
Alfandy Kavindra, orang nomor satu di kecamatan di tempat tinggalku.
Terkenal dingin, cuek, ketus, dan berwibawa.
Namun kadang kadang aku lebih mengenalnya berisik, menyebalkan, banyak bicara di kondisi kondisi tertentu.
Urusan hatinya.
Aku tidak tau apa yang membuatnya sanggup bertahan hingga saat ini.
Berusaha masuk kedalam keluargaku, membaur bahkan berusaha menerobos hatiku.
Seorang Kavindra yang di incar banyak wanita baik pegawai kantornya, maupun teman teman kantorku.
Bagaimana tidak, laki laki mapan, dewasa, berkharisma, tampan menurut mereka.
Aku bahkan muak mendengar ocehan teman temanku tentangnya.
Dua tahun yang katanya telah bertahan mempertahankan perasaannya pada seorang pesakit yang baru saja di nyatakan sembuh oleh dokter baru baru ini.
Bertahan dengan seorang gadis yang putus harapan menjalani hidup.
Bertahan dengan seorang gadis yang kata orang dingin dan ketus.
Bertahan dengan seorang gadis yang kata orang keras dan ketat dengan aturan.
Bertahan dengan seorang gadis yang lari dengan kenyataan hidupnya.
Seorang gadis yang masih belum bisa menerima takdirnya.
Seorang gadis dengan darah campuran luar dari keluarganya.
Yang tak cantik rupa, dan dengan kekurangan dimana mana.
"Aku kudu piye.....ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜" Tanyaku pada salah satu teman chat di MT saat sedang menyampaikan isi hatiku saat itu.
"Biarkan tangisanmu pecah, kalo sudah di rasa cukup tarik napas hembuskan, buka pikiran dan hatimu, langkah kedepan pikirkan orang disekitarmu, dia yang telah berlalu sudah berbeda jalan tujuanmu dgn nya. Jika kamu masih berjodoh dengan nya insya Allah akan dipertemukan Allah disurga Nya, aamiin."
Hatiku masih belum lepas dari almarhum kak Arfan.
Bagaimana mungkin ku hadirkan sosok lain di dalam hatiku, termasuk dia yang sedang menanti.
**
"Coba dulu Yevn, ingat mamahmu." Ucap mak Meghan saat ku ceritakan tentang pak Alfandy yang memintaku untuk membuka hatiku untuknya.
"Ga bisa mak, aku ga ada rasa apapun padanya." Balasku.
"Iye, Yevn. Coba buka hatimu dulu, buat dia yang masih nunggu kamu." Mom May menimpali.
"Belum apa apa kamu dah bilang gak bisa, kalah sebelum mencoba." Ucap mak Megha lagi.
.....
****
Malam ini di adakan syukuran di rumah mamaku atas kesembuhan yang baru di nyatakan dokter kemarin.
Aku, bang Vhen dan istrinya, Eva serta manusia kutub yang di undang mama berangkat pagi dari kediamanku.
Acara di buat pada siang dan malam.
Aku mengundang teman kantorku dan beberapa orang teman yang dekat denganku di kecamatan tempat Manusia kutub bertugas.
__ADS_1
Orang tua dan keluargaku sudah mengenal karakter manusia kutub, termasuk orang tua alamarhum kak Arfan.
"Bagaimana kabarmu, nak?" Ucap mama Finda memeluk dan mencium pipiku haru.
Papa Usman mengelus kepalaku layaknya pada anak. Kasih yang mereka berikan tak berubah sedikitpun meski almarhum sudah tiada.
"Jangan nangis, ma, aku baik, alhamdulillah." Jawabku ikut terisak.
Ayah Usman memegang pucuk kepalaku dan membacakan ayat ayat doa, syukur dan keberkahan untukku.
Bang Vhen menyalami mereka berdua di ikuti pak Kavindra yang sudah mengenal mereka.
Mama Finda menarikku ke sudut ruangan, duduk di antara keramaian sore itu.
Yang lain sudah membaur dengan tamu yang lain.
Mamahku dan kak Mashel sibuk menyambut tamu yang hadir.
"Dia masih bertahan untukmu?" Tanya mama Finda padaku.
"Siapa?" Tanyaku melihat ke arah mama Finda.
"Manusia es mu itu?" Ucap mama Finda membuatku geli di hati mendengar pertanyaannya.
"Dia keras kepala mah, aku bingung ngadepin dia." Jawabku lemes.
