk ke musholla kantor untuk sholat Ashar. Karena diskusi nya masih akan berlangsung, aku tidak menjamin jam berapa akan tiba di rumah, dan waktu zuhurku pasti akan lewat.
....
"Hallo, Yevn." Ucap wanita yang berdiri di hadapanku saat aku mengenakan sepatu usai sholat. Aku sedikit kaget dengan kehadiran Ozy.
"Eh, Ozy,," Ucapku sambil memaksakan tersenyum padanya.
.....
.
.
.
.
",,,,Lepaskan pak Kavin, Yevn."
Aku tercekat dengan apa yang Ozy katakan padaku.
,,, Aku tersenyum pada Ozy yang balik membalas senyumku.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung,,,,