Diary Miss To Move

Diary Miss To Move
Ar Rahman 2


__ADS_3

"Ana uhibbuki fillah,," Kak Arfan menatapku dengan senyumnya. Tatapan nya yang teduh yang membuat siapapun akan merasakan damai.


Wajahnya terlihat lelah, dan terlihat garis hitam di sekitar mata.


Tangannya sesekali menekan pangkal hidungnya, dia terlihat begitu kusut.


"Oh, kakak membawakanmu pasmina baru, biar kakak kenakan."


Ucap kak Arfan dengan mengeluarkan satu pasmina dari sebuah paperbag yang sebelumnya di letakkan di atas nakas samping tempat tidurku.


Beliau membuka lipatan kerudung dan menutup kepalaku yang masih mencium bantal.


Dengan kondisi seperti ini, aku bisa melihat matanya dari dekat, sembab dan basah. Dan memang sekitar matanya berwarna gelap dan berkantung. Apa dia tidak tidur?


Dia kembali duduk di kursi nya yang berada di samping tempat tidurku. Di raihnya tanganku yang terpasang selang infus.


"Kamu ga bosan terus baring di sini? Kamu sudah ketinggalan banyak latihan musiknya. Kapan majunya?" Kak Arfan terus mengoceh di sampingku.


Aku hanya menatapnya tanpa suara. Aku tidak memiliki tenaga sedikitpun walau hanya sekedar untuk bersuara.


Tapi hatiku terusik melihat laki laki yang berada di sampingku. Hatiku di penuhi kerinduan besar padanya.


Mata ku terasa panas, mengalir lewat ujung mata tetesan air mata. Ku lihat raut wajahnya yang berubah, tangannya mengusap air mataku yang mengalir.


"Bagaimanapun kamu, kakak tidak akan meninggalkanmu."


Beliau masuk ke kamar mandi dan keluar dengan lengan baju nya yang di lipat hingga ke atas siku.


Rambut dan wajah dengan kulitnya nan putih, yang basah terkena air wudhu.


Beliau kembali duduk di sampingku, melantunkan basmalah dan surat cinta Tuhan yang sering di bacakan padaku.


Ar rahmaan,,


'allamal quran,,


Suaranya sangat merdu, membuat damai hati setiap yang mendengar.


Aku masih terbaring di tempatku, dinding kamar berwarna serba putih, dan bau obat menyeruak menusuk hidungku.


Ruang Asoka nomor 402, ibu dan ayahku masuk ke ruangan saat kak Arfan masih melantunkan ayat demi ayat. Ayah menepuk pelan punggung kak Arfan, memberi kekuatan pada laki laki itu.


Ayah,,


aku melihat ayah menatapku dengan sedih, namun tetap menunjukkan senyumannya. Seakan mengatakan 'Ayah di sini nak, jangan lemah.'


Ingin ku sentuh tangan kak Arfan, dan juga memeluk ayah. Tapi lagi lagi aku tidak punya tenaga sedikitpun. Mungkin faktor pengobatan dan baru saja di lakukan dokter padaku.


Hingga tangan ibu meraih pipiku, dan beliau mencium keningku, rasanya hangat.


.....


Aku membuka mataku, lampu kamar yang redup menampakkan dinding kamar yang berwarna violet, dan sebuah lukisan yang daun sukun di salah satu dinding kamar.


Sesuatu mengalir dan terasa hangat di pelupuk mataku, yang mengalir lewat ujung mataku.


Aku menyeret tubuhku ke ujung sudut tempat tidurku, memeluk lututku dan isakku masih terdengar. Aku menangis lepas, kemudian menjadi erangan yang memilukan. Airmataku mengalir tak karuan.


Tangisku semakin kencang, aku menutup mulutku dengan bantal yang ku dekap erat.


Rasanya sakit, hatiku sangat sakit,, rindu itu semakin membuatku sakit.


Meski bertemu dengan nya lewat mimpi, tak mengurang rasa rinduku padanya.


Bahkan aku tak bisa lagi memeluk ayah,,


Eva memelukku, mencoba menenangkanku, dan itu tak merubah apapun.


Suara kak Arfan yang melantunkan surah Ar rahman masih terngiang di telingaku, masih bergema di fikiranku.

__ADS_1


Eva keluar dan masuk dengan bang Vhen, kemudian di susul kak Aisyah. Abang menarikku ke dekapannya. Tapi tak bisa meredakan tangisku.


Kini kak Aisyah memelukku, merangkulku, abang keluar entah kemana. Kak Aisyah terus menatihku untuk beristighfar.


Di sisi lain, Eva mematung, aku yakin beliau merasa ketakutan yang teramat sangat.


Bang Vhen duduk di sampingku, memberikan gelas pada kak Aisyah.


Abang mengusap punggungku,, membacakan ayat ayat dan beberapa doa padaku termasuk doa nabi Daud.