"Tak ada kah rasa sedikitpun darimu untuk dia?" Mama Finda menatap ku serius.
"Sudah istikharah nak seperti yang mama sarankan?" Lanjut mama Finda.
Aku menggeleng.
"Aku tidak sedang ragu ragu untuk menerima atau menolaknya mah, karena pada dasarnya aku tak memiliki rasa apapun sama dia." Jelasku.
"Iya, iya, kamu masih mencintai dia dengan sepenuh hati kamu. Kamu bahkan tak mau dia di gantikan oleh siapapun. Arfan tak salah memilihmu nak." Air mata mama Finda ikut menetes melihatku menangis.
"Tapi, coba lah, tak selamanya kamu harus seperti ini. Dunia kita sudah berbeda dengan nya. Kita yang masih hidup harus memilih kebahagiaan kita."
Beliau menyentuh kedua pipiku, menghapus air mataku dengan tangannya.
Satu persatu tamu mulai beranjak undur diri, aku mengantar mereka dan mengucapkan terimakasih atas kehadiran dan doa yang di panjatkan.
Teman temanku juga mulai beranjak.
"Selamat Yevn, Allah memberkahimu."
Ucap salah satu teman yang sering bertugas di lapangan bersamaku, Risky.
Beliau tersenyum padaku dengan tulus.
Risky Subagia Effendi, yang mana sebelum nya merupakan seorang kasi pemerintahan di salah satu kecamatan di kabupaten ini.
Belum lama ini juga beliau baru di angkat menjadi sekcam. Sangat ramah dan memiliki senyum yang manis menurutku.
Begitu dia berlalu, tak sengaja aku melihat ke arah mama di jarak beberapa meter yang melihatku dengan tatapan yang tak bisa ku artikan.
Aku masih menyalami para tamu dan sesekali aku melihat ke arah mama.
Apa yang di fikirkan oleh mama.
Selesai satu acara siang ini, menunggu dan menyiapkan untuk acara nanti malam.
Mama menghampiriku ke kamar, begitu juga bang Vhen.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya ku heran.
Aku melihat ke arah bang Vhen mencari jawaban.
Abang lalu tertawa, aku dan mama mrlihat abang heran.
"Dek, kamu itu galak, keras kepala, freezer, di lihat lihat,,, ga ada cantik cantiknya. Satu aja belum kelar, satu lagi datang." Ucap bang Vhen membuat ku cemberut mendengar penuturannya.
"Mah, masa mama diem aja pas anak mama yang cantik, imut, baik hati dan tidak sombong ini di katain sama abang." Ucapku meminta penbelaan dari mamah.
Mama masih sibuk dengan fikirannya. Aku melihat ke arah abang penuh tanya, berharap abang segera menjelaskan semuanya.
Abang menarik nafas dalam dalam lalu melepasnya dengan berat.
"Dek, kamu sama Alfandy gimana?" Tanya mama padaku.
"Alfandy? Yevn sama dia gak ada apa apa, mah. Yevn masih menganggapnya rekan kerja." Jawabku.
" Teman teman yang lain gimana?" Tanya mamah lagi.
"Maksudnya?" Selidikku, aku bingung dengan pertanyaan mamah yang belum menemukan titik terangnya.
Beralih menatap abang yang sedari tadi tak mengindahkan tatapanku.
"Risky, dek." Ucap bang Vhen singkat.
"Risky siapa? Risky Subagia Effendy?" Jawabku ngasal.
"Iya." Jawab abang.
"Hah? Kenapa dengan pak Rizky?" Tanyaku kaget.
"Rizky ingin melamarmu." Ucap mama.
"Hahahaha,,,, jangan becanda ma. Apa apaan." Aku ingin bangun beranjak dari ranjang.
Tapi tangan mama dengan cepat menahan lenganku sebelum aku sempat berdiri.
"Bagaimana hubungan kamu sama dia?" Tanya mama serius menatapku lekat.
Aku melihat ke arah mama, bingung dengan situasi yang terjadi saat ini.
....
****
"Siapa yang mau kasi aku jajan?"
"Aku misquin?"
"Aku minta ya, ga malak."
Seperti biasa ratu gesrek beraksi. Siapa lagi kalau bukan New alias Neunyu alias Nyun alias Penyu. 😂😅✌
.
.
.
Bersambung
Pelarian Sementara
__ADS_1