
Kepala ku terasa sakit, tubuhku terasa sangat lemah. Ku buka mataku perlahan karena kepalaku sangat berat.
Semua serba putih, apa aku sudah mati?
Dimana ayah? di mana kak Arfan?
Kepalaku sangat sakit, aku menyentuh kepalaku.
Aku mengenakan alat bantu pernapasan.
Terlihat selang transparan dengan jarum yang menancap di pergelangan tangan dan air bening yang mengalir lewat tetesan tabung yang tergantung di tiang besi samping tempat tidur.
Apa aku masih bermimpi? Mimpi yang sama?
Dimana kak Arfan? Ayah dimana? Kenapa kak Arfan tidak di sini membacakan surat kasih Tuhan?
Kepala ku terasa sangat sakit,, Seakan di tusuk dan di tindih benda yang sangat berat.
Seseorang masuk ke dalam membuka pintu ruanganku. Aku tidak bisa melihat jelas raut wajahnya, penglihatanku masih kabur dan buram.
Tapi aku tahu, itu seorang wanita, mama berjalan ke arahku, dan buru buru menghampiriku begitu mendapati aku telah siuman.
Mama mengelus kepalaku dengan pelan, di usap rambutku dengan tangan yang gemetar. Ucapan syukur pada sang kuasa tak hentinya terucap dari bibir wanita tangguh ini.
Aku masih belum bisa berinteraksi banyak, semuanya terasa berat untuk ku lakukan.
Mama dengan tergopoh menuju pintu keluar, dan masuk dengan bang Vhen dan kak Machel.
Mata mereka terlihat sembab dan basah.
Bang Vhen bahkan masih dengan airmata yang mengalir. Kak Machel memelukku, sama seperti mama, beliau tak henti nya berucap syukur.
Kini bang Vhen terlihat berdiri mengurut pangkal hidung dengan air mata masih mengalir. Satu tangannya bercekak pinggang.
Aku terus melihatnya,
"Abang,,,," Panggilku dengan suara lirih. Pundak abang bergoyang karena melepas tangisnya.
Abang langsung memelukku, mendekapku dengan erat dan terus menangis.
"Maafkan abang, dek,,, maafkan abang." Ucapnya.
Airmataku meleleh lewat ujung mataku.
Penderitaanku belum usai, dan akankah usai?
Gadis malang yang gagal melakukan percobaan untuk mengakhiri hidupnya. Dan sekarang hanya bisa melihat dirinya yang semakin menyedihkan.
.
.....
Hari ini kondisiku semakin membaik, dan akan segera di bolehkan untuk pulang.
Aku memainkan ponselku, menulis penggalan kisah yang telah ku tapaki,, meski tertatih, aku hanya ingin ini di kenang baik setelah kondisi ku semakin membaik atau pun aku lenyap.
Seseorang masuk ke ruanganku, ku lihat senyum nya yang terukir tipis, aku menyambutnya dengan melempar senyumku padanya.
"Bagaimana kabarmu?" Dia duduk di kursi yang berada di samping ranjang.
"Seperti yang terlihat," Jawabku santai.
"Kamu selalu terlihat berbeda dari kenyataannya." Ucapnya dengan sedikit tawa, tapi yang di ucapkannya merupakan pernyataan yang memiliki makna tersendiri.
__ADS_1
Aku menoleh ke arahnya, tatapannya teduh namun dia memiliki sorot mata yang tajam.
Aku menenggak saliva.
"Terlihat lucu kan, gadis bodoh yang malang yang di cintai banyak orang, kebodohan sang gadis tidak lebih baik karena ada yang lebih buruk darinya." Aku melemparnya dengan kalimat menyinggungnya, tapi pada kenyataannya aku hanya mengatai diriku sendiri, karena pada dasarnya itulah tujuanku.
"Sebegitu nya kah kamu menolak kehadiranku?" Pak Kavin menatapku lekat.
Aku terkejut dengan ucapannya, tak menyangka dia akan berucap demikian.
"Aku memang memaksa kehendak untuk bisa bersamamu, menerima semua konsekuensinya yang tidak tahu sampai kapan kamu bisa melihat dan menerima kehadiran aku, meskipun telah bergelar suami istri, aku bisa terima. Tapi tidak jika kamu harus mengambil jalan seperti ini, tak pernah terfikirkan, bahkan sedikitpun tak pernah terlintas akan terjadi seperti ini. Nyawa bagimu seakan tak berarti apa apa." Pak Kavin terus berkomentar, menyampaikan isi hatinya.
Aku hanya bisa diam mendengar penuturannya.
"Jika ini sebegini berat untuk kamu terima, untuk kamu jalani,,,,"
Kalimatnya terhenti, apa yang akan di sampaikannya?
",,,,tak perlu seperti ini. " Ucap nya.
Hening,,,,
Samar samar ku dengar suara bang Vhen dan yang lainnya ribut di luar.
"....Yevn tidak butuh psikiater/psikolog, dia butuh kita. Vhen ga setuju kak, Vhen ga mau kalo Yevn sampai tahu ide kalian ini."
Terdengar suara bang Vhen yang menahan emosinya. Beliau menahan suaranya, tapi tetap sampai terdengar hingga ke dalam, karena begitu heningnya yang terjadi di antara kami.
