Diary Miss To Move

Diary Miss To Move
Hah????


__ADS_3

Beberapa bulan setelah kepergian ayah, aku memutuskan untuk memiliki rumah sendiri dengan tabunganku.


Mama awal nya keberatan dengan keinginan ku. Karena ayah pernah berpesan bahwa rumah itu akan di serahkan untukku.


Aku terus membujuk mama,, sangat sulit. Aku menjelaskan pada mama, aku ingin membangun rumah untuk investasi masa depan.


Banyak alasan ku berikan demi meyakinkan mama. Bang Vhen sendiri juga awalnya tidak setuju dengan pilihanku. Tapi setelah ku jelaskan semuanya, akhirnya dia mendukungku.


Aku bertahan dengan rinduku yang kuat. Pada ayah, sosok ayah yang selalu ada mendukung ku.


Pada dia yang pernah hadir dan singgah di dekatku, dan kini menetap di hati.


Aku yakin Tuhan punya rencana lain, rencana yang jauh lebih indah. Meski entah kapan itu.


Aku ingin coba merelakan, mengikhlaskan jalan takdir hidupku. Karena hingga saat ini aku sendiri bahkan sulit menerimanya..


****


Hari ini aku menjalani rutinitasku seperti biasa. Jadwal kantor yang padat, perjalanan dinas keluar kota.


Kepergian sosok seorang ayah membuatku sangat terpukul.


Bagaimana pun juga hidup harus di jalani, serapuh apapun hati dan perasaan saat ini, menangis tidak akan membalik kan keadaan.


Drrttt,,drtrrtt...


Aku meraih ponsel yang bergetar di atas meja di sampingku.


"Hallo" Sapaku.


"Assalamu'alaikum, bu Yevn" Ucap suara di seberang telfon.


"Wa'alaikumsalam warahmatullah,,,"


"Ini kakak dek, kak Sri."


"Oh, iya, gimana kabarnya kak?"


"Al**hamdulillah, baik. Kamu gimana kabarnya? sibuk ya?"


"Alhamdulillah kak, masih di berikan kesehatan. Sibuk,, yaah ga juga lah kak,,,"


"Ga sibuk, tapi bikin susah gerak ya? hehehe"


"Hahahaha, ada ada aja kak Sri."


"Gini de, pak Amrisal dah ada nyampaikan ke kamu ga, ini masalah dari pihak kecamatan minta tolong sama kamu buat jadi MC?"


"Iya kak, ada kemarin dia hungungi aku lewat telfon."


"Jadi gini, besok sore akan di adakan rapat di kantor, kamu di minta hadir dalam rapat panitia penyelenggara."


"Hm,, saya hanya akan datang jika di minta sama pak Amrisal selaku ketua panitia kak. Dan sampai sekarang saya tidak mendapat kabar dari ketua."


"Ini arahan dari sekretaris kecamatan dek."


"Maaf kak, saya nunggu kabar dari pak Am saja kak. Mungkin dari pihak kecamatan bisa langsung menghubungi ketua. Jika nanti rapatnya melibatkan pengisi acara, pasti di informasikan sama ketua."


"Ok, baiklah dek, nanti kakak sampaikan."


"...."


Aku melanjutkan pekerjaanku yang hampir selesai.


"Yevn," Sapa kak Teguh dari pintu.


Aku menoleh ke arahnya yang sedang berjalan menghampiri ku.


"Mau ikut nugas lapangan? Aku belum masukin nama nama yang ikut nugas ini" Ucap kak Teguh.


"Acara apa ?" Tanyaku


"Kenduri Melayu yang di adakan Dinas Pariwisata, lokasi nya di pantai kecamatan A"

__ADS_1


"Oh, jadwal nya besok itu kak. Hmm, seperti nya ga bisa ikut, jangan masukin namaku ya" Ucapku sama kak Teguh.


"Laahh,, ada kerja kamu? Ini udah hampir selesai juga kerja nya. Ikut ya,.." Ucap kak Teguh.


"Hmmm, gimana ya, barusan dapat telfon dari kecamatan X, minta aku hadiri rapat panitia sama pihak kecamatan. Aku sih belum iyain, karena dari pihak ketua belum ngabari apa apa. Aku kan di mintai kemarin sama ketua penyelenggara nya. Ya, aku ikut prosedur dong."


Jelasku dengan di simak oleh kak Teguh.


"Iya lah, harus gitu. Terus?? Gimana?" Tanya nya.


"Iya, aku nunggu kabar dari pak Am aja sih selaku ketua panitia." Jawabku.


"Oke lah, tapi kalo besok ga ada jadwal kabari aku ya. Nanti di tambah anggota, lagiankan lumayan."


"Siap, bos." Jawabku.


Tiba tiba kak Desi muncul menghampiri, mengajak makan siang.


Karena kak Teguh sudah di tinggal sama teman teman nya, akhirnya beliau gabung bersama ku dan kak Desi.


****


Jam 16.30 aku memilih untuk pulang dari kantor setelah menyelesaikan pekerjaan ku.


