
Begitu ku buka mata ku, aku sadar bahwa aku baru saja terbangun dari tidur. Tidurku kali ini benar benar damai, rasanya sudah lama tak merasakan kenyamanan seperti ini. Sudah lama sekali, sejak almarhum pergi.
Ku balik punggung ku, terlihat pak Kavin sedang duduk di atas sajadahnya, kemudian sujud dan kembali berdiri.
Ya Tuhan,
jatuh cinta kan aku pada nya yang selalu mencintai Mu. .
Jika laki laki di hadapan ku ini adalah dia, maka bantu aku menghadirkan cinta untuknya.
Izin kan aku memasrahkan diri untuk nya, untuk hamba Mu yang selalu memberikan cinta pada Mu.
Sampai kan salam rindu ku padanya yang telah pergi untuk selama lamanya, juga doa terbaik untuk nya.
Aku segera berwudhu, menjemput ashar.
.
.
* * * *
.
.
.
Malam hari usai shalat isya berjamaah, belum sempat berdiri untuk merapikan mukena dan sajadah, pak Kavin langsung menjatuh kan kepala nya di atas pangkuan ku. Sontak itu membuat ku sedikit kaget dan mengurungkan niat ku untuk bangun dari atas sajadah.
"Apa tidak sebaik nya bapak baring di atas tempat tidur?"
Pak Kavin tak menjawab, bahkan sikapnya sekarang persis anak kecil yang sedang bermanja pada ibu nya.
Lama, beliau bahkan tak bergerak sedikit pun, apa mungkin sudah tertidur. Karena ku lihat wajahnya sangat tenang dari samping.
Ku lihat raut wajahnya, rambut rambut tumbuh di samping pipi nya hingga ke dagu. Aku ingat aku yang meminta nya untuk tak bercukur menyambut pernikahan kami. Aku lebih senang dengan penampilannya seperti itu.
Tanpa terasa jariku mengusap kepalanya, membelai helaian rambutnya.
"Aku lebih nyaman seperti ini." Terdengar suaranya berucap tanpa membuka mata.
Aku mulai kesal karena apa yang baru saja aku lakukan di sadari oleh nya.
__ADS_1
"Tapi kaki ku sudah ga kuat." Ucap ku berbohong.
Benar saja, beliau langsung bangun dan menatap ku penuh rasa bersalah. Apa sebegitu nya kah rasa sayang nya padaku?
Dua tahun bahkan lebih bukan lah waktu yang sedikit, bagaimana mungkin dia bertahan dengan perasaan nya. Menunggu tanpa kepastian.
Terdengar suara memanggil dari luar rumah, meski samar samar. Tapi tidak hanya aku yang mendengar, buktinya pak Kavin juga demikian. Beliau bahkan langsung bangun keluar dari kamar.
Tak berapa lama,,
"Dek, makan yuk. Tadi aku pesan makanan." Ucap nya dari luar.
"Loh, bukan nya tadi mau makan di luar?"Ucap ku sambil mengenakan jilbab di depan kaca cermin.
"Setelah ku pikir pikir, bukan kah lebih manis makan berdua di rumah." Mendengar jawaban nya aku lebih memilih diam, aku tahu dia berusaha menggodaku. Bukan kah sejak menikah dan sah menjadi suami istri beliau punya kebiasaan baru.
Aku langsung menyusul nya keluar, tapi semua sudah di tata nya di atas meja, mengambil alih pekerjaan yang seharusnya ku lakukan.
Aku mulai terbiasa menghabiskan waktu dengan nya, bukan berarti aku tak merasa canggung lagi, tapi setidak nya aku tak hanya 'hmm,, iya, ga,, hmm' begitu seterusnya.
Beliau juga tak sedingin seperti sebelum nya, bahkan selalu berusaha membuat cair suasana canggung di antara kami.
"Pak, kalo Eva ku ajak tetap tinggal di sini, gimana?" Tanya ku hati hati.
