Diary Miss To Move

Diary Miss To Move
Pentas Seni


__ADS_3

Satu malam, aku menampilkan laga biola dengan rekan pianoku di atas panggung.


Bang Vhen tak hadir malam ini karena kak Aisyah sedang sakit.


Eva juga dinas keluar dan malam ini tak mengekoriku. 🙊😅


Tak main main tema malam itu membuat aku hancur kembali.


Begitu turun panggung aku langsung mencari tempat persembunyian, jauh dari keramaian.


Aku menangis sejadi jadinya, sendirian.


duduk di bawah pohon yang berjejer di seberang parkiran.


Rindu itu tumpah lewat tangisan, dan aku tak kuasa membendungnya.


Aku lepaskan semua tanpa bisa ku tahan.


Hingga langkahnya berhenti tepat di depanku.


Ku lihat wajahnya menatapku pilu.


Dia meraih ubunku, menarik ke dadanya. Membenamkam wajahku ke dalam pelukannya.


Aku semakin menangis dengan posisiku duduk dan dia berdiri.


Dia tak berucap sepatah kata pun. Membiarkanku menangis hingga membasahi baju yang di kenakannya.


Aku masih duduk dengan tangisku, sulit, sangat sulit untuk berhenti.


"Aku mencintainya, mencintainya karena Allah. Mencintainya dengan tulus, mencintainya dengan segenap hatiku."


**


Sudah beberapa hari aku tidak pulang ke rumah. Di karantina dan tinggal di penginapan yang telah di sediakan.


Malam ini merupakan malam 'suka suka' yang mana telah di atur oleh pihak panitia dan kru.


Masing masing camat akan di panggil naik ke atas panggung untuk duet dengan peserta dari daerahnya masing masing.


Penuh tawa, dan suit suitan dari arah penonton dan peserta lain. Yang mana istri dari masing masing camat juga ikut hadir.


Jabatan, pangkat seketika tidak menjadi penghalang untuk semuanya berbaur dan ikut bercanda.


Giliranku untuk tampil bersama camat dari daerahku. Begitu naik ke atas panggung, kami di suguhkan gulungan kertas yang mana berisi lagu yang akan kami nyanyikan.


Sangat gila, 🤕


Aku menahan perasaan kesalku malam ini. Perasaan yang membuatku merasa sangat tidak nyaman.


Bagaimana pun aku harus menunjukkan sikap profesional. Dan tidak ada yang boleh tau hubungan aku dan pak Kavin.


Demi cintaku padamu,


,,,,,


...


Begitu giliran pak Kavin melantukan bait lagunya, aku sempat kaget karena suaranya sangat baik menurutku.

__ADS_1


Jujur aku sangat menikmati suaranya. Hanya saja tema lagu malam ini yang membuatku tidak nyaman.


Usai menyanyikan satu buah lagu langkahku untuk langsung turun dari panggung langsung di hentikan oleh mc.


Tepuk tangan dan suit an dari hadirin menghebohkan arena acara.


Berbagai komentar dari sesama camat, pejabat dan panitia serta kolega yang hadir membuatku sulit untuk merespon.


"Jangan membuat anak gadis orang serba salah pak." Jawabnya mengomentari komen dari hadirin.


"Kalo pak camat yang ini bebas di jailin, gak ada yang bakal ngunci pintu rumah." Ucap pak Camat Y di sambut tawa dari hadirin yang lain.


"Oh iya, bener bener bener. Jangan jangan habis nyanyi lagu ini langsung dag dig dug serr hatinya kan." Ucap Icha salah satu mc pada malam ini.


"Eh, bentar bentar, aku denger bisikan hati pak Kavindra Cha,"


"Apa apa?" Jawab Icha sok rempong. 😅


"'Habis ini ku datangi orang tuamu, Yevn'." Ucap Adi yang menjadi pasangan Icha malam ini yang bertugas sebagai mc.


Menurutku candaan nya garing, namun para hadirin ikut memojokkan posisi kami.


"Lanjutkan Pak Kavin, hahaha." Ucap pak Andris, selaku camat di kecamatan A menggunakan mic komentar yang disedikan oleh kru.


"Siap pak Andris." Ucap manusia Kutub dan langsung mendapat tatapan tajam dari ku.


"Bentar bentar pak, eh, habis ini bakal di serbu aku nya sama penggemar pak Kavin, hahaha." Aku membalas semua komentar berusaha menutup sesuatu yang tidak di ketahui orang lain.


