
Setelah berjam jam di pelaminan dan sudah dua kali berganti pakaian, serta tamu undangan sudah mulai reda, sesi makan beradab atau makan hadap hadapan yang di gelar oleh pengantin pria dan wanita beserta keluarga dan para tetua di adakan.
Kedua mempelai saling bersuapan, rasanya sangat canggung. Belum lagi dari beberapa orang yang hadir saling melempar godaan pada kami.
Semua orang sedang menikmati makan sambil mengobrol berbagai hal. Ini membuat ku sedikit nyaman dari pada di perhatikan dan menjadi pusat perhatian.
Kutub mengambil cangkir yg berisi teh dan meminumnya. Hanya kami berdua yang tidak makan.
"Ga mau makan?" Tanya kutub padaku dengan berbisik.
Aku menggeleng,
"Ga pak, masih sesek." Ucap ku sambil memegang perut ku.
Kutub memperhatikan, kemudian terlihat wajah nya tak tega melihatku.
"Setelah ini apa lagi dek?" Tanya nya padaku.
"Ga tau, rasanya sudah." Jawab ku menduga duga.
"Hm'mm,, pengantin ga makan?" Tanya salah satu ibu ibu yang hadir.
"Pengantin kenyang, lagi bahagia bahagia nya."
Jawab yang lain nya.
Di goda sedemikian rupa aku tersipu, rasanya wajah ku seperti berada di panggangan, kutup hanya terkekeh.
"Yevn, ga makan?" Seseorang berbisik di belakang ku. Menyadari siapa orang nya aku menggeleng.
"Suami mu?" Tanya kak Yami yang merupakan orang nya kak Aisyah.
Aku langsung berpaling ke manusia kutub yang ternyata wajah nya sangat dekat dengan ku. Seketika pandangan kami bertemu, aku sungguh kaget, dan berakhir saling salah tingkah.
"Hm,mm,, bapak, mau makan sekarang, bareng yang lain?" Tanya ku gugup, untung yang lain tidak menyadari apa yang baru saja terjadi. Kecuali, tunggu,,, iya, kecuali seorang perempuan yang sedang tersenyum menggoda ke arah kami, beliau adalah kakak dari manusia kutub, alias kakak ipar ku.
"Nanti saja,." Jawab nya.
Aku langsung menyampaikan pada kak Yami yang masih berada di belakang ku.
"Belum kak, nanti saja habis ganti pakaian. Habis ini apa masih ganti baju lagi atau masih ada acara lain?" Tanya ku pada kak Yami.
Aku tidak sabar ingin segera berganti pakaian dan melepas semua aksesoris yang menempel pada tubuh ku.
"Ga ada lagi, mandi adat ga ada kan?" Tanya kak Yami pada ku.
"Ga kak, ga bikin."
"Ya udah, bentar lagi ganti pakaian ya." Aku mengangguk semangat, dan kak Yami berlalu meninggalkan ku.
__ADS_1
Pak kutub membuka kacamata nya untuk di lap,. Baru baru ini beliau harus mengenakan kacamata sebelum pemeriksaan lebih lanjut nantinya.
Setelah beberapa saat kemudian, kak Yami datang membantu ku berdiri dan membawa ku masuk kamar untuk berganti pakaian, setelah hadirin yang ikut jamuan makan adat mulai meninggalkan ruangan. Sementara manusia kutub masih tinggal di posisi nya, meski kak Yami sempat menanyakan beliau untuk berganti pakaian.
Aku sangat bersyukur dengan pilihan kutub untuk tidak masuk ke kamar bersama dengan ku. Aku belum siap menampakkan aurat ku di hadapan nya meski sehelai rambut. Rasanya masih sangat canggung.
Tak hanya sekedar berganti pakaian, aku juga langsung membersihkan diri, terutama sisa sisa make up yang masih menempel sempurna. Aku mandi dengan buru buru, dan berpakaian kurung Melayu modern, menggunakan kesempatan sebaik mungkin selagi kutub masih tinggal di luar kamar.
Usai melaksanakan shalat ashar, hati ku sangat tenang dan damai. Meski rasa penat dan lelah masih menjalar di sekujur tubuh.
Usai bermunajah, dan melepas mukena, merapikan nya di tempat semula.