"Ga masalah. Oh iya, Vhen sama Aisyah juga tak pernah ke sini lagi sejak terakhir mengantar makanan dari mama." Ucap pak Kavin dengan santai.
"Kalo itu ku rasa kak Aisyah mulai sibuk dapat bookingan di acara pernikahan, bang Vhen juga mulai sibuk dengan mahasiswa nya." Ucap ku mengarang.
Aku tahu, bang Vhen dan kak Aisyah bahkan Eva sengaja memberi kesempatan kepada kami untuk tinggal berdua. Mereka mungkin merencanakan semua nya.
Tapi tak mungkin ku sampaikan pada pak Kutub kan.
.
.
.
*Kak Arfan mengucapkan cinta nya padaku. Aku terlihat begitu bahagia, demikian juga beliau, Senyum kami merekah sempurna tanpa beban. Entah bagaimana, pandangan ku berputar, semua nya berputar hingga tak menampakkan wujud satu persatu.
Kini aku tiba di antara keramaian, orang orang mengenakan peci, dan perempuan berkerudung, semua tampak terlihat sedih dan murung. Aku melangkah masuk, tak satu pun di antara mereka yang memperhatikan ku, seolah aku hanya kekosongan yang tak di anggap, atau aku tak wujud di antara mereka bahkan tak terlihat.
Aku terus melangkah, terlihat perempuan paruh baya sedang menangis sesenggukan di pundak laki laki yang ku kira adalah suami nya. Benar, aku mengenal mereka. Tapi ada apa? Mengapa mereka bersedih seperti ini?
__ADS_1
Ku lihat di tengah tengah mereka terbaring seseorang yang ku lihat wajah dan wujud nya karena tertutup kain.
"Ma, papa, siapa dia? Kenapa dengan kalian?"
Tak ada yang menjawab, bahkan mereka mengabaikan ku begitu saja.
"Ma, pa, kenapa kalian menangis? Kenapa begini, jangan menangis ma,, pa, mama kenapa? Siapa dia?"
Ucap ku sambil menoleh ke arah seseorang yang tertutup kain tersebut. Namun lagi lagi aku tak di gubris.
Hingga datang seseorang, seorang perempuan paruh baya, yang sangat ku kenali, itu mama ku.
Mama menangis, dan terlihat mengusap air matanya, mata mama sangat membengkak.
Ku lihat mama menghampiri dia yang terbaring, tangan mama mulai membuka kain yang menutup wajah nya.
Terlihat lah wajah seorang laki laki yang terlihat pucat, bibirnya tersenyum. Namun hati ku seperti di hantam batu besar, sakit,, sangat sakit,, kaki ku terkulai lemas, tangis ku mulai menderu.
Allahu Akbar,,,
hati ku menjerit meminta kak Arfan bangun dan segera membuka matanya. Air mata tak bisa ku bendung, rasanya sangat sakit.
.....
"Dek, sayang,,,, bangun dek,,Yevn, sayang." Seseorang memanggilku dengan suara bergetar, dan terdengar parau.
Tubuh ku di goyang nya, hingga saat ku lihat wajah nya, tergambar jelas kekhawatiran nya. Aku mundur ke pojokan, memeluk lutut dengan masih bersiram air mata.
Ku tangkup wajahku di atas lutut,, jilbab ku sudah basah karena air mata.
Pak Kavin memeluk ku, aku berusaha melepas nya, hati ku benar benar masih terasa sakit membayang kan apa yang baru saja ku lihat, semua seakan nyata, lebih tepat nya hal itu memang benar benar pernah terjadi. Nyata nya kak Arfan telah pergi buat selama nya.
Bukan nya menerima penolakan ku dan membiarkan lolos dari pelukan nya, pak Kavin malah semakin mengerat kan pelukan nya. Menarik ku kuat kedalam pelukan nya.
Aku membenamkan wajahku di dada pak Kavin,, ku tumpahkan semua tangis ku. Rasa nya berat, perasaan ku yang satu ini cukup berat.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung, , , ,