"Ciiieeeee,,, ini bu Yevn nya secara ga langsung mencari kebenarannya, nih." Dasar Adi, membuatku seakan 'senjata makan tuan'.


"Bener, bener bang... kesempatan nya pas ya bu Yevn. Apalagi pak Kavin, jelasin." Jawab Icha menimpali komentar Adi.


Seluruh hadirin semakin heboh, membuat muka ku benar benar panas dingin.


"Senjata makan tuan ya Bu Yevn." Ucap Icha membenarkan pemikiranku.


"Iya, perasaan peserta lain ga gini gini amat deh" Ucapku, di sambut tawa dari hadirin.


Terlihat pak Reza selaku camat dari kecamatan B sudah merah muka karena tertawa.


Kami pun di persilakan turun panggung.


Baru mundur beberapa langkah, Para mc mulai membuat onar.


"Gimana kalo last acara kita minta duet dari pak Kavin dan bu Yevn lagi?" Ucap Adi meneriakkan suaranya dan di sambut antusias penonton.


"Setuju ya?" Icha menimpali.


Area acara kembali riuh.


"Jangan mengada ngada bang Adi." Ucapku lewat mic yang masih ku pegang.


Pak Kavin yang berjalan di sampingku tersenyum tertawa mendengarkan.


Aku dan pak Kavin melangkah ke arah yang berbeda.


Aku lebih memilih duduk dan bergabung dengan panitia di pisisi penonton tepat di pojokan kanan.


Sedang kan pak Kavin memilih duduk di kursi paling depan bergabung dengan kerabatnya.

__ADS_1


....


***


Aku bermaksud akan pulang satu hari lebih cepat dari jadwal.


Malam ini merupakan malam penutupan, yang mana terdapat acara resmi dan semi dan akan di hadiri oleh pejabat provinsi.


Aku tak ingin tampil malam ini, dan sudah ku laporkan pada pihak panitia dan pelatih.


Pagi ini aku hanya rebahan sebelum akan berkemas barang barang ku untuk di bawa pulang.


Dan apakan daya, pihak panitia menemuiku, memintaku untuk tampil malam ini karena dapat request dari pihat provinsi.


Aku sudah mengatakan betapa tubuhku sedang tidak fit. Justru mereka sudah menyiapkan vitamin untukku begitu tau kondisiku sedang tidak fit.


Aku pun akhirnya mengiyakan dan membatalkan niat untuk pulang hari ini.


.....


Beberapa kali ada yang menemuiku untuk memberikan vitamin dan memberi semangat untukku.


Aku sudah seperti penjual begitu melihat beberapa vitamin yang ku susun di atas nakas, sangat banyak.


Aku ingat, vitamin vitamin yang ku dapatkan, dari panitia dua orang, dari kak Teguh rekan kantorku yang ku anggap seperti teman dan kakak buat aku. Beliau khawatir begitu tau aku sedang tidak fit dan tau aku akan nampil lagi malam ini.


Ada lagi vitamin yang di beri dari pihak kabupaten selaku tuan rumah, dan,,,, dari dia.


Pak Kavin menemuiku menyerahkan vitamin dan juga membawa beberapa makanan yang aku suka.


Aku mengucapkan terima kasih ku dengan tulus. Meski sebenarnya aku keberatan bertemu dengan dia, apalagi sejak kejadian malam itu.


Dimana aku menangis tak bisa di cegah, di tahan. Dimana dia menenangkanku dan menunjukkan sikap khawatirnya padaku malam itu. Menunjukkan sikap bahwa dia peduli padaku.


Iya, aku sadar bahwa dia sangat peduli padaku.


***


Malam ini aku di siapkan dengan tiga kostum.


Ketiga gaun ku sudah di siapkan di ruang ganti.


Satu kostum pakaian adat melayu berbahan songket asli berwarna dark purple.


Kostum kedua gaun berwarna maroon, simple dan elegan di pandanganku.


Sedangkan kostum ketiga, gaun panjang dan sangat lebar berwarna biru.


Sebelumnya aku sudah di kabarkan bahwa malam ini aku akan beberapa kali berganti kostum dan akan memainkan music apa dan lagu apa.


'Hanya satu malam, setelah ini aku bisa istirahat. Hanya sebentar Yevn, pasti bisa.' Gumamku.


Bang Vhen memberi semangat padaku lewat telfon, karena beliau tahu akan ada penampilan dariku malam ini.


"Kamu bintangnya malam ini, jadi tersenyum dan tetap semangat." Ucap kak Aries selaku pelatih pentas seni ini.


***


Bersambung

__ADS_1


.


.


__ADS_2