Setelah merapikan meja, ku sambar tas dan kunci mobil di nakas.


Saat melewati lorong menuju pintu keluar menuju parkir, terlihat anak magang yang berlalu lalang.


Ada yang menyapa ku, "Sore bu" dengan ramah, segan daaaann πŸ€”atau mungkin takut πŸ˜…πŸ˜‚.


Terdengar bisik bisik dari teman teman ku yang mengatakan sebagian dari anak anak magang menilai bahwa aku sosok wanita yang dingin. Sehingga membuat mereka serba salah mau menyapaku.πŸ˜‚


Saat menuju ke arah mobil, telfon ku berdering. Ku lihat, itu dari pak Amrisal.


"Hallo, assalamu'alaikum." Jawabku.


"Wa'alaikumsalam. Yevn besok bisa hadir di kantor kecamatan ikut rapat panitia?"


Tanya pak Amrisal.


"Jam tiga sore mulai rapat." Jawab pak Amrisal.


"Oke pak, insyaallah." Jawabku.


"....."


****


Keesokan harinya, aku ke kantor hanya sebentar dan langsung izin pulang karena tubuhku merasa tidak fit.


Aku hanya baring dan tidur setelah minum obat. Bang Vhen menghubungi ku ketika tau kondisi ku dari Eva.


Abang tidak bisa datang karena sedang ada kerja. Tapi beliau akan langsung datang begitu kerja nya selesai.


Terdengar suara bang Vhen yang cemas. Padahal aku hanya kurang fit. Kadang menurutku rasa cemas beliau terlalu berlebihan.


Saat bangun dari tidur, Aku lihat jam menunjukkan pukul satu siang.


Aku bangun membuka kulkas dan mencari camilan . Ku nyalakan tv mencari chanel film horror atau kartun, sambil satu tangan mengambil makanan.


Jam dua lewat aku siap berpakaian dan berkemas. Aku berangkat bersama Eva, aku meminta Eva mengantarku dan membiarkannya ke kantor membawa mobil.


Artinya sebelum pulang Eva harus mampir ke tempat rapat ku dulu.


"ok. makasih, hati hati di jalan." Ucapku pada Eva saat tiba di depan kantor kecamatan X.


"..."


Aku melangkahkan kaki menuju pintu masuk kantor.


Saat masuk kak Sri menyambutku dengan ramah. Beliau mengantarkan aku ke ruangan rapat.


Kebetulan di sana sudah hadir beberapa pengisi acara yang aku tidak kenal.

__ADS_1


Aku memilih duduk di sofa, kepala ku rasanya sangat berat. Tubuhku panas dingin.


Beberapa orang mulai masuk, dan aku tidak terlalu memperhatikannya.


Aku hanya duduk diam menyimak sambil membaca susunan acara.


Selesai rapat aku berniat ingin pulang melanjutkan rebahan di peraduan.. Tapi rekan panitia menahanku untuk makan bersama.


Akhirnya aku mengiyakan karena Eva belum bisa menjemputku.


Saat makan aku merasa sedang di perhatikan, tapi ketika ku edarkan pandangan, tak ada satu pun yang melihatku.


Aku mengabaikan nya. Mungkin hanya perasaan ku saja, begitu fikirku.


Selesai makan makan aku duduk di depan musholla milik kantor yang terletak di samping kanan bangunan kantor.


Letak bangunan musholla dengan bangunan kantor di buat terpisah.


Disampingnya tersedia kursi berbahan dasar kayu.


Disini aku duduk sambil menunggu Eva.


Tiba tiba dari arah tempat wudhu muncullah seorang vampir. πŸ˜‚πŸ˜…


Hanya bercanda ✌


Muncul seorang laki laki dengan rambut yang masih basah terkena air wudhu.


Wajahnya tidak asing bagiku, aku coba mengingat dan gagal. Akhir akhir ini ingatanku tidak kuat. Mungkin karena faktor usia. πŸ˜…πŸ˜…


Dia lumayan, tinggi dan berkulit putih, terbilang tampan.


Hanya saja, auranya tidak bersahabat.


Aku mengabaikannya, mengambil earphone dari dalam tas dan mengenakan nya. Ku putar music dari ponsel ku.


Beberapa lagu sudah ku dengarkan dari berbagai genre.


Tiba tiba seseorang duduk di sampingku, ku lihat laki laki tadi sedang mengenakan sepatunya.


Aku tak menghiraukannya. Karena merasa tidak nyaman aku melepas earphone dan memasukkan nya kedalam saku tas, berniat ingin beranjak dari sana.


"Nunggu jemputan?" Tanya nya.


"Ah, iya." Jawabku.


"Oh." Ucap nya pelan tapi masih terdengar jelas oleh telingaku.


Dia berdiri sambil menoleh ke arahku.


"Saya permisi bu Yevn." Ucapnya.


Aku hanya balas mengangguk.


Baru beranjak beberapa langkah, dia berhenti dan menoleh padaku.


"Atau mau saya antar saja bu,?" Ucap beliau padaku.


"Hah?.......


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


Jaga kesehatan nya ya. salam OR.


__ADS_2