Diary Miss To Move

Diary Miss To Move
Badai


__ADS_3

Seseorang berdiri di hadapanku, memelukku dan membiarkan ku di pelukannya.


Tangan lembutnya menepuk pelan punggungku.


Aku melepaskan air mata yang sudah lama tak ku keluarkan.


"Menangislah sampai kamu merasa cukup." Ucap Eva.


.....


Begitu merasa tenang, aku di ajak Eva masuk ke rumah, khawatir ada yang datang tanpa di duga duga dan melihat mataku yang basah.


"Apa masalahnya?" Tanya Eva padaku.


Aku diam membuang muka ku dari pandangan Eva.


"Tadi sebelum elu pulang, kutub nanya elu, dia memilih buat nunggu elu di luar, gue ga berani nanya dan ngoceh begitu liat muka nya." Ujar Eva.


"Pas elu pulang, gue mau nyamperin kalian, tapi melihat kalian sedang ada masalah, gue urungin. Sebenarnya ada apa? Gue lihat muka kutub pas pergi kusut banget."


"Jangan bilang elu ngulah lagi weh," Ucap Eva membuatku melirik kesal padanya.


Tapi aku tidak bisa menyalahkannya, karena memang setiap masalah antara aku sama kutub, pasti karena aku.


"Hmm,, ini tentang Ozy, Va." Jawabku frustasi.


"Nah, apa gue bilang dulu,,,, tapi tetap elu yang salah Yevn. Kalo elu ga buka celah buat Ozy atau siapapun, ga bakal ribet kan. Elu tau sendiri kemana mana cewek cewek naksir sama tuh serigala. Temen kantor kita aja contohnya."


Eva mulai mengoceh tak karuan.


"Kasian dia Yevn. Kerja kantornya pasti dah bikin sebagian otak warasnya jadi gila, di tambah masalah pribadi, bukan hanya dengan elu aja, dengan kerabat, kolega dan lain sebagainya."


"Kalo elu ga mau, biar gue yang pepet dia, bakal gue curi hati dia sepenuhnya dari elu, kan gue bikin dia meleleh. Dari pada Ozy kan, 'ulet bulu dah naik daun'🎶, mending gue kan."😏


Sambung Eva.


.


.


.


***


Sedari siang aku coba menghubungi manusia kutub yang sedang di selimuti badai. Tapi tidak ada respon dari nya.


Ku kirim pesan, di abaikan olehnya.


Aku hanya ingin minta maaf atas tindakanku yang kelewat batas dan tidak rasional.


Aku tak memikirkan dampak dari apa yang telah aku lakukan.


Ozy memang mencintainya, menginginkan nya. Tapi bukan berarti aku harus membuat keputusan konyol dan lagi lagi mengabaikan perasaan kutub dan tak menghargai hubungan pertunangan yang sudah terikat di antara kami.


"Ngelamun?" Ucap bang Vhen membuat ku kaget.


"Abang kapan nyampenya?" Tanyaku pada abang yang berdiri di depan pintu kamarku yang entah sejak kapan.


"Udah dari tadi, Eva bilang kamu tidur, ga enak badan katanya."


Ucap bang Vhen langsung mendaratkan bokongnya di atas kursi kerjaku.


"Hmm" Eva bijak memberi aman buatku.


"Tadi abang ketok pintu, kamu ga nyahut, makanya abang masuk, abang khawatir sama kondisimu. Udah berapa jam abang sampai, kamu ga keluar dari goa ini. Tapi malah ngelamun di depan kaca."


"Hehehe,,, udah mendingan bang. Kak Aisyah mana?"


"Ada di luar lagi makan durian." Jawab bang Vhen, membuatku lemas.


Aku bergidik ngeri membayangkan aroma durian yang begitu menusuk hidung.


Bang Vhen tertawa melihatku yang merasa jijik dengan durian.


Di dalam keluarga, semua sangat doyan dengan durian, kecuali aku dan ayah. Namun aku yang paling parah, jika ayah masih mau mencicipinya sedikit, tapi tidak berlaku buat aku.

__ADS_1


Buat aku aroma durian merupakan racun yang mampu mengaduk ngaduk isi perutku dengan paksa. 😰😷


"Ada masalah?" Tanya bang Vhen tiba tiba.


"Jelas, masalah buat penciumanku." Jawabku.


"Bukan durian, tapi kamunya, apa sedang ada masalah?"


Aku memang mengerti pertanyaan abang dari awal, hanya saja aku berpura pura untuk mengelak membahas masalahku dengannya.


Tapi abang tetaplah abang, aku tak bisa menyembunyikan apapun dari nya.


"Tidak ada. Hanya masalah biasa. Tak perlu di fikirkan." Aku mengelak.


Abang lagi lagi tertawa.


"Ya sudah, abang yakin kamu bisa menghadapinya. Ya sudah abang keluar dulu."


Setelah abang menghilang dari balik pintu, aku menutup mataku, merasa kesal dengan kebohonganku yang tak berhasil. Aku sadar abang menyadari bahwa aku sedang gundah gulana.


.


.


Minggu, pagi pagi sekali bang Adi dan istrinya datang untuk membersihkan halaman dan perkarangan rumah. Aku baru saja selesai membuat nasi goreng serta kopi dan teh panas.


Tak lupa roti dan selai juga ku sajikan di meja.


