
Pagi ini, aku bangun lebih awal, meski mata sangat berat untuk di buka. Karena malam nya aku benar benar sulit untuk tidur.
Meski hanya berdiam di dalam kamar, aku tetap di pastikan makan tepat waktu bahkan mengkonsumsi vitamin agar tetap fit.
Saat mata terbuka, yang pertama kali terlihat adalah gaun putih yg tergantung rapi di tepi meja rias.
"Astaga, belum bangun lu weh.... Gila lu.."
Eva tiba tiba muncul dari luar, kaget melihat ku yang masih muka bantal.
"Bangun cepetan, sebelum ada yang ngelayat elu ke kamar. Atau jangan jangan dah ada yang datang ngelayat." Eva mulai mengoceh membuat telinga ku getir melewati detik demi detik bersama nya..
"Ngelayat apaan? Emang aku udah mati apa?" Jawab ku melirik kesal ke arah nya.
"Hehe,,, habis nya elu sendiri jam segini baru melek. Parah ga sih?"
Eva menilik gaun ku dari dekat dengan suara masih saja mengoceh.
"Ini namanya calon istri idaman. Hooaaamm." Jawab ku asal.
Eva menoleh ke arah ku dengan mulut menganga dan mata membulat lebar.
"Nasib elu aja yang baik, dapat suami seperti pak Es. Tapi kalo dia tau elu yang asli, habis elu di terkam."
Aku tak menggubris ucapan Eva, meninggal kan nya dan terus melangkah menuju ke kamar mandi.
.
.
.
"Aku terima nikahnya Anastasya Sadulayevna binti Muhammad Joseph Arafat dengan mas kawin tersebut tunai."
"Bagaimana para saksi? Sah?"
"Sah."
Doa di panjatkan pada sang Khalik, pemilik seluruh jagat raya. Aku mengucap kan syukur terdalam pada sang Rabb, dapat ku dengar dari kamar akad nikah berjalan dengan lancar.
Jumat, 19 Maret 2021,
Manusia kutub sudah sah menjadi suamiku, meski aku belum bisa mencintainya dengan sepenuh hati, tapi kini dia suami ku. Yang akan aku cintai dengan izin Allah.
Air mata ku menetes, kak Aisyah yang menyadari langsung memeluk k, mengucapkan selamat dan doa terbaik juga di ucap kan.
Eva menggenggam erat tangan ku, ikut bergantian memeluk ku.
"Sambut suami mu." Bisik kak Aisyah.
__ADS_1
Ku lihat kutub sudah berdiri di depan pintu kamar ku, aku menghampiri nya, di dampingi kak Aisyah dan juga Eva di belakang kiri dan kanan ku.
Tika tiba di hadapan kutub, beliau mengulurkan tangan padaku, ku sambut uluran tangan nya, yang kemudian beliau menggenggam tangan ku.
Aku mengikuti langkah nya menuju ke altar tempat akad nikah yang baru saja di laksanakan.
.
Ketika kutub berdiri di hadapan ku di altar khusus yang sudah di sediakan, untuk sesi acara usai akad. Beliau meraih tangan ku menyarung kan cincin di jari manis ku.
Ku sambut tangan nya dengan beribu harapan pada Sang Robb. Ku cium punggung tangan nya, dengan ragu dan juga malu di perhatikan orang banyak.
Doa berlangsung dengan penuh khidmat. Terbayang wajah kutub ketika menyambutku tadi. Sekilas dapat ku lihat mata nya yang sembab dengan senyuman yang terukir di bibirnya, begitu terlihat tulus.
Di sisi lain, di saat FG sibuk mengabdikan kenangan hari ini, kutub yang kini bergelar suami menyentuh kepala ku dengan satu tangan nya yang di letakkan dia atas ubun ku dan satu nya menadah. Aku ikut menadah kan kedua tangan ku, doa di lantunkan.
Kedua tangan kutub meraih kedua pundak ku. Mendekat kan wajah nya ke arah wajah ku. Bibir nya mengecup lembut kening ku.
Satu detik
,, dua detik
,,, tiga detik
Hingga detak kan jantung membuat ku tak bisa mengira detik nya lagi.
