
"Ngelamar??!!" //Tenang Va, jangan jadi aktor ikan terbang deh.
"Tapi wajar sih Yevn, kalo lelaki pada ajak lu nikah. Elu cakep, ada darah Rusia. Tapi tetap ga wajar juga sih, secara elu itu singa."
Mendengar ucapan Eva, membuat dia mendapat lirikan maut dariku.
Eva lantas cengengesan dan mengangat 2 jari nya ke arahku. Peace β..
"Mbah Es mu tau?" Tanya Eva yang senang menggonta ganti nama orang dengan gelar yang banyak dan tak wajar....
Aku hanya mendengus dengan berat lalu menggelengkan kepala.
"Waahh,, kasus lu berat ini weh,, tapi sebenarnya lu sendiri yang memberatkannya." Ucap Eva.
"Loh,, kok aku?" Aku mengangkat wajah.
"Gue tanya ya, cincin tunangan lu mana? Ga lu pake kan. Itu baru satu masalah." Ucap Eva menyudahi sarapannya dengan segelas air.
Aku hanya terdiam menatap gelas yang sudah kosong di atas meja. Eva langsung membawa piring dan gelas kotor ke belakang buat di cuci.
.
.
.
Tiba di kantor aku dan Eva berpisah menuju ke ruangan masing masing.
Ucapan Eva masih bergema di fikiranku.
"Assalamu'alaikum." Sapa seseorang dengan lembut sudah berdiri di samping meja ku.
"Wa'alaikumsalam,, kak Desi." Aku menyunggingkan senyum ramah pada beliau.
"Pagi pagi dah ngelamun. Ntar jauh dari jodoh loh.." Ucap kak Desi menggodaku.
Dia ga tau aja, kalo aku sudah sah menjadi tunangan orang dan akan segera menikah, ini berhasil membuatku pusing tujuh langit.
"Hehehe. Ada apa kak, ada kerja dadakan kah?" Tanyaku, seingatku hari ini tidak ada jadwal keluar dari kantor atau rapat apa apa.
"Ga ada, tim Syam yang keluar hari ini." Jawab kak Desi yang langsung duduk di kursi tepat di hadapan meja ku.
"Hm,, Yevn, masalah.."
"Kak Jerry udah cerita ya kak?" Aku langsung menebak arah pembicaraan kak Desi. Benar saja, beliau langsung mengangguk.
"Ga masalah sih kalo kalian menjalin hubungan, kalo sama sama suka. Tapi masalah nya kamu sendiri ga suka sama dia." Kak Desi langsung ke inti pembahasan.
__ADS_1
Kepalaku mulai 'nyuuuuuuttt' banget, (jadi ingat iklan di tvπ ).
"Aku suka sama dia kak, aku seneng sama kak Teguh,,"
Mata kak Desi membulat sempurna, terperangah dengan ucapanku yang belum sampai ke titik.
"Seriusan? Jadi kamu suka sama dia"
(Makanya, buat laki laki jangan gantungin kalimat kalian, pilih kalimat yang mudah di mengerti biar cewek cewek ga salpah sama kalian. Apa lagi kalo cewek nya baperan. Seperti ini, kak Desi aja langsung berkesimpulan sendiriπ π π).
"Aku emang suka sama dia, tapi cuma sebatas teman, aku cuma anggap dia itu kakak sekaligus teman kantor. Apalagi kita satu tim. Aku justru menyayangkan situasi seperti sekarang. Aku ga bisa." Aku berterus terang pada kak Desi.
Kak Desi mulai memahami situasinya. Meski tidak sepenuhnya, karena beliau tidak tau kondisiku yang sebenarnya.
"Tapi kan bisa di coba dulu, Yevn."
Aku hanya menggelengkan kepala pelan dengan lemah mendengar kalimatnya yang memintaku mencoba membuka hati.
"Yah, kakak tau kamu belum bisa menerima laki laki lain setelah di tinggal almarhum. Tapi kan bisa di coba pelan pelan. Ataaaaau,, apa mungkin kamu sudah ada rasa sama laki laki lain."
Aku mendongakkan kepala menatap lekat ke arah kak Desi. Ku tarik nafas dengan penuh nafsu seakan takut kehabisan oksigen, kemudian menghempasnya dengan ragu.