"Kenapa dek?" Bang Vhen masih terus mengusap punggungku dengan lembut. Suaranya bergetar karena khawatir.


Eva mulai bertingkah aneh, menunjukkan sisi lainnya.


Bang Vhen langsung meminta kak Aisyah membawa Eva keluar dari kamar, dan menyuruh Eva di beri minum air yang di siapkan bang Vhen di atas meja luar.


Aku mulai tenang, tangisku mereda.


Aku memeluk bang Vhen, mengingat mimpi yang baru aku alami.


Aku menceritakan mimpiku yang sebenarnya telah terjadi dua tahun lebih silam. Saat aku menjalin hubungan dengan almarhum.


"Aku ga kuat bang,, rindu itu masih ada,,"


"Aku masih menyayanginya.."


Aku terus menangis, hingga terdengar suara azan subuh berkumandang.


Baru kemarin aku pulang ke rumah mama, dan aku sempatkan untuk berkunjung ke makam kak Arfan dan ke makam ayah.


"Uhibbuka fillah, kak Arfan,,, dan rindu itu memang teramat berat,,,,,"


.


.


.


.


Aku mengeluarkan daftar jadwal kerja di dalam kantor hingga jadwal kerja dinas keluar. Bagus, tidak ada jadwal yang berat untuk satu minggu ke depan.


Tok


tok


tok, , ,


"Assalamu'alaikum,,," Sapa seseorang yang sudah berdiri di pintu ruanganku yang tidak tertutup.


"Wa'alaikumsalam,, masuk kak." Jawabku dengan melemparkan senyum pada beliau.


Kak Teguh langsung duduk di hadapanku dengan posisi menyamping.


"Ngelamun, banyak kerjaan?" Tanya beliau.


"Eh, enggak kak, hanya memeriksa jadwal beberapa hari ke depan."


"Hm,, aku mau izin pulang awal hari ini kak." Ucapku lagi.


"Kenapa? Kamu ga sehat?" Kak Teguh terlihat khawatir.


"Oh, ga,, bukan. Aku mau pulkam, ada teman nikah hari ini." Ucapku terus terang.


"Oh, iya gapapa,, lagian siang ini jadwal kosong kan."


"Hmm,, Yevn,,," Kak Teguh terlihat ragu ragu.


"Sebenarnya,," Lagi lagi kalimatnya terhenti, kali ini bukan karena beliau sengaja, melainkan karena ponsel ku tiba tiba berdering.

__ADS_1


Aku langsung melihat ke layar ponsel,


'Manusia Kutub'


Aku mengernyit heran dan langsung mengangkat telfon.


"Assalamu'alaikum,,,,"


"....."


"Kamu pulang ke rumah mama?" Tanya nya.


"Iya." Jawabku singkat.


"Jam berapa?" Tanya nya lagi.


Aku pun melirik ke arah jam yang terletak di atas meja yang udah menunjukkan pukul 10:10.


Aku melihat ke arah kak Teguh yang langsung membalas melihat ku.


",,dek," Pak Kavin memanggilku, karena aku tak menjawab pertanyaannya.


"Ini mau keluar kantor." Jawabku.


"....."


"....."


Aku pamit pada kak Teguh setelah minta izin untuk pulang lebih awal.


Eva yang akan mengantarku pulang ke rumah untuk berganti pakaian dan mengambil kendaraan. Eva tidak bisa ikut karena pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan.


Ku lihat sebuah mobil terparkir di halaman rumahku. Mobil manusia Es, tapi tidak ada orangnya.


"Weh, kutub di culik kali." Ucap Eva yang ternyata juga ikut memperhatikan.


Aku hanya menoleh tak menggubris ucapan konyolnya.


Lagian mana ada manusia yang mau nyulik es balok.


"Udah?" Aku menoleh ke asal suara. Beda hal sama Eva yang melompat dan mengurut dada karena kaget.


"Ngapain?" Tanyaku.


"Berangkat," Jawabnya.


"Aku berangkat sendiri."


Eva melihat ke arahku dan pak Kavin bergantian.


"Dah, mulai,,, Pak Kavin, Yevn, hmm, serah deh, aku mau ke kantor, kerjaanku dah numpuk, huaaa😭," Eva terlihat frustasi, aku bingung bagaimana bisa dia numpuk tugas kantor.


"Bye, assalamu'alaikum." Ucap Eva lagi dengan manis dan melangkah nyelonong pergi begitu saja.


Ku lihat pak Kavin, aku jelas tak akan menang jika bersikukuh untuk berangkat sendiri.


Aku mengurungkan niat untuk berganti seragam, dan langsung masuk ke mobil nya.


Sepanjang perjalanan aku terus berzikir di dalam hati, menenangkan hati dan fikiran ku yang kacau belakangan ini.


Di tambah belakangan ini aku kurang tidur, dan akhirnya aku terlelap dengan zikir.


'Biarkan aku tidur, tidur dengan tenang,,'


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2