Hingga lelah mulai menghampiri. Riuh rendah masih berlangsung tanpa henti dari ibu bapak dan sanak saudara yang sibuk menyukseskan acara ini.
Kutub sudah kembali ke kediaman nya dan seluruh keluarga laki laki di rumah saudara ku yang berada tak jauh dari rumah mama.
Tepuk Berandam hanya akan di lakukan pada pengantin wanita. Mama, kak Machel, dan para orang tua perempuan yang berjumlah ganjil bergantian melakukan tepuk adat ini padaku, termasuk mama Finda, ibunda almarhum kak Arfan.
Beras putih, beras kuning, bertih, inai giling, bunga rampai di tabur padaku.
Usai acara, aku langsung mandi membersihkan diri, waktu ashar masih ada. Hingga usai shalat ashar, aku di panggil mama untuk makan. Mama Finda juga ada menanti ku.
Meski nafsu makan ku sedang buruk saat ini, tapi aku tetap harus makan untuk menjaga stamina. Karena usai Maghrib aku akan kembali di rias untuk sesi acara tepuk tepung tawar.
Usai makan, aku langsung ke kamar, di susul mama Finda. Sedari tadi ku lihat mama Finda tak henti nya tersenyum dan wajah nya yang berseri.
Aku menatap wajah mama Finda, orang tua dari laki laki yang ku cintai yang telah pergi buat selama lamanya.
"Maaf kan Yevn, ma." Ucap ku dengan gemetar.
"Kenapa nak?"
"Jika kak Arfan masih ada, aku mungkin sudah menjadi istri nya, sekaligus anak mama."
"Astaghfirullah nak,, Yevn, Allah tak pernah salah membuat jalan untuk hamba Nya. Kamu tetap anak mama, jangan berfikir yang bukan bukan." Mama Finda mengelus pundak ku.
__ADS_1
Hingga Eva masuk menyampaikan kalo papa Usman alias suami mama Finda sedang menunggu di luar. Mama Finda pun pamit padaku.
Acara Tepuk Tepung Tawar berlangsung, tabuh berbunyi, Kompang di paluh, MC memanggil satu demi satu penepuk untuk melakukan kegiatan adat malam ini sekaligus di selingi dengan membaca kan pantun nasihat untuk kedua pengantin.
Aku masih menunggu di kamar, sebelum giliran ku untuk naik ke pelaminan. Karena sekarang yang sedang duduk di bangku pelaminan adalah manusia kutub. Hingga selesai dan berganti ke giliran ku.
.
.
.
Pagi pagi aku sudah siap mandi dan sarapan. Kak Aisyah yang menjadi MUA di acara pernikahan ku, sudah berada di kamar dan sarapan bersamaku.
Tepuk tepuk tepuk,,,
Poles poles poles,,,
Coret coret coret,,,
Entah berapa lama waktu sudah berlalu, gaun putih mendampingiku di sesi acara pagi ini sudah ku kenakan. Acara Khatam Quran akan segera berlangsung.
Riasan tipis dan dengan warna tak mencolok serta riasan kepala tak rimbun menjadi pilihan ku di acara pernikahan ku di rumah mama.
Selesai Khatam Quran, aku kembali berganti gaun untuk resepsi pernikahan. Rasa nya sangat lelah, tapi ini tak akan lama dan akan segera berakhir, semangat Yevn. Gumam ku.
Upacara kenegaraan di gelar, aku menggandeng tangan kutub sambil berjalan di altar dengan pelan.
Para kerabat, teman lama, rekan kantor, kolega, sanak saudara ikut meramaikan.
Bupati dan wakil bupati hadir mengucapkan selamat, juga pak sekda yang mengucapkan selamat dan tahniah dengan senyum lebar.
Aku dan kutub bersanding di atas pelaminan, kedua orang tua pak Kavin, mama ku dan bang Vhen berada di sisi kami dengan senyum manis sempurna.
Meski agak miris dan berasa ada yang kurang, karena tak ada sosok ayah di samping ku. Pelukan ayah hanya bisa ku bayang kan dengan hangat.
.
.
.
Bersambung,,,
__ADS_1
*