"Aku sudah bertunangan kak."
Mata kak Desi kembali membulat.
"ssstttt.... " Aku melihat sekeliling memastikan tidak ada yang mendengar.
"Sama siapa? Kapan? Kamu suka sama dia? Kok bisa? Tapi,, kamu jahat loh, ga ngabarin."
Mulai, ini nih kebiasaan kak Desi. Aku hanya menggeleng cepat menjawab semua pertanyaan kak Desi.
"Heiy,,,,!! masih pagi dah pada ngerumpi."
"Eh copot copot, mati kau copot, palamu ku copot."
Seketika ruanganku heboh dengan sergahan kak Jerry yang tiba tiba datang mengagetkan dengan hentakan tangannya di daun pintu ruangku. Di tambah kak Desi yang melatah. Alhasil kak Jerry dapat semprotan dari kak Desi si ratu latah yang mengomel padanya.
Kak Teguh juga masuk menyusul kak Jerry. Ternyata sedari tadi, mereka mencari kami. Ini lah tim kami, yang di kenal dengan sebutan tim Jerroszt, entah siapa yang awal memberi gelar pada tim kami. Dalam kelompok hanya aku yang masih junior. Tapi aku bersyukur bisa di angkat dan masuk ke tim senior.
Ku lihat kak Teguh yang ternyata juga melihatku. Kami hanya bersikap seperti biasa, aku harap selama nya seperti ini. Tidak ada yang merubah apapun yang membuat renggang hubungan tim.
"Pada bahas apa sih? Gosip murah apa berkelas?" Tanya kak Jerry.
"Bukan gosip, tapi hot news." Ucap kak Desi.
Aku coba menjangkau kaki kak Desi dengan kakiku. Berusaha memberi kode padanya untuk tidak kelepasan. Tapi sia sia, kaki ku tak juga menyentuh bahkan ujung sepatunya. Apa mungkin kaki kak Desi ga napak? Beliau melayang? π±π¨
__ADS_1
"Yevn udah di lamar, eh salah,, tapi udah sah jadi tunangan orang."
Aku hanya memejam mata duduk di tempat tak bergerak, bahkan tak bisa bernafas. Menyayangkan apa yang baru saja terucap dari bibir wanita di hadapanku. Entah keceplosan atau sengaja yang berisi makna yang tersurat dan tersirat, entahlah.
Sontak semuanya heboh, aku hanya cengengesan mendengar dan melihat mereka yang heboh sendiri.
Ku lirik kak Teguh yang masih bersikap wajar. Beliau mengulurkan satu tangannya, dan mengusap kepalaku, lebih tepatnya mengacak.
Aku tercegat dan tertegun dengan sikap yang beliau tunjukkan padaku.
.
.
.
***
"Weh, tungguin gue.." Teriak Eva saat jam istirahat kantor. Beliau membawa tumpukan berkas yang di peluknya.
"Bahasa kamu lebih sopan ya. Mau di kasi hukuman lagi." Protes kak Jerry yang mendengar teriakan Eva masih menggunakan bahasa non formal di jam kerja. Terutama pada senior.. π π π Sabar Va..... π
Eva hanya menggeleng mendapat protes dari seniornya. Aku hanya tertawa geli melihat ekspresinya.
"Tirex.. sial banget gue hari ini." Eva merungut setengah berbisik padaku. Kami melangkah beriringan, aku masih tertawa karena kesialannya hari ini.
"Tim kalian isinya memang buas semua ya,, Jerry Tirex, elu Singa, bu Desi vulture, kak Teguuuhh,,, dia yang sedikit sopan, tapiii,, kalo marah ampun ,,, seperti kodomo,,!! eh, kok kodomo, apa itu,, itu yang kek kodomo itu apa? ah main lupa lagi,, ganti aja deh, kak Teguh kek biawak."
Aku tertawa terpingkal pingkal mendengar Eva yang nyerocos dari tadi, mana kalimatnya,,,, ampun,, ππ
.
.
****
"Kamu sibuk di kantor?" Tanya mama, saat kami sedang komunikasi lewat telfon.
"Lumayan ma, ada apa? Mama sehat?"
Tanyaku mulai cemas pada mama.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung,,