Pak Kavin melihatku dengan lekat, aku masih terpaku tak bisa bernafas. Dengan cepat pak Kavin berdiri mendekat ke arahku, menutup kedua telingaku, aku terpaku diam dalam peluknya.
Pikiranku berlari cepat tak berarah, hingga tak ku temukan ujung pangkalnya. Perdebatan antara bang Vhen dan kak Machel di luar mereda setelah ku dengar seseorang membuka pintu ruang perawatanku.
Apa aku sebegitu parah? orang orang mengira bahwa aku butuh psikolog. Aku memejamkan mata, mencerna apa yang telah terjadi. Aku tak ingin menangis, terutama di depan laki laki ini.
"Yevn,, Yevn,,.. Bernapas, hei, bernafas." Suara nya bergema, mengembalikan kesadaranku yang mengejar buah pikir yang tak menentu. hingga aku menarik nafas dalam dalam.
.
.
.
***
Hari ini aku pulang dari rumah sakit, tiba di rumahku, mama ikut tinggal bersamaku.
Aku langsung masuk ke kamar, merebahkan tubuhku di atas tempat tidur, terakhir yang aku ingat, aku berada di kamar saat aku menenggak obat tidur dengan jumlah banyak, berniat mengakhiri hidupku.
Tuhan masih memberiku hidup, menghirup oksigen,, aku memilih cara mati yang salah. hmm...
Eva masuk ke kamarku, ikut duduk di atas tempat tidur, lalu memain ponselku. Aku melihatnya membuka aplikasi Noveltoon dengan akun milikku. Aku membiarkannya.
"Rahmad masih tak mengizinkanmu bergabung di MT?" Tanyaku.
"Hmm,,,," Eva menjawab singkat.
"Kamu nyaman sama Rahmad?" Tanyaku lagi.
Eva menjatuhkan tangannya yang memegang ponselku, terlihat dia serius dengan pertanyaanku.
"Nyaman itu kita ciptakan, bukan larena siapa dan dimana? Karena sampai kapanpun dan di manapun kita mencari, tak akan kita temui." Jawab Eva.
Aku terdiam mencerna apa yang di ucapkannya.
__ADS_1
"Kamu nyaman sama pak Kavin?" Kali ini Eva yang melempariku dengan pertanyaan yang sama. Terdengar aneh ketika dia menyebut nama manusia kutub itu dengan benar.
Aku tak menjawab, hanya bisa mengingat saat di mana aku dan manusia kutub setiap kali bertemu hingga tak berkomunikasi sama sekali.
Saat aku bersama teman, kolega, saat aku merasa terpuruk, saat aku menceritakan tentang almarhum padanya, saat aku hancur, saat aku merasakan kehilangan, hingga entah apa itu, seperti rindu.
"Aku mau tidur, rumah sakit bukan tempat yang baik untuk lelap." Ucapku sambil menarik bantal kecil untuk menutup kepala dan telingaku.
"Kebiasaan, kalo di tanya malah ngehindar." Eva terdengar kesal.
"Oh iya, kalo kamu balik ke kamar mu, jangan lupa kunci pintu kamarku" Ucapku.
"Kiranya apa? Aku penjaga sel tahanan?" Eva merungut.
"Apa bang Vhen dan mama setuju dengan ide kak Machel untuk membawaku ke psikolog?"
Aku bertutur dalam hati. Hingga ku jemput sang mimpi yang yang tak menampakkan diri.
.
.
.
Ponselku berdering,, aku meraihnya, terlihat nama pemanggil yang tertera di layar, Kak Teguh.
"Hallo,, Yevn." Terdengar suaranya menyapaku.
"Hai, kak." Ucapku tersenyum sendiri.
"Bagaimana keadaanmu? Katanya kamu anemia?" Ucap kak Teguh, membuatku sedikit kaget, mungkin dari pihak keluargaku yang mengabarkan seperti itu.
"He,,, iya, udah baikan kak, masih di suruh istirahat, maaf aku merepotkan tim." Ucapku.
Kak Teguh tertawa dan memaklumi keadaanku. Dia juga menyampaikan salam dari teman teman yang lain.
"Jangan pernah punya pikiran konyol lagi,"
Ucap kak Teguh.
Aku memikirkan kalimat yang di ucapnya. Apa kak Teguh tau yang telah terjadi.
"Apa kakak,,,,," Kalimat ku terhenti begitu seseorang masuk dengan suara cemprengnya.
"Yevn,,,,! Haloha.." Ucap Eva yang langsung melempar tubuhnya di sampingku. Eva meraih ponsel yang masih terhubung dengan kak Teguh.
"Kak Teguh...! Waahhh,,, baru berapa hari dah main kangen aja ya kak." Ucap Eva yang kembali meletakkan ponselku di telinga.
Terdengar suara kak Teguh yang terkekeh di seberang telfon.
Aku di buat gelagapan dengan tingkah Eva yang blak blakan.
"Upss, sorry, bu singa." Ucap Eva dengan cengengesan.
"Yevn, kakak tutup dulu ya telfonnya. Mau siap berangkat ke gedung daerah." Ucap kak Teguh.
......
Aku menilik cincin yang terpasang di lingkar jari manisku.
Apa hubungan kami akan segera berakhir?
.
__ADS_1
Bersambung......