Diary Miss To Move

Diary Miss To Move
Ozy,,


__ADS_3

"Hallo, Yevn." Ucap wanita yang berdiri di hadapanku saat aku mengenakan sepatu usai sholat. Aku sedikit kaget dengan kehadiran Ozy.


"Eh, Ozy,," Ucapku sambil memaksakan tersenyum padanya.


.


.


.


Aku dan Ozy duduk di salah satu kursi yang yang berbahan dasar kayu dengan ukiran yang timbul dengan warna coklat gelap yang di cat dengan motif menampakkan serat kayu.


"Aku ga tau kamu sudah tunangan dengan pak Kavindra." Ucap Ozy padaku.


"Kenapa kamu sembunyikan? Pak Kavin juga."


Sambungnya.


"Pertanyanmu terlalu privasi buat aku. Dan pak Kavin tidak menyembunyikannya, bukankah pak Kavin mengenakan cincinnya." Jawabku.


Aku sangat kesal dengan sikap Ozy yang terlalu mengurus urusan orang lain.


Ozy terlihat kesal mendengar jawabanku. Namun ia tetap menjaga untuk tetap terlihat baik baik saja dan calm.


"Tapi, bukankah kamu tidak mencintainya. Kamu masih bertahan dengan perasaanmu pada almarhum." Ozy berucap dengan merasa tak bersalah.


"Maaf Zy, menurutku kamu sudah terlalu jauh ikut campur urusan pribadi aku." Jawabku ketus.


Dia tidak tau, apa akibatnya beradu dengan wanita yang akan mengibarkan bendera merah.


"Aku minta maaf, Yevn. Aku tidak bermaksud,," Ucapnya entah benar benar tulus atau tidak. Karena aku memang sudah sangat kesal padanya.


"Tapi, bisakah kamu lepaskan pak Kavin buat aku?" Ucapan nya semakin tidak jelas dan terdengar gila di telingaku.


"Apa apaan itu?" Aku tertawa tak menoleh ke arahnya.


"Yevn..!!" Kak Sri memanggilku dari ujung tangga lantai dasar.


Aku menoleh ke arahnya begitu juga dengan Ozy.


"Rapat di mulai, kamu di tunggu di aula, yuk." Ucap kak Sri masih dari arah yang sama.


Aku mengangguk, memberi isyarat kalo aku akan segera ke sana.


"Maaf, aku ga bisa lama lama, aku ke atas dulu ya." Ucapku pada Ozy yang terlihat murung dan sedih.


Baru beberapa langkah meninggalkan Ozy, aku berbalik ke arahnya.


"Kenapa ga kamu tanya kan saja padanya langsung." Ucapku begitu saja, dan kembali meninggalkannya yang tercengang.


....


Entah benar atau tidak yang aku lakukan kali ini. Aku hanya tidak bisa menerima pak Kavin. Jika Ozy suka padanya, kenapa pak Kavin tak mencoba dekat dengannya. Hanya itu yang aku fikirkan.


"Kenapa kamu bisa sama Ozy?" Tanya kqk Sri saat kami sama sama melangkah menaiki tangga menuju aula.


"Kebetulan aja kak." ucapku sambil tersenyum pada kak Sri. Padahal pikiranku sudah bercampur aduk seperti gado gado.


.


.


.....


Aku melihat ke arah Eva yang sedang menyetir mobil, kali ini aku sedikit memiringkan tubuhku.


"Apa?" Ucap Eva ketus.


Aku ragu ragu untuk menyampaikan masalah yang baru saja aku hadapi. Tentang pertemuanku dengan Ozy.


Akhirnya aku memilih mengurungkan niat untuk berbagi cerita dengannya.


Aku kembali ke posisi awal.


Tapi ini bukan arah jalan pulang.


"Loh, kita mau kemana?" Tanyaku.


"Lapar,,,," Ucap Eva dengan suara manjanya, lebih terkesan seperti kunti bagiku.


"Tenang saja, kali ini aku yang traktir." Sambung Eva lagi. Tumben tumbennya nih anak.

__ADS_1


"Wah, bebas pesan dong ya?" Ucapku padanya.


"Bebas pokoknya, apapun dan sepuasnya."


Jawab Eva membuatku bersemangat. Karena aku sudah lapar bukan kepalang.


.....


Tiba di salah satu tempat makan, aku memilih tempat lesehan sebuah saung panggung dengan atap rumbia, yang sedikit terpojok. Terlihat klasik dan nyaman buatku.


Aku memesan menu makanan yang bisa membuatku kenyang tiga hari. Eva lebih lagi, dia memesan makanan tak tanggung tanggung porsi lengkap. Aku terbelalak dengannya, ni anak perutnya terbuat dari apa ya?


Sedang menunggu pesanan tiba, aku memainkan ponselku mengetik huruf demi huruf yang menjadi kata, kemudian terangkai menjadi sebuah kalimat, dan berakhir menjadi sebuah paragraf.


Tiba tiba terdengar suara laki laki memberi salam di dekat kami.


"Kutub?" Aku tak percaya, ku lihat ke arah Eva yang terlihat biasa saja, bahkan mempersilakan manusia kutub ikut bergabung di antara kami.


Apa ini?


Hmmmhhh😒


Sudah terlihat jelas kalo Eva bersekongkol dengan manusia kutub.


Tiba tiba pesanan tiba, dan di tata satu persatu di atas meja,


lagi,,


..


..


lagi,,


.


.


lagi,,


.


.


Hingga meja terisi penuh dengan makanan yang di pesan oleh aku dan Eva.


