Diary Miss To Move

Diary Miss To Move
Bisikan


__ADS_3

Pagi ini aku mendapat libur khusus dari kantor. Akhirnya bisa tiba di rumah setelah beberapa hari meninggalkannya.


Tadi malam merupakan malam yang panjang buatku. Lelah, letih yang di rasakan tak bisa menghalangku untuk melakukan jadwal mencuci hari ini. 😌


Aku harus menyelesaikan semua pekerjaan dengan cepat. Mencuci, beres rumah, masak buat makan siang, di lanjutkan dengan menyetrika pakaian.


....


Aku menarik selimut dan memainkan ponselku begitu pekerjaan selesai, sambil menunggu cucianku kering.


Ku tatap layar ponselku dengan pikiran yang melayang entah kemana.


Sepi, dia benar benar serius dengan ucapannya. Akhirnya dia menyerah dan memilih jalan nya sendiri.


Ini yang terbaik, aku tak bisa menjanjikan apapun padanya. Bahkan secuil rasa sekalipun.


Bagaimana mungkin dia yakin denganku sementara aku yang memiliki hati ini tidak bisa yakin.


Seketika bayangannya muncul, tatkala dia tiba tiba hadir malam itu.


Dia hadir di saat aku benar benar sesak, dan merasakan kehancuran. Di saat aku merasakan keterpurukan yang dalam.


"Astaga Yevn, kau memeluknya, bagaimana bisa kau lakukan itu. Sementara kau harus menjauhinya." Gumamku.


"Ah tidak, aku tidak memeluknya. Aku tidak salah, dan itu bukan salahku. Dia yang menarik kepalaku ke dadanya, bukan aku." Aku tidak salah." Aku bermonolog.


Aku merasa gila karena hal ini. Dan lagi aku sangat malu.


Pikiran ku kembali melanglang buana.😅


Bagaimana dia bisa menemuiku malam itu? Apa dia masih membuntutiku? Apa dia merasa khawatir padaku?


Apa dia sudah di takdirkan untuk hadir malam itu, di saat aku benar benar merasa kosong dan,,,,


***


Malam ini aku sangat terpukul. Pikiranku seakan menyuarakan ku untuk menyusul dia, menyusul pemilik hatiku saat ini.


Aku menahan suara tangis agar tak terdengar hingga keluar. Ku kunci pintu kamar dari dalam. Eva sedang di kamarnya, dan aku tak mau dia sampai menyadari kerapuhan ku malam ini.


Aku meringkuk di samping tempat tidur.


Memeluk lutut, menutup mulutku rapat rapat dan menjerit melepas tangisku sekuat kuatnya.


Aku lelah, aku merasa sangat lelah hidup dengan cara seperti ini.


Aku lelah menahan kenyataan. Lelah berpura pura dan berbohong pada dunia bahwa aku baik baik saja.


Suara suara itu kembali terdengar, menjanjikan kebahagiaan dengan menemuinya. Menemui kekasih yang sangat aku rindukan.


Eva mengetuk pintu kamar dan memanggilku sedari tadi. Tapi aku tak sanggup memalingkan pikiranku pada janji manis suara suara ini.


Ku panggil nama Nya, ku sebut asma Nya. 'Ya Robb, lihat hamba Mu ini yang begitu rapuh. Aku tak punya daya dengan kerinduan ini.


Seseorang memelukku, mendekapku dengan kuat. Mendekapku dengan penuh kasih sayang nya.


"Istighfar de, istighfar, abang disini, ini abang."


Aku menumpahkan tangisku dalam pelukan bang Vhen. Aku melepaskan semuanya begitu mengetahui abang di sini.


Eva berdiri di sampingku dan menangis.


Entah sejak kapan bang Vhen tiba di rumah. Yang jelas abang pasti di telfon oleh Eva.


"Aku takut bang, Yevn takut." Ucapku terisak.


"Sstt, sssttt,, kamu kuat, abang yakin. Ingat, Allah tidak menguji seorang hamba melebihi batas kemampuannya." Ucap abang.


"Yevn sungguh rapuh bang, Yevn hancur."


.....

__ADS_1


***


Aku terbangun dan merasakan kepalaku yang terasa sakit.


Aku bermunajat pada Nya, meminta pengampunan atas rindu dan kekecewaanku.


Meminta keteguhan hati dan sabar.


....


Aku menyiapkan sarapan di atas meja, Eva dan bang Vhen sudah duduk mengelilingi meja makan.


Aku menyampaikan pada bang Vhen bahwa aku akan pulang ke rumah mama dan juga menziarahi makam ayah.


Aku tak menyebutkan kalo aku juga akan berkunjung ke makam kak Arfan.


Ku rasa tak perlu ku sebutkan mereka sudah tahu.


"Abang ikut," Ucap bang Vhen.


"Mau ngapain?" Tanyaku.


"Pulang ke rumah mama lah, kangen tau." Ucap bang Vhen.


"Kak Aisyah, gimana?" Tanyaku lagi.


