
πΌπΌββ »»Hai hai hai ...... para kesayangan....πππ
Makasih banyak dah mampir..... π€π€
Jangan lupa like, fav, rate lima bintang β β β β β ya, jangan kurang ππ tinggalin jejak di komentar biar aku tau π Vote juga bagi yang berkenan. Makaciiih... ππππ
## ......] βββββ‘β‘πππππ
"siap,?" Ucap abang Vhen lalu mulai memetik gitarnya. Kami semua masih menebak nebak lagu yang akan di bawakan abang. Menunggu kemudian,,, lagu apa ini, gumamku.
Kak Arfan yang melihatku masih menebak nebak langsung memainkan jarinya mengikuti musik gitar kak Vhen.
Abang Vhen tersenyum, karena kak Arfan bisa menebak dan mengikuti musiknya. Ayah memainkan biolanya.
Kak Arfan berbisik padaku untuk mencobanya memainkan. Aku menggeleng kepala, karena tidak tau dengan lagu yang dibawakan. Jelas saja tidak tau, Abang Vhen menjebak dengan membawa lagu klasik.
Tiba tiba ibuku masuk membawa makanan ringan. Beliau mendendangkan lagu mengikuti alunan musik. Ternyata ibuku juga tau lagu nya.
Ibuku memiliki suara yang merdu, beliau suka bernyanyi. Tapi selalu menolak jika di minta, katanya sudah tua, ibuku sangat pemalu, dan sifatnya pemalu ini di warisi kakakku.
Karena sekarang hanya bersama keluarga, makanya ibu mendondangkan lagu mengikuti irama musik. Kak Arfan? Ibuku sudah menganggapnya keluarga.
Aku tertawa senang melihat kebahagiaan ini.
"Yevn,,,," bisik kak Arfan dengan masih memainkan piano.
Aku yang sedang tersenyum menyaksikan aksi keluargaku menoleh pada kak Arfan.
"Aku mencintaimu." Ucapnya, sontak membuatku pipiku merona.
__ADS_1
Aku tersenyum, "Aku juga," Jawabku spontan.
Kak Arfan tersenyum sangat manis. Hingga lagu usai.
Hari libur yang menyenangkan.
****
Satu minggu sudah sejak hari aku membuka hatiku untuk kak Arfan. Hari hariku baik baik saja, aku sibuk dengan pekerjaan dan kuliah ku. Kak Arfan juga sibuk dengan pekerjaannya.
Tapi kami masih tetap berkomunikasi. Malam sebelum tidur beliau sering menelfon menanyakan kabar, bagaimana hariku, mengingatkan ku untuk minum obat.
Kak Arfan selalu membacakan ku surah Ar Rahman letika sedang menelfon.
Aku sangat senang. Memiliki calon imam yang sholeh. Aku bersyukuf tak terhingga.
Keluarga kak Arfan akan masuk melamar satu minggu lagi. Dan kami akan segera bertunang lalu memutuskan waktu pernikahan.
Teman teman yang mengetahui rencana pertunanganku, mulai berkirim pesan.
Ada yang memberi ucapan selamat dengan tulus, atau mencari cari info, bahkan ada yang bertanya terus terang prihal ku yang siap menikah muda.
Apapun yang ku terima, atau apaun alasan nya, aku percaya bahwa Allah telah memberiku jodoh di usia sekarang.
Empat hari sebelum acara lamaran, aku menerima tawaran bermain biola di satu acara. Dan aku menerima tawarannya.
Selesai acara aku menunggu di jemput oleh abang Vhen. Ternyata yang datang kak Arfan. Abang Vhen tidak bisa menjemput karena mendadak ada urusan.
Aku memasuki mobil dan di susul kak Arfan.
__ADS_1
"Baiklah tuan putri, kita akan kemana?" Tanyanya sambil tersenyum.
Aku hanya tertawa mendengar ucapannya.
"Pulang aja."
Jawabku singkat.
"Baiklah, kamu pasti lelah." Ucap kak Arfan sambil tersenyum.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Sepanjang jalan kak Arfan melantunkan ayat suci Al Quran. Surah yang paling sering aku mintai untuk di bacanya. Bacaannya sangat merdu.
Ku perhatikan wajah yang duduk di sampingku, wajahnya sangat teduh. Kak Arfan benar bebar tampan dengan kemeja yang di kenakan.
"Yevn,...." Panggil kak Arfan.
"Iya." Jawabku.
"Ga jadi deh." Ucapnya yang menurutku dia sangat konyol.
.
.
.
.
.
__ADS_1