
"Jadi, gimana sekarang?"
Aku menoleh ke arah Eva yang fokus ke depan menyetir mobil.
"Gimana apanya?" Tanyaku. Eva masih menatap lurus ke depan.
"Perasaan elu gimana setelah mendengar langsung dari kak Teguh terkait perasaannya?"
Eva menoleh ke arahku sekejap, memanyunkan bibirnya. Entah apa yang di fikirkannya.
"Sudah ku duga, kamu ga nyalain musicnya. Kamu dengar dan menyimak dari awal pembicaraanku sama kak Teguh." Aku mengangkat ujung bibir atasku, melihat Eva dengan sinis.
"Trus kenapa ga protes kalo sudah tau?" Tanya Eva.
"Ada baik nya kalo kamu ikut dengar semuanya, setidaknya kamu bisa memberi sedikit pandanganmu terkait hal ini. Kamu tau sendiri kondisi ku bagaimana di tambah dengan masalah yang menimbunku." Aku menyandarkan kepala, melihat lurus ke depan, fikiranku blur dan samar membentuk garisan abstrak.
"Gue ngerti." Eva terdengar bersimpati.
"Kadang aku sempat bertanya, apa masalah terbesar yang di miliki orang lain? Karena aku tak akan bisa menduga apa yang sedang mereka lalui, seperti mereka yang tak akan pernah menduga apa saja yang telah aku lalui."
Aku memejamkan manenangkan hati dan fikiran yang berkecamuk.
Eva hanya terdiam,, ku biarkan ia dengan diamnya.
....
**
Pagi ini aku minta izin setengah hari tidak masuk kantor. Aku terus sering merasakan pusing dan mual.
Bang Vhen sibuk di ruang kerja berkutat dengan urusan yayasan sekolah milik ayah. Kak Aisyah sedang belanja ke pasar, mungkin bang Vhen benar benar sangat sibuk sehingga tidak bisa mengantar kak Aisyah. Sementara Eva sudah berangkat ke kantor.
Aku keluar dari kamar dengan masih mengenakan baju tidur. Aku mengambil sekeping roti dan mengoles nya dengan selai coklat.
Perutku benar benar terasa lapar, memakan sekeping roti tak membuatku kenyang pagi ini. Bahkan penghuni perutku masih demo.
Aku mengambil susu di kulkas, menuangkan segelas penuh, di meja makan terlihat nasi goreng dengan warna merah kecoklatan membuatku bahagia.
Usai makan aku menjengah melihat yang di lakukan bang Vhen. Ternyata benar, beliau berkutat dengan laporan yang menumpuk di atas mejanya.
"Dek, masalah ini,,,,,"
Belum selesai bang Vhen berucap, aku langsung menyela.
"No no no,, Yevn ga mau terlibat ngurusin ini, Yevn mau bebas bentar, Yevn percayakan ke abang, abang mantap,, semangat."
Aku mengangkat kedua tanganku memberi aksi semangat ke bang Vhen dengan berseloroh.
Bang Vhen hanya tersenyum tak bisa berkata kata karena tingkahku yang ke kanakan dan selalu manja padanya.
"Bye abang, Yevn mau lanjut tidur,.... Oh iya, minta tolong dong, di bangunin sebelum zuhur, habis jumat Yevn ke Ekowisata mangrove di desa PJ. Hari ini ada kunjungan kerja kepala BRSKDN-RI" Ucapku sebelum keluar dari ruangan.
"Mendadak dek?" Pertanyaan bang Vhen membuatku mengurungkan niat untuk melangkah keluar, dan berbalik ke arahnya.
__ADS_1
"Ga mendadak sih, karena sebelumnya, yang di utus turun ke sana adalah Yevn salah satunya, jadi tiap orang dari tim ambil lokasi kegiatan di masing masing tempat sama bawa anggota baru sekaligus pengenalan lapangan." Jawabku menjelaskan ke abang tentang rutinitasku baru baru ini.
"Jadi kamu sama siapa ke sana, kan Teguh dan yang lainnya ga satu lokasi sama kamu? Habis sholat jumat abang ada kerja. Atau sama kakakmu saja?" Abang mulai khawatir. Memang dimatanya aku selalu jadi gadis kecilnya.
"Ga usah bang, es balok jemput Yevn," Jawabku malas.
"Oh, iya bagus."
.
.........
Aku tiba di lokasi acara bersama kutub yang masih mengenakan seragam kantor, baju kurung lengkap.
Aku berjalan di samping beliau dengan wajar, seakan tak ada yang istimewa di antara kami.
Aku melihat tiga orang rekan kantorku berkumpul di salah satu sisi pinggir pantai, tepat di bawah pohon. Dua laki laki yakni Nicko dan Arman, dan seorang perempuan-Wirda.
Aku berpisah dengan pak Kavin karena sibuk dengan urusan dan tujuan yang berbeda. Aku menghampiri rekan ku, menyerahkan alat bantu komunikasi yang berupa earpiece ke masing masing anggota untuk mereka kenakan.
"Langsung di pake aja, dan di test," Perintahku, sambil langsung mengenakan di telingaku yang tertutup jilbab dan ku rapikan lagi jilbabku.