"Pak 'Es', silakan makan, eh, tapi makanan ku jangan di makan, kalo untuk Yevn gapapa. ini, ini, ini, ini, daaaan, ini pesanan Yevn."


Eva mulai mengoceh, sementara kutub hanya tertawa.


"Bukan, pesanan ku hanya ini saja, sisanya punyamu, Evong." Aku berdalih.


Rasanya sangat malu, Eva terlalu jujur membuatku jengkel. Bahkan sekarang aku mulai terasa kenyang, rasa laparku hilang seketika karena malu.


Pak Kavin semakin tertawa, dan langsung memesan makanan untuk dirinya sendiri.


Kami mengoceh tak hentinya, terutama Eva. Entah apa yang di hadapi gadis ini, apakah masalahnya benar benar telah selesai, atau dia sedang menutup masalah yang sedang di hadapinya.


Diam diam aku memperhatikan laki laki yang ada di dekatku ini. Dia memang dingin, cuek, ketus, dia memang tampan, aku tak pernah memperhatikannya, terlebih dia sangat manis dengan sikapnya yang perhatian.


Apa yang membuatku tak bisa menerimanya lebih dari seorang abang? Hati ku tertutup dengan bayangan masa lalu ku. Bagiku kak Arfan asalah segalanya.


"Besok elu jadi libur?" Tanya Eva padaku. Kutub melihatku dengan selidik.


"Iya, rencananya mau pulang ke rumah mama." Ucapku.


"Besok pagi gue masuk kerja dulu, terus izin pulang awal biar bisa bawa elu pulang." Ucap Eva.


Aku teringat kalo aku belum di bolehkan membawa kendaraan. Terpaksa besok aku harus menunggu Eva dapat izin baru bisa pulang.


"Kenapa ga nunggu hari Sabtu atau Minggu aja?" Eva kembali bertanya.


"Sabtu sama Minggu sibuk di rumah Va, kamu lupa." Ucapku pada Eva.


Eva mencoba mengingat sesuatu, kemudian menganggukkan kepala nya beberapa kali.


"Aku saja besok yang antar kamu pulang." Ucap pak Kavin.


"Ga usah, aku mau jemput mama juga soalnya." Jawabku.


"Apa salahnya," Ucap manusia kutub dengan santai sambil makan makanan miliknya.

__ADS_1


"Ga usah, lagian aku mau ziarah ke kuburan."


Pak Kavin terdiam, dengan ekspresi yang berubah. terlihat Eva melirik ke arah pak Kavin dengan tatapan yang tak bisa di artikan.


"Hmm,, jam berapa?" Tanya kutub tanpa menoleh.


"Nunggu Eva jemput di rumah, kira kira jam 9 atau jam 10 pagi." Jawabku.


"Baiklah," Jawabnya singkat. Dia kembali membeku. Dan terus memakan kepiting yang merupakan menuuuuuuu,,,,,, TUNGGU..!! Itu pesananku.... 😲


"Kutuuuuuubbbb,,,, itu punyaku." Aku menggeram kesal padanya.


Sebenarnya aku tidak menyukai kepiting, di tambah aku alergi berat makanan laut satu ini. Tapi sengaja aku pesan buat menguras dompet Eva, karena awalnya ku sangka Eva yang akan membayar semuanya. Niat mengerjai malah di kerjai,, aseeem 😒


"Kamu alergi sayang,, ku pastikan kamu ga bawa obatnya." Ucap kutub sambil menaruh potongan ayam bakar yang merupakan menunya.


Eva sudah siaga menyelamatkan makanan nya agar tak di colong olehku. Dasar kuda nil.😒😒


.


.


.


****


"Dek,,"


tok tok tok....


"Adek,, Yevn..."


Terdengar suara bang Vhen memanggil di balik pintu kamarku.


Mataku masih tertutup rapat, (sebelum tidur di lem, makanya lengket ga kebuka😂😅)


"Hmmm, Iyaaa." Jawabku dengan suara khas baru bangun tidur.


"Katanya mau pulang kampung hari ini, tapi masih belum bangun." Bang Vhen sudah berdiri di samping tempat tidurku mengoceh seperti 'emak emak' di pagi hari.


"Iya, lima menit aja, tolooooong, mobil belum nyampe juga" Ucapku masih belum membuka mata. (Apa aku bilang, matanya udah di lem.😅😂)


"Mobil udah nyampe dek, kamunya yang malah belum apa apa." Ucap bang Vhen.


"Dah, buruan langsung mandi. Ga baik bikin orang nunggu lama." Sambungnya.


'Mobil sudah nyampe? Hebat Eva, bisa minta izin lebih awal, mungkin cuma absen doang ke kantor.' Gumamku.


.....


Aku sudah rapi dengan gamis berwarna brown, dengan garis kecil membentuk persegi yang berwarna coklat muda, dan pasmina yang senada dengan warna garis kecil di gamisku.


"Loh,, kok pak Kutub di sini? Evanya mana?" Tanya ku melongo dengan penuh rasa curiga di hatiku.


Bang Vhen lebih terlihat bingung tak mengerti, berarti bang Vhen tidak terlibat,,,,,


Jadi, ini semuaaaaaaa,,,,,,,, 'Evvvaaaaaaaa, awas kalo aku sempat liat bayang mu.' Gumamku.


Usai sarapan, mau tidak mau aku terpaksa berangkat bersama kutub yang terlihat biasa saja, sementara aku kesalnya bukan kepalang.


.


.


.


",,,,aku serius dengan ucapanku, Yevn, aku benar benar sudah menaruh hati padanya sejak lama, sangat lama."


Aku membaca pesan Ozy....


.


.


.


Bersambung,,,,,


.


.

__ADS_1


__ADS_2