"Nanti abang tanya, mau ikut apa ga kakakmu." Jawab bang Vhen sambil melahap sarapannya.


"Aku mau ikut juga, hiks hiks." Ucap Eva yang sedari tadi di kacangin. 😅


"Lah, ayok." Ucap bang Vhen.


"Ga osah, kerja sana, cari duit." Ucapku sontak membuat Eva cemberut.


Bang Vhen tertawa mendengar ucapanku.


"Sombong lu ya. Mentang mentang dapat libur dua hari ini dari kantor." Ucap Eva merasa kesal.


Aku hanya tertawa begitu juga bang vhen.


"Iya, belum saya cek. Ah iya, makasih pak." Ucapku pada lawan bicara di seberang telfon.


"....."


"Alhamdulillah,, terimakasih banyak pak. Sampaikan salam saya pada beliau."


"....."


"Wa'alaikumsalam." Ucapku menutup telfon.


"Yevn, ada kafe baru buka di pantai. Disana ajalah. Bang Vhen ikut? Ajak kak Aisyah sekalian." Ucap Eva di sambut tawa bang Vhen.


"Apaan, makan aja pikirmu." Jawabku sambil membuka pesan masuk yang belum sempat ku buka.


"Yeeeee,, kan barusan duit yang nelfon." Ucapnya.


"Duit apaan yang bisa ngomong. Kalo ada duit bisa ngomong, aku kabur duluan." Jawabku.


.....


****


Aku mengunci pintu rumah dari luar, Eva sedang di kantor. Bang Vhen sudah menunggu di dalam mobil bersama kak Aisyah, menjemput ku untuk pulang ke rumah mama.


"Ini dia bintangnya, sukses besar ya." Kak Aisyah menyapaku.


"Ah, apaan. Gimana kabar kakak?" Tanyaku sambil masuk ke dalam mobil.


"Baik, alhamdulillah." Jawab kak Aisyah yang duduk di samping bang Vhen.


Aku duduk di belakang mengenakan earphone mendengar instrument music.

__ADS_1


Sesampainya di rumah mama, aku memeluk dan mencium perempuan hebat ini.


Perempuan yang telah membesarkan anak anaknya dengan kasih sayang melimpah dan penuh kesabaran.


Mbak Siti menyiapkan minuman di atas meja. Mama mengeluarkan pie kesukaan kami anak anaknya dari panggangan. Pie buatan mama memang yang terbaik.


Aku tersenyum melihat pie di tanganku. Seketika aku teringat ayah, teringat kami biasa menikmati pie buatan mama bersama sama.


Aku sering menyuapi ayah dan membuat cemburu bang Vhen.


Tawa ayah tergambar jelas, kenangan itu membuat hangat hatiku.


Selepas zuhur aku membawa mobil menuju ayah, menemui ayah dan akan bercerita banyak.


Aku biasa kemakam sendiri agar leluasa bercerita dan menumpahkan rinduku pada mereka.


Pulang dari makam ayah, aku langsung menuju ke pemakaman B tempat kak Arfan.


Langkah ku terhenti di depan gerbang makam.


Lama aku berhenti, ku lihat pintu gerbang dan sekeliling area perkuburan.


Ini terasa seperti rumah bagiku. Aku melangkahkan kaki menuju makam kak Arfan.


.....


Sepulangnya dari makam aku langsung pulang ke rumah.


Aku menuju dapur berniat akan menyambung makan pie ku.


Deg,,


Dia di sini.


Apa yang dia lakukan di sini?


Bang Vhen, mama dan pak Kavin sedang duduk mengelilingi meja makan, mengobrol dan sambil menikmati makan sore ini.


Mama langsung memanggilku untuk ikut makan, aku menurut.


"Kak Aisyah mana bang?" Tanyaku sambil mengisi nasi ke dalam piringku.


"Ketemu sama temannya." Jawab abang.


"Pak Kavin, kapan tiba nya?" Tanyaku coba mencairkan suasana antara aku dan dia.


"Belum lama." Jawabnya. Tak berubah, beliau masih gunung es.


Hari sudah menunjukkan pukul lima lewat. Semua orang sudah bersiap siap untuk pulang.


Aku masih di kamar, mengenakan jilbabku. Bang vhen beberapa kali memanggilku sejak aku masih di kamar mandi.


Begitu usai bersiap aku keluar dari kamar, dan ku lihat mama sedang duduk di depan rumah bersama manusia kutub.


Abang ku tersayang bersama istrinya sudah meninggalkanku. Benar benar membangun macan tidur sore. 🙄


"Bagaimana mungkin Yevn pulang di antar manusia kut,,, maksudnya di antar pak Kavin, ma. Mama ga khawatir anak mama ini pulang bareng dia?" Ucapku berbisik pada mama.


"Mama kenal dia. Wa'alaikumsalam, hati hati di jalan." Ucap mama tak menghiraukan.


Manusia kutub menghampiri mama dan berpamitan.


Aku pasrah, tau begini aku tak akan bareng bang Vhen.


Di perjalanan,,


.


.


Bersambung,

__ADS_1


.


.


__ADS_2