Aku memanggil semua penghuni rumah untuk sarapan selagi masih hangat. Tak lupa sepasang suami istri yang sedang bekerja di luar ku ajak ikut bergabung. Awalnya menolak, tapi aku memaksanya.


Tak lama selesai makan, tukang bangunan yang yang bekerja hari ini, datang. Bang Vhen langsung menghampiri mereka. Kak Aisyah langsung membuat kan minuman untuk mereka, Eva mencuci piring kotor sisa sarapan di bantu dengan kak Fatimah istri bang Adi.


Aku keluar berdiri di samping bang Vhen yang sedang berdiskusi dengan para tukang.


.....


"Kutub masih tak menghubungimu?" Tanya Eva yang duduk di sampingku.


Sejuknya angin yang berhembus, membuat nyaman bersantai di pelataran saung.


Eva memainkan ponselku, membuka obrolan tertulis antara aku dan mak Megha tadi malam.


"Aku sependapat sama mak Megha ." Ucap Eva pelan, mengabaikan ucapanku. Dia lebih tertarik dengan chat antara aku dan mak Megha.


"Kangen dengannya?" Tanya Eva.


"Puuffttt,,, Hmm. Sedikit." Jawabku ragu.


"Kira kira, pak kutub tau dari mana tentang dialog kamu dengan Ozy? Ga mungkin kan kamu yang terus terang ke dia?"


"Iya iyalah bukan dari aku, aku ga sedekat itu sama dia sampai menceritakan tentang Ozy padanya. Aku juga bingung, Ozy juga ga mungkin. Aku cukup tau dia ga punya nyali sebesar itu untuk bertemu langsung dengan kutub terkait hal ini."


Aku mulai menerka nerka, siapa yang mengabari kutub.


Setelah lama terdiam bermain dengan fikiranku, tiba tiba aku teringat sesuatu. Aku langsung mengambil ponselku dari tangan Eva.


Langsung ku klik dengan cepat mencari nama seseorang.


*Mem**anggil*....


Tuuuuutt.....


Tuuuuuuuttt.....


"Hallo, Yevn." Tak lama aku menunggu, terdengar suara perempuan di seberang telfon.


"Assalamu'alaikum,,, kak." Sapaku.


"....."


"apa kakak sibuk hari ini?"


"....."


"Oh, bagaimana kalo sore?"

__ADS_1


"...."


"Oh, begitu, Hmmm, kapan aku bisa ketemu sama kakak?" Tanyaku lagi sedikit mendesak.


"Ok, jadi besok jam 11 ya." Ucapku.


....


Eva menarik ponselku setelah panggilan telfon berakhir.


"Kamu yakin kak Sri yang mengabari ke kutub?" Tanya Eva.


"Entahlah, aku tau kalo dia pasti akan bertindak lebih bijak. Rasanya ga mungkin dia. Tapi kak Sri orang kepercayaannya kutub. Pasti ada yang di ketahui sama kak Sri." Jawabku.


"Asiiikkk,, main detektif detektif-an,, 'aku Conan Edogawa, akan mengupaskan misteri ini dengan tajam, setajam silet."


Plluukkk,,,,


Jitakan jariku tepat mengenai Eva yang mulai gila acting.


"Noh, bawang yang di kupas, yuk masak buat makan siang." Ucapku berlalu di susul Eva yang masih menggaruk bekas jentikan jariku di keningnya sambil mengomel tidak jelas.


***


Aku melihat kak Sri yang melambaikan tangannya ke arahku yang mencari keberadaannya sedari tadi.


Padahal pengunjung tidak begitu ramai saat ini, tapi di karenakan kak Sri memilih tempat yang paling pojok dan sedikit tertutup membuatku mengitari pandanganku mencarinya.


"Sudah lama kak? Maaf buat kakak menunggu." Ucapku merasa bersalah.


"Ga kok, kakak juga baru tiba." Ucap kak Sri.


"Udah pesan makan kak?" Tanyaku.


"Masih kenyang, tadi bu Tina bawa ubi rebus sama sambal matah."


Jawab kak Sri.


"Hehe,, kalo begitu, nanti saja pesannya."


.....


"Kamu yakin pak Kavin mendapat informasi dari seseorang?"


Tanya kak Sri begitu mendengar cerita dariku.


Aku mengangguk.


"Hari ini dia tidak masuk kantor,, tapi Ozy sedikit beda dari biasanya. mungkin karena kamu bilang mencintai pak Kavin. Seharusnya dari awal sudah kamu lakukan, jadi dia ga sok dan belagu, membuat geram orang orang."


Aku hanya diam, bukan ini yang ingin aku dengar.


"Hmm,, tapi kakak yakin, pak Kavin bukan sedang menghindarimu, mungkin sedang sibuk dengan suatu hal."


Ucap kak Sri.


Kemudian kak Sri terlihat senyum senyum melirik ke arahku.


"Khawatir atau rindu?" Ucap kak Sri menggodaku.


"Ga lah,," Tepisku.


"Hati hati loh,, kalo ombak rindu sudah menghantam karang, rasanya dahsyat." Ucap kak Sri membuatku semakin tersenyum.


Bukan karena godaannya, tapi karena beliau baru saja mengatakan 'ombak rindu', yang menjadi judul coretanku ini.


.


.


.


Bersambung,,,,,


,

__ADS_1


,


__ADS_2