Begitu selesai, ku perhatikan wajah lelah mereka. Mungkin mereka sibuk sedari pagi dan belum sempat untuk beristirahat.
"Kalian sudah makan?" Tanyaku.
"Sudah kok bu." Jawab mereka.
"Jangan bohong, buruan makan, mumpung masih ada waktu." Ucapku.
Aku memberi kode ke kak Tina yang di pahami beliau. Aku mengajak mereka ke saung tempat kak Tina dan tim nya beroperasi menyediakan makanan buat kru dan panitia.
....
"Tim, bersiap, mobil pak Sekda sudah masuk area parkir, Nicko gerak jemput pak Sekda, Arman stanby cek mobil tamu ketua pusat." Ucapku memberi aba aba pada tim lewat alat bantu komunikasi.
Terdengar mereka siap dengan posisi nya.
Aku masih menunggu di posisi utama memeriksa setiap undangan inti yang sudah hadir, terutama menyiapkan posisi buat pak sekda yang mewakili kehadiran dari Bupati di hari ini.
Wirda memeriksa pengisi acara dan naskah mc.
Semua terkoordinasi dengan baik, acara sedang berlangsung, penari tarian sekapur sirih sedang berlenggak lenggok.
Di belakang kursi tamu utama yang duduk di barisan terdepan tidak ada tim yang ku lihat. Aku kembali memberi aba aba.
"Nicko di kursi utama, kasi kode ke penari urutan suguhan sirih."
Terlihat Nicko langsung mengambil posisi.
"Wird, cek urutan naskah mc untuk acara berikutnya, lihat sambutan bapak (sekda) urutan sambutan ke berapa?"
"......"
__ADS_1
"Habis siapa itu?"
"....."
Urutan acara terus berlalu dan berganti, aku mengambil posisi di belakang pak Sekda membisikkan beberapa laporan kepada beliau. Pak Sekda diam menyimakku mengerti.
"Arman, siap di posisi, Nicko susul di samping panggung sisi satu nya. Fokus di sana."
Aku mulai berkeringat dingin, pak Sekda sedang menyampaikan isi sambutannya. Wirda terlihat sedang memeriksa naskah di samping pembaca acara, kemudian berjalan lewat sudut ke arahku.
"Aman bu," Lapor Wirda.
"Hehe,, gimana rasanya?" Tanyaku meminta pendapatnya tentang pengalaman pertamanya bekerja di lapangan.
"Deg degan,, jantungku mau copot, ini juga masih deg deg an, masih ada sesi ke dua cek lokasi ke jembatan di atas pantai." Ucapnya. Aku hanya terkekeh mendengar penuturannya, pengalaman nya tak jauh beda dengan yang telah aku alami awal pertama bekerja.
Terlihat pak Sekda sudah kembali ke posisi nya. Nicko dan Arman sudah berkumpul di dekatku.
Aku meminta salah satu dari mereka untuk standby mendampingi pak Sekda saat turun menjelajahi area Ekowisata bersama para undangan yang lain.
Acara intinya sudah usai dan di tutup oleh pembaca acara. Selanjutnya merupakan acara hiburan, pak Sekda sudah meninggalkan area di antar oleh Arman menuju parkir.
Aku masih berkumpul bersama tim, mereka sibuk mengomentari pengalaman pertama mereka bekerja di lapangan hari ini. Aku hanya tersenyum mendengarkan dan sesekali menimpali mereka.
Wajah puas dan bahagia tergambar di wajah mereka. Mereka hampir seusiaku, masih sama sama muda. Tapi mereka sudah bisa menempatkan posisi mereka saat bekerja.
"Ada satu lagi nih, senin langsung ngadep bendahara, ambil amplop." Ucapku sambil menanti ekspresi yang akan mereka tampilkan.
"Serius bu? Gajian bulan ini kan masih lama." Mereka saling bertanya tanya.
"Hasil kerja lapangan hari ini. Norek kalian kan belum ada di daftar kak Siti, jadi dapat cash nunggu hari senin, kalo ada rek nya biasa langsung di transfer." Ucapku.
"Alhamdulillah...." Mereka berucap dengan serempak dan bahagia.
***
"Begitulah dia, ga ada malu malunya sebagai perempuan, aku udah eneg lihat tingkahnya, Yevn. Tapi kamu tenang aja, masa magang nya di kantor akan segera berakhir, pak camat ga ada niat mau mempertahankan dia sebagai karyawan honor di sana." Ucap kak Sri.
Aku hanya diam mendengar ucapan kak Sri dengan sedikit menyunggingkan senyum padanya.
Bersambung.....
.
.
.
****
Note:
Disini author hanya membagikan sedikit cerita bagaimana dunia kerja author di lapangan. Hanya saja disini author memimpin tim yang di isi oleh karyawan baru bukan dengan tim Jeroszt (Jerry, Teguh, Desi, Yevn).
__ADS_1
Kondisi kerja sedikit berbeda, karena aku sedang tidak bertugas dengan tim ku sendiri. Dikarenakan kami membagi waktu untuk mendampingi atasan di acara yang berbeda secara bergantian. Jadwal acara yang membludak membuat kami harus tetap menjaga kebugaran.
Selamat menanti event dengan tantangan baru.... 🤗🤗🤗😘😘😘