Kak Yami dan beberapa rekan nya yang merupakan orang nya kak Aisyah sudah tak tampak lagi di dalam kamar, setelah tadi kublihat mereka sibuk merapikan segala pernak pernik yang ku kenakan. Aku mengenakan jilbab pashmina yang pas dengan warna baju yang ku kenakan.
Dalam waktu bersamaan, seseorang keluar dari kamar mandi, mungkin salah satu dari mereka baru saja menggunakan kamar mandi yang berada di kamar ku.
"Astaghfirullah,,,," Aku langsung menutup mata dan membalikkan badan ku.
Ternyata manusia kutub yang baru saja keluar dari kamar mandi. Terdengar suara beliau yang terkekeh.
Aku berdiam dengan posisi ku, lama,,,, dan dalam waktu itu juga tak ku dengar suara apapun. Pelan pelan ku intip, ternyata beliau sedang melaksanakan shalat.
Aku kembali merapikan jilbab ku, seseorang mengetuk pintu kamar. Ternyata bang Vhen.
"Dek, mana Kavin? Yuk, ajak makan bareng, kak Aisyah sama yang lain baru mulai makan. Belum makan kan?" Tanya bang Vhen.
"Lagi sholat, duluan aja bang, nanti kita nyusul." Ucap ku.
Aku duduk di depan jendela kaca sambil memainkan ponsel. Rasanya sangat ingin merebahkan tubuhku ke tempat tidur, melepas lelah ku. Tapi aku harus segera keluar kamar menemui kerabat yang masih sibuk di luar.
"Dek, yuk keluar." Terdengar lembut suara aki laki yang berdiri di belakang ku.
Aku menoleh, "Eh, iya." Jawab ku langsung berdiri mengikuti langkah nya.
Kebetulan Eva melintas di dekat ku, terlihat ikut sibuk.
"Weh, belum makan kan? Aku ambilin, mau makan di mana?"
"Ga usah, aku aja yang ambil." Jawabku cepat.
"Gile lu, pengantin belum boleh keluyuran, apa lagi maen di belakang. Mau di omelin sama orang tua tua di belakang sana?" Eva mulai nyerocos.
"Oh, gitu, makan di sini aja deh, makasih ya."
Aku memilih makan di dekat rombongan kak Aisyah dan teman nya.
Tak menunggu lama, makanan di hidangkan di hadapan kami. Kutub duduk di sebelah ku, aku dan beliau makan sambil sesekali bersuara.
Huk,, uhuukk,,,,
__ADS_1
Aku terbatuk, gawat, hanya ada satu air di dekat ku, itu pun sudah di minum separuh oleh kutub.
Kutub menggosok punggung ku, setelah menyodorkan gelas minumannya.
Aku yakin, laki laki yang ku lihat lewat melintas di luar adalah kak Arfan. Tidak mungkin,, aku kembali memperhatikan ke luar, mengedarkan pandangan ku untuk memastikan apa yang baru saja ku lihat.
"Dek,, dek,, kenapa?"
Manusia kutub ikut memperhatikan ku.
"Ga ada apa apa, maaf." Ucap ku.
"Makan pelan pelan aja," Ucap nya sambil mengelus pucuk kepala ku. Rasanya sangat canggung dan aneh.
Aku yakin, aku melihat kak Arfan. Hati ku bergemuruh.
.
.
.
Jam sudah menunjuk kan pukul sembilan lewat lima belas, malam.
Aku masih duduk di meja kerja ku sambil memainkan ponsel. Sementara kutub terlihat memegangi buku di sudut ruangan, duduk di sofa. Masing masing masih canggung untuk segera tidur di atas tempat tidur yang sudah dari tadi tampak menggoda.
Padahal besok kami akan lanjut berangkat ke kediaman orang tua nya untuk acara ngaunduh mantu dan resepsi di sana.
Rasa kantuk sudah menyerang ku dengan hebat.
Aku membuka mata ku, mengerjap pelan,
'ah sejak kapan aku tertidur?
Tunggu, aku di,,,,,, bukan kah tadi aku berada di meja kerja ku. Bagaimana aku,,,,'
Aku masih menggunakan jilbab, untunglah,,,
Ku lihat di samping ku, dia terlelap dengan damai,, mungkin dia benar benar lelah,, iya, beberapa hari dengan rentetan acara memang membuat lelah.
Dan mungkin juga, dia yang membawaku ke tempat tidur.
.
.
.
Bersambung,,,,,
__ADS_1